Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
rencana di mulai


__ADS_3

Sesuai rencana sekarang Junggo dan Billa bersiap untuk menculik Meira. Sekarang mereka berada didalam mobil pergi menuju rumah Barham.


"Aku rasa ibu curiga pada kita." Ucap Billa sambil melirik kebelakang mobil.


Tidak jauh dari mobil mereka mobilnya membuntuti mereka diam-diam.


"Biarkan saja yang penting sekarang kita menuruti keinginannya." Ucap Junggo yang fokus dengan menyetirnya.


"Tapi aku takut ibu akan melukai Meira." Ucap Billa.


"Itu tidak akan terjadi tenang saja." Ucap Junggo Billa menganguk.


......


Billa dan Junggo sampai di depan pagar rumah tuan Barham, dari dalam mobil Chika bisa melihat Billa dan Junggo tengah bersiap-siap dengan perlengkapan mereka.


Setelah itu mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam pagar rumah itu, Chika terus memperhatikan mereka.


"Tidak sepenuhnya bisa di percaya, tidak mungkin gadis itu bisa dengan mudah membebaskan Junggo dari tahanan Minho." Ucap Chika.


Billa dan Junggo sudah naik kelantai dua melalui samping rumah di mana letak kamar Meira.


Setelah berhasil mereka masuk dari balkon kamar itu.


"Apa ibu kalian mengikuti kalian?" Tanya Minho.


"Iya dia sepertinya curiga, mau tidak mau kita harus membawa Meira harus di bius." Ucap Billa.


"Tidak papa, asal dia tidak mencurigai kita." Ucap Meira.


"Kau tenang saja kami hanya memakai dosis kecil itu tidak kan bertahan lama." Ucap Junggo Meira mengangguk.


"Ku mohon jaga istri ku, janagn sampai terluka." Ucap Minho.


"Kau tenang saja." Ucap Junggo.


Mereka memulai aksinya dan Meira sudah terbius, Billa sedikit tertaw.


"Oohh ya ampun kenapa kau membawanya seperti itu, kau bis menyakiti Meira."  Ucap Billa terkekeh.


Bagaimana tidak Junggo seperti menyeret karung berat.


"Mau bagaimana lagi, agar ibu percaya lagi pula kita harus benar-benar seperti menculiknya tanpa sepengetahuan Minho. Begini caranya yang aku tonton di film-film." Ucap Junggo Billa tertawa mendengar.


"Oohh ya ampun kakak ku korban film ternyata, baik-baik lanjutkan." Ucap Billa membantu Junggo mengangkat tubuh Meira kearah balkon.


Sedikit kesusahan tai mereka berhasil, setelah itu Minho turun kelantai bawah mendatangi Barham dan yang lainnya.

__ADS_1


"Meira sudah di bawa, ini giliran kita yang berekting." Ucap Minho.


"Berapa lama kita harus menunggu?" Tanya Henry.


"20 menit ayah, kita harus berpura-pura bahwa Meira benar-benar hilang." Jawab Minho.


Junggo dan Billa mengangkat tubuh Meira dan mereka masukan kedalam mobil. Chika tertegun, mereka benar-benar menculik Meira dalam keadaan pingsan.


"Aku rasa mereka tidak menipu ku, bahkan penjaga memang tidak ada di pos itu dan mempermudah mereka masuk kedalam. Bagus anak-anak ku." Ucap Chika.


Mobil Junggo dan Billa sudah pergi dari rumah itu, dan tidak lama Minho dan lainnya berlari dengan tergesa keluar kamar.


"Siapa yang berani menculik istri ku." Teriak Minho.


"CARI MEREKA KENAPA KALIAN DIAM." Teriak  Minho dengan Juan dan anak buahnya.


"Baik tuan." Ucap Juan lalu mereka masuk kedalam mengambil mobil dan berusaha mencari mobil yang menculik Meira tadi.


Barham Henry dan Minho terlihat gusar memikirkan putri mereka.


"Aku juga akan pergi mencari istri ku." Ucap Minho.


"Kau yakin, nyawa juga dalam bahaya Minho. Jika kau pergi sendiri wanita itu akan mengikuti mu dari belakang." Ucap Henry.


"Ayah tenang saja, Minho sudah tau strateginya." Ucap Minho lalu matanya melirik mobil yang tidak jauh dari depan rumah itu.


Henry dan Barham saling tatap. "Minta anak buah mu untuk mengikutinya." Ucap Henry saat melihat mobil yang tadi diam mulai mengikuti mobil Minho.


"Tentu saja." Balas Barham.


Di dalam mobil Billa dan Junggo.


"Aku rasa ibu tidak mengikuti kita." Ucap Billa.


"Bukan kah dia memang mengincar Minho, maka dari itu dia mengikuti kita." Ucap Junggo.


"Apa? Yang benar saja. Bukan kah Meira yang ingin ibu lukai." Ucap Billa.


"Kau lupa, ibu memang meminta kita melukai Meira supaya itu juga menimbulkan luka untuk mereka, tapi Minho juga dalam bahaya. Ibu tidak mungkin hanya membalasnya pada 1 orang saja, Minho juga menjadi incaran ibu." Ucap Junggo Billa diam.


Tidak lama mereka sampai disebuah gudang, sesuai permintaan ibunya untuk membawa Meira kesana. Beberapa pengawal ibunya sudah menunggu di sana.


"Juan dan lainnya sudah menyusul kan?" Tanya Billa.


"Mereka dalam perjalanan, kau tenang saja. Pengawal itu tidak sebanding dengan anak buah Juan." Ucap Junggo Billa hanya mengangguk mengerti.


Junggo mengangkat tubuh Meira dan membawanya masuk kedalam gudang itu. Tidak lama, Juan dan anak buahnya datang dari arah belakang gudang itu.

__ADS_1


"Kalian harus mengantikan posisi mereka." Ucap Juan.


"Baik Juan." Balas Yuho


Mereka mulai bergerak dan satu persatu mengalahkan anak buah Chika. "Apa kita perlu mengganti pakaian kita juga?" Tanya Yuho


"Iya jika perlu, lihat bajunya berbeda wanita itu bisa curiga nanti." Jawab Juan.


Mereka hanya mengikuti dan mulai menganti baju mereka dengan baju pengawal Chika.


Didalam gudang Meira sudah terikat di kursi tentu saja ikatannya longgar. Perlahan mata Meira terbuka.


"Kau sudah sadar? Kau butuh sesuatu?" Tanya Billa.


"Tenggorokan ku terasa kering, aku butuh air sebelum nanti berteriak." Ucap Meira.


Billa melangkah pergi keluar dari gudang langkahnya terhenti saat melihat Juan berdiri di sana.


"Bagaimana keadaan Nona?" Tanya Juan dia sudah berganti pakaiannya dengan pakaian yang dipakai pengawal ibunya tadi.


"Baik-baik saja, dia meminta minum aku akan mengambilkan di mobil." Jawab Billa lalu melangkah pergi.


Juan begian menjaga di dalam gudang bersama Yuho, Billa masuk dengan membawakan botol minum untuk Meira.


"Ini minumlah." Ucap Billa.


"Kau yakin air itu aman?" Tanya Juan.


Billa menghelakan nafasnya lalu menenguk air itu sedikit, Juan terdiam.


"Kau percaya sekarang?"


"Hhmm." Balas Juan.


Meira terseyum pada Juan, pria itu hanya berusaha melindunginya.


"Setelah ini kau harus pura-pura pingsan Mei. Agar wanita itu percaya." Ucap Junggo.


Meira mengangguk. Setelah di beri minum Junggo dan Billa duduk kursi lain. Juan dan Yuho sudah bersiap menjaga masing-masing di samping pintu.


Di tempat lain, Chika terus mengikuti kemana arah Minho pergi.


"Wanita ini sungguh memuakkan. Bagaimana aku bisa menyusul istriku jika dia terus mengikuti ku." Ucap Minho melirik kaca spion mobil.


Minho menambah kecepatan laju mobilnya dan tiba-tiba dia berbelok kearah jalan sempit, Chika terus mengikutinya dia tidak sadar kalau Minho menjebaknya.


Sampai di ujung jalan Chika kehilangan jejak. "Kemana perginya mobil itu." Ucap Chika mencari keberadaan Minho.

__ADS_1


Sedangkan di mobil lain Minho terseyum miring. "Kau salah mencari musuh nyonya Chika." Ucap Minho lalu melajukan mobilnya menuju jalan kearah gudang yang berada di perhutanan lebat.


__ADS_2