Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
menjadi kekasih Juan


__ADS_3

Keesokan harinya, Meira sudah bersiap untuk kekafe Weni tapi Minho masih belum mengijinkannya pergi.


"Sayang boleh ya." Pinta Meira menatap Minho lirih.


"Tidak boleh." Ucap Minho menatap istrinya datar.


"Sayang aku ingin sekali berkumpul dengan mereka, setelah lulus seperti ini jelas kami akan sibuk dengan urusan kami masing-masing. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mereka." Ucap Meira.


"Kalua begitu aku ikut." Ucap Minho.


"Iiisshh hanya kami para perempuan yang kumpul, masa kamu ikut sih." Ucap Meira beranjak dari duduknya tapi Minho menariknya.


Membuat Meira duduk diatas pengkuan Minho. "Aku suami mu kau harus menuruti ku. Kalau aku tidak boleh ikut maka kau tidak boleh pergi juga. " Ucap Minho sambil mencolek pucuk hidung Meira.


"Ya udah deh, iya." Ucap Meira pasrah Minho terseyum dan mencium pipi Meira.


"Aku tidak mau kau kenapa-kenapa sayang, kau dan anak kita adalah tanggung jawab ku." Ucap Minho Meira hanya mengangguk saja menanggapinya.


Minho terseyum tanganya mengusap perut Meira. "Cepatlah besar sayang." Ucap Minho lalu mencium perut itu membuat Meira terseyum.


"Besok kita cek lagi ya." Ucap Minho Meira mengangguk.


"Ya udah ayo kita berangkat." Ucap Minho lalu mengkat tubuh Meira menggendongnya seperti bayi kuala.


"Sayang aku bisa jalan sendiri." Ucap Meira.


"Sudah diam lah." Ucap Minho lalu melangkah keluar kamar dan menuruni tanganya.


Minho membawa Meria masuk kedalam Mobil mendudukan istrinya dengan pelan, lalu dia memutar mobilnya masuk disebalah Meira dan pergi dari rumah.


Sepanjang jalan, satu tangan Minho sibuk menyetir dan satunya lagi sibuk mengelus perut Meira sedangkan istrinya sibuk memainkan ponselnya.


"Jangan lihat ponsel terus gak baik." Ucap Minho.


"Iya tau, bantar." Ucap Meira Minho hanya menggeleng.


Sesampainya mereka dikafe Weni, Minho menggeggam tangan Meira dan masuk kedalam kafe.


"Weni.." Panggil Meira lalu berlari kearah Weni dan memeluknya.


"Sayang...hati-hati." Tagur Minho lalu menghelakan nafas.


"Mei kau beneran hamil, yeyyy aku akan dapat keponakan." Ucap Weni kegirangan.


Meira terseyum. "Hana mana?" Tanya Meira.


"Hana gak bisa datang ada urusan mendadak katanya." Jawab Weni lalu membawa Meira kemeja yang sudah dia siapkan.


Minho juga duduk disamping Meira sambil melihat ponselnya. Meira dan Weni sibuk mengobrol sampai seseorang datang menghampiri mereka.


"Tuan." Panggil Juan.

__ADS_1


"Kau sudah sampai, jadi bagaimana apa dia sudah mau menceritakannya?" Tanya Minho Juan menggeleng.


"Belum tuan, tapi dia mengancam akan menghancurkan bisnis tuan barham jika kasus ini dibuka lagi." Ucap Juan sambil melirik Weni yang asik mengobrol dengan Meira.


"Begitu rupanya, selama dua bulan ini hanya kita habiskan untuk membuat wanita itu membuka suaranya." Ucap Minho.


"Tapi saya sudah bicara dengan istri hakim tuan." Ucap Juan.


"Kau bertemu denganya, dia menjelaskan apa?" Tanya Minho.


"Dia bilang, suaminya memang dibunuh tapi dia tidak tau pembunuhnya. Dia ingin mengajukan kasus ini tapi ragu karena tidak memiliki bukti." Ucap Juan.


"Begitu, tapi ayah ku bisa menadapatkan buktinya dari mana?" Tanya Minho.


"Saya tidak tau kalau urusan itu tuan, saya belum menanyakan nya pada tuan Henry." Jawab Juan.


"Sedikit mencurigakan." Ucap Minho.


"Apa yang mencurigakan? Oh Juan sejak kapan kau disini?" Tanya Meira.


"Sejak kau asik mengobrol denganya tanpa menghiraukanku." Jawab Minho Meira hanya terseyum menunjukan giginya.


"Hy Juan." Sapa Weni Cowok itu terseyum padanya.


"Sayang aku mau eskrim boleh ya." Ijin Meira.


"Iya makan saja sesuaka hati mu, Wen aku pesan kue keju itu." Ucap Minho.


"Siap tuan." Ucap Weni lalu menatap Juan.


"Aku pesan kau saja, mau jadi kekasih ku?" Tanya Juan membuat Weni terdiam.


"Ishh kau pasti bercanda, aku buatkan minum seperti biasanya saja." Ucap Weni lalu melangkah pergi.


"Apa ini? Kau mempertontonkan kami hal apa? Kau seperti cowok penakut menembak gadis seperti itu." Ucap Minho Juan menggaruk kepalanya.


"Kau sering kesini Juan?" Tanya Meira.


"Iya nona, aku sering mengunjungi kafe ini makanya aku bisa dekat dengan Weni bahkan sebelum kalian tau kalau Weni menyukai ku." Jawab Juan.


"Kalau kau sudah tau dia suka pada mu seharusnya dari dulu kau tembak bodoh." Ucap Minho.


"Sayang jaga mulut mu, tidak bisa dikondisikan banget." Ucap Meira menutup mulut Minho sambil menggoyangkanya.


"Itu yang susahnya tuan, Weni menganggap aku bercanda." Ucap Juan.


"Memang kau menembaknya seperti apa?" Tanya Meira.


"Seperti tadi."


Meira dan Minho menepuk kening mereka. "Ya gak akan dianggap serius Juaaannn." Ucap Minho dan Meira berbarengan.

__ADS_1


"Kau itu memang tidak ahli dalam menarik hati wanita ya, seharusnya kau serius menembaknya dengan bunga atau coklat." Ucap Minho.


"Weni tidak suka itu, kau berikan boneka saja dia pasti suka." Ucap Meira Juan menatapnya.


"Boneka apa nona?" Tanya Juan.


"Boneka santet, ya boneka hewan lah Juan. Banyak ragam bentuk boneka dari beruang sapi kucing belikan saja terserah diri mu dia pasti mau. Weni itu suka yang imut-imut kalau bunga dan coklat Weni selalu menolak pemberian coklat dan bunga dari teman-teman dikelas." Jelas Meira.


"Menolak, apa Weni dikagumi satu kelas?" Tanya Minho.


"Hhmm, satu kelas menyukainya karena dia ketua kelas sekaligus gadis yang lemah lembut dikelas kami. Tapi aslinya orangnya seperti itu jika bertemu Gina dan Tina....oh iya aku lupa mengabari mereka." Ucap Meira lalu meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Gina dan Tina.


"Kau dengarkan saran istri ku pasti Weni suka kalau Istri ku sudah mengatakan hal itu." Ucap Minho.


"Baik tuan akan saya lakukan." Ucap Juan dia terseyum saat melihat Weni datang dengan pesanan mereka.


"Ini pesanan kalian." Ucap Weni.


Meira menatap kue keju itu yang ditarik oleh Minho. "Sayang.." Minho menolah.


"Mau.." Ucap Meira sambil melirik Kue keju itu.


"Kaukan tidak suka keju." Ucap Minho bingung.


"Tapi dia mau." Ucap Meira mengusap perutnya.


"Hhmm baiklah." Ucap Minho mulai menyuapi Meira kue itu.


Meira menerima kuenya dengan senang hati menikmati rasa keju itu dalam mulutnya.


"Enak?" Tanya Minho melihat kuenya hampir habis oleh Meira.


"Uumm enak aku suka." Jawan Meira Minho terseyum lalu mengelus pucuk kepala Meira.


Juan terus menatap Weni membuat wanita itu risih. "Jun...kau kenapa sih natap aku terus?" Tanya Weni.


"Wen.." Panggil Juan.


"Apa?" Tanya Weni bingung.


"Kau mau jadi pacar ku?" Tanya Juan serius sambil mengeluarkan boneka dari balik barannya.


Membuat Minho dan Meira terkejud. "Sejak kapan kau membawa boneka?" Tanya Minho.


Juan terseyum tidak menghiraukan ucapan Minho. "Wen...kali ini aku serius, maukah kau menjadi kekasih ku?" Tanya Juan lagi.


Weni terdiam, sudah lama dia menantikan hal ini. Bahkan sudah banyak cowok yang dia tolak hanya demi Juan.


Weni terseyum haru. "Iya aku mau." Jawab Weni membuat seyum Juan mengembang lalu melangkah mendekatinya.


"Terimakasih." Ucap Juan memberikan boneka itu dan mencium kening Weni.

__ADS_1


Meira dan Minho saling tatap dan menaik turunkan alis mereka. "Romantis juga." Bisik Meira.


"Sudah aku bilang Juan itu serba bisa." Balas Minho sambil terkekeh.


__ADS_2