Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
trauma


__ADS_3

Di perjalanan pulang, ponsel Meira berdering. Minho menoleh padanya karena tidak mengangkat telpon itu.


"Kenapa tidak di angkat?"tanya Minho Meira memberikan ponselnya pada Minho lalu menatap keluar kaca.


"Dia terus menelpon ku dari kemarin."ucap Meira.


Minho menatap si penelpon rahangnya langsung mengeras, Minho mengangkat telpon itu.


"YAAKKKK GADIS KAMPUNG, KAU PIKIR KAU SIAPA HAH KARENA DIRI MU HIDUP KAMI BERUBAH TIDAK PUNYA HATI."teriak orang di sebrang sana.


"Gadis kampung kata mu..Hana.."ucap Minho membuat Hana disebrang sana terkejud.


"Min...Minho."ucap Hana.


Minho melirik Meira yang hanya diam, tapi tangan Meira bergetar. "Ku peringatkan sekali lagi, JANGAN GANGGU MEIRA."ucap Minho penuh tekanan lalu mematikan sambungan telponya.


"Hiks..." Meira kembali menangis tanganya bergetar, kepanikannya kembali lagi...


"Sayang....hy tatap aku."ucap Minho Meira malah menepisnya..


"Tidak....aku tidakkk mau....itu bukan salah ku.."ucap Meira meremas rambutnya sendiri... Minho melepas tangan Meira dari rambut gadis itu.


"Sayang....hy tatap aku..."ucap Minho tapi Meira menggeleng..


"Tidak....itu bukan salah ku tidak....hiks...aku tidak melakukan itu tidak bukan aku....aku bukan monster..."teriak Meira Minho menariknya dalam pelukannya.


Juan langsung mengehentikan mobilnya dan memberikan sebotol air pada Minho.


"Tuan berikan nona minum."ucap Juan Minho menerimanya dan membukakannya untuk Meira.


"Sayang...minum dulu."ucap Minho Meira mendorongnya.


"Tidak...tidak mau....HIKS..TIDAK.." Minho menarik Meira memeluknya erat.


"Sssstttt hy ada aku di sini.."ucap Minho.


"Aaaaaa...hiks...aaaaaa..." Meira terus menangis.


Juan bahkan tidak tega melihatnya, Minho terus memeluk Meira erat. Mencium kening gadis itu agar bisa tenang sambil mengelus punggung gadis itu.


"Ssssstttt tenanglah.....ada aku disini."ucap Minho bahkan mata cowok itu berkaca.


"Minn....aku bukan monster..."ucap Meira.


"Tidak sayang...tidak kau bukan monster sayang bukan.."ucap Minho.


"Tapi mereka terus menyebut ku monster....Hiks...aaaaaaaa...." kepanikan Meira semakin menjadi.


Minho terus berusaha menahanya, kenapa bisa seperti ini. Apa yang dulu terjadi sehinga Meira bisa setrauma itu.


Minho menangkup wajah Meira. "Sayang tatap aku..."ucap Minho lembut Meira menggeleng.


"Aku takut..."ucap Meira.


"Hy tidak ada apa-apa...tatap aku.."ucap Minho perlahan Meira menatapnya.


"Tenangkan diri mu, semua baik-baik saja sayang....tenangkan diri mu."ucap Minho air mata Meira masih mengalir.

__ADS_1


"Aku bukan monter kan?"


"Bukan sayang bukan....kau bukan monster kau bidadari ku....kau bukan monster..."ucap Minho.


"Jangan tinggalin aku."ucap Meira Minho menggeleng.


"Tidak akan aku tidak akan meninggalkan mu."ucap Minho mencium kening Meira.


Meira memeluk Minho erat membenamkan wajahnya didada bidang itu. Juan menatap nonanya iba.


"Kenapa bisa seperti ini, kesalahan apa yang terjadi dulu."batin Juan.


"Tuan minumnya." Juan mengingatkan.


"Oh iya...sayang minumlah dulu agar kau tenang."ucap Minho Meira melepas pelukan itu dan meminum air yang Minho berikan.


Meira mulai berhitung sambil mengatur nafasnya. "Satu....dua.....tiga...empat..."perasaannya kembali tenang setelah berhitung.


"Sudah lebih baik?"tanya Minho Meira mengangguk.


Gadis itu kembali bersandar dan memeluk Minho, Minho pun merangkul bahu Meira.


"Minho kita pulang."ucap Minho.


"Baik tuan."ucap Juan lalu melanjutkan mobilnya.


Tangan Meira meremas tangan Minho, dia ingin menenangkan dirinya dengan menyentuh tangan Minho dan cowok itu tidak masalah. Perlahan Meira tertidur.


*****


Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan melihat Ina yang menyambut mereka.


"Nona kenapa?"tanya Ina khawatir.


"Tidak papa Ina, nona hanya kelelahan."jawab Juan Minho sudah membawa Meira kelantai atas.


Sampai di depan kamar Juan juga yang membukakan pintu kamar itu, Juan hanya menunggu di depan pintu. Minho masuk kedalam kamar dan menidurkan Meira pelan-pelan.


Minho mengelus pipi itu lembut, membuat perlahan mata Meira terbuka.


"Hy kenapa bangun? Aku membangunkan mu ya?" Meira hanya diam menatapnya lalu menepuk bantal disampingnya meminta Minho tidur bersamanya.


Minho menatap Juan. "Juan kau bisa pulang duluan, aku bisa menelpon pak supir nanti untuk menjeput ku."ucap Minho.


"Baik tuan." Juan melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu.


Minho perlahan naik keatas ranjang itu dan tidur disamping Meira, gadis itu perlahan mendekat dan memeluk tubuh Minho menjadikan tangan Minho sebagai bantalnya.


"Hangat.."ucap Meira pelan tapi masih terdengar, Minho terseyum lalu mencium pucuk kepala Meira.


"Peluklah sesuka hati mu..."ucap Minho pelukan itu semakin erat.


Minho mengelus punggung Meira lembut, sesekali mencium kening Meira.


"Kenapa tidak tidur sayang.."ucap Minho Meira menggeleng.


"Nanti kau pergi."ucap Meira.

__ADS_1


"Jadi kau mau aku terus disini?"tanya Minho Meira mengangguk.


Meira mengangkat kepalnya dan mengecup bibir Minho sekilas membuat cowok itu terdiam. "Aku ingin terus bersama mu."ucap Meira lalu kembali menempelkan kepalanya di dada bidang Minho.


Cowok itu terseyum. "Baiklah aku akan menemani mu tidur."ucap Minho.


Meira perlahan memejamkan matanya karena dia sudah sangat kelelahan. "Minho jangan pergi, aku tidak mau kau pergi."gumam Meira.


"Tidak aku tidak akan pergi."ucap Minho memeluk Meira dan juga ikut memejamkan matanya.


.....


Nara dan Barham baru sampai dirumah tepat jam 8 malam, mereka melangkah masuk dan disambut oleh Ina.


"Tuan Nyonya, selamat datang."ucap Ina.


"Ina bagaiman putri ku? Apa dia sudah pulang?"tanya Barham.


"Sudah tuan, dan tadi diantar oleh tuan muda Minho. Tapi sepertinya tuan muda masih didalam kamar nona karena tuan Juan saja yang pulang."jawab Ina.


"Baiklah kalau begitu."ucap Barham melangkah kelantai atas bersama Nara.


Mereka membuka pintu kamar dan melihat dua orang itu yang masih tertidur bahkan saling berpelukkan.


"Minho pasti sangat menjaga Meira, biarkan mereka istirahat."ucap Barham lalu melangkah pergi.


"Meira juga butuh kamu, kau ayahnya seharusnya lebih memahaminya."gumam Nara menatap punggung suaminya, lalu menutup pintu kamar.


Setelah pintu tertutup Minho membuka matanya. "Pasti ayah dan mamah."gumamnya lalu melihat Meira yang masih memeluknya.


Minho terseyum menatap wajah damai Meira. "Kau bidadari ku, kau berharga bagi ku. Akan ku habisi mereka yang berani menyebut mu monster."gumam Minho lalu perlahan melepas pelukan Meira.


Setelah terlepas Minho melangkah menuju kamar mandi, dia butuh mandi karena tubuhnya terasa lengket memekai baju tebal itu.


Meira perlahan membuka matanya, merasakan tidak ada Minho memeluknya. "Min.."panggil Meira.


"Minho.."panggil Meira lagi tapi tidak ada sahutan.


Dilihatnya pintu kamar mandi yang tertutup. "Apa Minho mandi.."gumam Meira lalu beranjak turun dari ranjang itu.


Saat sampai didepan pintu belum sempat Meira mengetuk pintu, kamar mandi itu sudah terbuka mempeihatkan Minho yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Wajah Meira memerah lalu langsung berbalik dan melangkah menuju ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Minho yang melihat tingkah Meira hanya bisa menahan seyumnya.


"Kenapa bangun sayang?"tanya Minho sambil memakai pakaiannya yang memang sudah terbawa karena dia yang menjaga Meira di rumah sakit.


"Aku mencari mu."ucap Meira tidak jelas karena tertutup bantal.


"Apa sayang? Kau bicara tidak jelas."ucap Minho.


Meira sedikit mengintip dan melihat Minho melangkah mendekatinya dengan pekaian lengkap. Meira bernafas lega.


"Aku mencari mu."ulang Meira yang sudah melepas bantal itu dari wajahnya.


"Mencari ku? aku tadi mandi sayang badan terasa lengket. Ya sudah sekarang mandi lah, aku akan siapakan makan malam untuk mu."ucap Minho lalu melangkah keluar kamar.


Meira terseyum menatap cowok itu, lalu melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2