
Minho terus memandang wajah Meira yang tertidur, tanganya mengelus kepala Meira yang berbantalkan tangannya dengan tangan satunya.
"Aku akan selalu menjaga mu sayang, tidak akan ku biarkan ada orang yang berani melukai mu." Gumam Minho.
Perlahan mata itu terbuka dan menatapnya. "Kau tidak tidur?" Tanya Meira.
"Tidur, tapi aku bangun lebih dulu dari mu." Jawab Minho.
Meira melihat jam nikas samping ranjang, jam 7 malam.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanya Meira.
"Aku tidak mau menganggu tidur mu sayang." Jawab Minho.
"Sayang aku lapar ayo kita makan." Ucap Meira.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Minho.
"Aku sudah lama tidak seafood, aku mau itu." Jawab Meira.
"Ya sudah, kalau begitu bersiaplah." Ucap Minho Meira terseyum senang lalu beranjak dan pergi bersiap.
Minho hanya mengganti celananya dengan celana lebih panjang dan memakai jaket kulitnya, setelah itu dia duduk di sofa menunggu Meira.
Meira keluar dari ruang ganti dengan memakai huddie dan celana kain yang menutup sampai mata kakinya lalu dia memakai sepatu hitamnya yang senada dengan huddienya.
"Kau memakai huddie? Kenapa tidak bilang." Ucap Minho melangkah menuju lemari dan mengambil huddie yang sama dengan Meira, mengganti jaketnya dengan huddie.
"Hehe maaf, aku kira kau melihat ku tadi mengambil huddie. Lagi pula sekarang lagi musim hujan jadi suasana terasa dingin." Ucap Meira yang sedang mengoles pupus dan sedikit lipstik.
"Iya juga, ya sudah ayo." Ucap Minho Meira beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati Minho.
"Ayo.." Ucap Meira mengandeng tangan Minho.
Minho terseyum dan mereka melangkah keluar kamar.
"Selamat malam tuan nona. Apa tuan dan nona ingin makan malam?" Ucap Ina.
"Kami akan makan malam diluar." Jawab Minho.
"Oohh baik tuan." Ucap Ina.
Minho dan Meira melangkah pergi, mereka memasuki mobil.
"Baru?" Tanya Meira Minho menoleh.
"Iya, juga baru. Mobil ini juga untuk mu." Jawab Minho sambil memasang sabuk pengaman untuk Meira.
"Untuk ku? Sayang aku kan tidak minta." Ucap Meira.
__ADS_1
"Aku yang ingin belikan, supaya kau bisa pergi kemana pun yang kau mau." Ucap Minho mengelus pucuk kepala Meira.
"Aku tidak mau, aku kan maunya pergi kemana pun sama kamu." Ucap Meira Minho terseyum dan mencium kening Meira.
"Iya aku akan selalu ikut kemana pun kau mau pergi." Ucap Minho Meira terseyum.
Mobil sport itu bergerak meninggalkan perkarangan rumah itu.
♤♤♤♤♤
Mereka sampai di sebuah restoran seafood yang terkenal dengan aneka hidangannya yang enak, bahkan Meira juga sering makan di tempat itu dulu.
Minho dan Meira keluar dari mobil, Meira lebih dulu menggenggam tangan Minho lalu mereka melangkah masuk kedalam restoran itu.
"Selamat datang tuan dan nona muda, kami sudah menyiapkan ruang VIP yang anda pesan tuan." Ucap pelayan yang menyambut mereka.
"Terimakasih." Ucap Meira karena Minho hanya membalas deheman.
Mereka di antar keruangan itu dan semua hidangan sudah tersaji dengan rapi, semua sesuai kesukaan Meira. Meira terseyum melihat hidangan itu.
"Apa ada tambahan lagi tuan?" Tanya pelayan itu menatap Minho yang tidak menatapnya.
"Tidak ada pergilah." Ucap Minho dingin.
Pelayan itu mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. "Kau itu dingin sekali, dia sepertinya tertarik dengan mu sayang." Goda Meira tentang pelayan wanita itu.
Mereka duduk berhadapan dimeja itu. "Selamat makan." Ucap Meira.
Dia sudah menguap menu cumi yang dimasak pedas itu adalah menu kesukaannya.
"Uuummm cita rasanya tidak pernah berubah." Ucap Meira.
"Sayang ada noda dibibir mu." Ucap Minho.
Meira mengambil tisue dan membersihkan noda itu, Minho hanya menggeleng melihat lahapnya Meira memakan semua menu yang ada.
Minho melihat layar poselnya dan tersenyum miring. "Sedang apa dia diruang kerja ku." Batin Minho.
"Sayang." Panggil Meira.
"Iya ada apa?" Tanya Minho.
"Boleh aku menambah sayang, cuminya kurang." Ucap Meira.
"Tentu saja boleh, tambah saja sepuas mu." Ucap Minho Meira terseyum lalu menekan tombol di sampingnya untuk memanggil pelayan.
Minho kembali fokus dengan layar ponselnya. "Sebenarnya apa yang dia cari, kenapa aku selalu melihatnya berada diruang kerja ku." Batin Minho.
Sudah sering Minho memperhatikan gerak-gerik orang itu yang setiap saat dia tidak ada di rumah pasti masuk kedalam ruang kerjanya, bahkan di rumah lama Minho pun dia seperti itu.
__ADS_1
"Aku pesan 4 porsi lagi untuk cumi dan guritanya, masing-masing 2." Ucap Meira saat pelayan itu datang keruangan mereka.
"Baik nona dan apa tuan Minho juga butuh tambahan?" Tanya pelayan itu.
"Selesaikan saja cepat pesanan istri ku, dan jangan suka merayu pria kaya. Itu menjijikan." Ucap Minho tanpa menatapnya membuat pelayan itu terdiam.
"Sudah kau boleh pergi." Ucap Meira pelayan itu pergi dengan wajah malunya.
"Sayang jangan bicara seperti itu." Ucap Meira.
"Biarkan saja, biar dia mengerti. Lagi pula wanita sepertinya butuh diberi peringatan." Ucap Minho tanpa melihat Meira.
"Jika bicara pada ku tatap aku sayang." Tegur Meira Minho langsung menatapnya.
"Maaf." Ucap Minho Meira tidak suka jika diajak bicara lawan bicaranya tidak menatapnya.
"Kebiasaan." Ucap Meira lalu melanjutkan makannya, Minho juga pernah seperti itu setiap dia fokus dengan perkerjaannya atau pun sedang marah.
"Saat seperti ini malah sibuk dengan ponsel, bukannya bicara dengan istrinya." Ucap Meira lalu menyuap daging gurita terakhir yang dia punya kedalam mulutnya.
Minho menghelakan nafasnya lalu mengalihkan perhatiannya pada Meira.
"Baiklah, kau ingin bicara apa?" Tanya Minho menutup ponselnya.
"Tidak-tidak lanjutkan saja Minho, aku mau ketoilet." Ucap Meira tanpa menatapnya dan beranjak pergi.
Okey Meira sudah menyebut namanya berarti istrinya sudah marah padanya. "Hah....apa aku harus bicara padanya tentang sikap pelayan di rumahnya ini." Gumam Minho.
Didalam toilet Meira menyalakan keran dan menyuci tangannya. "Ponsel...berkas....ponsel...berkas...itu saja terus yang ditatap." Gumam Meira kesal.
Wanita di samping Meira menoleh. "Kesal karena suami sibuk nona." Ucap Wanita itu Meira menoleh.
"Ya begitu lah, memiliki suami yang super sibuk terkadang membuat ku cemburu dengan yang dia kerjakan." Jawab Meira membuat wanita itu terkekeh.
"Sama seperti ku, suami ku itu hanya sibuk dengan berkasnya sampai kadang cuek dengan ku saking sibuknya. Tapi aku paham dia seperti itu demi mencari uang untuk ku, kalau bukan dia yang menghidupi ku siapa lagi." Ucap wanita itu Meira terseyum.
"Kau benar juga, jika dia tidak kerja lalu dia akan memberiku makan apa." Ucap Meira wanita itu menjentikkan jarinya setuju.
"Oh ya perkenalkan, aku Anita. Anita Kusuma." Ucap Anita wanita itu.
"Aku Meira, Meira Nakila Filic." Balas Meira.
"Oohh kau istri tuan muda, oh ya ampun. Banyak orang yang bilang kau sangat cantik, dan ternyata benar kau sangat cantik. Tuan tidak salah memilih ternyata." Ucap Anita Meira terkekeh.
"Kau berlebihan sekali, aku pergi dulu. Dia menunggu ku terlalu lama. Sampai ketemu lain waktu." Ucap Meira.
"Tentu nona muda." Balas Anita tersenyum.
Meira membalas senyumnya lalu melangkah pergi.
__ADS_1