
Sekarang mereka di dalam mobil.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Meira.
"Kau mau makan es krim, aku tau di sini ada kafe es krim yang enak." Ucap Minho.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita kesana." Ucap Meira Minho terseyum dan melajukan mobilnya.
Sesampainya di kafe itu, mereka melangkah masuk disambut dengan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sepertinya seumuran dengan mamah Meira.
"Selamat datang.."
Meira dan Minho terseyum, mereka memesan minum dan juga es krim. Lalu mereka memilih tempat duduk di tengah-tengah kafe karena memang terlihat rame jadi tidak ada meja kosong lainnya.
"Sayang lihat ini cincinnya." Ucap Meira menjunjukan cicin pernikahan pada Minho.
"Itu bagus sayang, kau pilih saja sesuka hati mu nanti kita akan kesan untuk mengukurnya." Ucap Minho Meira terseyum dan melanjutkan memilih.
Minho dan Meira memang sedang menyiapkan untuk pernikahan mereka. Ditengah kesibukan mereka seseorang datang.
"Meira....aaaa kau disini?" Tanya Weni.
"Hy Wen.." Ucap Meira.
Weni duduk disamping Meira. "Kalian sedang apa disini?" Tanya Weni.
"Disko." Jawab Minho.
"Ya elah santai ajak kali, maksud ku itu kalian kesini habis dari mana?" Tanya Weni.
"Habis dari taman bunga." Jawab Meira.
"Ooohh begitu....oh iy..."
"Weni layani pelanggan kenapa kau malah mengobrol." Ucap wanita itu tadi yang menyambut mereka.
"Mamah, ada teman ku kecilkan sedikit suara mamah." Ucap Weni.
"Oh kaliam teman Weni, oh ya ampun....tunggu sebentar ya pesanan kalian sebentar lagi karena pelanggan lain masih banyak." Ucap ibu Weni.
"Iya tidak papa bibi." Balas Meira.
Ibu Weni kembali masuk kebelakang. "Aku mau nanya tugas yang bapak kasih hari rabu itu kau paham tidak, kepala ku rasanya ingin pecah melihat rumus-rumus memabukan itu." Ucap Weni.
"Aku paham, aku bisa mengajari mu nanti." Ucap Meira.
"Benarkah makasih Meira." Ucap Weni memeluk Meira dari samping.
Setelah itu Weni pergi kebelakang karena harus membantu ibunya.
"Sayang..." Panggil Meira tapi Minho masih fokus dengan ponselnya.
"Sayangggg..."
__ADS_1
"Apa sayang?" Tanya Minho tersadar.
"Kau sedang apa sih?" Tanya Meira mengambil alih ponsel Minho dan melihat Juan mengirimkan dokumen pada Minho.
"Kita sedang jalan-jalan kenapa masih mengurus berkas aja sih." Ucap Meira kesal mengembalikan posel Minho.
"Baiklah-baiklah.." Ucap Minho mematikan ponselnya dan menyimpannya.
"Hy jangan ngambek seperti itu." Ucap Minho mencolek pipi Meira.
"Apa sih." Ucap Meira.
"Ini dia pesanan kalian." Ucap Weni membawakan pesanan mereka.
"Wiihh kenapa ni muka kusut amat perasaan tadi baik-baik aja?" Tanya Weni.
"Lagi kesel dia, karena aku cuekin..... Juan tadi ngirim pesan nanya tentang mu Wen." Jawab Minho dia berbohong karena ingin menggoda Weni.
"Isshhh apaan sih buat apa coba dia nanyain aku." Ucap Weni lalu melangkah pergi pipinya terlihat merah.
Minho terkekeh, lalu menatap Meira yang menatapnya tajam.
"Maaf sayang." Ucap Minho.
"Aku masih kesal pada mu, kau mengajak ku jalan-jalan untuk apa jika masih melihat berkas diponsel mu. Aku tau perkerjaan mu penting tapi ini hari libur luangkan waktu mu sebentar untuk ku." Ucap Meira Minho menahan seyum.
"Baiklah sayang aku minta maaf, jangan marah lagi." Ucap Minho menggenggam tangan Meira.
"Iya sayang iya." Ucap Minho mendekatan duduknya kearah Meira.
"Nanti saja aku membacanya jika sampai rumah." Batin Minho padahal itu berkas penting tentang masalah itu.
Mereka asik mengobrol dan bercanda, sampai seseorang datang dan menegur Minho.
"Minho kau disini juga?" Tanya Gadis Meira menatapnya kesal.
Minho menghelakan nafasnya jengah. "Kenapa kau selalu ada dimana pun seperti hantu saja." Ucap Minho Meira menahan tawanya.
"Minho kau jahat sekali, aku kan mengikuti mu." Ucap Gadis duduk disamping Minho dan memeluk lengan cowok itu.
"Apaan sih Dis." Bentak Minho melepas tanganya dari Gadis.
Meira hanya berusaha menahan kesalnya sambil melanjutkan memakan es krimnya.
"Minho kenapa kau kasar sekali." Ucap Gadis matanya melirik Meira yang tidak peduli sama sekali.
"Sayang.."
"Minho kau tau Meira itu selingkuh dari mu." Ucap Gadis mengejutkan Meira.
"Apa kau bilang? Selingkuh? Heh Gadis jaga ucapan mu ya." Ucap Meira marah.
"Heh kau memang selingkuh, aku melihat mu kemarin dengan teman Minho si juan itu." Ucap Gadis.
__ADS_1
"Hah..." Ucap Meira dan Minho bersamaan lalu tertawa.
"Sayang kau selingkuh dengan Juan, oh ya ampun..." Ucap Minho tertawa.
"Kau bodoh sekali Gadis, apa di otak mu itu hanya terisi dengan orang-orang yang tidak penting untuk kau urusi kehidupan mereka." Ucap Meira terkekeh.
"Heh Gadis, jika aku selingku aku akan mencari yang lebih kaya dari Minho." Lanjut Meira membuat wajah Minho berubah masam.
"Kau tega sekali sayang." Ucap Minho Meira terkekeh.
"Uuu tidak-tidak sayang, aku hanya untuk mu." Ucap Meira Minho terseyum dan mencium pipinya Meira, mereka sengaja menunjukan kemesraan mereka agar memanasi Gadis.
Weni datang menghampiri mereka. "Wiidiiihh ada plakor." Ucap Weni duduk disamping Meira.
"Wen, dia bilang aku selingkuh dengan Juan." Ucap Meira Weni menatap Gadis lalu tertawa lepas.
"Kau bodoh Gadis, Juan bukan tipenya Meira lagi pula teman ku ini sudah terikat dengan Minho mana mungkin dia mau selingkuh." Ucap Weni.
"Kenapa kalian tertawa, aku bukan bodoh aku mengatakan yang sebenarnya." Ucap Gadis kesal karena ditertawakan.
"Kau memang bodoh Gadis kau tidak tau siapa Juan dan kau menuduh Meira selingkuh dengannya, lebih baik Juan bersama Weni dari pada Meira." Ucap Minho.
"Hyyy kenapa kau jadi membawa aku." Ucap Weni.
"Minho jangan mau bersama Meira, dia gadis nakal." Ucap Gadis memaluk lengan Minho.
"Apa kau bilang gadis nakal? Heh kau yang gadis nakal, semua cowok di sekolah kau goda." Ucap Meira.
"Kata siapa, mereka yang mendekati ku bukan aku yang mendekati mereka. Lagi pula aku lebih cantik dan sesksi dari mu." Ucap Gadis membanggakan dirinya.
"Cih...seperti itu saja bangga. Dasar kurapan." Ucap Weni.
"Heh buruk rupa kau jaga ucapan mu ya." Ucap Gadis menunjuk wajah Weni.
"Kau memang gadis gatal Dis." Ucap Minho tajam.
"Kau tega sekali Minho." Ucap Gadis lalu dia memeluk Minho.
"Minho sama aku aja." Ucap Gadis.
"Apa-apaan sih." Bentak Minho mendorong Gadis sampai terjatuh dari kursinya.
Meira dan Weni terkejud melihatnya, Minho menatap gadis tajam.
"Dengar ya gadis gatal. Aku sampai kapan pun tidak sudi bersama mu, kau gadis kurapan yang tidak tau malu." Ucap Minho lalu mengeluarkan uang dan meletakannya diatas meja.
"Ini Wen bayar pesanan kami, kami pergi dulu." Ucap Minho lalu menarik Meira pergi.
"Da da Mei."ucap Weni Meira juga melambai padanya.
Gadis merapikan bajunya melihat semua pengunjung menatapnya. "Lihat saja, aku akan membalas mu tapi bukan kau yang aku permalukan Minho." Batin Gadis.
"Heh kurapan sebaiknya kau pergi, kau mengangguk suasana kafe ibu ku saja." Ucap Weni membersihkan meja bekas Meira dan Minho lalu melangkah pergi.
__ADS_1