
Sudah 4 hari berlalu
Di kamar inap Meira baru saja selesai memakan buburnya dan menimun obat.
"Sekarang istirahat ya."ucap Nara meletakan nampan di atas meja.
"Mamah, kenapa Minho tidak datang?"tanya Meira.
"Hah...ayah mu masih belum mengijinkan Minho datang sayang."jawab Nara Meira menunduk lalu menidurkan tubuhnya membelakangi Nara.
"Yang sabar ya, nanti ayah pasti mengijinkan Minho untuk mengunjungi mu."ucap Nara Meira hanya diam.
Perlahan Meira memejamkan matanya dan tertidur, sungguh dia sudah bosan dengan semua ini tapi gadis itu tetap memaksa untuk kuat.
Ditempat berbeda.
Minho yang sedang mengerjakan berkas kantornya tiba-tiba berhenti karena memikirkan Meira.
"Aaakhhh...sayang aku merindukan mu."gumam Minho sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit.
"Aaakhhh kenapa masih sulit menemukan bukti lagi."gumam Minho.
"Permisi tuan."ucap Juan yang masuk kedalam ruangan Minho.
"Kau menemukannya?"tanya Minho.
"Hampir tuan, tapi saya menemukan info tentang perusahaan paman Riko."ucap Juan menyerahkan berkas itu pada Minho.
Minho membaca secara seksama. "Jadi perusahaan itu adalah perusahaan yang di bangun oleh mereka bertiga? Tapi kenapa paman Barham ingin menghancurkan perusahaan itu kalau mereka sendiri yang membangunya."ucap Minho.
"Itu yang sedang saya cari tuan, tapi menurut saya tuan Barham tidak ingin menghancurkan perusahaan itu. Sepertinya terjadi pertengakaran hebat antara mereka, yang membuat mereka akhirnya memilih jalannya sendiri-sendiri."uap Juan.
"Jadi maksud mu, perusahaan itu dibiarkan dipegang oleh paman Riko sedangkan ayah ku dan ayah Barham membangun perusahaannya sendiri?" Juan mengangguk Minho mengusap bibirnya sambil bersandar disandaran kursi kerjanya.
"Mulai masuk akal."ucap Minho.
"Terus cari informasi apa pun sampai ketemu bila perlu kau bayar pengacara yang memegang kasus ini agar mau membuka suara."ucap Minho.
"Baik tuan, tapi..."
"Tapi apa?"
"Kasus ini sudah lama di tutup karena mereka menganggap nasalah ini hanya ketidak sengajaan tuan, dari keterangan tuan Barham dulu dia mengatakan bahwa dirinya tidak berniat menghancurkan perusahaan itu."ucap Juan.
"Lalu kenapa mereka bisa berkelahi hanya karena masalah perusahaan, aakkhhh mumbuat ku pusing saja. Kita harus mendapatkan bukti yang jelas, aku tidak mau Meira ku terus diganggu oleh kedua sodara kembar itu."ucap Minho.
"Baik tuan."ucap Juan lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Hah....apa yang kalian lakukan sebenarnya ayah-ayah ku."gumam Minho.
¡¡¡¡¡¡¡
Hari sudah siang, Meira sekarang saatnya belajar, ayahnya memanggilkan guru les untuk Meira selama tidak bisa belajar di sekolah jadi Meira tidak akan ketinggalan pelajaran.
Meira terus mencatat apa yang gurunya jelaskan, dengan kaca mata baca yang selalu dia bawa. Ya dia selalu membawa kaca mata mau kesekolah atau pun tempat lain, karena dengan kaca mata itu dia bisa belajar dengan jelas.
"Kau sudah mengerti Meira?"tanya Vika, guru les Meira.
"Sudah bu."jawab Meira lalu menatap tulisannya.
"Jika kau ingin tanya-tanya atau apa pun telpon saja ibu, asalkan itu berhubungan dengan pelajaran."ucap Vika Meira terseyum dan mengangguk.
Guru les Meira merapikan alat belajarnya lalu pamit pergi, sekarang hanya tersisa Meira di kamar itu.
Meira menatap keluar jendela, melihat burung yang terbang lalu hinggap di jendela. Meira terus menatap burung itu begitu juga burung putih itu.
"Hidup mu menyenangkan, kau bisa bebas terbang tanpa hambatan. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau tanpa peduli orang lain, aku ingin menjadi seperti mu."gumam Meira lalu burung itu pergi dari jendela itu.
Meira menghelakan nafasnya, dia menatap tanganya yang terbungkus perban. Luka itu tidak dalam tapi rasa sakitnya sampai dalam.
"Kenapa? Aku selalu merasa bahwa dunia tidak adil pada ku padahal dunia sudah memberikan ku yang terbaik."gumam Meira.
Dia beranjak turun dari ranjang pasiennya dan melepas infus di tanganya, Meira melangkah pergi dari kamar inapnya.
Minho baru saja pulang dari kantornya, tubuhnya terasa lelah. Untung saja pihak sekolah memberinya ijin untuk tidak turun hari ini.
Saat ingin masuk kedalam kamarnya langkah Minho terhenti karena dering ponselnya.
"Mamah."gumam Minho lalu mengangkat telpon itu.
"Hallo..."
"Minho apa Meira bersama mu?"tanya Nara di sebrang telpon.
"Tidak ada mah, bukan kah Meira masih di rawat di rumah sakit?"tanya Minho.
"Hiks...Minho Meira hilang.."
"Apa?..Minho akan kesana mah."ucap Minho lalu dengan cepat keluar dari rumahnya dan pergi.
Mobil itu melaju kencang membelah jalanan, sesampainya Minho di rumah sakit dia keluar dari mobil dan melangkah masuk.
Bersamaan dengan Minho seseorang melangkah ketepian pembatas. Melihat kebawah.
"Wahhh cukup tinggi."gumam orang itu lalu melihat awan.
__ADS_1
"Aku lelah.....aku lelah seperti ini terus. Aku ingin bebas, kenapa ayah selalu menekan ku? Kenapa teman-teman selalu memusuhi ku? Aku salah apa? Tekanan ini sungguh membuat ku lelah....hiks..."ucap orang itu Meira.
Dia kembali melihat kebawah, ada rasa ragu di hatinya tapi dia sudah sangat lelah dengan semua ini. Bahkan rasa sakit tamparan dari ayahnya masih terasa, dia butuh Minho di sampingnya.
"Maafkan aku, Minho..."
Dilantai bawah Minho dan lainnya terus menacari sampai dia mendengar seseorang berteriak.
"Nak...jangan..."
Minho menoleh kearah ibu-ibu yang berdiri diluar menghadap keatas. Minho pun keluar dan melihat apa yang ibu itu lihat, mata Minho membulat.
"MEIRA..."teriak Minho lalu berlari masuk.
Di atas sana Meira sudah menangis, dilihatnya orang-orang dibawah sana menatapnya meneriakinya jangan.
"Kenapa? Kenapa kalian melarang ku? Apa kalian tidak bosan dengan hidup ini."ucap Meira.
Meira memejamkan matanya. "Mamah ayah Minho....aku sayang kalian."ucap Meira menjatuhkan dirinya.
Belum sempat Meira melayang jatuh seseorang lebih dulu menariknya. Membuat mereka berbentur dengan atas atap keras itu.
"Akhh.."rintih orang yang menyelamatkan Meira lalu melihat kearah Meira.
"Apa kau bodoh."teriak orang itu Meira menunduk sambil menangis.
"Apa gunanya aku hidup.."
"Ya kau memang tidak berguna, tapi jangan bodoh dengan mengakhiri hidup mu. Itu bukan cara menyelesaikan masalah."ucap orang itu.
"Mengerti apa kau tentang masalah ku, AKU TIDAK PANTAS HIDUP."teriak Meira menangis.
"Wahhh kau sungguh gila, apa kau pikir setelah kematian mu tidak ada orang yang terluka? apa kau pikir setelah kau mati tidak ada orang yang merasa kehilangan? Kau sungguh gila kau egois, kau hanya memikirkan perasaan mu. Pikirkan orang tua mu, mereka mencari mu tapi kau malah di sini ingin mengakhiri hidup mu. Apa begini cara mu membalas kebaikan orang tua mu yang sudah membersarkan mu."ucap orang itu Meira terdiam sambil terus menangis.
"Kau boleh lelah kau boleh menangis tapi tidak dengan bunuh diri, kau bodoh Meira. Aku pikir kau gadis yang kuat."ucap orang itu membuat Meira tertegun.
Meira menatap orang itu, betapa terkejudnya Meira melihat Hana yang menolongnya.
"Apa kau pikir aku hantu melihat ku terkejud seperti itu. Akhh tangan ku."ucap Hana Meira menatap tangan Hana.
"Maafkan aku."ucap Meira.
"Untuk apa kau minta maaf pada ku, peluk orang tua mu dan minta maaflah mereka sudah sangat mengkhawatirkan mu, mereka takut kehilangan mu kau tidak lihat bahkan ibu mu sambil menangis mencari mu."ucap Hana lalu beranjak Meira terdiam mendengar ucapan Hana.
"Aku ingatkan lagi, kau tidak boleh seperti itu. Kau seperti bukan Meira yang ku kenal, Meira adalah gadis kuat dan berani melawan siapa pun. Jika aku melihat mu ingin menghabisi nyawa mu lagi, tidak perlu repot untuk melompat kau datang saja pada ku aku yang akan menghabisi mu.....akh merepotkan sekali."ucap Hana lalu melangkah pergi.
"Terimakasih."ucap Meira Hana sempat menghentikan langkahnya dan terseyum.
__ADS_1
"Sama-sama."balas Hana lalu melanjutkan langkahnya.