
Malam telah menghampiri, Meira melangkah menuruni tangga lalu pergi menuju dapur, untung saja dia bisa masak jadi tidak perlu repot membeli makanan di luar.
Membuat sup dan teh hangat adalah pilihan Meira. Selesai dari aktivitasnya Meira menikmatinya di meja makan.
"Aaahhh....rasa kuahnya enak sekali."ucap Meira.
Sambil menikmati makannya tanganya satunya memegang ponsel melihat berita-berita. "Wahhh ini ayahnya Hana bukan? Keluarga mereka benar-benar hancur dibuat Minho."ucap Meira.
Selesai dari makan malamnya Meira langsung mencuci bekas makanannya, lalu setelah selesai dia melangkah menuju tangga belum sampai pertengahan tangga tiba-tiba listri paham dan hujan mulai turun dengan gutur dan kilat yang menggelegar.
"Kenapa tiba-tiba begini."gumam Meira dia meresa takut.
Tiba-tiba ada suara barang jatuh dari atas meja. "Apa itu." Meira menyalakan senter ponselnya lalu mengarahkan kesemua penjuru.
Di lihatnya hiasan meja yang di beli ibunya sudah jatuh kelantai. Meira mendekati benda itu dan mengebalikannya ketempat semula.
Langit tiba-tiba berubah cerah dan di susul dengan guntur yang menggelegar.
"Aaakhh."teriak meira menutup telinganya.
Di rumah berberbeda Minho sedang berusaha mencari kunci mobilnya.
"Aakkkhh sialan di mana kunci mobil ku."gumamnya.
Perasaannya sedang tidak enak, pasti terjadi sesuatu pada Meira. "Aha ketemu, Tunggu aku sayang."ucap Minho berlari keluar kamarnya.
Kembali pada Meira, gadis itu itu sudah menangis di pojokan sofa sambil memeluk kakinya. "Hiks...Minho aku takut."ucapnya menangis.
Suara guntur itu kembali lagi semakin membuatnya takut. Tangis Meira mesih terdengar, tiba-tiba Meira mendengar suara pintu terbuka.
"Minho.."panggil Meira tapi tidak ada balasan.
Terdengar suara langkah kaki yang perlahan masuk. "Siapa itu?"ucap Meira lagi tapi tidak ada balasan.
Tiba-tiba hening hanya ada suara hujan, tidak lama suara langkah itu mulai mendekat. Emira semakin meringkuk berusaha melindungi dirinya.
"Hiks....Minho kau dimana."gumam Meira ketakutan.
"Disitu kau rupanya."ucap seseorang membuat Meira mengakat kepalanya.
Gadis itu semakin ketakutan. "Aakhhh.."
Di jalan Minho sudah mengegerutu tidak jelas. "Akakh kenapa sedang hujan seperti ini malah macet."ucap Minho marah dia membunyikan klaksonnya berkali-kali agar orang semuanya minggir.
"Woiii kami juga sedang terjebak macet."teriak orang dalam mobil di depannya.
"Wooiii saya sedang terburu-buru di sini."balas Minho mengeluarkan kepalanya keluar jendela mobil.
"Oh ya ampun ternyata tuan muda."ucap orang itu lalu menyingkatkan mobilnya agar Minho bisa lewat.
__ADS_1
"Seperti itu kek dari tadi."ucap Minho, semua mobil menyingkit agar Minho bisa lewat.
Akhirnya dia lolos dari kemacetan itu, dengan kelajuan tinggi dia memecah jalanan. Sesampainya di rumah Meira Minho langsung keluar mobil dan masuk kedalam mobil itu
"Aakhh.."
Prang.
"Sayang..."teriak Minho mencari keberadaan Meira.
Minho melihat barang-barang diruang tamu yang berantkan. Lalu terdengar suara dari lantai atas.
"Di kamar."gumam Minho lalu berlari menaiki tangga.
Sesampainya di kamar, Minho mendengar Meira yang berteriam Minho tolong.
"Lepaskan aku tolong."
Sekali tendang saja pintu itu terbuka. Meira langsung menatap Minho dan menendang orang itu agar menjauh darinya.
"Minho tolong aku, orang itu berniat jahat.."ucap Meira Minho melihat baju gadis itu yang tersobek bagian dada.
"Kurang ajar."ucap Minho langsung menghampiri orang itu dan mengahajarnya.
Meira berlindung di balik meja, meringkuk ketakutan. Sedangkan Minho sedang menghajar orang itu habis-habisan.
"...aakh.."
Meira melihat orang itu yang sudah berlumuran darah di topengnya, Meira perlahan menghampiri Minho.
"Min...sudah jangan membunuhnya."ucap Meira menarik baju Minho.
"Tapi dia dengan beraninya menyentuh mu aku tidak terima."ucap Minho melanjutkan aksinya.
"Minho..hiks..sudah aku takut.."ucap Meira tijuan terakhir itu terhenti lalu Minho menatap Meira yang manangis
Minho melepas orang itu dan memeluk Meira. "Maafkan aku sayang...maaf.."ucap Minho.
Tangis Meira pecah dia sangat ketakutan. "Dia hampir melecehkan ku."ucap Meira Minho memeluknya erat.
"Aku akan memanggil Juan."ucap Minho lalu meraih ponselnya.
Orang itu sudah tersungkur tidak berdaya mau kabur pun sudah tidak ada tenaga. Meira menatap orang itu dan melihat jelas mata orang itu.
"Junggo.."ucap Meira membuat Minho bungung.
"Junggo? Kenapa sayang."ucap Minho.
"Dia Junggo Minho."ucap Meira menunjuk orang itu.
__ADS_1
Minho mendekati orang itu dan membuka topeng yang dia pakai. "Sialan."ucap Minho hampir ingin memukulnya tapi Meira menahanya.
"Jangan Minho, kau akan membunuhnya. Nanti Biarkan pihak berwajib saja yang menghukumnya."ucap Meira.
Minho mendekat pada Meira dan memeluknya erat, dilepas jaket yang dia kenakan dan memakaikannya pada Meira.
Tidak lama lampu sudah menyala dan Juan masuk kedalam menghampiri mereka. "Tuan dan nona tidak papa?"tanya Juan.
"Juan bawa penjahat itu pergi, dan pastikan dia mendapatkan hukuman yang setipal. Dia sudah berani menyentuh wanita ku."ucap Minho.
"Baik tuan akan saya lakukan."ucap Juan lalu membawa Junggo keluar kamar.
Minho memegang kedua bahu Meira. "Kau tidak papa sayang, apa yang terjadi tadi?"tnaya Minho.
"Tadi setelah makan, tiba-tiba listri padam aku kira listrik padam karena hujan ternyata Junggo yang melakukannya. Dia melukai ku dan menyeret ku ke kamar, Minho dia hampir melecehkan ku untung saja kau datang."ucap Meira Minho memeluknya erat.
"Sekarang tenanglah, ada aku disini. Maaf seharusnya aku menemani mu sayang, bodohnya aku malah meninggalkan mu sendirian di rumah."ucap Minho.
"Hiks...Minho aku takut..."ucap Meira menangis Minho mencium keningnya.
"Tidak papa, sekarang sudah aman. Aku akan menjaga mu sayang, ssssstttt tenang lah."ucap Minho.
Semua sudah dibereskan, ruang tamu sudah di rapikan. Meira sekarang duduk di sofa ruang tamu sedangkan Minho diluar bersama Juan sedang bicara dengan polisi tentang kejadian ini.
"Nona Meira."panggil polisi yang datang bersama Minho dan Juan.
"Saya ingin menanyakan sedikit tentang kejadian ini, apa bisa?"tanya polisi itu Meira mengangguk.
Walau masih takut Meira berusaha menenangkan dirinya. "Nona jelaskan secara bagaimana kejadiannya?"tanya pelisi itu.
"Aku baru selesai makan saat ingin pergi menuju kamar tiba-tiba lampu mati, setelah lampu mati karena takut aku duduk disofa itu. Aku pikir lampu mati karena hujan ternyata dia yang melakukannya, mematikan aliran listri di rumah ini. Aku sama-sama mendengar dia menyebutkan akan balas dendam tapi aku tidak tau dia ingin balas dendam pada siapa karena saat itu aku sangat panik dan berusaha melawannya."ucap Meira.
"Lalu apa saja yang dia lakukan pada nona?"tanya polisi itu.
Meira terdiam lalu mengingat kejadia itu membuat air matanya perlahan mengalir. "Tidak...aaaa tidak mau, tidakkkkkk..." Minho langsung memeluk gadis itu.
"Maaf pak, sebaiknya jangan menanyakan hal itu dulu padanya. Dia masih takut dengan kejadian itu."ucap Minho memeluk Meira erat.
Polisi itu mengahelajan nafasnya. "Baiklah, jika nona sudah siap untuk berbicara maka beritahu kami, agar pelaku bisa di hukum sesuai perbiatannya dan hanya nona yang bisa menjelaskannya."ucap polisi itu.
"Baik pak, kami akan memberitahu saat nona kami sudah membaik."ucap Juan lalu membawa polisi itu keluar.
"Ssstttt tenang sayang...tenangkan diri mu."ucap Minho.
"Minho dia mengancam akan membunuh mu.."ucap Meira.
"Jika itu yang membuat mu takut?" Meira mengangguk.
"Jangan temui dia Minho, jangan temui dia.."ucap Meira memeluk Minho.
__ADS_1
"Tidak...tidak...aku tidak akan menemuinya kau tenang saja."ucap Minho.
Meira menangis dalam pelukan Minho.