
Minho memandangi wajah Meira yang tertidur dilenganya, setelah aktifitas panas mereka Meira langsung tertidur karena lelah.
"Kau sampai salah paham pada ku, mana mungkin aku meninggalkan mu sayang. Aku sangat mencintai mu dan hanya kau wanita di hati ku." Gumam Minho sambil mengelus pipi Meira.
Setelah berhasil menenangkan istrinya yang menangis karena rasa bersalah padanya, Minho memasangkan kalung itu dan tentunya setelah itu Minho melepaskan rasa rindunya dengan melakukan aktifitas panas mereka.
Minho terseyum. "Melihat mu marah tadi kau terlihat lucu." Gumam Minho.
"Kenapa bisa aku mecintai wanita cerewet seperti mu." Lanjutnya.
"Uugghh..." Meira perlahan terbangun.
"Hy..." Sapa Minho Meira menatapnya lalu mendekat dan memeluk Minho.
"Kenapa hhm?" Tanya Minho Meira menggeleng.
Minho mencium pucuk kepala istrinya, Meira mengangkat kepalanya menatap Minho. "Kau tidak marah lagi kan?" Tanya Meira.
Minho terseyum. "Tidak jika kau membayarnya dengan ciuman." Jawab Minho dengan cepat Meira mencium bibirnya.
Minho membalas ciuman itu, bermain dengan bibir istrinya lembut. Lidah itu saling bertemu, Minho berpindah posisi menindih Meira.
"uuugghhh.." Lenguhan Meira disela ciuman itu saat sesuatu berusaha masuk dibawah sana.
Ciuman itu terlepas meninggalkan jejak basah dibibir mereka. "Kita lanjutkan yang tadi." Ucap Minho memulai aksinya.
Meira melenguh merasakan permainan Minho, pria itu menggenggam tangan Meira dan semakin mempercepat permainannya.
"Sayang..."
"Sebentar lagi." Ucap Minho mendekatkan wajahnya dileher Meira bermain dileher putih yang dipenuhi noda merah karya dari Minho.
Lenguhan mereka menyatu saat merasakan pelepasan itu. Nafas keduanya berderu, Minho mencium pipi Meira.
"Aku tidak marah pada mu, tapi aku marah pada diri ku sendiri. Kenapa aku bisa bersikap seperti itu pada istri ku, maafkan aku sayang seharusnya aku bisa menahan marah ku." Ucap Minho menatap Meira.
Tangan Meira bergerak mengelus pipi Minho. "Tidak papa, aku paham kau seperti itu demi melindungi ku. Maaf sudah curiga pada mu." Ucap Meira Minho terseyum.
"Kau tau, kau imut saat cemburu." Ucap Minho.
"Imut?"
"Iya, melihat wajah mu saat pagi itu yang cemburu ada gadis lain menatap ku. Padahal selama joging aku tidak sadar ada mereka disana." Ucap Minho.
"Ishhh siapa juga yang cemburu." Ucap Meira Minho menyipitkan matanya menatap Meira.
__ADS_1
"Benarkah tidak cemburu? Kalau begitu nanti aku dekati saja gadis-gadis itu saat joging." Goda Minho.
"Iiii sayang jahat.." Ucap Meira matanya sudah berkaca.
"Hy...hy...tidak tidak sayang, aku hanya bercanda jangan menangis." Ucap Minho menangkup wajah Meira.
"Makanya jangan bicara seperti itu." Ucap Meira.
"Iya...iya aku salah, maaf." Ucap Minho mengelus pipinya.
"Aku mau mandi badan aku terasa lengket." Ucap Meira.
"Mandi bersama." Ucap Minho lalu mengangkat tubuh Meira dan membawanya menuju kamar mandi.
Meira pun tidak menolaknya, lagi pula dia suka seperti itu.
♡|♡|♡|♡|♡|♡
Minho memeluk Meira dari belakang saat istrinya sedang memilih baju yang akan mereka pakai untuk jalan-jalan siang ini.
"Kita mau piknik kan? Kita pakai baju ini saja." Ucap Meira menyerahkan kaos dan celana pada Minho.
Minho tentu tidak menolak pilihan istrinya, kalau istrinya yang memilih itu artinya Meira menyukainya.
Meira memakai dress berwarna putih dengan motif bunga berwarna hijau muda ditambahkan tas selempang terbuat dari rotan, sedangkan Minho memakai kaos putih dan celana berwarna putih gading.
Mereka melangkah keluar kamar. "Kita siapakan makanan yang mau dibawa piknik dulu." Ucap Meira.
"Tidak perlu aku sudah menyiapkannya." Ucap Minho.
"Hah? Sudah disiapkan? Kapan?" Tanya Meira.
"Kemarin, sudah siap di bagasi mobil ku dan untuk makanannya aku sudah pesankan direstoran yang kau suka. Aku memang sudah menyiapkan semuanya karena aku ingin menghabiskan waktu bersama istri ku." Ucap Minho Meira terseyum.
"Terimakasih sayang." Ucap Meira.
"Sama-sama cantik ku, sudah yuk kita berangkat." Ucap Minho mereka melangkah pergi.
Tidak lupa Kukie dibawa. (Mengenai Kukie dia jarang masuk dalam cerita karena juga bingung mau nulis apa buat ada kukienya dalam cerita, jadi ya akhirnya Kukie jarang muncul. Okey ajungkan jempol kalian 👍👍😄😄.)
▪♡▪♡▪♡▪♡▪♡▪♡▪
Mereka sampai di sebuah lokasi dimana itu memang dijadikan tempat piknik, Meira turun dari mobil dengan Kukie yang terikat dengan tali.
"Kau boleh bebas." Ucap Meira melepas tali itu pada Kukie.
__ADS_1
Kukie berlarian bebas kesana kemari bahkan juga ada yang membawa hewan peliharaan jadi Kukie bermain bersama mereka.
"Ayo sayang." Ucap Minho yang sudah memegang karpet dan keranjang.
Meira menggandengan tangan Minho dan mereka melangkah bersama, sesekali Kukie berlari kearah mereka mengikuti langkah juragannya.
"Disitu saja." Tunjuka Meira ditempat yang memang masih kosong.
Minho memeriksa tempat itu memastikan tidak ada jalur semut atau pun sarangnya, setelah itu Minho mengelar karpet dan meletakan keranjang makanannya di tengah karpet.
"Sayang juga bawa makanan Kukie?" Tanya Meira.
"Bawa sayang, aku simpan di kotak terpisah agar aman." Jawab Minho sambil membantu menyusun makan-makan itu.
"Kukie." Panggil Meira anjing itu berlari mendekati mereka.
"Ini makanan dan minuman ku." Ucap Meira, Kukie langsung melahapnya.
"Dia pasti belum makan seharian ini." Ucap Minho melihat Kukie yang lahap memakan makanannya.
"Ina tidak berani dengan anjing, jadi dia tidak bisa memberikan Kukie makan." Ucap Meira.
"Oohh begitu." Ucap Minho. "Apa letakan Kukie diruangan ku saja?" Tanya Minho dia ada maksud lain.
"Kenapa? Kan dia tidur dikamar kita." Ucap Meira.
"Maksud aku saat siang dia diruang kejaku saja, kita akan siapkan makan dan minumnya di sana sekalian tempat tidurnya kalau Kukie mau tidur setelah makan, dari pada diluar kan kasihan Ina." Ucap Minho.
"Uuumm kau benar juga, ya sudah kalau tidak menganggu perkerjaan mu." Ucap Meira.
"Tidak kok tidak akan menganggu." Ucap Minho terseyum.
"Setidaknya kalau ada Kukie di ruangan ku Ina tidak akan berani masuk lagi." Batin Minho.
"Sayang.." Panggil Meira.
"Iya kenapa sayang?" Tanya Minho.
"Bilang tidak ya." Batin Meira.
"Uumm tidak, tidak jadi." Ucap Meira.
"Kau itu ada-ada saja, memangil tapi tidak jadi." Ucap Minho Meira hanya terseyum.
Selanjutnya mereka menghabiskan waktu bersama berbagi cerita apa saja yang dilakukan selama mereka tidak saling bicara, bermain kejar-kejaran dengan Kukie dan banyak lagi.
__ADS_1
Meira dan Minho menikmati waktu itu, menggantikan watu 2 hari tanpa bicara yang membuat mereka saling menyadari kesalahan. Tentu dalam setiap hubungan pasti ada pertengkaran dan salah paham.
Dan saat itu lah mereka bisa belajar saling mengerti dan memahami, bukan menggunakan ego untuk menyelesaikan masalah tapi saling terbuka dan mengeluarkan apa pun yang dirasa itu jauh lebih baik dari pada dipendam menjadi rasa sakit untuk diri sendiri.