Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
saksi


__ADS_3

Pagi menjelang, Minho lebih dulu bangun dari Meira. Diciumnya kening Meira.


"Kalau aku tinggal mandi dia bangun tidak ya." Gumam Minho rasa takutnya tadi malam masih ada jika dia meninggal Meira.


"Sayang aku mandi dulu ya."ucap Minho sambil menggoyangkan badan Meira.


"Hhmm.." Balas Meira perlahan bergerak merubah posisinya membelakangi Minho dan kembali tidur.


Minho mencium kepala Meira lalu beranjak pergi menuju kamar mandi, sedangkan Meira lanjut tidur. 15 menit kemudian Minho keluar dari kamar mandi dan melihat Meira masih tidur.


Minho tidak masalah, dari pada istrinya kelelehan melayaninya pagi ini lebih baik Meira tidur. Minho memekai baju kerjanya lalu melangkah kemeja rias untuk mengaca merapikan rambutnya.


Saat berbalik Minho terkejud Meira ada di depannya. "Sayang..." Ucap Minho Meira mengambil alih dasi suaminya dan memasangkannya.


"Sayang ikut kekantor?" Tanya Minho Meira menatapnya.


"Boleh?"


"Boleh dong sayang, siapa yang ngelarang. Aku juga gak mau kamu kenapa-kenapa sendirian di rumah." Jawab Minho memeluk pinggang Meira.


"Ya udah aku mandi dulu ya, dasi mu udah rapi." Ucap Meira berniat pergi tapi Minho menahannya.


"Kenapa?" Tanya Meira Minho mengecup bibir Meira.


"Morning kiss." Ucap Minho Meira terseyum lalu mencium bibir Minho.


Minho membalas ciuman itu, walau Meira belum gosok gigi Minho tidak masalah untuk itu.


Meira mendorong bahu Minho. "Udah ah, aku belum mandi nanti sayang terlambat oleh ku." Ucap Meira melepas pelukan itu dan melangkah kekamar mandi.


●●●●●


Minho menunggu Meira di lantai bawah sambil memainkan ponselnya menerima pesan dari Juan tentang proyeknya.


"Sayang." Panggil Meira saat menuruni tangga Minho menolah dan terpukau melihat kecantikan Meira.


"Ayo, kita sarapan di kantor kan?" Tanya Meira sudah berada didepan Minho.


"Kita batal saja ya perginya?" Ucap Minho menyimpan ponselnya dan memeluk pinggang Meira.


"Loh kenapa? Apa ada masalah sayang?"


"Ada, kau masalahnya." Jawab Minho.


"Oohh, aku gak boleh ikut ya." Ucap Meira sedih.

__ADS_1


"Bukan karena itu sayang." Ucap Minho lalu mendekat dan berbisik. "Kau membuat ku ingin melahap mu." Bisik Minho lalu mencium leher jenjang Meira.


Meira memejamkan matanya lalu dia membukanya dan terkejud melihat Ina lewat dengan cepat didorongnya bahu Minho.


"Kau ini Ina melihatnya." Omel Meira malu Minho hanya terseyum.


"Ayo sekarang kita berangkat." Ucap Meira menarik tangan Minho, cowok itu hanya pasrah Meira menarik tangannya.


....


Sepanjang jalan mata Minho terus melirik Meira, sungguh istrinya terlihat sangat cantik membuatnya ingin melahap Meira.


"Fokus pada jalan sayang aku tidak ingin mati." Ucap Meira yang sadar Minho memperhatikannya.


"Apa salahnya aku kan melihat istri ku sendiri." Ucap Minho.


"Hhmm terserah kau saja, tapi kalau sampai kita kenapa-kenapa aku colok mata mu." Ancam Meira membuat Minho meneguk ludahnya.


"Sadis." Gumam Minho.


Tidak lama mereka sampai di sebuah perusahaan milik Minho, cowok itu langsung keluar dan melangkah membukakan pintu untuk Meira.


"Ayo sayang." Ucap Minho setelah membuka pintu dan mengulurkan tangnya.


Meira menerima tangan itu dan keluar, seorang penjaga datang menghampiri mereka.


"Pagi, tolong parkirkan mobil. Kuncinya nannti berikan pada Juan." Ucap Minho lalu melangkah pergi.


"Baik tuan." Penjaga itu sedikit melihat Meira yang memangsang seyum cantik sekali istri bosnya itu.


Tiba-tiba langkah Minho terhenti membuat Meira bingung. "Ada apa?" Tanya Meira.


"Bisa kau berhenti terseyum?" Pertanyaan Minho membuat Meira bingung.


"Memangnya kenapa?"


"Kau tidak sadar, dia melihat mu dari tadi karena kau terseyum. Iaashhh aku tidak suka istri ku ditatap cowok lain." Ucap Minho siap mendatangi penjaga itu tapi di tahan Meira.


"Sudah-sudah jangan cari ribut, kau ini masalah aku seyum dan dia melihat saja kau ributkan. Wajar jika mereka melihat ku, karena aku memang memasang seyum untuk mereka ya kali aku cemberut." Ucap Meira menatap Minho kesal.


"Aku hanya tidak suka cowok lain melihat mu, kalau wanita tidak masalah." Ucap Minho.


"Aaahhh sudahlah Minho kau berlebihan." Ucap Meira lalu melanjutkan langkahnya menuju Lift.


"Berlebihan dia bilang dan apa tadi dia memanggil nama ku, cih..awas kau sayang." Gumam Minho menyusul Meira.

__ADS_1


Saat memasuki lift dan pintu lif tertutup, Minho langsung menarik pinggang dan tekuk Meira lalu mencium bibir Meira membuat istrinya itu terkejud.


"Uuumm Sa...yang..." Meira berusaha melepasnya dengan memukul dada Minho tapi suaminya itu tidak peduli.


"Aku merindukan mu." Ucap Minho setelah ciuman itu terlepas.


Meira berulang-ulang menghirup oksigen sambil menatap Minho yang menatapnya lekat, tangan cowok itu mengelus pipinya.


"Sayang....aku merindukan mu, boleh ya?" Tanya Minho.


"Ini dikantor sayang, apa kau ingin melakukannya di kantor mu ada-ada saja." Ucap Meira menatap suaminya yang sudah menatapnya lirih.


Sepertinya suaminya itu memang sangat menginginkannya, Minho memeluk Meira meletakan kepala di bahu Meira.


Meira jadi tidak tega. "Baiklah terserah diri mu saja." Ucap Meira Membuat Minho menegakakan kepalanya.


"Serius sayang?" Tanya Minho memastikan Meira menganguk.


Minho terseyum lalu mencium kening Meira. Setelah pintu Lift terbukan, Minho langsung membawa Meira keruanganya melewati sederakan meja kerja karyawannya.


Semua karyawannya memberikan salam selamat pagi dan hanya Meira yang mmebalasnya.


Meira menatap kesal suaminya. "Salam orang tidak dibalas dasar cupu kau, jahat sekali." Batin Meira.


"Tuan.." Panggil Juan saat Minho ingin membuka pintu ruangannya.


"Iya Juan ada apa?" Tanya Minho melihat kearah Juan.


"Saya menadapatkan informasi penting." Jawab Juan.


"Aaahhh ini nasip kalau di kantor tidak ada waktu luang." Batin Minho kesal. "Masuk keruangan ku." Ucap Minho melanjutkan langkahnya.


Meira hanya dia mengikuti tarikan suaminya sampai didalam ruangan Minho, Meira melepas genggaman tangan Minho dan berlari kearah kaca melihat pemandangan indah.


"Wahhh aku baru melihat kota dari atas sini, ternyata bagus. Aku jarang sekali datang keperusahaan ayah, paling hanya sampai loby aku kesana." Gumam Meira masih memperhatikan pemandangan.


"Tuan.." Panggil Juan mengalihkan perhatian Minho yang awalnya terus memperhatikan istrinya.


"Iya kata saja." Ucap Minho lalu menatap istrinya lagi.


"Dari informasi yang saya dapat, ternyata tuan Henry adalah saksi pembunuhan itu." Ucap Juan membuat Minho terkejud dan langsung menatap Juan.


"Apa? Kau yang benar saja Juan, jika ayah ku saksinya kenapa kasus pembunuhan itu tidak diperpanjang bahkan penjelasan istrinya mengatakan kalau dia tidak memiliki saksi atas pembunuhan itu." Ucap Minho Meira menolah pada mereka.


"Itu yang saya bingungkan tuan, jika tuan Henry adalah saksinya tapi kenapa tuan Henry tidak melapor atas pembunuhan itu, dan untuk istri pak hakim dia memang tidak melaporkan atas pembunuhan itu tuan dia tidak ingin masalah itu di perpanjang karena dia menutupi pembunuhan itu." Ucap Juan.

__ADS_1


Minho tampak berpikir. "Tidak mungkin dia mau merahasiakan pembunuhan itu begitu saja, pasti ayah mengancamnya. Aaakkkhh ayah kenapa kau terlibat dalam hal ini." Gumam Minho memijit keningnya yang pusing.


__ADS_2