
Mereka sudah sampai di rumah setelah pulang dari rumah sakit, dokter bilang hanya ada 2 goresan yang cukup panjang di gusi dan langit-langit mulut Meira. Jadi dokter menyarankan Meira untuk tidak memakan makanan yang rasanya bisa membuatnya perih, seperti pedas atau asin.
Minho melangkah mendahului Meira dan pergi keruang kerjanya begitu saja tanpa bicara pada Meira.
Meira hanya diam, dia meremas tanganya. "Maaf." Gumam Meira lalu melangkah menuju lantai dua dan kekamarnya.
Di dalam ruangan Minho duduk disofa sambil mengatur nafasnya. Amarahnya masih terasa, bahkan Minho ingin sekali mengamuk.
"Aaakkhhh pelayan sialan." Teriak Minho.
Lalu dia melihat ruangannya yang sudah kembali rapi. "Apa yang dia kerjakan sebenarnya, kenapa selalu masuk kedalam ruangan ku." Gumam Minho.
.....
Didalam kamar Meira sudah membersihkan dirinya dia duduk ditepian ranjang, jam menunjukan jam 12 malam.
"Apa dia tidur diruang kerjanya, sayang maafkan aku." Gumam Meira lalu pintu kamar itu terbuka memperlihatkan Minho yang menatapnya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Minho.
"Belum ngantuk." Jawab Meira.
Minho menutup pintu itu dan melangkah menuju kamar mandi, Meira terus menatapnya. Meira menunduk sedih.
Tidak lama Minho keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidurnya, setelah itu dia melangkah menuju ranjang dan merebahkan dirinya di sana membelakangi Meira.
"Tidur lah sudah malam." Ucap Minho lalu memejamkan matanya.
Meira mengusap pipinya yang basah, dia menidurkan dirinya dan menghadap Minho.
"Selamat malam." Ucap Meira lalu memejamkan matanya karena rasa kantuknya wanita itu sudah tertidur.
Minho hanya diam dia membuka matanya, rasa kantuknya hilang. Padahal rasa kantuknya sudah datang saat makan tadi menemani Meira tapi karena kejadian itu membuat rasa kantuknya hilang.
Minho membalikan badanya menjadi telentang, tanganya tidak sengaja menyentuh tangan Meira yang lurus kearah bawah. Di ambilnya tangan itu dan menciumnya. Minho kembali memutar posisinya menghadap istrinya.
"Maafkan aku, aku bersikap dingin pada mu. Aku khawatir pada mu sayang, aku tidak suka ada orang yang melukai mu membuat ku ingin sekali menghabisinya." Gumam Minho tangannya mengelus pipi Meira.
"Maafkan aku." Gumam Minho lagi.
Karena merasakan usapan di pipinya membuat Meira perlahan membuka matanya, Minho yang menyadari itu dengan cepat memejamkan matanya pura-pura tidur.
Meira yang melihat suaminya tidur sambil menggenggam tanganya membuatnya terseyum. Dielusnya pipi Minho dan mencium kening suaminya.
"Selamat malam suami ku." Ucap Meira lalu kembali tidur.
__ADS_1
Minho sedikit mengitip dan melihat Meira jadi lebih dekat denganya membuat bibir Minho melengkung.
"Selamat malam juga istri ku." Balas Minho mencium kening Meira.
Karena rasa kantuk yang mulai menyerah Minho menyusul Meira kedalam alam Mimpi.
▪¤▪¤▪¤▪¤▪¤▪¤▪
Meira terbangun dari tidurnya dan melihat tidak ada Minho di sampingnya.
"Sayang..." Panggil Meira.
Tapi tidak ada balasan, bahkan pintu kamar mandi tidak ada terdengar suara germecik air. Dilihatnya jam yang menunjukan pukul 5 dini hari.
"Kemana dia sepagi ini." Gumam Meira lalu membuka selimutnya dan beranjak turun keluar dari kamarnya.
Meira mencari Minho di ruang kerja suaminya tapi tidak ada. "Kemana dia?" Gumam Meira.
"Ina kau melihat suami ku?" Tanya Meira.
"Saya lihat tadi pagi jam 4 tuan sudah memakai baju jogingnya nona, sepertinya tuan sedang lari." Jawan Ina.
"Ooh begitu ya, terimakasih." Ucap Meira lalu melangkah kelantai atas kembali kekamarnya.
Meira sudah berlari menuju taman komplek yang tidak begitu jauh dari rumah mereka, saat sampai disana Meira melihat Minho sedang berlari dengan Headset di telinganya. Meira terseyum dan menyusul Minho.
Meira diam-diam berlari dibelakang suaminya, Minho yang tidak tau dia terus belari sampai dia memelankan larinya.
Saat dia melangkah biasa banyak cowok-cowok yang menatap kearahnya. "Aneh, perasaan mereka dari tadi tidak meliha ku. Membuat ku merinding saja." Gumam Minho yang didengar Meira.
Dia terkekeh pelan mendengar gumam Minho, Minho melepas headset ditenginyanya. Meira sedikit melihatnya, suaminya sungguh tampan dengan keringat-keringan itu.
Tiba-tiba Minho menghentikan langkahnya membuat Meira adengan cepat menghentikan langkahnya juga.
"Kenapa kalian menatapku?" Tanya Minho pada salah satu cowok yang berlari ditaman itu dengan temannya.
"Iiihh kau percaya diri sekali, kami tidak melihat mu, kami melihat wanita itu." Jawab orang itu membuat Minho bingung lalu berbalik.
Betapa terkejudnya dia melihat istrinya terseyum dan melambai padanya.
"Sayang kau menyusul ku?" Tanya Minho pria yang ditanyanya tadi langsung terkejud mendengar Minho memanggil wanita itu dengan sebutan sayang.
Pupus sudah harapan mereka.
"Iya...aku mencari mu dirumah, kata Ina kau sedang joging jadi aku menyusul mu. Kau jahat sekali tidak mengajak ku." Jawab Meira melangkah mendekatinya dan memeluk langan Minho.
__ADS_1
Mereka melanjutkan jalan mereka.
"Aku tidak mau mengganggu tidur mu." Balas Minho sikapnya masih sedikit dingin.
"Jahat...padahalkan aku ingin bersama suami ku terus." Ucap Meira tanpa melihat Minho.
Pria itu sedikit terseyum.
"Isshhh aku tau alasan kau tidak mau mengajak ku, kau pasti suka melihat gadis-gadis itu memandangi mu." Ucap Meira melepas pelukannya pada lengan Minho.
Tapi Minho hanya diam saja.
"Ya sudah kau tidak senang aku disini, kau juga masih bersikap dingin pada ku." Ucap Meira melangkah pergi tapi Minho menahanya.
"Bukan seperti itu sayang. Aku disini joging, aku juga tidak peduli dengan gadis-gadis itu." Ucap Minho menatap Meira yang tidak mau menatapnya.
"Ya terserah kau saja, kau memang sudah marah pada ku sejak kemarin. Sudahlah aku pulang saja." Ucap Meira melepas tangan Minho dan melangkah pergi.
"Sayang...hah.." Minho mengusap wajahnya lalu menyusul Meira.
....
Meira masuk kedalam rumah dengan wajah datarnya melewati Ina yang ingin menyapanya.
"Nona kenapa?" Gumamnya lalu Minho masuk.
"Tuan.."
"Kau siapkan sarapan." Ucap Minho lalu melangkah menuju lantai atas.
"Sepertinya sedang bertengakar." Gumam Ina lalu menuju dapur.
Minho masuk kedalam kamar dan tidak menemukan Meira, tapi ada suara germecik air didalam kamar mandi.
Minho lagi-lagi menghelakan nafasnya, dia juga bingung kenapa dia bersikap dingin pada istrinya. Tapi Minho masih kesal karena Meira yang memebela pelayan itu yang jelas telah membuatnya terluka dan menyalahkan dirinya yang terlalu keras pada pelayan itu.
Meira sudah selesai dengan mandinya, dia melangkah keluar kamar mandi dengan kimono mandi lalu pergi menuju ruang ganti tanpa menghiraukan Minho. Kamar mereka yang luas dan terdapat dua rungan ya itu kamar mandi dan ruang ganti.
Minho lagi yang masuk kedalam kamar mandi untuk memberaihkan dirinya, tidak lama Minho sudah selesai dari mandinya dan melangkah keluar.
Dilihatnya sekeliling kamar tidak ada istrinya, Minho melangkah menuju ruang ganti. Hanya ada baju kerjanya yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Bahkan kau tidak menunggu ku sampai selesai." Gumam Minho.
Biasanya Meira pasti masih ada didalam kamar sampai Minho selesai mandi dan akan membantu Minho memasangkan dasi, tapi sekarang dia tidak ada dikamar.
__ADS_1