Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
aku bukan moster


__ADS_3

"Setelah kajadian itu ayah dijuluki dengan monster bahkan ada beberapa perusahaan menolak kerja sama dengana ayah. Atas tuduhan koropsi yang dilakukan Riko atas nama ayah dan Riko yang terjun dari gedung itu agar kami yang tersangka membunuhnya membuat nama kami tercoreng untung saja kami bisa memperbaiki semuanya dengan mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar." Jelas Barham.


Meira lemas mendengarnya dia terduduk dikursi samping ayahnya.


"Ayah juga tidak menginginkan hal itu jika Henry tidak memancing amarah Riko ayah dengan ikhlas memberikan perusahaan ayah padanya asal semuanya kembali membaik tapi malah itu yang terjadi. Maafkan ayah Meira karena ayah kau terkena imbasnya." Ucap Barham menatap putrinya.


"Ayah tidak seperti itu...ayah tidak bersalah." Ucap Meira memeluk ayahnya sambil menangis.


Berham memeluk putrinya erat. "Ayah tahu sebenarnya kau selalu di ejek anak monster semua itu karena yah....maafkan ayah sayang, ini kesalahan ayah dan kau yang harus menanggung semua itu, maafkan ayah sungguh maafkan ayah." Ucap Barham.


"Tidak ayah jangan minta maaf, Meira tidak masalah setidaknya sekarang Meira tau bahwa ayah Meira tidak bersalah." Ucap Meira Barham terseyum lalu mencium kening Meira.


"Itu sebabnya mamah tidak bisa berbuat apa-apa Meira karena kejadian itu yang membuat mu jadi seperti ini." Ucap Nara Meira melepas pelukannya.


"Tapi seharusnya sejak awal kalian memberitahu ku agar aku bisa mengerti." Ucap Meira.


"Maafkan kami, jika kami memberitahu mu tentang semua ini saat itu mungkin saja kau akan membenci ayah mu sayang." Ucap Nara.


"Mana mungkin Meira membenci ayah Meira sendiri." Ucap Meira Nara terseyum mendengarnya.


"Lalu apa perusahaan itu masih berkerja sama dengan perusahaan ayah?" Tanya Minho.


"Tidak....setelah kematian Riko entah siapa yang memegang perusahaan itu, tiba-tiba mereka meminta pemutusan kerja sama." Jawab Barham.


"Ayah...ibu Billa yang memegang perusahaan itu." Ucap Meira.


"Benarkah itu artinya dia memang memutuskan kerja sama karena sakit hati atas kematian suaminya."


"Tapi yah kenapa kasus ini ditutup?"tanya Minho.


"Karena hakim yang menganani kasus ini telah meninggal karena penyakitnya dan sebenarnya kunci dari kasus ini ada pada hakim itu. Ayah dan ayah mu tidak bisa berbuat apa-apa setelah itu dan hanya bisa menerima semuanya." Jawab Barham.


"Itu tidak bernar Barham." Ucap seseorang membuat mereka mengalihkan perhatian mereka.


"Ayah disini.." ucap Minho.


"Kenapa tidak boleh? Ayah sudah menebak kau pasti mencari tahu tentang semua ini bukan? saat kau menanyakan tentang Riko pada ayah dan ayah langsung menanyakannnya pada Juan." Ucap Henry Minho menatap Juan.


"Maaf tuan, saya tidak bisa menyembunyikannya karena saya takut tuan Henry akan marah." Ucap Juan membela diri.


"Dasar ember." Ucap Minho.


"Sudah jangan kau salahkan dia. Setelah ayah mengetahuinya, ayah berniat membuka lagi kasus ini dan ayah menemukan ada keganjalan." Ucap Henry.


"Apa ayah?" Tanya Minho


"Sebenarnya hakim itu bukan meninggal karena penyakit."ucap Henry.


"Apa? Jadi karena apa?"tanya Minho.

__ADS_1


"Dia dibunuh."jawab Henry mengejutkan mereka semua.


"Siapa yang membunuhnya ayah?"tanya Minho.


"Chika...istri Riko."


"APA?"


*****


Meira duduk termenung dikamarnya, mereka sudah pulang dari rumah orang tua Meira. Dia tidak menyangka bahwa selama ini bulyan dan ejekan itu bersumber dari ayahnya sendiri.


"Dasar anak monster....keluarga mu itu monster...hahahaha." Teriak anak-anak sekolah di SMP nya dulu.


"Kau itu anak monster Meira kami tidak ingin menemani mu."


Meira menutup telinganya.. "Ayah ku bukan monter....kenapa kalian menghina keluarga ku." Tangis Meira remaja saat itu.


"Kalian memang MONSTER....MONSTER..."


"HENTIKANNNNN.." Teriak Meira meremas kupingnya dia terduduk dilantai.


Minho yang saat itu lewat langsung masuk kedalam kamar Meira. Bahkan Kukie juga terlihat berusaha menenangkan Meira.


"Sayang ada apa?" Tanya Minho menghampiri Meira yang tersujut dilantai.


Meira melepar selimut dan bantal pada Minho, cowok itu berusaha menghindar dan menangkap tangan Meira.


"Tidak sayang....kau bukan monster.." Ucap Minho menangkup wajah Meira..


"Minho...mereka terus mengejek ku....mereka mengatai ku monter...Minho aku bukan monster..." Ucap Meira meremas baju Minho.


"Iya sayang iya...kau bukan monster sayang bukan.." Ucap Minho menarik Meira dalam pelukannya.


"Aku bukan monster...aku bukan monster.." Ucap Meira memeluk Minho.


"Sayang tenangkan diri mu ku mohon tenang." Ucap Minho air matanya mengalir.


Ini yang dia takutnya jika setelah Meira tau semuanya gadis itu akan kembali ketakutan.


"Hiks...kata-kata itu terus terngiang di kepala ku....aku bukan monster..aaaaa." Ucap Meira kembali menangis.


"Sayang...tenangkan diri mu kau bukan monster." Ucap Minho mencium pucuk kepala Meira.


....


Minho terus memeluk Meira yang tertidur dipelukannya, tangan Minho terus mengelus kepala Meira lembut.


"Akan ku habisi siapa pun yang membuat mu seperti ini, tidak ada api jika tidak ada yang menyalakannya." Gumam Minho.

__ADS_1


"Sayang..." Panggil Meira terbangun dari tidurnya.


"Iya sayang, kenapa kau bangun..."


Meira memeluk Minho erat. "Aku takut." Ucap Meira.


"Ada aku disini." Ucap Minho mencium kening Meira.


"Dia terus mengejek ku." Ucap Meria.


"Siapa? Siapa yang telah membuat mu seperti ini sayang." Ucap Minho.


"Aku tidak mau mengingatnya itu menyakitkan." Ucap Meira.


"Iya tidak papa, sekarang tenangkan diri mu." Ucap Minho mengelus kepala Meira.


Meira menghirup wangi tubuh Minho membenamkan wajahnya di dada bidang cowok itu. Minho terus mengelus kepala Meira lembut dan sesekali mencium kening Meira.


Meira menatap Minho. "Kenapa sayang?" Tanya Minho.


"Apa kau tidak malu memiliki calon istri gila seperti ku?" Tanya Meira.


"Hy...kenapa bicara seperti itu sayang, kau tidak gila, siapa yang bilang kau gila." Ucap Minho.


"Tapi aku memang gila, aku terus berteriak setiap kali kepanikan ku datang dan kau selalu menenangkan ku. Apa kau tidak malu, nanti ada berita seorang CEO tampan menikahi gadis gila apa kau tidak malu." Ucap Meira Minho tertawa mendengarnya.


"Ishhh aku serius.." Ucap Meira kesal sambil memukul dada cowok itu.


"Mana mungkin ada berita itu sayang, mereka juga tidak akan berani melakukan hal itu." Ucap Minho.


"Kenapa?"


"Karena jika mereka melakukannya, maka nyawa mereka berada ditangan ku." Ucap Minho.


"Dasar psykopat." Ucap Meira.


"Biarkan saja, psykopat seperti ini juga kau sayang pada ku." Ucap Minho membuat pipi Meira memerah.


"Siapa bilang aku sayang, aku biasa saja." Ucap Meira memutar posisi tidurnya membelakangi Minho.


Minho memeluknya dari belakang. "Jangan suka berbohong, itu tidak baik. Jujur pada perasaan mu dan jangan sampai kau menyesal." Ucap Minho membuat Meira terdiam.


"Menyesal kenapa?"


"Menyesal karena terlambat mengatakannya." Jawab Minho sambil mencolek hidung Meira.


"Issshh kau seperti ingin pergi jauh saja, awas kau meninggalkan aku. Aku akan sangat membenci mu." Ancam Meira.


"Kau tega sekali, baiklah-baiklah aku hanya bercanda tadi." Ucap Minho menarik Meira dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2