
"Aaakkkhhh pria itu sungguh membuat ku muak....aku harus membalas segala perbuatannya."
"Kau harus membantu ku, aku tidak mau tau kau harus berhasil kali ini." Ucap Wanita itu sambil mendorong kepala seorang gadis itu duduk di lantai dalam keadaan tangan yang penuh luka.
"Dan aku tidak mau tau KAU HARUS MEMBUNUHNYA KALI INI." Ucap wanita itu penuh penekanan lalu pergi dari hadapan gadis itu meninggalkannya dalam ruangan gelap.
Perlahan air mata itu mengalir dan tangannya meremas kuat.
(*_*_*_*)
"Sayang.." Panggil Minho sepulang dari perusahaannya.
"Iya sayang, aku di dapur." Jawab Meira Minho melangkah cepat mendatangi istrinya dan memeluk Meira dari belakang.
"Kau sedang bikin apa?" Tanya Minho mencium pipi Meira.
"Aku sedang membuat pasta, kau mau?" Tawar Meira.
"Tidak aku minta punya mu saja nanti." Jawab Minho.
"Baiklah." Balas Meira, Minho masih asik terus memeluknya.
"Sayang aku sulit bergerak." Ucap Meira Minho terseyum dan menarik dagunya mencium bibir ranum Meira.
"Uumm sayang...ini nanti gosong." Ucap Meira sudah melepas ciuman itu.
"Hehe...aku merindukan mu, besok kita akan menyinap di rumah ayah ya." Ucap Minho.
"Kenapa? Mendadak sekali, ayah tidak ada menelpon ku kalau meminta kita menginap di sana. Ada apa sayang?" Tanya Meira Minho melepas pelukannya dan melihat sekeliling.
"Dimana Ina?" Tanya Minho.
"Kau itu bukannya menjawab pertanyaan ku malah bertanya balik, untuk apa kau mencari Ina? Dia aku suruh membersihkan kolam belakang, tukang kebun kita tanganya terluka oleh terjepit mesin pompa air." Jelas Meira.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Minho, Meira mengangkat bahunya.
"Saat kejadia itu terjadi aku tidak ada di rumah." Jawab Meira.
"Tidak ada di rumah? Kau kemana kenapa tidak ijin dengan ku?" Tanya Minho menatap Meira mengitimindasi.
"Aku ke toko depan karena bahan yang kita beli kemarin kurang lengkap." Jawab Meira.
"Oohh.."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi." Ucap Meira kesal.
"Yang mana?"
"Ahh sudahlah dasar tua." Ucap Meira membawa pasta yang sudah jadi keatas meja makan.
"Nanti aku bicarakan, jangan disini." Ucap Minho yang mengerti maksud Meira.
__ADS_1
"Hhmm terserah kau saja, seperti penting sekali." Ucap Meira Minho menatapnya.
"Tentu penting ini demi kamu, kau pasti tidak tau siapa Ina sebenarnya." Batin Minho.
\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°
Selesai dari makan mereka, Minho dan Meira melangkah menuju kamar. Tas kantor dan jas Minho sudah beralih ke tangan Meira.
Sesampainya di kamar Minho menatap sekitar luar kamar lalu menutup pintu dan menguncinya.
Meira keluar dari kamar mandi setelah mengantar jas yang tadi Minho pakai.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Minho melihat Meira yang memijit pelipisnya.
"Tidak papa...hanya pusing saja. Tadi kau ingin bicara apa dengan ku?" Tanya Meira.
"Jadi..." Ucapan Minho terhenti saat melihat bayangan dari balik pintu.
"Ternyata benar." Batin Minho.
"Sayang.." Panggil Meira menyadarkan Minho.
Minho mendekat dan berbisik. "Kali ini saja menurut dengan ku, jawab apa pun yang aku bilang dengan iya." Bisik Minho walau terlihat bingung Meira mengangguk mengiyakan.
"Jadi besok kita akan menginap di rumah orang tua mu." Ucap Minho.
"Iya...tapi ada apa?" Tanya Meira.
"Iya tidak masalah sayang, itu perusahaan mu. Apa pun yang kau lakukan pasti aku akan mendukung mu." Jawab Meira tersenyum Minho juga ikut tersenyum.
"Terimakasih sayang. Kalau begitu siapkan keperluan ku, keperluan mu masih ada sebagian di sana kan?"
"Iya, aku meninggalkan beberapa keperluan ku. Mamah juga pasti membersihkan kamar ku walau tidak aku tempati, apa lagi setelah kejadian itu...." Meira tidak melanjutkan perkataannya dan menunduk memainkan jarinya.
"Hy..sayang ada aku di sisi mu, jangan takut." Ucap Minho berjongkok di depan Meira dan menangkup wajah istrinya.
"Aku tau, tapi bayangan kejadian itu selalu terngiang di kepala ku." Ucap Meira Minho mencium keningnya.
"Berusahalah untuk melupakannya, kau hanya perlu memikirkan kenangan indah yang pernah kita lakukan. Misalnya kegiatan kita di atas ranjang dan menghasilkan kenikmatan yang tiada tara." Ucap Minho Meira memukul bahunya.
"Dasar mesum." Ucap Meira kesal tapi bibirnya tersenyum.
Minho terkekeh. "Sudah ya jangan di pikirkan, aku akan selalu ada untuk mu." Ucap Minho mengusap pipi Meira, istrinya mengangguk.
Meira mencium kening Minho. "Aku mencintai mu." Ucap Meira Minho tersenyum dan melakukan hal yang sama.
"Aku juga mencintai mu." Meira tersenyum
"Ya sudah sana mandi, aku akan siapkan keperluan mu dulu." Ucap Meira.
"Iya sayang...jangan merindukan ku." Ucap Minho beranjak.
__ADS_1
"Kau hanya pergi mandi sayang bukan pergi jauh." Ucap Meira.
"Aku mandinya lama, 2 jam." Ucap Minho.
"Kenapa hanya 2 jam? Kenapa tidak semalaman saja kau di sana dan mati kedinginan." Ucap Meira.
"Sayang kau jahat sekali pada suami mu." Ucap Minho dengan wajah di buat cemberut.
"Sudah sana mandi, jangan seperti itu wajah mu terlihat jelek." Ucap Meira beranjak pergi menuju ruang ganti.
"Awas saja kau nanti malam." Gumam Minho lalu melangkah menuju kamar mandi.
....
"Mereka akan menginap di rumah tuan Barham nyonya."
"Baiklah, biarkan saja. Aku punya cara lain untuknya."
________________
_()_()_()_()_()_()_
Jam 10 malam, terlihat dua orang itu masih enggan menutup matanya. Setelah melakukan kegiatan malam mereka, bukannya tidur mereka malah asik berpelukan dan menonton film di tv yang tergantung di didinding depan ranjang.
Meira begitu fokus dengan filmnya bahkan matanya terus menatap layar tv, sedangkan Minho sedang asik memandang wajah Meira yang begitu fokus.
"Imut sekali." Batin Minho semakin erat memeluk tubuh itu yang bersandar padanya.
"Sayang jangan terlalu erat." Ucap Meira tanpa melihat Minho sambil berusaha melonggarkan pelukannya
"Kalau bicara itu tatap orang yang kau ajak bicara sayang." Ucap Minho Meira menoleh dengan wajah kesalnya.
"Lepas....sesak." Ucap Meira menatap Minho tajam suaminya itu langsung melepas pelukannya.
Meira kembali menatap ke depan tapi masih bersandar di dada Minho yang hanya diam tapi tidak lama tangan Minho menyelinap kedalam kaos kebesaran yang Meira kenakan dan bermain di dalam sana.
"Minnn.." Ucap Meira menahan tangan Minho.
"Hhmm.." Balas Minho tangannya masih asik bermain di gudukan itu.
"Jangan...ugh..jangan mengganggu ku." Ucap Meira.
Minho menyingkirkan rambut Meira yang terurai ke bahu istrinya dan terpampang lah leher putih itu.
Minho menatap tanda di belakang leher Meira, itu tanda lahir yang lucu karena bentuknya. Minho mencium leher itu.
Meira sudah tidak bisa fokus, bahkan tangan Minho tidak ada diamnya. Suara indah itu keluar dari mulut Meira membuat hasrat Minho naik dia terseyum dan langsung berpindah posisi.
Mengekung tubuh Meira di bawah tubuhnya. "Kita lanjutkan yang tadi dan semoga si kecil cepat hadir." Ucap Minho.
Kegiatan itu pun berlanjut, bahkan Meira tidak menolak sama sekali. Bukan kah melayani suami adalah kewajibannya, lagi pula mereka juga sedang berusaha mengembalikan apa yang hilang dari mereka.
__ADS_1