
Setelah kembali dari membeli obat, Meira langsung membuatkan bubur untuk Minho. Tentu saja itu sesuai dengan resep dari penjaga klinik obat, bumbu makana apa saja yang cocok untuk orang yang sedang sakit seperti Minho.
Dengan telaten Meira membuat bubur itu dan setelah selesai dia menuangkannya dalam mangkok.
"Semoga Minho suka."gumam Meira membawa nampan berisikan semangkok bubur segelas iar dan obat yang akan Minhon minum nanti saat selesai makan.
Meira membawa semua itu kekamar Minho. "Minho aku membuatkan bubur untuk mu."ucap Meira.
Cowok itu menoleh padanya dan menatap nampan yang berisikan semangkok bubur. "Ini sesuai saran dari dokter penjaga klinik obat, dia bilang bubur ini cocok untuk mu."ucap Meira Minho diam menatapnya.
"Kau makan dulu ya, setelah itu minum obat. Biar aku suapin."ucap Meira.
Diambilnya mangkok bubur itu yang dilapisi piring agar tidak terasa panas di tangan saat memegangnya, Meira menyendok satu sendok bubur itu dan meniupnya agar dingin.
"Ini makanlah, buka mulut mu."ucap Meira Minho hanya diam menurutinya.
Cowok itu terus menatap Meira yang telaten merawatnya. Dia pikir Meira tidak akan bisa seperti ini karena gadis itu bersikap cuek dan keras padanya.
"Apa kau haus, minumlah dulu."ucap Meira mengambilkan segelas iar yang sudah dibawanya dan membantu Minho meminumnya.
"Sekarang makan lagi."ucap Meira setelah Minho selesai minum dan menyodorkan satu sendok pada Minho tapi cowok tidak membuka mulutnya.
"Minho ayolah buka mulut mu."ucap Meira tapi Minho masih diam.
Tangan Minho bergerak menahan tangan Meira yang memegang mangkok bubur itu dan tangan satunya menarik tekuk Meira.
Meira membulatkan matanya saat Minho mencium bibirnya. "Ciuman pertama ku."batin Meira.
Minho mencium bibir itu lembut, membuat Meira merasa nyaman perlahan Meira membalas ciuman itu dan memejamkan matanya.
Cukup lama Minho mengecapi rasa bibir itu, Karena merasa mereka membutuhkan oksigen Minho melepas ciuman itu, Meira membuka matanya dan menatap Minho.
"Kau pintas sekali menjadi istri ku, kau begitu lembut aku menyukainya."ucap Minho.
Meira terdiam, dia mengatup bibirnya dan mengelumnya. Dengan cepat Meira meletakan mangkok bubur itu diatas meja.
"Lanjutkan sendiri, aku sibuk."ucap Meira lalu beranjak pergi tapi Minho menahanya.
"Mau kemana?"tanya Minho menatap Meira lekat.
"A...aku...aku ada tugas sekolah."jawab Meira melepas tangan itu dan pergi begitu saja.
Minho terseyum lalu menyentuh bibirnya. "Lembut."gumamnya.
Meira menutup pintu kamarnya dan bersandar dipintu itu. "Minhon mencium ku."gumamnya.
Tanganya terangkat mengelus bibirnya, bahkan rasa dari ciuman itu masih terasa. Bagaimana bibir Minho bergitu lembut mencium bibirnya.
"Ciuman pertama ku."gumam Meira.
Entah kenapa dadanya bergemuruh. "Aaaaa...ciuman pertama ku."teriak Meira di kamarnya.
__ADS_1
"Dasar cowok mesum beraninya dia mencium ku."ucap Meira lalu menghentakan kakinya.
"Tapi bibir itu lembut sekali."ucap Meira mengingat bibir lembut Minho.
"Aaaaaa tidkkkk."teriak Meira.
Dikamar sampingnya Minho terseyum mendengar teriakan itu. "Dia pikir hanya dia yang kehilang ciuman pertamanya."gumam Minho terseyum.
♤♤♤♤♤♤
Meira selesai mengerjakan tugas sekolahnya lalu dia menatap jam didinding kamarnya.
"Sudah jam 12, ini saatnya Minho makan siang."gumam Meira tapi tiba-tiba ingatan itu kembali.
"Aaaaa bagaiman cara ku bisa bertemu dengannya."gumam Meira.
Dia melangkah keluar kamar dan bertepatan dengan Ina yang melewatinya.
"Ina."panggil Meira.
"Iya nona?"
"Apa itu dari kamar Minho?"tanya Meira.
"Iya saya baru mengambilnya, tuan Minho masih tertidur."jawab Ina.
"Apa kau sudah membuatkannya makan siang?"tanya Meira.
"Oooh begitu ya."
"Iya nona, apa perlu saya buatkan makan siang untuk tuan muda?"
"Tidak...biar aku saja, aku tau masakan yang cocok untuknya."ucap Meira.
"Baik nona kalau begitu saya pergi dulu."ucap Ina lalu melangkah pergi.
Meira melangkahmenuju kamar Minho dan mengintip cowok itu.
"Dia masih tertidur."gumam Meira lalu melangkah pergi.
Perlahan mata itu terbuka, lalu melihat kearah pintu bibirnya melangkung.
"Kenapa kau menggemaskan sekali."gumam Minho lalu melanjutkan tidurnya.
Meira sekarang berkutak dengan peralatan dapur, memasak makanan untuk Minho dan dirinya.
"Jangan memakai garam terlalu banyak cukup sedikit saja agar tenggorokannya tidak terlalu perih."gumam Meira.
Setelah masakan itu selesai, Meira menatanya di atas nampan dengan segelas air dan ada mangkok kecil yang berisikan obat untuk Minho.
Meira melangkah menuju kamar Minho. Saat memasuki kamar itu, dilihatnya Minho masih tertidur.
__ADS_1
Perlahan Meira meletakan nampan itu diatas nakas samping ranjang lalu duduk ditepian ranjang samping Minho.
Tanganya bergerak merasakan panas dikening itu. "Tidak terlalu."gumam Meira.
"Min...bangun, aku membawakan makan siang untuk mu"ucap Meira.
"Minho..."ucap Meira lagi berusaha membangunkan Minho tapi cowok itu tidak meresponya.
"Minho....ayo bangun, kau harus makan siang dulu baru minum obat."ucap Meira.
"Min..aakhh." Meira terkejud saat dirinya tertarik dan masuk kedalam pelukan cowok itu.
"Minho.."
"Biarkan seperti ini dulu,ku mohon."pinta Minho.
Meira terdiam, pelukan itu tarasa nyaman dan hangat. Wangi parfum Minho membuat Meira suka. Wajahnya terbenam didada bidang itu.
"Aku tau..."ucap Minho Meira diam menunggu kelanjutkan kalimat itu.
"Aku tau kau belum bisa menerima ku seutuhnya, tapi tidak bisakah kau mengijinkan ku untuk membuat mu menyukai ku."ucap Minho.
"Min.."
"Aku tau segalanya tentang mu, aku tau sekarang alasan mu suka datang terlambat. Karena kau takut bukan?"tanya Minho.
"Dari mana kau tau?"tanya Meira Minho terseyum.
"Kau tidak perlu tau bagaimana cara ku mengetahuinya, yang terpenting aku sudah mengetahuinya."ucap Minho lalu melonggarkan pelukannya.
Ditatapnya wajah cantik itu, begitu juga Meira menatap mata Minho.
"Kau cantik, kau imut, tapi kenapa sikap mu keras bahkan pada ku."ucap Minho.
"Kau tau Meira.....aku awalnya juga seperti mu, aku samgat menentang perjodohan ini, tapi setelah ayah menjelaskan siapa nama mu jadi aku tau siapa yang akan dijodohkan dengan ku."ucap Minho.
"Kenapa kau bisa menerimanya?"tanya Meira.
Minho terseyum. "Karena aku sudah tau kau yang akan di jodohkan dengan ku. Kau ingat setiap aku bertugas didepan untuk menunggu siapa murid yang datang terlambat, kau tau siapa yang paling aku tunggu?"tanya Minho Meira menggeleng.
"Aku menunggu mu."ucap Minho membuat Meira terdiam.
"Aku selalu menunggu mu dan aku begitu senang mencatat nama mu, aku suka karena kau menarik perhatian ku. Apa kau tidak sadar, sebelum aku mencalonkan diri menjadi ketua osis aku sudah mengangumi diri mu tapi aku tidak berani mengatakannya. Setelah aku menjadi ketua osis, aku setiap hari bisa melihat mu. Dari kau yang suka terlambat dan saat kau berolah raga dilapang dengan rambut yang terikat dan keringat mu membuat ku terpikat."
"Kau tau, kau satu-satunya wanita yang membuat ku tertarik. Walau kau terkenal karena nakal dan suka terlambat tapi aku menyukai mu disisi lain, kau beda dari gadid yang lain. Kau tidak membiarkan nilai mu rusak walau kau tercatat sebagai murid yang banyak terlambatnya. Semenjak aku menyukai mu aku selalu menyukai setiap hari jumat."ucap Minho.
"Kenapa?"tanya Meira.
"Karena dihari itu, aku melihat mu berada dilapang. kau terlihat sangat cantik saat berolah raga. Karena semua itu lah aku mau menerima perjodohan ini, karena aku dijodohkan dengan cewek yang aku sukai."ucap Minho.
"Tapi aku tidak menyukai mu."ucap Meira jujur.
__ADS_1
"Aku tau, maka dari itu. Aku ingin bertanya, bisakah kau mengijinkan ku untuk membuat mu menyukai ku?" Tanya Minho Meira menatapnya.