Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
mencari tau


__ADS_3

Setelah makan malam, Minho berniat pamit pulang tapi Meira tidak mengijinkannya.


"Meira sayang biarkan Minho pulang."ucap Nara sambil menggeleng.


"Tidak mau, aku mau bersama Minho."ucap Meira bahkan matanya berkaca sambil memeluk pinggang Minho


"Sayang tenanglah, besok aku janji datang pagi-pagi."ucap Minho berusaha melepas pulakan Meira.


Gadis itu menggeleng. "Kau akan kesekolah setelah itu sedangkan aku masih belum di ijinkan untuk sekolah, tidak....tidak mau."ucap Meira membenamkan wajahnya didada Minho.


"Ya sudah Minho kau bawa saja Meira pulang dari pada pusing."ucap Barham.


"Apa ayah yakin?"tanya Minho lalu menatap Meira yang berbinar.


"Dari pada dia menangis setelah kau tinggal, kau pilih yang mana dia menangis sepanjang malam dan tidak mau bicara pada mu atau kau membawanya pulang? Ayah sudah percaya kau bisa menjaganya dengan baik jadi bawa saja dia."ucap Barham dari pada Meira mengurung dirinya di kamar karena marah lebih baik membiarkan gadis itu ikut. benar juga.


Minho menatap Meira lagi yang menatap Minho lirih..."Hah...baiklah, siapkan baju mu."ucap Minho membuat Meira terseyum bahagia lalu melepas pelukannya dan berlari kelantai atas.


Minho terseyum melihat tinggah Meira. "Minho tolong kau jaga Meira ya, kalau dia ingin ikut kau kesekolah besok biarkan saja tapi jangan biarkan dia banyak melakukan kegiatan disekolah."ucap Nara.


"Baik mah."balas Minho.


Meira turun dengan tas besar di tanganya. "Ya ampun Mei kau ingin ikut pulang atau pindah rumah sayang."ucap Nara terkejud.


"Hehe....karena sebentar lagi aku dan minho akan menikah apa salahnya aku belajar dari sekarang untuk tinggal bersamanya....ya mah ayah boleh ya.."pinta Meira Nara dan Barham menghelakan nafasnya.


"Sudah sana pergi, tapi ingat jaga diri kalian."ucap Barham.


"Tentu ayah."jawab mereka berdua bersamaan.


Minho mengambil alih tas itu dan membawanya pergi. Meira melambai pada orang tuanya sambil terseyum lalu saat berbalik seyumnya hilang.


"Aku harus mencari tau yang sebenarnya."gumam Meira lalu keluar dari rumah.


Jika dia tidak dirumah itu akan mempermudah Meira untuk mencari tau. "Ku harap Minho mau membantu ku."batin Meira menatap Minho yang menyimpan tasnya dalam bagasi mobil.


"Ayo kita pergi."ucap Minho yang sudah membukakan pintu untuk Meira.


Mobil itu perlahan pergi dari perkarangan rumah Barham dan melaju memecah jalanan.


Sepanjang jalan Meira hanya diam, dia bingung ingin menjelaskannya seperti apa pada Minho.


"Sayang.."panggil Minho menyentuh bahu gadis itu membuat Meira tersadar.


"Iya kenapa?"tanya Meira.


"Kau kenapa? Apa kau menyesal ikut dengan ku?"tanya Minho.

__ADS_1


"Bukan....bukan seperti itu."jawab Meira.


"Lalu kau kenapa aku mengajak mu bicara dari tadi."ucap Minho.


"Benarkah maafkan aku, aku sedang tidak fokus saja."ucap Meira Minho mengusap kepalanya dan menarik gadis itu agar bersandar di bahunya.


"Kau tidak lupakan dengan yang aku bilang, jangan menyimpan perasaan mu sendiri."ucap Minho masih fokus dengan jalan di depan.


Meira menghelakan nafanya lalu memainkan tangan Minho yang menggengam tanganya, sambil memainkan jari Minho. Itu membuat Minho gemas.


"Ada apa sayang."ucap Minho.


"Aku...."


"Apa?" Minho masih fokus dengan jalanan didepannya sampai mereka tiba di sebuah rumah yang tak kalah elitnya.



Anggap saja rumahnya seperti itu.


"Ini rumah siapa?"tanya Meira karena dia merasa rumah paman Henry bukan seperti itu.


"Ini rumah ku, aku sudah tinggal terpisah dari orang tua ku. Aku lebih suka hidup mandiri setelah aku berhasil membangun perusahaan ku sendiri."jelas Minho Meira hanya mengangguk mengerti.


Minho membawa Meira masuk gadis itu kagum dengan rumah Minho, walau terlihat minimalis tapi dalamnya terlihat luas dan rapi.



"Waaahhhh cantik sekali."ucap Meira Minho terseyum sambil mendekat padanya dan memeluk Meira dari belakang.


"Kau suka?"tanya Minho sambil mencium pipi gembul Meira gadis itu mengangguk.


"Mereka imut.."ucap Meira Minho terkekeh.


Di ambilnya makanan ikan di lemari bawah akuarium dan memberikannya pada Meira. "Kasih mereka makan."ucap Minho.


Meira menerima makanan ikan itu dan menaburkannya dalam akuarium itu, ya tidak terlalu besar hanya setinggi Meira.


"Iiii lihat lah mereka memakannya..."ucap Meira senang Minho masih memeluknya erat.


"Sayang..."panggil Minho Meira menolah dan hampir saja bibir mereka bertemu.


"A...apa?"tanya Meira gugub Minho menatapnya dan munutar badan Meira menghadap dirinya.


Tangan Minho menarik pinggang Meira agar merapat padanya dan tangan satunya menarik tekuk Meira, Minho mencium bibir itu lembut. Meira yang masih terkegud belum membalas ciuman itu, Minho masih terus meluncurkan aksinya sampai Meira perlahan membalasnya dan tanganya terangkat mengelus tekuk Minho.


"Uummmm..." lidah mereka saling bertemu, Minho merapatkan tubuhnya Meira dengan dinding kaca akuarium itu dan memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


Meira meremas kaos Minho, Meira mulai kehabisan oksigen. Di pukulnya pelan dada itu meminta Minho melepas ciuman mereka.


Karena tidak ada resepon Meira menggigit bibir Minho. "Akh..sayang kenapa bibir ku kau gigit."ucap Minho menyentuh bibirnya


"Hah....apa kau ingin membunuh ku....hah....nafas ku hampir habis."omel Meira Minho hanya terkekeh.


"Aku suka bibir mu, terasa manis."ucap Minho ingin mencium bibir itu lagi tapi suara deheman menghentikan aksinya.


"Juan.."gumam Meira yang menatap kearah sumber suara.


Minho menatap kesal kearah Juan, sedangkan Meira sudah menyembunyikan wajahnya di dada Minho. "Ada apa Juan?"tanya Minho.


Juan memperlihatkan map merah yang dia sembunyikan tadi dibelakang tubuhnya, Minho yang paham lalu menangguk.


"Tunggu di ruangan ku."ucap Minho Juan mengangguk lalu melangkah pergi.


"Juan sudah pergi."ucap Minho Meira perlahan memperlihatkan wajahnya.


"Kita lanjutkan yang tadi.."


"Uuummm tidak.."tolak Meira lalu melepas pelukan itu dan berlari pergi menuju tangga.


"Sayang kamar mu sebelah kiri."teriak Minho lalu terkekeh.


"Mengemaskan."gumam Minho lalu melangkah menuju ruang kerjanya.


Meira menutup pintu kamar itu rapat, dadanya berdegub kencang. Tanganya terangkat menyentuh bibinya dan terseyum.


"Aaaaaa kenapa rasanya begitu manis."gumam Meira pipinya sudah memerah.


"Aaaaaa dasar mesum tidak bisa menahan dirinya."gumam Meira lalu melangkah menuju kamar mandi.


Sebelum itu dia merapikan baju dan perlenhkapannya, entah sejak kapan kamar itu sudah dilengkapi dengan meja rias bahkan dilemari sudah tersedia baju untuk cewek.


"Apa dia sudah menyiapkannya jauh hari."gumam Meira.


Sedangkan diruangan lain, Minho menatap berkas yang di berikan Juan.


"Jadi itu benar?"tanya Minho.


"Iya tuan, tapi sepenuhnya benar. Kejadian itu adalah ketidak sengajaan."jawab Juan.


"Bagaimana bisa di bilang ketidak sengajaan jika sudah jelas dia yang mendorongnya."ucap Minho.


"Uuumm tuan, sebenarnya ayah Billa sengaja menjatuhkan dirinya dari ketinggian lantai Lima."ucap Juan.


"Apa?"

__ADS_1


"Iya tuan, dan bukan hanya tuan Barham yang ada disana. Tuan Henry pun ada disana."ucap Juan membuat Minho terdiam.


__ADS_2