Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
kejadian sesungguhnya


__ADS_3

Setelah dari kafe Minho langsung mengajak Meira pulang karena ada urusan penting.


"Maaf ya sayang, kita lanjut besok saja jalan-jalannya. Ada urusan yang harus aku bicarakan dengan Juan." Ucap Minho


"Hhmm tidak papa." Balas Meira lalu melihat keluar kaca.


Sesampainya di rumah Meira langsung keluar mobil begitu saja meninggalkan Minho.


Meira melangkah masuk dan melewati Juan yang baru keluar dari ruang kerja Minho.


"Sayang..." Panggilan Minho terhenti saat Meira sudah masuk kedalam kamarnya.


"Ada apa tuan?" Tanya Juan.


"Dia marah karena aku mengajaknya pulang lebih cepat, padahal dia sudah mengajak ku jalan ke wahana sore ini." Jawab Minho.


"Ya sudah masuk kedalam." Ucap Minho masuk kedalam ruang kerjanya.


Meira didalam kamar sudah menahan kesalnya. "Perkerjaan memang lebih penting dari ku." Gumam Meira lalu pergi kekamar mandi.


didalam ruangan.


"Jadi benar mereka sempat ada perkelahian." Ucap Minho.


"Benar tuan, tuan Barham bukan mau menghancurkan perusahaan itu tapi tuan Riko lah yang berniat menghancurkan tuan Barham. Perusahaan yang di bangun tuan Barham lebih sukses dari pada tuan Riko, itu membuatnya menjadi iri dan tidak terkendali. Bahkan tuan Riko berniat membunuh tuan Barham dan untung saja tuan Henry menolongnya." Ucap Juan.


"Jadi bukan ayah ku atau ayah mertua ku yang jahat. Tapi kenapa hari itu Billa bilang bahwa ayah mertua ku yang membunuh Paman Riko." Ucap Minho.


"Ada terjadi kebohongan tuan, tuan Riko membayar pengacara dan Hakim untuk menuntut tuan Barham dan menjebloskannya dalam penjara dengan mengatakan bahwa tuan Barham lah yang berniat menghancurkannya karena iri atas perusahaannya dan untung semua gagal karena itu semua terbongkar atas kepalsuan itu." Jelas Juan.


"Begitu rupanya, sebaiknya kita tanya kan saja pada ayah temtang semua ini." Ucap Minho beranjak dan melangkah menuju pintu tapi langkahnya terhenyi melihat Meira berdiri didepan pintu.


"Sayang." Ucap Minho.


"Jadi kau mencari tahu tentang semua itu dan kau tidak memberitahu ku." Ucap Meira.


"sayang aku hanya tidak ingin kau tertekan karena masalah ini, itu sebabnya aku tidak memberitahu mu." Ucap Minho mendekati Meira.


"Seharusnya kau memberitahu ku, kau tau aku selalu memikirkan masalah itu dan kau bukannya menjelaskannya pada ku kau malah diam-diam menacarinya." Ucap Meira.


"Maafkan aku sayang, aku hanya tidak mau kau tertekan." Ucap Minho Meira hanya diam.


"Lalu apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Meira.


Minho menjelaskan semuanya tentang masalah itu, bahkan ada bukti yang mereka dapatkan bahwa memang benar tuan Riko bersalah. Tapi tentang kematian itu Barham dan Henry tetap termaksud tersangka karena mereka yang ada ditempat kejadiam.


"Membunuh diri sendiri demi sebuah bisnis itu tindakan bodoh." Ucap Meira.


"Itu yang kami pikirkan sayang, kami berniat menanyakan langsung pada ayah." Ucap Minho.


"Aku ikut, aku ingin memastikan bahwa sememua itu benar ayah ku tidak bersalah." Ucap Meira Minho mengangguk.


Mereka meninggalkan rumah dan pergi menuju rumah Meira.


"Akan ku buktikan bahwa ayah ku tidak beralah Bill, dan kau harus kembali seperti dulu lagi." Batin Meira tidak bisa dibohongi bahwa Meira masih menganggap Billa sahabatnya.


Meira hanya ingin Billa tau dan mengerti bahwa ayahnya bukan penjahat, tentang Junggo Meira akan memberikan kesaksian setelah masalah ini selesai.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah Meira, ketiga orang itu langsung masuk disambuk dengan Ina.


"Nona tuan selamat datang."


"Ina dimana ayah ku?"tanya Meira.


"Tuan dan nyonya sedang duduk dihelama belakang nona." Jawab Ina.


Meira langsung pergi kearah halaman belakang. "Ayah.." Panggil Meira.


"Meira..ada apa?" Tanya Barham bingung melihat putrinya datang dengan terburu.


"Ayah..."


"Meira biarkan aku yang berbicara." Ucap Minho Meira mengalah dan memilih diam.


"Ayah...kami ingin bertanya...apa semua ini benar?" Tanya Minho menunjukan berkas ditanganya pada Barham.


Barham mengambil berkas itu dan membacanya.


"Dari mana kalian tau tentang hal ini?" Tanya Barham Nara menyambil berkas itu dan membacanya.


"Ini kasus 7 tahun yang lalu kenapa kalian ingin mencari taunya lagi?" Tanya Nara.


"Mamah tau siapa yang menculik ku waktu di rumah sakit hari itu?" Barham dan Nara menatap Meira.


"Yang menculik ku adalah Billa, anak dari paman Riko." Ucap Meira membuat Barham terdiam.


"Ayah jelaskan pada kami yang sebenarnya, Meira tidak ingin seperti ini. Billa membenci Meira karena tau bahwa ayah yang membunuh pama Riko." Ucap Meira.


"Bukan ayah yang membunuhnya Meira." Ucap Barham.


"Baiklah ayah menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, tapi kalian janji untuk tidak melanjutkan ingin mencari tahu tentang ini." Ucap Barham.


"Tapi kenapa ayah, jika ayah tidak ingin di salahkan mala buktikan kalau bukan ayah lah pembunuhnya." Ucap Minho.


"Kau tidak tau Minho kejadian itu tidak disengaja, ayah juga melakukan kesalahan yang membuat hubungan persahabatan kami pecah ayah mu berusaha menyakinkan kami lagi tapi tidak bisa. Sampai dimana malam itu Riko mengajak kami bertemu."


Flashback on


7 tahun yang lalu.


"Serahkan perusahaan mu Barham." Teriak Riko.


"Untuk apa? Kau sudah memiliki perusahaan ini lalu kau ingin memiliki perusahaan ku juga." Ucap Barham.


"Riko kau tidak bisa seperti itu, kita sudah berjanji jika perusahaan ini sudah berkembang kita harus mengalah untuk melepas tanggung jawab perusahaan ini salah satu dari kita dan kami melepas tanggung jawab itu, tapi kenapa kau sekarang ingin merebut perusahaan Barham lagi?" Tanya Henry tidak percaya.


"Kalian melanggar janji kalian, kalian bilang kita akan sama-sama membangun perusahaan agar berkembang dan besar bersama-sama tapi kenapa perusahaan Barham lebih dari perusahaan ini dan punya mu Henry." Ucap Riko marah.


"Itu sudah jalannya Riko, perusahaan Barham lebih maju karena dia memang pintar dalam hal bisnis bahkan perusahaan ini dalam kontrak bersama Barham apa kau tidak tau terimakasih, memang kemampuan Barham dalam mengembangkan perusahaan itu lebih baik dari kita seharusnya kau sadar dan tidak membencinya seperti ini." Ucap Henry bahkan dia tidak iri sama sekali dengan perusahaan Barham dia tau perusahaan Barham lebih dulu di bangun dari pada perusahaan Henry berbeda dengan perusahaan Riko.


"Aku tidak terima, seharusnya Barham adil pada kita." Ucap Riko.


"Baiklah jika kau ingin adil aku akan mengalah untuk mu." Ucap Barham dia tidak ingin ada keributan seperti ini.


"Tidak bisa seperti itu Barham, itu perusahaan mu kerja keras mu kau tidak bisa menyerahkannya seperti itu." Ucap Henry.

__ADS_1


"Tapi ini menyangkut tali persahabatan kita, lagi pula ini sebagai rasa bersalah ku karena membuat kita sudah terpecah hanya karena bisnis."ucap Barham.


"Barham jangan gila, kau sudah capek-capek membangunya dan kau ingin menyerahkannya padanya begitu saja." Ucap Henry.


"Bilang saja kau juga iri Henry." Ucap Riko terseyum sinis.


"Aku bukan iri Riko, tapi ini menyangkut harga diri. Barham sudah membangun perusahaannya dengan kerja jeras dan kau dengan seanaknya meminta perusahaan itu." Ucap Henry marah.


"Biarkan saja dia memberikannya pada ku, apa salahnya. Aku juga bisa membangun perusahaan itu dengan baik." Ucap Riko.


"Mana buktinya, bahkan perusahaan ini saja kau tidak becus membangunnya. Apa kerjaan mu hanya berfoya-foya dengan istri mu." Ucap Henry sinis.


"JAGA UCAPAN MU HENRY."


"Apa memang seperti itu bukan?, kau orang bodoh yang tidak tau terimakasih Riko, kami sudah mengalah dari mu dan kau ingin mengambilnya yang lebih lagi dari kami." Ucap Henry.


"Kau.." Riko mendekati Henry dan menghanjarnya.


"Riko.." Barham berusaha menghalangi mereka.


"Hentikan." Teriak Barham memisahkan mereka.


Buk..


Riko malah menghanjar Barham Henry pun yang membalasnya. "Kau yang harusnya menjaga sikap Riko. KURANG APA KAMI MENAJADI SAHABAT MU HAH." Teriak Henry mencekram kerah kemeja Riko kuat.


"Kalian serigala berbulu domba, kalian hanya memanfaatkan ku untuk permainan perusahaan ini." Balas Riko.


"Apa kau bilang, jadi sikap baik kami selama ini kau bilang hanya tipuan. KAMI SUDAH MENYERAHKAN PERUSAHAAN INI ATAS NAMA MU HANYA TIPUAN BAGI MU." Teriak Henry mendorong Riko ketepian gedung.


"Henry tahan emosi mu." Ucap Barham menahan bahu Henry.


"Dia sudah keterlaluan Barham, dia yang sebenarnya serigala berbulu domba. Dia saja yang tidak sadar atas kejahatannya, dan asal kau tau dia lah yang saat itu koropsi uang perusahaan ini mengatas namakan diri mu Barham." Ucap Henry membuat Barham terdiam.


"Apa?."


"Hahahahahahaha....ya aku melakukan semua itu, aku memakai nama Barham untuk mengkoropsi uang perusahaan yang kita bangun ini. Kenapa? Kalian iri?"


"Kau GILA Riko." Ucap Barham tangangannya terkepal.


"Ya aku gila....aku gila dan AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN BERDUA.." Teriak Riko menodongkan pistol kearah Barham dan Henry.


"RIKO JANGAN." Teriak Henry.


"Kenapa? Kalian takut mati....hahaha dimana kekuasaan mu Barham..tunjukan diri mu."ucap Riko.


Tangan Barham terkepal kuat, jadi sahabatnya sendiri yang membuat namanya tercoreng dan hampir membuatnya tidak dipercaya oleh semua perusahaan.


"Tidak...aku tidak seperti mu, aku tidak gila harta." Ucap Barham.


"PENIPU...KALIAN BERDUA SEMUA PENIPU." Ucap Riko Barham dan Henry hanya diam.


"Baiklah, jika perusahaan kalian tidak bisa aku miliki....setidaknya kalian tidak bisa menikmati kehidupan kalian jika berada di dalam sel penjara." Ucap Riko.


"Apa maksud mu?"


Riko terseyum sinis lalu menjatuhnya tubuhnya ketepian gedung dan jatuh kebawah.

__ADS_1


"RIKO..." Teriak Henry dan Barham bersamaan.


Flashback off


__ADS_2