Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
kejutan


__ADS_3

Ting nong.


Bel rumah itu terus berbunyi membuat Meira risih. "Issshhh siapa sih gak sabaran banget." Gumam Meira sambil melangkah menuju pintu.


Saat membukanya bertapa terkejudnya Meira saat Taera dan Nara langsung memeluknya.


"Sayanga apa kah benar?" Tanya Nara.


"Benar apa mah?" Tanya Meira bingung.


"Apa kau hamil?kau sungguh hamil sayang?" Tanya Taera.


"Hamil? Tunggu...tunggu...jadi kalian semua kesini hanya kerena mengira aku hamil, kalian kenapa sampai bisa kepikiran sampai situ?" Tanya Meira bingung.


"Kau minta Minho membelikan mangga muda bukan, biasanya kalau ingin mangga muda itu artinya kau sedang hamil." Ucap Nara.


"Hoho tidak mungkin, mah kami pulang dari acara kelulusan itu datang kedokter, dokter bilang aku cuman masuk angin, masa angin jadi bayi dalam perut ku." Ucap Meira.


Keempat orang itu terdiam. "Jadi kau belum hamil sayang?" Tanya Nara.


"Aahhh kalian itu terlalu cepat ngambil keputusan." Ucap Meira.


"Sayang..." Minho datang sambil membawa kantong plastik berisikan mangga.


"Dapat sayang... yeeeyyy." Meira mengambil kantong plastik itu dan berniat pergi tapi Minho menahannya.


"Apa benar sayang?" Tanya Minho.


"Benar apa?" Tanya Meira bingung.


"Kau hamil kan? Kau minta mangga muda karena ngidam kan?" Tanya Minho menangkup wajah Meira.


"Kalian kenapa? Kau sama saja seperti mamah, padahal kau sendiri yang menemaniku kerumah sakit untuk mengecek kesehatan ku, kau sendiri yang dengar aku hanya masuk angin Minho." Ucap Meira Minho terdiam iya dia yang mengantar Meira tadi.


"Jadi..." Meira menggeleng lalu pergi.


Kelima orang itu hanya diam saling tatap lalu menghelakan nafas, Meira hanya menanhan seyum melihat kelima orang itu yang melangkah duduk dimeja makan.


Meira sibuk memotong buah-bauh dan menyusunnya, lalu berikutnya dia membuat sambel rujak untuk melengkapi memakan buah-bauh itu.


Meira mengambil sesuatu dari kantong celananya dan meletakannya di piring terpisah dan menutupnya dengan tutup hidangan berukuran piring.


Meira sambil terseyum mambawa makanan yang dia buat. "Ini kita makan rujak saja, dari kamarin aku sudah ingin membuat ini tapi tidak jadi." Ucap Meira mereka menatap Meira.


"Kenapa?" Tanya Meira.


"Hah..." Kelima orang itu menghelakan nafas lagi.

__ADS_1


"Aku ingin cucu." Ucap Barham.


"Iya makan aja ini dulu, siapa tau jadi cucu kalian." Ucap Meira sambil terkekeh.


Minho menatap piring yang tertutup. "Sayang ini apa?" Tanya Minho dan menarik piring itu untuk mendekat padanya.


"Buka saja." Ucap Meira masih asik memakan rujaknya.


Minho membuka tutup hidangan itu dan terdiam melihat sebuah benda pajang, bahkan keempat orang itu juga heran melihat alat itu.


"Sayang ini.."


"Lihat saja ada apa disitu." Ucap Meira masih asik memakan mangga mudanya.


Kelima orang itu terdiam melihat dua garis dialat itu,Minho langsung berdiri menghampiri Meira yang duduk disebrang meja.


Diputarnya kursi yang Meira diduduki agar menghadapnya. "Ini punya siapa?" Tanya Minho berjongkok didepan Meira.


"Kau tebak saja sendiri ini punya siapa." Jawab Meira Minho masih belum bisa mencernanya.


"Sayang ayah mu kenapa? Kok hanya diam apa dia tidak sanang kau hadir." Ucap Meira mengusap perutnya membuat kelimat orang itu terkejud.


"Sayanggg.... ini beneran?" Tanya Minho lalu menatap perut Meira.


"Kau pikir punya siapa kalau bukan aku." Ucap Meira Minho langsung memeluk perut Meira mencium perut yang masih rata itu.


"Hehe maaf aku cuman mau jahilin kalian." Ucap Meira cengengesan.


Minho menatap Meira. "Berapa usianya?" Tanya Minho


"Dokter bilang masih beberapa hari, maaf aku membohongi kalian aku hanya ingin memberi kejutan." Ucap Meira Minho terseyum air matanya mengalir.


"Tidak papa." Ucap Minho mencium kening Meira.


"Kenapa menangis?" Ucap Meira menghapus air mata Minho.


"Aku bahagia sayang, aku sangat bahagia." Ucap Minho sambil mencium kening dan perut Meira.


Meira terseyum begitu juga para orang tua mereka. "Mulai sekarang kau harus menjaga Meira ekstra ketak Minho, bahaya kapan saja datang." Ucap Henry.


"Iya ayah, itu pasti aku tidak mau anak dan istri ku kenapa-kenapa." Ucap Minho lalu mengelus pipi Meira.


"Kau jangan kerja yang berat-berat, mulai sekarang aku akan membayar pelayan untuk membersihkan rumah dan penjaga juga." Ucap Minho Meira terseyum.


"Bagus itu Minho, ayah akan kirimkan pelayan dari rumah ayah juga." Ucap Barham.


"Ina saja ayah yang kesini, aku sudah dekat sama Ina sejak kecil aku hanya nyaman bersamanya." Pinta Meira.

__ADS_1


"Tentu sayang, akan ayah minta Ina kesini." Ucap Barham mengelus kepala Meira lembut.


Minho sedari tadi hanya sibuk mengelus perut yang masih rata itu. "Sayang apa kau tidak bosan mengelusnya." Ucap Meira.


"Tidak sayang, aku akan terus mengelusnya." Ucap Minho lalu mencium perut itu.


Selanjutnya mereka hanya menghabiskan waktu untuk makan dan mengobrol, membahas masalah mereka yang belum selesai.


sampai orang tua mereka pun pamit pulang, Nara dan Taera kembali memeluk Meira.


"Kamu harus menjaga kesehatan mu ya, makan yang teratur. Mamah janji akan menunjungi mu lebih sering, kalau ada yang mau kalian tanyakan bisa telpon kami berdua." Ucap Nara.


"Iya mah, kalian tenang saja." Ucap Meira.


Lalu mereka pergi, Meira menutup pintu rumah dan terkejud Minho langsung mengangkat tubuhnya.


"Sayang.."


"Kau berani membohongi ku rupanya." Ucap Minho menatap Meira.


Meira hanya terkekeh. "Maaf, aku juga terkejud awalnya. Waktu kita periksa tadi kau sudah keburu keluar dari ruangan dokter saat dokter itu memanggil ku dan menjelaskan kalau kemungkinan aku hamil, jadi dia menyarankan ku untuk membeli alat pengecek kehamilan dan kau lihat hasilnya." Jelas Meira Minho terseyum dan mencium kening Meira.


"Terimakasih sayang." Ucap Minho Meira terseyum lalu mengecup bibir Minho.


"Tidak perku berterimakasih, ini juga hasil diri mu bukan aku sendiri." Ucap Meira Minho terkekeh.


Minho melangkah menuju kamar mereka dengan Meira dalam gendonganya. Minho menidurkan Meira perlahan di atas ranjang, sedangkan Minho duduk di tepian ranjang.


"Hy anak ayah, kau baik-baik didalam sana ya. Maaf ayah sempat membentak mu tadi." Ucap Minho Meira terseyum.


"Tidak papa ayah." Ucap Meira Minho terseyum lalu mencium bibir Meira.


Meira juga membalas ciuman itu, Minho perlahan naik keatas tubuh Meira.


"Sayang...dokter bilang untuk semantara waktu jangan melakukannya dulu." Ucap Meira menahan tubuh Minho.


"Benarkah, baiklah aku akan menahannya." Ucap Minho lalu merebahkan tubuhnya disamping Meira.


"Kau marah?" Tanya Meira takut, Minho menolah.


"Hy siapa yang marah sayang, aku tidak marah." Ucap Minho memiringkan tubuhnya menghadap Meira dan menarik istrinya dalam pelukannya.


Meira membenamkan wajahnya di dada bidang itu menghirup bau wangi yang Minho punya. "Kau tau aku mual mencium bau bunga saat kelulusan itu, tapi kalau mencium bau mu aku sangat menyukainya." Ucap Meira.


"Tentu saja kau suka, itu artinya anak ku tidak ingin jauh dari ku." Ucap Minho Meira terseyum dan semakin memeluk Minho erat dan perlahan tertidur.


"Aku akan melindungi kalian, tidak akan aku biarkan siapa pun melukai kalian." Gumam Minho lalu mencium pucuk kepala Meira.

__ADS_1


__ADS_2