
Meira melangkah menuju tempat mobilnya terparkir. Saat membuka pintu seseorang memanggilnya.
"Mei.."panggi Junggo yang berlari kearahnya.
"Iya kenapa?"tanya Meira.
"Kau ada waktu tidak, temanin makan siang mau tidak?"tanya Junggo.
Meira terseyum. "Bisa, ayo."ucap Meira Junggo terseyum lalu melangkah menuju pintu satunya.
Mereka masuk kedalam mobil dan mobil itu pergi meninggalkan sekolah, Minho yang sedari tadi memperhatikan Meira hanya bisa mengepalkan tanganya.
"Baiklah, kita lihat sampai kapan dia mempermainkan mu."ucap Minho lalu pergi menuju parkiran motornya.
《《《《《
Meira dan Junggo sampai disebuah kafe dengan bergayan klasik. Mereka melangkah masuk kedalam kafe itu.
"Kau sering kesini?"tanya Meira.
"Iya, tidak terlalu sering."jawab Junggo.
Mereka memesakan makanan dan minuman, setelahanya mereka memilih duduk dimeja didekat jendela agar bisa melihat pemandangan luar.
"Kafenya bagus sekali."ucap Meira Junggo terseyum.
"Kau suka?"tanya Junggo.
"Iya aku suka, aku akan sering kesini anntinya. Aku suka gaya penampilan kefe ini."ucap Meira.
"Baguslah kalau kau suka."ucap Junggo.
Selanjutnya mereka menikmati pesanan mereka sambil mengobrol dan berbincang. Tidak lama ponsel Meira berdering.
"Ayah."gumam Meira melihat nama si oenelpkn.
"Hallo ayah."
"Pulang sekarang, kau itu ya sudah punya tunangan masih saja jalan dengan cowok lain."ucap Barham membuat Meira terkejud.
"A...ayah..."
"PULANGA SEKARANG."teriak ayahnya di sebrang sana.
Lalu sambungan telpon itu terputus. Dengan cepat Meira pergi dari kafe itu.
"Mei...hy..."teriak Junggo memanggilnya.
Di rumah Barham terlihat masrah.
"Sayang tenanglah."ucap Nara.
"Bagaimana aku bisa tenang, putri mu itu sudah memiliki tunangan seharusnya dia bisa menjaga dirinya. Lihat bahkan tunangannya tidak dia bawa jalan."ucap Barham Minho juga ada disana.
"Tuan nona Meira sudah datang."ucap pelayan itu lalu pamit pergi.
__ADS_1
Meira memasuki rumahnya dan langsung melihat Barham yang menatapnya marah.
"Puas...kau sudah puas Meira? Kau jalan-jalan dengan cowok lain sedangkan kau sadah memiliki tunangan."ucap Barham Meira menutup matanya.
"Jawab ayah."
"Maaf ayah."ucap Meira takut Minho menatap wanita itu tumben Meira tidak melawan.
"Hanya kata maaf yang bisa keluar?"tanya Barham.
"Ayah sudahlah, jangan memarahi Meira terus."ucap Nara.
"Dia pantas dimarahi mah, lihat Minho ada disini dan dia jalan dengan cowok lain. Apa dia tidak bisa menjaga nama baik keluarganya, masih syukur ayah Minho mau menerima putri kita yang seperti ini. Dia juga sudah berbohong pada kita tentang sekolahnya, dia sering datang terlambat."ucap Barham.
"Kenapa ayah selalu seperti itu? Apa ayah tidak memikirkan perasaan ku?"tanya Meira mengepalkan tanganya lalu pergi begitu saja.
"Meii..."
"Ayah sudah cukup."ucap Nara.
"Kenapa kau selalu memarahi Meira, dia juga pitri mu tidak bisa kah sekali saja mendengarkan apa keinginannya."ucap Nara lalu pergi begitu saja.
Minho yang melihat hal itu hanya terdiam. "Apa ini salah ku."batin Minho.
♧[]♢[]♡[]♢[]♧
Besok paginya, Meira sudah bersiap dengan seragam dan sepatu putihnya. Saat menuruni tangga langkah Meira terhenti saat melihat Minho menunggunya di ujung tangga.
"Kenapa kau disini?"tanya Meira.
"Apa?"dengan cepat Meira melangkah menuju ruang makan.
"Ayah apa maksudnya ini?"tanya Meira.
"Kenapa?"
"Ayah aku tidak mau berangkat bersamanya."ucap Meira kesal.
"Titik tidak pake koma."ucap Barham.
"Eeerrgh...."Meira melangkah pergi begitu saja.
"Kami berangkat dulu ayah."ucap Mihon menyusul Meira.
Barham terseyum, dia yakin Minho bisa melindungi putrinya.
Minho mengejar langkah Meira dan menarik gadis itu. "Berangkat dengan ku."ucap Minho lalu membawa Meira kearah mobil abu milik Minho.
"Aku tidak mau."ucap Meira tegas.
"Aku tidak peduli pokoknya ikut dengan ku."ucap Minho lalu membukakan pintu mobil untuk Meira.
"Masuk."ucap Minhon.
Meira menghelakan nafasnya kesal dan masuk kedalam mobil itu. Minho memutar mobil dan masuk kedalamnya. Perlahan mobil itu pergi dari perkarangan rumah.
__ADS_1
Sepanjang jalan Meira hanya diam tidak ingin mengajak Minho bicara.
"Aku ingin membuat perjanjian pada mu, satu sekolahan sudah tau kita memiliki ikatan jadi mulai sekarang kau harus menjaga jarak dengan cowok mana pun."ucap Minho.
"Apa? Satu sekolah sudah tau?"tanya Meira.
"Memangnya kenapa? Kita ini dari keluarga terpandang, jelas berita itu sudah tersebar dimana pun."ucap Minho.
"Aku berusaha menutupinya, pasti kau yang mengumbar hal itu bukan?"tanya Meira menunjuk Minho.
"Apa kau tuli, sudah aku bilang kita ini dari keluarga terpandang jelas berita itu sudah tersebar."ucap Minho Meira terdiam.
"Aaaah pasti mereka banyak mengejek ku berjodoh dengan cupu seperti mu."ucap Meira Minho hanya terseyum.
"Kau masih saja memanggil ku cupu."ucap Minho.
"Jelas saja kau cupu, lihat saja kaca mata itu tidak pernah lepas dari hidung mu."ucap Meira.
Minho melepas kacamatanya dan menarik bahu Meira agar menatapnya, Meira tertegun melihat wajah Minho tanpa kaca mata.
"Apa aku masih cupu bagi mu?"tanya Minho untuk saja mobil itu berhenti karena lampu merah.
"Dasar kutu buku."ucap Meira melepas tangan Minho dari bahunya kembali menghadap kedepan.
"Terserah kau saja."ucap Minho kembali memasang kaca matanya dan melajukan mobil.
Sesampainya di sekolah banyak pasang mata yang melihat kearah mobil itu, ini baru kali pertama mereka melihat mobil berwarna abu di sekolah itu.
Minho lebih dulu keluar dari mobil lalu melangkah menuju pintu tempat Meira dan membukakannya.
"Aahhhh....jadi berita tentang mereka benar?"tanya salah satu siswa disekolah itu pada temannya.
"Aku pikir bohongan mengingat Meira anak pengusaha terkenal dijodohkan dengan anak berkaca mata itu."
"Menjauhlah dari ku."ucap Meira lalu melangkah pergi meninghalkan Minho.
Minho mengejar langkah Meira dan menarik pegangan tas milik Meira membuat wanita itu terjatuh kebelakang untung saja ada Minho menahanya.
"Tunggu aku."ucap Minho lalu mengunci mobil itu.
Digenggamnya tangan Meira dan membawanya masuk. Meira melongo melihatnya.
"Apa-apa ini lepasin."ucap Meira tapi Minho seolah tidak peduli.
Mereka melewati koridor dengan banyak pasang mata yang melihatnya. Junggo yang saat itu sedang bersantai didepan kelas bersama teman-temannya terheran melihat Meira yang tangannya ditarik oleh Minho si manta ketua osis atau lebih tepatnya si cupu di sekolah itu.
"Wowowo.....santai bro.."ucap Junggo menghalangi jalan mereka Meira terseyum pada Junggo.
"Minggir."ucap Minho dingin.
"Hey lihat siapa yang kau bawa, apa kau sedang bermimpi. Kau tau aku tidak percaya dengan berita itu, kalian tidak serasi sama sekali."ucap Junggo menatap Minho tajam.
"Apa peduli ku? Lagi pula mau kau percaya atau tidak tapi berita itu benar adanya,dan asal kau tau....kau tidak bisa mendekati Meira lagi untuk memanfaatkannya."ucap Minho sedikit berbisik diakhir kalimatnya lalu membenturkan bahunya pada Jungho dan melanjutkan langkahnya membawa gadis itu kekelasnya.
Meira menatap punggung itu heran, kenapa Mihon terlihat berbeda sekarang.
__ADS_1