
Minho kembali kekamar setelah jam 9, dia masuk kedalam kamar dan melihat Meira sudah tertidur.
"Dia tidur duluan, kenapa tidak menunggu ku." Gumam Minho.
Minho masuk kedalam kamar mandi mencuci wajah dan mengosok giginya setelah itu dia keluar dan mengganti bajunya dengan baju tidur.
Dia merebahkan dirinya di ranjang dengan tidur terlentang, lalu dia memutar posisinya menghadap Meira.
"Maaf." Gumam Minho, diciumnya kening Meira dan kembali keposisi sebelumnya.
Minho perlahan tertidur karena lelah, Meira membuka matanya. Air matanya mengalir. "Apa kau selingkuh?" Batin Meira.
Melihat sikap Minho yang dingin padanya, suaminya pasti memiliki wanita lain. Memangnya siapa dia, wanita yang gila karena traumanya jelas Minho tidak akan mau bertahan denganya.
Air mata Meira kembali mengalir. "Kau sudah tidak mencintai ku lagi." Batin Meira lalu dia memutar posisinya membelakangi Minho.
Minho terbangun tadi tidurnya karena merasa pergerakan Meira, Minho di buat bingung kenapa Meira membelakanginya.
Minho memutar posisinya dan menghadap punggung itu. "Selamat malam istri ku." Batin Minho lalu kembali memejamkan matanya.
♢¤♢¤♢¤♢¤♢¤
Pagi pun tiba, Minho perlahan bangun dan melihat tidak ada istrinya disampingnya.
"Kemana dia." Gumam Minho.
Minho beranjak dari ranjang dan melangkah keluar kamar mencari istrinya.
"Ina apa kau lihat istri ku?" Tanya Minho saat Ina lewat.
"Oh nona sudah pergi tuan, dia bilang mau membeli kebutuhan dapur." Jawab Ina.
"Membeli kebutuhan dapur, bukan kah seharusnya kau yang membelinya?" Tanya Minho.
"Saya tidak tau tuan, nona yang mendesak ingin pergi sendiri untuk memebelinya." Jawab Ina.
Minho menghelakan nafasnya. "Ya sudah kau kembali lah berkerja." Ucap Minho lalu pergi kekamarnya.
"Dia pasti sudah melihat kotak itu, tapi kenapa dia masih tidak ingin bicara dengan ku." Gumam Minho matanya melihat jas yang ada dikeranjang itu dan mengambilnya.
Mengecek setiap kantong. "Bahkan kotaknya tidak ada, pasti dia sudah mengambilnya tapi kenapa dia masih seperti itu." Gumam Minho.
__ADS_1
Minho pergi ke kamar mandi, lebih baik dia cepat bersiap ingin menyusul Meira. Tidak lama dia sudah selesai dengan mandinya, lalu dia bersiap dengan baju santainya. Biarkan hari ini dia tidak kekantor, Minho ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.
Saat menuruni tangga, bertepatan dengan Meira yang baru datang.
"Ina ini belanjaannya, kau siapkan ya." Ucap Meira.
"Baik nona." Balas Ina.
Meira lalu melangkah menuju tangga tapi langkahnya terhenti melihat Minho yang menatapnya.
"Kau sudah pulang aku baru mau menyusul mu." Ucap Minho.
"Hhmm." Balas Meira lalu melanjutkan langkahnya.
Minho mengikutinya sampai kamar. "Aku ingin bertanya dengan mu." Ucap Minho.
"Apa kau melihat kotak merah disaku jas kantor ku?" Tanya Minho Meira terdiam.
Benarkan Minho pasti menanyakannya dan ingin mengambilnya. "Ya." Balas Meira.
"Apa kau sudah membukanya? Bagaimana menurut mu?" Tanya Minho.
"Apanya?"
"Itu untuk siapa?" Tanya Meira membuat Minho menyerit bingung.
"Kenapa kau menanyakan seperti itu?" Tanya balik Minho.
"Ahh sudah lah, menanyakannya hanya membuat ku sakit." Ucap Meira.
"Sakit? Memang kenapa?" Tanya Minho bingung.
Meira hanya diam, dia melangkah menuju kamar mandi tapi Minho menahanya.
"Sayang ada apa dengan mu? Apa kau tidak suka perhiasan itu?" Tanya Minho.
Meira menepis tanganya. "Kau yang kenapa Minho, kau kemarin bersikap dingin pada ku dan sekarang kau menanyakan tentang periasan itu. Ada apa dengan ku?" Balas Meira marah.
"Saat pulang dari restoran sikap mu sudah dingin pada ku bahkan kau tidak memperdulikan ku, sampai pagi harinya kau joging tanpa membangunkan ku saat aku menyusul mu kau malah tidak suka. Katakan pada ku, apa kau sudah bosan pada ku?"tanya Meira.
"Sayang apa maksud mu? Kenapa kau bicara seperti itu?" Tanya Minho.
__ADS_1
"Jujur saja Minho kau memang bosan pada ku bukan, kau bersikap dingin pada ku. Bahkan kau tanpa pamit pergi kekantor kemarin pagi, aku berusaha menahan rasa kecewa ku kenapa suami ku berseikap seperti itu pada ku dan malamnya aku memeriksa kantong jas mu dan menemukan perhiasan itu. Itu untuk siapa Minho? Apa kau ada wanita lain selain aku?"
"MAIRA...kenapa kau berucap seperti itu?" Tanya Minho marah.
"Jawab jujur saja apa susahnya, kau membeli perhiasan itu memang untuk wanita lain bukan. Makanya sikap mu dingin pada ku karena kau ingin belajar jauh dari ku dan ya kau berhasil, kau berhasil membuat ku jauh dari dari mu dan membuat ku sakit hati." Ucap Meira air matanya mengalir.
"Kau menuduh ku selingkuh?"
"JAWAB SAJA MINHO PERHIASAN ITU UNTUK SIAPA? kau jahat selingkuh dari ku. Aku tau aku hanya wanita gila karena traumanya dan sekarang suami ku bosan pada ku. Baiklah tidak papa, aku akan pergi dari rumah ini." Ucap Meira berniat pergi tapi Minho menahanya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Minho.
"Lihat bukan menjawab kau balik bertanya, apa aku kurang jelas aku mengatakannya? Kalung itu untuk siapa? jawab jujur Minho, apa kau punya wanita lain untuk menggantikan ku? Apa kau bosan pada ku? Kau 2 hari bersikap dingin pada ku. Aku tau aku salah tapi bilang dimana letak kesalahan ku, apa salah ku Minho sampai kau bersikap seperti itu pada ku." Ucap Meira menangis.
Oh Minho paham sekarang istrinya salah paham, dan Minho pun menyadari kesalahannya.
"Jangan menangis." Ucap Minho menangkup wajah Meira.
"Jangan bersikap lembut pada ku, kau dingin saja. Biar aku bisa pergi jauh dari mu." Ucap Meira menepis tangan Minho.
"Kenapa kau mau menjauh?"
"Kau bodoh, kau masih belum paham." Ucap Meira kembali menangis.
"Katakan dimana letak aku tidak paham, sayang jangan menangis." Ucap Minho dia tidak sanggup melihat Meira menangis.
"Kau kemarin bersikap dingin pada ku, saat aku membalasnya kau semakin dingin bahkan kau tidak mau menegurku atau pun pamit pada ku. Malamnya kau pulang dengan membawa kotak perhiasan itu, itu untuk siapa? Apa kau memiliki wanita lain diluar sana makanya kau bersikap dingin pada ku agar kau bisa menjauh dari ku. Katakan Minho siapa wanita itu? kenapa kau tega menduakan ku." Ucap Meira lirih.
Minho menangkup wajah Meira. "Sayang tidak seperti itu, siapa yang menduakan mu hhmm? Perhiasan itu untuk mu, aku pikir jika aku membelikan mu perhiasan itu kau akan memaafkan ku. Maaf aku sudah marah dan bersikap dingin pada mu setelah kejadian di restoran itu, aku marah karena kau malah membela wanita itu yang sudah jelas melukai mu. Maaf aku bersikap dingin pada mu, tapi sayang aku tidak ada niatan untuk menduakan mu. Apa lagi kau bilang aku bosan pada mu, tidak sayang kenapa kau bisa berpikir seperti itu." Jelas Minho sambil menghapus air mata Meira.
"Jadi kau tidak selingkuh?" Tanya Meira.
"Tidak sayang untuk apa aku selingkuh jika aku sudah diberikan wanita seperti mu, aku yang salah telah marah pada mu dan bersikap dingin. Bukan maksud ku seperti itu sayang, maaf." Jawab Minho tangis Meira pecah.
Minho langsung memeluknya. "Maaf.." Ucap Meira.
"Maaf aku salah paham pada mu...hiks...maafkan aku." Ucap Meira menangis memeluk Minho erat.
Minho memeluk istrinya erat dan mencium pucuk kepala Meira. "Sudah sayang jangan menangis, aku juga salah sudah mendiamkan mu sehingga membuat mu salah paham." Ucap Minho Meira masih terus menangis.
"Sayang....sssttttt sudah dong..aku sakit melihat mu menangis." Ucap Minho dadanya terasa sakit melihat istrinya menangis.
__ADS_1
"Maaf...." Ucap Meira lagi.
"Iya iya tidak papa sayang....sudah jangan menangis." Ucap Minho.