Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
lepaskan


__ADS_3

Mata itu perlahan terbuka bangun dari tidurnya, orang itu merenggangkan otot tubuhnya perlahan.


"Uuuhh udah pagi."ucapnya lalu dia membalikan badanya membelakangi cahaya itu tapi matanya kembali terbuka dan terkejud melihat siapa yang tidur bersamanya.


"Aaakhhh..."teriak Meira.


Minho perlahan membuka matanya. "Sedang apa kau disini?"tanya Meira menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Uuuhhh aku sepertinya salah masuk kamar."ucap Minho lalu beranjak dari ranjang itu dan pergi dari kamar Meira.


Meira menatapnya melongo. "Salah masuk kamar? Emangnya dia habis dari mana?, apa dia tidur sambil berjalan."gumam Meira tidak percaya.


*****


Selesai dari ritual mandinya Meira memakai baju santainya lalu duduk di meja rias dan memakai ritual perawatannya.


"Aaahh jerawat lagi."gumam Meira melihat ada satu jerawat tumbuh di rahang bagaian bawah.


"Kita tempel ini saja."gumam Meira lalu menempelkan stiker obat jerawat.


"Nahh sudah."


Lalu dia beranjak dan merapikan tempat tidurnya, selesai dari itu Meira melangkah keluar kamar dan bertepatan dengan Minho yang melewatinya.


"Aaiiit tunggu."ucap Meira menahan tangan Minho lalu menempelkan tanganya di kening cowok itu.


"Apa masih merasa pusing?"tanya Meira Minho menggeleng.


"Apa tenggorokan mu masih terasa sakit?"tanya lagi Meira.


"Tidak sayang, ini sudah sembuh tenang saja."ucap Menhi mencubut pipinya pelan lalu melanjutkan langkahnya.


Meira terdiam mematung, lalu mengelus pipinya. Kenapa melihat sikap lembut Minho membuat jantungnya bergemuruh lagi.


Tidak sadar bibir itu melengkung. Meira melangkah menuruni tangga dan pergi menuju ruang makan.

__ADS_1


Meira menatap sekeliling lalu melihat Minho keluar dari dapur. "Kau sedang apa didapur?"tanya Meira.


"Bernyanyi."jawab Minho.


"Apa kau kira itu dapur rekaman."ucap Meira.


"Sudah jelas dapur untuk apa, aku membuatkan sarapan untuk kita, seharian kemarin kau sudah membuatkan makanan untuk ku jadi sekarang giliran ku."ucap Minho meletakan dua gelas susu dimeja lalu melangkah menuju dapur lagi melanjutkan masaknya.


"Apa dia bisa masak."gumam Meira menyusul Minho kedapur.


Meira melihat Minho yang begitu lincah memasak. "Kau bisa masak?"tanya Meira.


"Kau pikir aku tidak bisa, aku ini anak yang mandiri aku lebih suka mengurus apa-apa untuk diri ku sendiri dengan tangan ku. Aku bisa memasak hanya saja aku sengaja membiarkan mu yang membuat makanan agar aku tau apa calon istri ku ini bisa masak."jawab Minho.


"Iiish dasar, walau aku terlihat seperti anak pemalas bukan berarti aku tidak bisa masak. Aku bukan anak manja. kau masak apa?"tanya Meira.


"Masakan yang pasti enak dan bisa dimakan."jawab Minho.


"Cih...kau ini, tidak mungkin kau memasak sesuatu tidak bisa di makan."ucap Meira Minho terseyum lalu menarik tangan agar Meira mendekatinya dan mengekungnya membuat Meira tertegun.


"Min..."


"Bu...bukannya memang sifat ku seperti ini. Aku memang terlihat ketus dari dulu."ucap Meira.


"Tidak...sifat mu bukan seperti ini, kau cewek yang yang lembut Mei. Sifat ketus mu itu hanya untuk menutupi jati diri mu yang sebenarnya. Benar bukan? Jangan membohongi diri mu sendiri Meira."ucap Minho membuat Meira terdiam.


"Aku suka melihat mu berani melawan orang yang mengganggu mu, tapi sayang....sekali saja kau jujur tentang perasaan mu. Kau boleh terlihat kuat saat seperti itu, tapi jangan untuk menutupi rasa terluka mu. Aku tau kau sebenarnya trauma karena pembulyan yang dulu terjadi pada mu bukan? Mei, jujur pada ku kau sebenarnya ingin ada yang melindungi mu bukan? Kau sudah lelah dengan semua ini bahkan kau sebenarnya takut jika datang kesekolah."ucap Minho Meira menatapnya lirih.


"Tidak ada salahnya jika kau jujur dengan perasaan mu, semua orang memiliki ketakutannya tersendiri dan kau tau aku paling takut melihat mu terluka, aku tidak mau gadis yang aku cintai terluka. Menangis lah jika kau perlu menangis untuk melepas rasa takut mu mu, jangan berusaha terus terlihat kuat jika ada yang melukai mu. Melakukan hal itu hanya membuat mu semakin tertekan."ucap Minho Meira perlahan memeluk Minho erat.


"Hiks...aku trauma Minho, aku tidak sekuat yang kau lihat."ucap Meira Minho terseyum lalu membalas pelukan Meira.


"Kalau begitu lepaskan, dan biarkan rasa itu lepas dari hati mu."ucap Minho.


Isak tangis itu mulai terdengar, Minho mematikan kompor itu dan kembali memeluk Meira erat.

__ADS_1


"Aku selalu datang terlambat bukan karena aku sengaja, tapi karena rasa kepanikan ku selalu muncul setiap aku mau sampai sekolah. Bayang-bayang pembulyan itu terus terngiyang dikepalany aku, aku takut takut kejadain dimasa lalu terulang lagi Min...hiks...aku takut."ucap Meira Minho mengelus kepala gadis itu dan membenamkannya didadanya.


"Aku tau, keluarkan semuanya agar hati mu tenang."ucap Minho.


Tangis itu masih terdengar dan Minhon sesekali mencium pucuk kepala Meira. "Aku akan selalu ada untuk mu, mulai sekarang dan seterusnya. Jadi berusaha lah melupakan kejadian itu, dan yakin lah aku akan selalu di sisimu. Kau boleh meluapkan semuanya pada ku agar kau tenang."ucap Minho Meira mengangguk entah kenapa hatinya mempercayain ucapan Minho.


Pelukan itu semakin erat, dan tentu saja Minho tidak akan melepas pelukan itu sampai Meira benar-benar tenang.


"Maaf membuat mu menangis."ucap Minho.


"Tidak papa, setidaknya aku bisa tenang."balas Meira masih dalam pelukan Minho.


"Aku nyaman dipelukan mu."batin Meira semakin erat memeluk cowok itu.


Minho terseyum. "Apa sudah merasa tenang?"tanya Minho Meira menghelakan nafasnya lalu melepas pelukan itu.


Meira terseyum lalu mengangguk. "Terimakasih."ucap Meira.


Minho mengelus pipi Meira. "Tidak perlu berterimakasih, kau tanggung jawab ku jelas akan melindungi mu."ucap Minho.


"Cih...kau baru jadi tunang ku bukan suami ku."ucap Meira.


"Setidaknya kau memang untuk ku bukan dan tidak ada yang bisa merebut mu dari ku. Jika dia berani merebut mu maka harus melangkahi mayat ku."ucap Minho Meira menyipitkan matanya tapi terseyum.


"Kau lebay sekali, tidak seperti itu juga. Memangnya siapa yang ingin ku dari mu.Sudah lanjutkan masakan mu, aku lapar habis menangis seperti ini."ucap Meira mengusap pipinya.


"Siap nona muda."ucap Minho Meira terkekeh.


Saat Meira ingin melangkah pergi Minho memanggilnya.


"Apa kau ingin jalan-jalan hari ini?"tanya Minho.


"Kemana?"tanya Meira.


"Kemana pun kau mau, aku akan mengantar mu."jawab Minho.

__ADS_1


"Baiklah. Kita jalan-jalan nanti."ucap Meira lalu melangkah menuju meja makan.


Minho terseyum lalu melanjutkan masakannya. "Kenapa dia menggemaskan sekali."gumam Minho.


__ADS_2