Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
taman bunga


__ADS_3

Hari ini hari libur jadi Minho dan Meira menghabiskan waktu hanya di rumah.


"Kukieee.." Panggil Meira mencari hewan kesayangannya walau baru 3 hari.


"Kukieeee.." Panggil Meira lagi sampai dia didepan ruangan kerja Minho, Meira masuk kedalam ruang kerja itu dan melihat Kukie yang berada dalam pangkuan Minho sedangkan cowok itu sibuk dengan perkerjaannya.


"Isshh dari tadi aku cariin ternyata di sini." Ucap Meira kesal.


Minho terseyum. "Apa cuman dia yang kau cari?" Tanya Minho Meira mendekatinya dan mengambil Kukie kedalam gendonganya.


"Aku hanya mau bermain bersamanya." Jawab Meira berniat melangkah pergi tapi Minho menarik pinggangnya membuat Meira jatuh dipangkuan Minho.


"Kau tidak ingin bermain dengan ku?" Tanya Minho meletakan dagunya di bahu Meira dan menghirup wangi badan gadis itu.


"A...aku tidak mau mengganggu mu, kau pasti sibuk. Sudahlah lanjutkan saja perkerjaan mu." Meira berniat melepas pelukan itu tapi Minho menahanya.


"Kau yakin?" Tanya Minho membenamkan wajahnya di leher Meira membuat gadis itu memejamkan matanya.


"Minnn..."


"Hhmmm." Sahut Minho masih asik dileher Miera.


Meira meremas tangan Minho merasakan bibir itu mencium kulit lehernya, terdengar suara lenguhan dari Meira membuat aksi Minho semakin menjadi.


Minho menarik dagu Meira agar gadis itu menoleh padanya dan mencium bibir itu, Meira pun tidak menolaknya.


Tangan Meira bergerak memeluk leher Minho, cowok itu semakin erat memeluk pinggangnya. Tangan Minho perlahan mengelus punggung itu lembut.


Ciuman itu semakin dalam. Minho melepas ciuman itu, dada Meira naik turun karena menghirup oksigen dan matanya masih terpejam.


Minho mengusap bibir Meira yang basah olehnya. "Manis.." Ucap Minho Meira membuka matanya menatap cowok itu.


Minho memindahkan Meira untuk duduk diatas meja kerjanya. Minho menyamakan tinggi mereka dengan tangan Meira yang masih di bahunya.


"Sayang..." Ucap Minho.


"Hhmmm." Balas Meira.


"Aku mau....tapi kita belum nikah." Ucap Minho menatap bibir ranum itu.


"I...ingin apa?" Tanya Meira Minho terseyum lalu mendekatkan wajahnya pada Meira.


"Ingin melahap mu." Bisik Minho lalu meniup kuping itu membuat mata Meira terpejam.


Minho kembali menatap mata indah itu. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?" Tanya Minho.


"Perkerjaan mu."


"Tenang saja ada Juan yang mengerjakan dia nanti siang akan kemari. Jadi mau jalan-jalan?" Ucap Minho Meira terseyum dan mengangguk.


"Ya sudah ayo siap-siap." Ucap Minho Meira mencium pipinya lalu turun dari meja itu dan pergi keluar bersama Kukie yang mengikutinya.


Minho terseyum. "Hah....kau harus menahanya Minho, sebentar lagi." Gumamnya sambil memijit pelipisnya.


Bagaimana Minho tidak tergoda jika Meira saja memkai kaos miliknya yang kebesarn ditubuh gadis itu ditambah dengan celana pendek yang dipakenya tertutup oleh kaos itu.


Ya Minho hanya mampu menahannya dan berdoa semoga waktu cepat berlalu.


*****


Meira menuruni tangga dengan dress berwarna biru muda pastel dan sepatu pituh, rambutnya yang dia ikat separuh menyisakan poni-poni tipis dikeningnya dengan cepitan bunga di sebelah kira kepalanya membuat Meira terlihat manis.

__ADS_1


Minho menunggunya di bawah tangga bahkan tidak bisa mengalihkan matanya dari gadis itu.


"Ayoo.." Ucap Meira sudah mengaitkan tanganya dilengan Minho.


"Kau Meira kan?" Tanya Minho membuat Meira bingung.


"Iya ini aku sayang, memangnya kau pikir aku siapa?" Tanya Meira bingung.


"Aku pikir ada bidadari tersesat dirumah ku tadi." Ucap Minho membuat Meira tersadar dan pipinya merona.


"Kau berlebihan sekali." Ucap Meira terseyum malu sambil menarik anak rambutnya kebelakang telinga.


Minho terkekeh. "Ya sudah ayo." Ucap Minho.


"Oh iya apa tidak di bawa?" Tanya Minho.


"Kukie tertidur, sudah biarkan saja hari ini kita habiskan waktu untuk berdua." Ucap Meira Minho terseyum lalu mengelus pucuk kepalanya.


"Ya sudah ayo kita berangkat." Ucap Minho dan membawa Meira pergi.


♢♢♢♢♢♢♢


Diperjalanan Meira terus memeluk lengan Minho, cowok itu hanya terseyum sesekali mencium pucuk kepala Meira.


"Kita mau kemana?" Tanya Meira.


"Nanti kau lihat saja, apa kau lapar ini sudah jam makan siang." Ucap Minho.


"Uummm aku lapar bisa kita makan dulu?" Tanya Meira.


"Kau ingin makan?" Tanya Minho.


"Kau ini makan bakso? mie ayam? Atau makanan lainnya?" Tanya Minho.


"Aku mau makan yang sederhana aja yang ada nasi-nasinya tapi berkuah." Jawab Meira Minho terseyum.


"Baiklah kalau begitu aku tau apa yang kau inginkan." Ucap Minho.


Tidak beberapa lama, mereka sampai di sebuah warung makan sederhana yang menjuang makanan berkuah.


Mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah makan itu, Meira lebih memilih duduk lebih duluan sedangkan Minho memesankannya.


Minho menyusul Meira setelah memesan. "Aku memesankan sup ayam untuk mu." Ucap Minho.


"Iya tidak papa aku memang ingin itu." Balas Meira Minho terseyum.


Tidak begitu lama pesanan mereka datang, mereka langsung menyantap makanan mereka tanpa suara.


Selesai makan siang, mereka melanjutkan perjalanan.


"Kau sebenarnya membawa ku kemana sih?" Tanya Meira bingung.


"Kau pasti suka." Ucap Minho.


Meira hanya diam, melihat jalanan yang baru dia lihat bukan baru hanya saja femeliar dikepalanya.


Mobil itu berhenti di tempat parkir yang sudah banyak pengunjung.


"Ini dimana?" Tanya Meira.


"Taman bunga." Jawab Minho.

__ADS_1


"Taman bunga." Dengan cepat Meira keluar dari monil dan berlari kearah taman.


Minho menyusulnya takut jika gadis itu hilang.


"Sayang ayo cepat." Teriak Meira memanggilnya gadis itu sudah berdiri ditengah jembatan yang terdapat hamparan bunga di bawahnya.


Minho menyusul mendekatinya dan memasangkan topi lebar pada Meira.


"Eh..."


"Harinya masuk panas, aku tidak mau kau kepanasan." Ucap Minho lalu mencium pipinya.


Meira terzeyum lalu menggenggam tangan Minho. "Ayo kita kesana, ada sungai." Ucap Meira menarik Minho pergi kearah tepian sungai.


Mereka menghabiskan waktu berdua ditaman itu, bercanda tawa. Minho membiarkan apa pun yang mau Meira lakukan yang terpenting gadis itu bisa senang.


Sekarang mereka beristirahat di hamparan rumput hijau yang lembut, untung ada yang menjuang karpet untuk alas duduk di rumput itu.


Meira duduk sambil melurusakan kakinya lelah habis berlarian. Sedangkan Minho tidur dipahanya.


Meira menatap wajah Minho, lalu menjadikan tanganya sabagai penghalang mata hari agar tidak terkena matanya.


"Jangan sayang, nanti tangan mu yang kepanasan." Ucap Minho menaril tangan Meira dan menggenggamnya.


Meira terkekeh. "Sayang..."


"Hhmm." Balas Minho matanya masih terpejam.


"3 bulan lagi kita akan lulus dari sekolah, dan kita akan menikah." Ucap Meira.


"Iya lalu?"


"Aku..."


"Kau kenapa?"


"Aku boleh melanjutkan kuliah?" Tanya Meira Minho membuka matanya menatap Meira.


"Aku tidak melarang mu melakukan apa pun asal kan itu baik untuk mu." Jawab Minho Meira terseyum.


"Kau tidak lanjut kuliah?" Tanya Meira.


"Lanjut jika kau juga lanjut, aku ingin kuliah satu tempat yang sama dengan mu." Jawab Minho.


"Kenapa? Kau kan bisa kuliah di tempat lain." Ucap Meira.


"Tidak mau, mau ingin terus bersama istri ku." Balas Minho lalu menghadap keperut Meira.


"Karena aku ingin terus menajaga mu dan melindungi mu, kau gadis berharga bagi ku dan aku tidak mau kehilangan diri mu." Lanjut Minho Meira terseyum.


"Baiklah kalau begitu." Balas Meira sambil mengelus rambut Minho.


"Aku pun tidak ingin jauh dari mu sayang." Balas Meira bibir Minho melengkung.


"Kau berhasil membuat ku bahagia walau hanya dengan kata sayang." Ucap Minho.


"Kenapa?"


"Karena itu sudah membuktikan kau mulai menyayangi ku." Jawab Minho Meira hanya terseyum.


"Bukan hanya, tapi aku sudah sangat menyayangi mu." Batin Meira.

__ADS_1


__ADS_2