Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
pernikahan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan sekarang adalah hari yang di tunggu-tunggu. Terlihat disebuah ruangan ada seorang wanita cantik dibalutkan dengan gaun putih yang indah ditubuhnya.


"Hah...tidak menyangka aku akan menikah secepat ini." Gumam Meira melihat dirinya dari pantulan kaca.


Tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang. "Kau cantik sekali." Ucap Minho mencium pipi Meira.


Meira terkekeh lalu berbalik menghadapa Minho, tangan cowok itu masih dipanggangnya.


"Kau juga tampan sayang." Ucap Meira Minho terkekeh.


"Lihat lah, kalian berdua sudah mau menikah masih saja beduaan. Minho pergi ketempat mu, kian akan bertemu 20 menit lagi bersabar lah." Omel Taera yang datang bersama Nara lalu menaraik telinga putranya untuk pergi


"Aakh..akhhh mamah sakit. " Ucap Minho.


"Mamah jangan seperti itu." Ucap Meira.


"Jangan membelanya Meira, ini kesalahannya sudah di lara tapi masih saja mendatangimu." Ucap Taera.


"Mamah aku bukan membelanya. Maksud ku jangan seperti itu, tu kerang keras." Ucap Meira Minho melongo mendengarnya.


"Sayang.."


"Tentu Meira akan mamah keraskan." Ucap Taera terkekeh lalu menarik Minho.


Meira tekikik melihat Minho kesakitan, Nara menggelengkan kepalanya. "Kau ini jahil sekali." Ucap Nara.


"Hihi biarkan saja mah." Ucap Meira.


Nara terseyum dan mendekat padanya. "Putri mamah sudah besar dan sekarang akan menjadi seorang istri." Ucap Nara.


"Yahh walau belum genap 18 tahun tapi tidak papa." Ucap Meira.


"Maaf sayang, karena perjodohan ini kau harus terpaksa menerimanya." Ucap Nara.


"Mamah jangan seperti itu, aku tidak masalah. Aku sudah menerima Minho dan aku mencintainya." Ucap Meira Nara terseyum dan memeluk putrinya.


"Mana putri cantik ku?" Tanya Barham memasuki ruangan itu.


"Ayah.." Ucap Meira.


"Cantiknya....bagaimana tidak cantik ayahnya saja setampan aku." Ucap Barham.


"Cantiknya itu menurun dari ku bukan dari mu." Ucap Nara Meira terseyum.


"Ya ya aku kalah karena kau yang mengandungnya selama 9 bulan." Ucap Barham mengalah Meira dan Nara terkekeh.


"Meira..." Teriak empat gadis memasuki rungan itu.


"Kalian kenapa memakai baju itu?" Tanya Meira bingung melihat teman-temannya memakai jas dan celana serba hitam bahkan ada aerphond bluetooth di satu telinga mereka.


"Ayah yang memintanya, mereka akan menjadi bodyguard pribadi mu. Menjaga disekitar mu selama pernikahan ini berlangsung." Jawab Barham.


"Apa?" Ucap Meira terkejud.


"Tenang paman, kami akan menjaga putri mu dengan baik." Ucap Weni.


"Paman percayakan dia pada kalian, sekarang tunggu 15 menit lagi ayah akan datang kesini menjemput mu." Ucap Barham Meira mengangguk.


Nara dan Barham keluar dari ruangan itu. "Meiii...kau cantik sekali." Ucap Hana memeluk Meira erat.


"Terimakasih." Ucap Meira.

__ADS_1


"Berpelukan." Ucap Weni juga ikut memeluk Meira disusul oleh Tina dan Gina.


"Sudah...kalian berat." Ucap Meira tertawa.


Mereka melepas pelukan itu dan terseyum. "Aaaaa ada kue." Ucap Gina tergiur lalu pergi kesofa menyantap makanan yang terhidang disana.


"Dasar makanan terus." Ucap Weni dan Tina mendekat pada Gina.


"Kau gugup?" Tanya Hana.


"Sedikit." Jawab Meira Hana terseyum.


"Kau mau Minum biar aku ambilkan." Ucap Hana melangkah menuju meja sudut ruangan.


Saat sampai sana, Hana bingung saat mengambil satu botol minum tapi segelnya sudah terlepas.


"Kalian kemari lah." Ucap Hana keempat gadis itu mendekat.


"Kenapa Han?" Tanya Weni.


"Coba lihat ini, aku berniat mengambilkan minum untuk Meira tapi kenapa haya satu botol ini yang terbuka." Ucap Hana.


"Hah? Iya hanya botol ini yang segelnya sudah terbuka." Ucap Tina.


"Coba cium bau airnya." Ucap Gina sambil menguyah kuenya.


"Makan dulu sampai selesai gembul baru ngomong." Ucap Weni menepuk kening Gina karena lehernya terkena sefihan kue yang Gina makan.


"Iii sakit." Ucap Gina memayunkan bibirnya.


"Isst jangan, kalau kau cium baunya siapa tau beracun bagaimana." Ucap Tina lalu matanya menatap bunga dalam vas berisi air.


"Kemarikan." Ucap Tina lalu mengambil bunga dalam vas itu dan memasukannya kedalam botol minum itu.


Tidak lama, bunga itu berlahan layu. Mereka semua terkejud.


"Air itu beracun." Ucap Weni menutup mulutnya.


"Untung saja akh belum memberikanna pada mu." Ucap Hana karena memang dia menyadari keganjalan itu kenapa hanya botol itu yang berbeda dari tiga botol lainnya.


"Kita harus memberitahunya pada paman." Ucap Weni.


"Tunggu." Ucap Gina menghentikan mereka.


"Kalau air itu beracun maka kue ini."


Mereka semua terdiam. "Gina muntahkan." Teriak mereka berempat lalu menepuk punggung Gina.


"Akh...tidak bisa..akh.." Gina sudah tersedak.


"Aduh bagaimana ini." Ucap Meira.


"Makanya gembul jangan asal makan." Omel Weni sempat-sempatnya mengejek temannya.


"Jadi ini bagaimana nasip adik ku." Ucap Tina.


"Aduhh..kalau memberi minum takutnya air lain itu beracun." Ucap Hana.


"Aduh..." Ucap mereka serempak.


"Akhh...ukh..aaa.. aku kesedak bodoh lu pada mukulnya keras, gua lagi makan." Omel Gina berhasil menghilangkan kesedaknya.

__ADS_1


"Kesedak?"


"Iya..lu pada kira gua mau mati, ya kali gue belum nikah jangan mati dulu." Ucap Gina melanjutkan makannya.


"Terus kok lu baik-baik aja." Ucap Weni.


"Wahh lu doain gua mati lu." Ucap Gina memukul belakang kepala Weni.


"Ishhh bukan itu maksud ku, kalau kau baik-baik aja berarti kuenya aman cuman air itu saja yang bahaya." Ucap Weni.


"Oh iya benar juga lu, lagian kalau beracun semut gak bakal mau dekati. Lu gak lihat tu ada semutnya." Tunjuk Gina dipiring yang sudah kotor karena kue.


"Oh iya aku tadi juga udah makan Kuenya tapi aku baik-baik saja." Ucap Maira.


"Syukur deh." Ucap mereka berbarengan.


"Jadi tu yang ngeracunin minuman itu siapa?" Tanya Tina.


"Mana kami tau tanya aja sama tu botol." Jawab mereja berempat.


"Kompak amat yak." Balas Tina mereka hany terkekeh.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu menhalihkan perhatian mereka.....


....


"Nyonya mereka mengetahuinya."


"Bodoh bagaimana bisa, apa kerjaan kalian tidak ada benarnya mengahabisi nyawa gadis itu saja kalian tidak becus." Ucap orang diseberang telponnya.


"Maaf Nyonya."


"Aku tidak butuh maaf mu, bunuh gadis itu bagaimana pun caranya. Aku ingin Barham mendapatkan balasannya."


"Baik nyonya."


Sambungan telpon itu terputus lalu dia melangkah menuju sebuah ruangan.


"Kemana penjaganya bukan kah ada penjaganya di depan pintu ini." Gumamnya tidak menyadari ada yang salah.


Dia membuka pintu itu dan....


......


"Ayah.." Ucap Meira.


"Sudah saatnya sayang." Ucap Barham menghampiri putrinya.


Meira terseyum dan menerima uluran tangan ayahnya.


"Kalian tidak boleh lengah tetap awasi setiap pergerakan yang mencurigakan." Ucap Barham pada keempata gadis itu.


"Siap paman sesuai perintah akan kami lakukan, paman tenang saja kami akan menjaga keselamatan sahabat kami." Ucap Weni.


"Bagus kalau begitu, sekarang saatnya putri ayah untuk berucap janji dengan pangeranya." Ucap Barham.


"Ayah..." Ucap Meira Barham hanya terseyum.


Mereka keluar dari ruangan itu, keempat gadis itu mengikuti dari belakang sambil merapikan gaun panjang Meira.


"Sial...salah ruangan."

__ADS_1


........●●●●●●●........


like dan komennya ya 😊😊😁


__ADS_2