
"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Minho.
Saat ini dia berada diperusahaannya, menyelesaikan masalah yang belum menemukan bukti lengkap.
"Sudah tuan, dia tinggal di jalan X setelah kedua anaknya masuk dalam penjara." Jawab Juan.
"Begitu."
"Tuan apa kita tidak bisa langsung menanyakan soal kejadian itu padanya, kita harus mendengar cerita itu dari pihak lawan juga agar menemukan titik permasalahannya."ucap Juan.
"Kau benar juga, tapi tidak mungkin bisa mendatanginya dan menanyakan tentang itu jelas dia akan curiga. Ini kematian suaminya yang melakukan kesalahan." Ucap Minho Juan tampak berpikir.
"Tidak ada cara lain, kita sekarang hanya bisa mendatangi pengacara yang menganani kasus ini. Jika dia tidak mau membuka suara, maka kurung saja dia." Ucap Minho.
"Baik tuan." Ucap Juan lalu pergi dari ruangan Minho.
"Kau sungguh serakah paman Riko."
*****
terlihat tiga gadis sedang duduk di taman sekolahnya menikmati jam kosong karena guru mereka berhalangan hadir.
"Minho tidak turun Mei?" Tanya Weni bahkan dia juga tidak melihat Juan di mana pun.
"Tidak...karena ada urusan penting membuatnya tidak bisa meninggalkan perkerjaannya." Jawab Meira yang fokus dengan buku ditanganya.
"Tumben biasanya aku lihat dia turun terus." Ucap Weni heran Meira hanya diam.
"Kau mencari Minho ku atau Juan mu?" Tanya Meira.
"Issshhh kau itu." Ucap Weni melihat kearah lain Meira hanya terkekeh.
"Oh iya hari ini ibu ku mengundang kalian kerumah, apa kalian mau datang?" Tanya Hana membuat Meira dan Weni bersemangat.
"Tentu kami datang.." Jawab mereka berbarengan.
"Wahahaha bersemangat sekali." Ucap Hana sambil terkekeh.
"Tentu saja, kapan lagi kita bisa berkumpul di rumah Hana." Ucap Weni senang di balas anggukan setuju oleh Meira.
"Baiklah kalau begitu, jam 3 sore aku tunggu kedatangan kalian." Ucap Hana.
"Siap.." Ucap Weni dan Meira mengajungkan hormatnya.
Mereka tertawa setelahnya, kembali menyibukan diri dengan buku-buku yang mereka pinjam dari perpus.
"Isssh mengesalkan sekali." Ucap Meira membanting bukunya.
"Kenapa Mei?" Tanya Hana bingung.
"Ceritanya membuat ku penasaran, ternyata buku ini seoson 1nya. Ada seoson berikutnya lagi, tapi tadi diperpus aku tidak melihat ada yang sampulnya sama seperti ini. Aaaa apa aku harus mencarinya diperpustakaan kota." Ucap Meira menidurkan kepalanya dimeja itu.
Hana mengelus kepalanya sambil terseyum. "Tenang saja kami akan menemani mu kesana, aku juga ada buku yang ingin aku beli." Ucap Hana.
__ADS_1
"Benarkah baiklah kalau begitu." Ucap Meira.
"Aku hanya menemani saja, membaca buku ini saja aku sudah bosan apa lagi sampai membeli buku, mungkin hanya menjadi pajangan di rumah." Ucap Weni.
"Issh kau itu memang pemalas." Ucap Hana Weni tidak terima lalu mengegelitik pinggang Hana.
"Aku bukan pemalas." Ucap Weni cemberut Hana hanya tertawa melihatnya.
Meira menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya itu. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka dengan sebuah ember dan...
Byuuurrrr.
"Aaakkhhh.." Meira yang terkejud langsung berdiri saat merasakan air dingin itu membasahi dirinya.
"GADIS APA-APAAN SIH." Tetiak Hana mendorong Gadis.
"Heh...dia mempermalukan ku dikafe dan ini balasannya." Ucapa Gadis.
"Heh kau sendiri yang memepermalukan diri mu di kafe hari itu, kenapa jadi menyalahkan Meira." Ucap Weni tidak terima.
Hana melepaskan jaket yang dia pakai memberikannya pada Meira, sebenarnya Hana sedang tidak enak badan makanya dia memakai jaket disekolah.
"Kau bodoh atau apa sih." Ucap Hana kesal.
Tina dan Gina yang lewat melihat kejadian itu langsung menghampiri Meira. "Mei kau tidak papa?" Tanya Tina Meira hanya mengangguk sambil mengusap wajah dan rambutnya.
Dia hanya terkejud merasakan air dingin itu.
"Sudah..sudah setan kaya dia gak perlu di ladenin." Ucap Gina.
"Apa kau bilang? setan? Heh gendut sadar diri dong." Ucap Gadis.
"Apa lu bilang? gedut?sini lu." Ucap Gina menghajar Gadis. Menarik rambutnya dan mencakar wajah Gadis.
"Gina sudah." Ucap Meira berusaha menahan Gina.
"Udah Mei biarin aja aku puas melihat Gina ngamuk." Ucap Tina kesenangan sambil menahan tangan Meira.
"Tapi.."
"Sudah biarin aja, ini pemandangan langka tau. Gina gak pernah sengamuk itu." Ucap Tina.
Meira hanya tidak mau mereka mendapatkan masalah karena ini. Hana mendekat dan mencoba melepas Gina dan Gadis.
"Sudah Gina...sudah...sabar." Ucap Hana Gina melepas tanganya dari Gadis.
"Awas lu cungkring, gue pites lu kalau ngomong gitu lagi." Ucap Gina.
"Eerrgg....sialan kalian semua." Ucap Gadis lalu pergi begitu saja keadaannya sudah kacau rambutnya berantakan bahkan pipinya sedikit merah karena Gina.
"Mei ganti baju dulu yuk." Ucap Weni.
"Iya nanti kau masuk angin." Ucap Hana.
__ADS_1
"Iya yuk.." Balas Meira.
Mereka melangkah menuju loker siswa mengambil baju untuk Meira lalu mengantar Meira toilet.
"Gila tu Gadis...gak ada habis-habisnya ganggu Meira terus." Ucap Weni mereka berempat menunggu Meira didepan toilet.
"Iya, namanya doang yang Gadis hatinya kaya setan." Ucap Gina kesal.
"Wahh sepertinya ada yang jadi musuh nih." Ucap Weni.
"Biarin aja aku gak peduli mau dia ganggu aku, aku layanin asal dia gak ganggu Meira lagi." Ucap Gina.
"Sudah...sudah...kenapa kalian jadi gibahin dia, Gadis pasti dapat karmanya nanti." Ucap Hana.
"Bener kata Hana, setiap perbuatannya pasti akan mendapatkan karma." Ucap Tina.
Meira keluar dari toilet itu dengan keadaan sudah rapi dan terseyum pada mereka.
"Yah rambut mu jadi basah." Ucap Hana.
"Gak papa kok." Ucap Meira.
"Tapi tetap cantik kok Mei....rahasianya apa sih bisa secantik kamu?" Tanya Gina.
"Mulai deh insecure.." Ucap Tina.
"Ya elah cuman nanya doang gak boleh apa." Ucap Gina.
"Gak papa Gin...aku memang kaya gini dari sananya dan aku bersyukur karena tuhan memberikan ku seperti ini, kau pun juga harus bersyukur kau tetap cantik kok. Jangan pedulikan kata orang selagi kamu percaya diri maka kamu akan terlihat cantik." Ucap Meira Gina terseyum.
"Terimakasih Mei." Ucap Gina memeluk Meira dari samping.
"Aku haus nih, habis marahi tu si nenek lampir jadi kering denggorokan." Ucap Weni.
"Iya sama, aku juga jadi lapar. Ayo kekanti." Ucap Gina Weni mendekatinya dan merangkul Gina jalan mendahului Hana Meira dan Tina.
"Dasar, sama-sama punya suka makan banyak kaya gitu tu." Ucap Tina.
"Hahaha biarin aja, selagi mereka bahagia bisa makan apa aja kenapa harus dilarang. Masalah tubuh belakangan membahagiakan diri itu lebih penting." Ucap Meira.
"Hhmm bener tu, ya sudah yuu...aku juga lapar." Ucap Tina menyusul dua gadis didepan.
"Mei.." Panggil Hana.
"Ya.."
"Gak panik lagi?" Tanya Hana.
Meira terseyum. "Minho bilang, kalau aku harus belajar mengendalikannya. Ya walau masih panik tapi aku berusaha menahannya dari pada masalahnya makin besar." Jawab Meira Hana mengangguk paham.
"Tapi kalau kau merasa tidak aman bilang ya, aku gak mau kau kenapa-kenapa." Ucap Hana Meira terseyum.
"Iya pasti." Balas Meira.
__ADS_1