
Keesokan harinya, Meira dan Minho sedang sarapan. Meira masih terlihat takut bahkan dia masih tidak terlalu banyak bicara.
"Meira.."teriak Nara memasuki rumah itu bersama 3 orang di belakangany.
"Mamah." Meira langsung berlari memeluk Nara erat.
"Sayang kau tidak papa kan, seharusnya kami tidak meninggalkan mu sayang. Maafkan ayah dan mamah sayang."ucap Nara.
"Meira takut mahhh...."ucap Meira.
"Iya sayang mamah tau, sekarang tenanglah."ucap Nara Barham terus mengelus kepala putrinya.
"Minho kenapa bisa sampai kejadian? Seharusnya kau menemani Meira terus."ucap Henry.
Meira melepas pelukanya. "Ayah, Minho tidak salah. Aku marah padanya dan memutuskan untuk di rumah sendirian."ucap Meira.
"Apa dia berbuat salah, Minho apa yang kau lakukan?"tanya Henry.
Menhi menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.
"Ayah jika tau akan terjadi aku juga tidak mungkin meninggalkan Meira. Aku berpikir sebaiknya memberi Meira waktu untuk sendrian karena dia marah pada ku tapi ternyata malah ini yang terjadi."ucap Minho.
Henry diam menatapnya. Taera menghampiri Meira.
"Tapi kau tidak kenapa-kenapa kan sayang? Apa ada yang terluka?"tanya Taera Meira membuka sedikit bajunya dan memperlihatkan memar di perutnya.
Minho pun baru melihatnya. "Kenapa kau tidak memberi tahu ku."ucap Minho.
"Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir, memar ini karena dia sempat menyeret ku ditangga dan bagian perut ku terbentur anak tangga."ucap Meira.
"Meira kenapa kau tidak mau memberitahu Minho?"tanya Barham.
"Ayah penjahat itu hampir mati karena di pukul oleh Minho, jika aku biarkan seperti itu Minho juga akan terkena masalah."ucap Meira.
"Tapi setidaknya kau memberi tahu ku, kita bisa mengeceknya kedokter Meira."ucap Minho kesal.
"Maafkan aku."ucap Meira menunduk.
Nara mendekati putirnya. "Sudahlah tidak papa, apa ini masih sakit? Biar nanti Minho mengantar mu kerumah sakit."ucap Nara Meira hanya mengangguk.
"Minho, antar Meira ke rumah sakit."ucap Taera.
"Baik mah."balas Minho.
_*;:;:;:;*;:;:;:;*_
Diperjalanan Minho hanya diam, Meira terus melirik cowok itu.
"Kau marah pada ku?"tanya Meira.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memberitahu ku, kau terluka parah seperti itu dan kau diam saja."ucap Minho tidak sadar meninggikan suaranya.
"Maafkan aku."ucap Meira menunduk.
Minho menghenlakan nafasnya, perjalanan menuju rumah sakit itu penuh kesunyian. Minho kesal pada Meira karena tidak memberitahunya luka itu apa gadis itu tidak berpikir itu bisa membahayakan dirinya.
Sesampainya di rumah sakit mereka keluar dari mobil setelah mobil itu terparkir. Mereka mendatangi dokter itu keruanganya dan memeriksa keadaan Meira.
"Akksss..." Meira meringsi merasakan tekanan di bagaian perutnya, dokter itu menekan bagaian memar itu.
"Apa yang kau lakukan, kau memeriksanya atau menyakitinya."omel Minho tidak terima.
"Maaf tuan muda, saya hanya mengecek apa ada pembekakan bagian dalam atau terkana oragan dalam, karena jika ada pembekakan organ dalam itu bisa berbahaya untuk nona muda."ucap dokter itu.
"Ya sudah lanjutkan saja, tapi jangan menyakitinya."ucap Minho Meira yang melihatnya hanya terseyum.
Walau marah cowok itu masih perhatian padanya. Dokter melanjutkan pemeriksaannya dan memberikan resep obat pada Meira.
Mereka melangkah keluar dari ruangan itu, untung saja itu hanya memar biasa tidak ada pembengkakan bagian dalam.
Minho melangkah duluan dari Meira cowok itu masih marah padanya, Meira menunduk dia tidak berani menegur Minho.
"Hahhh..."Minho menghelakan nafasnya.
Meira menatapnya. "Ada apa?"tanya Meira.
Minho berbalik menghadap dirinya. "Tidak papa, sudah ayo."ucap Minho mengenggam tangan Meira dan melangkah pergi.
Minho membukakan pintu untuk Meira, gadis iyu masuk kedalam. "Kau tunggu di sini saja, aku akan menebus obat untuk mu."ucap Minho Meira hanya mengangguk.
Meira hanya diam di dalam mobil itu, tiba-tiba seseorang datang dan masuk kedalam mobil itu.
"Siapa kau?"tanya Meira.
"Sssttt DIAM....atau kau akan ku bunuh."ucap orang itu mengarahkan pisau kearah Meira membuat gadis itu terdiam.
Orang itu perlahan menyalakan mobil dan pergi meninggal kana rumah sakit. Sedangkan Meira sudah menangis, dia tau sekarang orang itu tengah menculiknya.
Minho baru keluar dari rumah sakit dan melangka menuju parkiran tapi tidak menemukan mobilnya.
"Dimana Meira dan mobil ku."gumam Minho.
"Meira...sayang.."panggil Minho.
"Sial.." mata Minho melihat cctv di parkiran itu dengan cepat Minho pergi keruang penjaga.
Para penajaga itu terkejut saat Minho datang menghampiri mereka. "Tuan muda."ucap salah satu penjaga.
"Cepat perikasan cctv di parkiran."pinta Minho.
__ADS_1
Penjaga itu dengan cepat membuka rekaman cctv bagaian parkiran. Minho terus memperhatian mobilnya, setelah pergi meninggalkan Meira seseorang datang dan masuk kedalam mobil. Wajah oramg itu tidak terlihat karena memakai topeng, dan lebih parahnya orang itu mengarahkan pisau pada Meira.
"Sialan..."ucap Minho dan mobil itu pergi meninggalkan perkiran.
"Mereka ingin bermain dengan ku rupanya.."gumam Minho mengepalkan tanganya.
Minho pergi dari ruang penjaga itu dan menelpon seseorang.
"Hallo tuan."ucap Juan disebrang sana.
"Juan jemput aku di rumah sakit, dan siapkan anak buah mu."ucap Minho.
.....
"Apa Miera di culik."ucap Nara dia terduduk di sofa.
"Minho kau yang benar-benar saja."ucap Taera.
"Iya mah, Minho sudah mengecek cctv parkiran di rumah sakit itu. Bajingan itu membawa Meira begitu saja, dan bodohnya dia seharusnya jika ingin menculik seseorang yang saat itu berada ditempat seperti itu dia harus merusak cctv sebelum di lakukan aksinya."ucap Minho terseyum miring.
"Lalu apa rencana mu Minho?"tanya Barham menatap Minho.
Minho terseyum. "Kalian tenang saja, aku pasti bisa menemukan Meira. Orang bodoh seperti dia idak tanpa menjadi lawan ku."ucap Minho.
.....
Di sebuah gudang tua tidak berpenghuni terlihat Meira yang terikat di kursi.
"Lepaskan aku."teriak Meira.
Orang itu membawanya kesini dan langsung menyeretnya masuk kedalam gudang itu.
"Tidak semudah itu nona muda."ucap seseorang mengalihkan perhatian Meira.
"Siapa kau?"tanya Meira.
"Kau tidak mengenal ku, seharusnya kau tau dari suara ku."ucap orang itu.
"SIAPA KAU LEPASKAN AKU."teriak Meira.
"DIAM...ATAU AKU AKAN MEMBUNUH MU."ucap orang itu.
"Kau anak dari orang sialan itu, aku tidak akan menyampuni mu."ucap orang itu.
"Kau siapa hah?"tanya Meira.
"Kau tidak mengenali ku? Atau kau pura-pura lupa Meira.....oohh bukan Meira tapi Meirah."ucap Orang itu membuat Meira tersadar.
Seseorang keluar dari kegeglapan itu, terlihat seseorang yang dulu sering bersamanya.
__ADS_1
"Billa..."ucap Meira.