Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
acara kelulusan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, sekarang tidak terasa hari ini adalah hari kelulusan. Acara kelulusan digelar begitu meriah untuk melepas para siswa prestasi dan siswa teladan disekolah itu denan memberikan mereka penghargaan.


Tentu saja Meira dan Minho termaksud dalam siswa berprestasi. Mereka sedang duduk dikursi menunggu nama mereka dilanggil.


"Meira kira-kira antara kau dan Minho siapa yang lebih berprestasi?" Tanya Weni.


"Tentu saja suami ku, dia lebih pintar dari ku." Jawab Meira.


"Iya juga sih, kau kan ratu lambat jadi tidak mungkin bisa menyaingi Minho." Ucap Weni.


"Kau ingin mencari ribut dengan ku." Ucap Meira kesal siap memukul Weni.


"Eehhh iya-iya maaf." Ucap Weni Hana yang yang menatap mereka hanya menahan tawa.


Acara sudah dimulai, nama pertama yang di panggil adalah Minho membuat semua orang bersorak.


"Selamat suami ku." Ucap Meira Minho mengusap kepalanya lalu melangkah menuju panggung.


"Baiklah, murid berprestasi berikutnya adalah...Meira...beri tepuk tangannya." Ucap kepala sekolah.


Meira terseyum lalu berniat berdiri tapi tiba-tiab kepalnya pusing membuatnya limbung.


"Eh Meira." Weni dan Hana siap menahanya Bahkan Minho dari atas panggung sampai turun mengahampirinya.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Minho.


"Ah...tidak papa, aku baik-baik saja. Gaun ku terinjak oleh ku." Bohong Meira.


"Benarkah?jangan berbodoh wajah mu pucat." Ucap Minho.


Meira terseyum. "Tidak papa sayang sungguh." Ucap Meira Minho menggelakan nafasnya lalu membawa Meira naik keatas panggung.


"Wahhh suami yang cekatan." Puji kepala sekolah membuat pipi Meira memerah.


"Ini selamat ya." Ucap kepala sekolah mengalungkan Meira bunga.


"Terimakasih bu." Ucap Meria tapi dia merasa mual dengan bau bunga itu.


Minho mulai merasa aneh tidak biasanya Meira seperti ini. "Ibu bisa dipercepat istri ku sepertinya sedang tidak sehat." Ucap Minho.


"Oh benarkah? Baiklah kalau begitu." Ucap ibu kepala sekolah mulai menyebutkan satu persatu nama siswa berikutnya.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Minho.


"Tidak...ugh..tidak papa." Jawab Meira berusaha menahan mualnya.


Minho mengelus kening Meira yang berkeringat padahal hari sedang tidak panas kenapa Meira berkeringat.


"Sa..uukkhh.." Meira belari kebelakang panggung dan muntah.


Membuat mereka semua terkejud. "Sayang." Minho mendekati Meira.


Barham dan Nara yang menonton acara itu saja sampai berdiri melihat putri mereka begitu juga Henry dan Taera.


"Sayang kau kenapa?" Tanya Minho melihat Meira terus muntah.

__ADS_1


"Bunga ini membuat ku mual." Jawab Meira Minho melepas bunga itu.


"Meira tidak papa?" Tanya Kapala sekolah.


"Ibu apa boleh Meira menunggu dikuris saja, biar saya yang mewakilinya." Ucap Minho.


"Ohhh baik lah kalau begitu." Ucap kepala sekolah mengijinkan Meira untuk turun.


Minho membawa Meira kembali kekursinya Hana dan Weni membatu Meira untuk duduk.


"Tolong jaga Meira." Ucap Minho lalu kembali naik keatas panggung.


"Mei kau kenapa?" Tanya Weni khawatir.


"Kayanya aku masuk angin, soalnya dari kemarin aku gak selera makan." Jawab Meira.


"Aku ambilkan minum untuk mu." Ucap Hana berlari pergi mengambil minum untuk Meira.


Meira menyandarkan kepalanya di bahu Weni, gadis itu terus mengelus bahu Meira sampai Hana kembali dan memberikan minum itu pada Meira.


"Ayah sama mamah mu dibelakang mereka tadi nanyain keadaan mu." Ucap Hana Meira menegakna badanya dan melihat kebelakang.


Barham dan Nara terseyum padanya, Meira membalasnya.


Setelah pembagian pengharhaan selesai, sekarang para tamu dan orang tua boleh menghapiri anak-anak mereka. Bahkan sekoalah sudah menyiapakan makanan untuk semua orang. Minho langsung mengahmpiri Meira, Weni langsung bernajak membiarkan Minho duduk disamping Meira.


"Sayang...kau kenapa?" Tanya Minho.


"Aku tidak papa, hanya pusing dan mual. Mungkin aku masuk angin, kau tau kan aku dari kemarin tidak selera makan." Jawab Meira memeluk pinggang Minho dari samping, dia lebih suka wangi badan Minho.


"Aku tidak selera makan." Tolak Meira.


"Sayang, untuk isi perut mu." Ucap Minho Meira kembali mengeleng.


"Pokoknya tetap harus makan." Ucap Minho.


Minho mengambilkan makan untuk Meira lalu kembali menghampiri istrinya.


"Ayo makan sayang." Ucap Minho.


"Aku tidak mau." Tolak Meira menutup mulutnya.


"Kau ini kenapa sih, kau sudah masuk angin separti ini masih menolak untuk makan." Bentak Minho tanpa sadar membuat Meira tediam.


"Min..jangan membentak juga kali." Ucap Tina.


"Dia menolak disuruh makan, padahal udah sakit seperti ini. Apa dia gak mikir kesehatanya." Ucap Minho Meira menunduk dia sudah menangsi.


"Min kau cuma bikin Meira nangis." Ucap Hana memeluk Meira.


Minho menghelakan nafasnya. "Makan ya." Meira tetap menolak.


"Okey terserah kamu, kamu tidak mau menuruti ku." Ucap Minho lalu pergi begitu saja.


Mereka menatap Minho kesal. "Istri lagi sakit malah dibentak, dasar suami kasar." Ucap Weni.

__ADS_1


Barham dan Nara mendekati putrinya. "Sayang kau kenapa?" Tanya Nara.


"Mamah...hisk.." Meira memeluk Nara.


"Ada apa Mei...kenapa mamah lihat tadi Minho seperti marah." Ucap Nara.


"Meira bikin Minho marah mah." Ucap Meira menangsi.


"Sudahlah tidak papa, tapi ada apa sayang kenapa Minho bisa marah pada mu?" Tanya Barham.


"Aku dari kemarin tidak selera makan, dan sekarang aku sepertinya masuk angin. Minho mencoba membujuk ku untuk makan tapi aku menolaknya, dia marah pad aku." Ucap Meira.


"Hah...Meira seharusnya kau menurut pada suami mu sayang." Ucap Nara.


Weni Tina Gina dan Hana hanya diam menatap Meira dan orang tuanya.


"Iya Meira salah." Ucap Meira Nara mengekus pungung Meira..


"Barham." Panggil Henry yang datang bersama Taera dan Minho.


Minho mendekati Meira, Nara melepas pelukannya. "Maaf sudah membentak mu." Ucap Minho, Meira memeluk Minho erat.


"Minho sebagaikanya, kalian cepat pulang tubuh Meria sedikit panas sepertinya diam demam." Ucap Nara.


"Baik mah." Ucap Minho.


"Kita akan mengadakan pesta kelulusan kalian, tapi setelhan Meira sehat." Ucap Minho.


"Baik ayah." Ucap Minho.


"Apa kami boleh ikut paman?" Tanya Weni Tina menyenggol tanganya.


"Tentu saja, kaliankan teman Minho dan Meira tentu sja boleh. Bahkan Juan pun akan kami rayakan." Ucap Henry membuat Weni terseyum malu.


Minho membatu Meira beridri. "Sebaiknya kita pulang saja, aku takut kau semakin kelelahan." Ucap Minho Meira hanya mengangguk.


♤♤♤♤


Sesampainya dirumah, Minho menggendong Meira menuju kamar saat diperjalanan Meira sudah tertidur.


Dengan pelan Minho membaringkan Meira diranjang dan menatap wajah itu.


"Kau kenapa sayang, sikap mu akhir-akhir ini berbeda." Ucap Minho sambil mengekus pipi Meira.


Minho beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, tidak butuh waktu lama Minho selesai.


Saat membuka pintu kamar mandi Minho terkejud melihat Meira ada dideoan pintu menatapnya.


"Kau sudah bangun? Ada apa?" Tanya Minho menangkup wajah Meira.


"Menunggu mu dari tadi, kenapa mandi duluan seharusnya tunggu aku." Ucap Meira Minho mengerutkan alisnya.


"Sayang biasanya kau tidak mau mandi dengan ku." Ucap Minho.


"Aku mau mandi bersama mu, kau jahat duluan mandi." Ucap Meira lalu masuk kedalam kamar mandi menutup pintu itu keras membuat Minho terkejud.

__ADS_1


"Ada apa dengan istri ku." Gumam Minho.


__ADS_2