
Meira sampai di rumahnya masih dengan wajah kesalnya. Bagaimana tidak pagi-pagi Hana sudah mencari masalah denganya bahkan Billa mengalah untuk orang itu, saat pulang sekolah dia bertabrakan dengan si cupu mantan ketua osis itu, entah kalau dia menjabat lagi menjadi ketua osis untuk terakhir kalinya.
"Meira...kemari sayang." Panggil Barham saat Meira melewati ruang keluarga.
"Ada apa ayah?" Tanya Meira mendekati ayahnya.
"Duduk sayang, apa kau bicara pada ayah dengan berdiri itu tidak sopan." Ucap Barham Meira dudu di depan ayahnya dan menatap pria itu.
"Jadi begitu, ayah ingin kau mau menerima ini dengan baik. Besok sahabat ayah akan kemari ingin bertemu dengan mu." Ucap Barham.
"Dengan ku? Tapi kenapa?" Tanya Meira bingung.
"Jadi begini sayang, kami akan menjodohkan mu dengan anak sahabat ayah." Jawab Barham membuat Meira terdiam.
"Mei....kau maukan?" Tanya Barham.
"AYAH AKU TIDAK MAU." Teriak Meira tiba-tiba membuat Barham terkejud.
"Ayah aku tidak mau dijodohkan, aku memiliki cowok yang aku sukai." Ucap Meira kesal
"Meira kau harus mau, ini udah menjadi keputusan ayah dan sehabat ayah. Kami sudah membuat janji kelak kami akan menjodohkan anak kami dan ini lah saatnya. Karena kakak mu sudah memiliki kekasih dan hanya kau yang tertinggal jadi kau harus mau menerimanya." Ucap Barham tegas.
"Tapi ayah, aku tidak mau. Kenapa zaman sekarang masih saja jodoh-jodohan seperti itu." Ucap Meira Nara datang dari ayah dapur.
Wanita cantik yang menjadi ibu Meira ini menuruni kecantikannya pada putrinya.
"Sayang menurut saja, mamah yakin dia pasti cocok dengan mu." Ucap Nara terseyum pada putrinya.
"Tidak...pokoknya Meira tidak mau." Ucap Meira melangkah pergi.
"Kau harus mau, jika kau tidak mau ayah akan mengirim mu kerumah nenek." Ucap Barham.
"Oh baiklah, aku lebih baik pergi kerumah nenek dari pada menikah denganya, lagi pula aku tidak ingin menikah muda ayah. Aku ingin mengejar karir ku lebih dulu." Ucap Meira lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Anak mu keras sekali." Ucap Barham.
"Itu karena kau yang mendidiknya menjadi seperti itu." Ucap Nara meminum teh buatannya.
"Hy kau lebih dulu meminumnya, seharusnya aku." Ucap Barham mengambil cangkir teh miliknya.
"Kau lambat sih, aku sudah haus ingin meminumnya." Balas Nara.
Didalam kamat Meira membanting tasnya begitu saja.
"Aaakkkhhh....kenapa hari ini banyak orang mengesalkan sekali." Ucap Meira marah.
__ADS_1
Meira masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sepertinya air dapat menenangkan otaknya.
Selesai dari acara mandinya Meira memakai baju santai kaos tanpa lengan hanya ber tali kecil dan celana pendek yang tertutup oleh kaosnya. Membuat kulit putihnya terlihat indah.
Meira meraih ponselnya dan melihat begitu banyak pesan dan panggilan dari Billa. "Hah...sepertinya aku tidak bisa marah terus padanya." Gumam Meria.
Room chat
...😊Biang Lala😊...
"Iya Bil..tidak papa, aku tidak tidak marah lagi pada mu." Balas Meira di cahat terakhir Billa.
^^^"Mei, aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin kau terkena masalah nantinya berurursan dengan orang gila itu." Balas Billa.^^^
"Hahahaha....iya Bil aku mengerti, sudah lah jangan dipikirkan lagi, eh sudah dulu ya aku ingin beristirahat."
"
^^^Okey Meimei sayang." Balas Billa.^^^
Bibir Meira melengkung, selama dia bersekolah disana hanya Billa yang berani menegurnya bahkan mau berteman denganya. Ya walau kau dari keluarga terkaya didunia atau dikota itu, tetap saja pasti ada yang tidak suka dengan mu. Hana contohnya, gadis itu sangat membenci Meira karena gadis itu berdekatan dengan cowok yang Hana suka.
Meira berusaha untuk tidur tapi matanya tidak bisa terpejam, perkataan ayahnya masih terngiyang dalam kepalanya.
"Ini sudah jam 1 siang biasanya aku pasti gampang tertidur, tapi kenapa sekarang sulit sekali." Gumam Meira mengacak rambutnya kesal.
Tok tok tok
"Meira.." Panggil seseorang dari balik pintu.
"Kenapa?"Tanya Meira.
"Boleh kakak masuk?" Tanya Shina anak pertama dari Barham dan Natalia.
"Boleh." Jawab Meira.
Pintu itu terbuka memperlihatkan wanita yang tak kalah cantik dari Meira, rambut yang berwarna coklat bergelombang dengan poni tipis di keningnya. Shina melangkah masuk dan duduk tepian tempat tidur adiknya.
"Kau sedang apa?" Tany Shina.
"Ingin tidur tapu tidak bisa." Jawab Meira menunduk.
Shina terseyum lalu mengelus kepala adiknya. "Kakak sudah dengar dari ayah, besok kau akan dilamar." Kcap Shina.
"Ya begitulah." Balas Meira.
__ADS_1
"Kakak tau kau pasti menolaknya kan? Sifat mu keras sekali." Ucap Shina.
"Apa kakak kemari hanya untuk mengejek ku " Ucap Meira Shina menggeleng.
"Kakak kesini untuk menghibur mu, lihat kakak belikan apa untuk mu." Ucap Shina memberikan tas belanja ditanganya pada Meira.
Gadis itu membukanya dan terseyum senang. "Ini bukan kah, dress yang Meira ingin beli. Bagaimana kakak bisa mendapatkannya?" Tanya Meira beranjak dari ranjangnya melangkah menuju kaca besar disudut kamarnya.
"Kakak melihat baju itu di mall karena kau bilang ingin membeli dress itu jadi kakak membelikannya untuk mu, bagaimana kau suka?" Tanya Shina.
"Suka...terimakasih kakak." Ucap meira memeluk kakaknya erat.
"Baguslah kalau kau suka, besok pakai lah itu dan bicaralah baik-baik pada mereka jika kau memang tidak menerima perjodohan itu. Bukannya berteriak pada ayah, kau tau kan kita di rumah ini paling menghormati ayah." Ucap Shina.
Meira bernafas lemas. "Ya ya, Meira tau. Kakak habis dari mana?" Tanya Meira.
"Kakak habis dari kampus, lalu pergi dengan Jiko ke mall dan melihat ini. Sudah mau kekamar dulu." Ucap Shina lalu pergi dari kamar adiknya.
Meira menatap dress itu. "Hah....kenapa ayah jadi menjodohkan ku seperti itu." Gumam Meira.
Gadis itu mengganti kaos dan celananya dan merah kunci mobilnya. "Lebih baik aku jalan-jalan saja."
.....
Mobil hitam itu berhenti di sebuah toko kecil di pinggir jalan, Meira keluar dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam market itu.
Membeli beberapa minuman dingin dan makanan ringan untuk dia nikmati dikursi yang disediakan.
Setelah selesai, Meira melangkah menuju kursih disamping toko itu.
"Aaahhh segarnya." Ucap Meira saat minuman dingin mengalir di tenggorokannya.
Matanya melihat jalanan itu, menghitung setiap mobil hitam yang lewat.
"Lima.....enam...."
"Hah....kenapa hari ini membuat ku banyak pikiran." Ucap Meira.
Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di parkiran toko itu. Seorang cowok turun dari motornya dan melepas helm nya.
Meira menatap cowok itu. "Bukan kah dia si cupu itu, ahhh kenapa aku melihantya lagi di siang seperti ini." Gumam Meira melihat kearah lain.
Cowok itu melangkah masuk kedalam toko itu, Meira beranjak.dari duduknya dan masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi.
Sedangkan yang berada didalam toko itu terus menatapnya. "Sampai bertemu besok." Gumamnya.
__ADS_1