Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
rencana baru


__ADS_3

"Kau sudah menyiapkannya?" Tanya wanita pada putrinya yang berdiri di sampingnya.


"Sudah ibu, sesuai rencana baru ibu." Jawab putrinya.


"Bagus...untuk kali ini jangan sampai gagal, jika kau gagal lagi kau akan mendapatkan yang lebih dari itu. Kesalahan mu bukan hanya sekali itu saja, kau sudah sering melakukan kesalahan selama masa sekolah mu dan menyianyiakan waktu hanya untuk menjadi babu anak Barham. Dasar tidak berguna." Ucap wanita itu lalu melangkah pergi.


Tangan itu meremas kuat, air matanya perlahan mengalir.


\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=°\=


Minho dan Meira sudah sampai di rumah orang tua Meira, saat memasuki rumah itu Meira langsung berlari memeluk Nara.


"Mamah Meira rindu." Ucap Meira memeluk Nara erat.


"Mamah juga sayang." Balas Nara memeluk Meira.


"Pada ayah tidak?" Tanya Barham.


"Tidak, ayah mengesalkan." Jawab Meira.


"Hhmm terserah kau saja." Ucap Barham Meira tersenyum dan memeluk ayahnya.


"Tentu Meira merindukan ayah." Ucap Meira Barham tersenyum dan membalas pelukan itu.


Barham melepas pelukan itu. "Minho kita langsung saja membahasnya sekarang." Ucap Barham.


"Ayah kami baru sampai." Ucap Meira.


"Tidak papa sayang, ini sangat penting jadi aku harus membahasnya sekarang dengan ayah." Ucap Minho lalu menatap Barham.


"Ayo keruang kerja ayah." Ucap Barham lalu melangkah menuju ruang kerjanya.


"Issshhh.."


"Sudahlah sayang, sekarang ke kamar lah istirahatkan diri mu." Ucap Nara.


"Tapikan..aahh ya sudah Meira ke kamar dulu mau merapikan barang-barang Minho." Ucap Meira lalu melangkah pergi menuju lantai 2.


Nara menatap punggung putrinya lalu tersenyum kecil. "Putri mu sudah besar." Gumamnya lalu melangkah pergi menuju ruang kerja suaminya.


Meira menghentikan langkahnya. "Aku tau yang kalian bicarakan, maaf Minho.." Gumam Meira lalu dia melanjutkan langkahnya.


"Jadi kau meminta Meira untuk menginap di sini agar wanita itu tidak bisa menculiknya?" Tanya Barham.


"Iya ayah, dan ternyata selama ini Ina adalah mata-mata wanita itu. Pantas saja dia selalu masuk kedalam ruang kerja ku mencari sesuatu, wanita itu pasti memintanya untuk mencari bukti kasus itu. Ayah kasus ini belum bisa di lanjutkan jika wanita itu belum di tangkap." Ucap Minho.


"Ayah tahu Minho, kita lanjutkan saja sesuai rencana. Kita umpan dia agar mau muncul." Ucap Barham.


"Bagaimana caranya, aku tidak mau istri ku terluka ayah." Ucap Minho.


"Kau tenang saja, Meira tidak akan jadi umpan. Ayah sudah memiliki mata-mata seorang wanita yang mirip dengan Meira dari gaya rambut dan postur tubuh mereka dua mirip." Ucap Barham.


"Jadi....ayah meminta mata-mata ayah untuk menyamar menjadi Meira?" Tanya Minho.

__ADS_1


"Ya itu tepat sekali." Ucap Barham Minho menganggu mengerti.


"Tapi bagaiman cara mengumpannya, pastinya dia tau Meira dan Minho menginap di sini dari Ina dan jika mata-mata ayah yang menyamar itu jalan dengan Minho dan mereka menculiknya itu tidak mungkin. Meira akan curiga, sedangkan kita berusaha merahasiakan ini darinya." Ucap Nara.


"Mamah benar.." Ucap Minho.


Barham tampak berpikir lalu terseyum. "Bagaimana kalau kau dan dia jalan ke mall." Ucap Barham pada Nara.


"Aku dan mata-mata mu itu? Apa mungkin? Maksud ku jika di tempat ramai mereka akan sulit untuk menculiknya." Ucap Nara.


"Aaakkhh istri ku ni terlalu kritis dalam berpikir, tapi sayang kita coba saja dulu. Dari rencananya kemarin dia akan menculik Meira besok. Bagaimana pun caranya kita harus pastikan Meira aman." Ucap Barham.


Nara terdiam. "Tapi entah kenapa aku merasakan firasat lain." Ucap Nara.


"Mamah tenang lah....Meira pasti baik-baik saja." Ucap Minho Nara menghelakan nafasnya dan mengangguk.


...


"Sesuai rencana."


"Apa kau yakin?"


"Hy apa gunanya aku membebaskan mu dari gudang itu jika aku tidak yakin dengan rencana ku."


"Maksud ku, apa kau yakin melakukan hal itu? Kau tau Billa kan, ingat apa yang dia lakukan pada mu? Aku hanya tidak ingin kau semakin trauma oleh nya."


"Ya aku tau, sudahlah ikuti saja. Aku yakin ini berhasil, Billa adalah sahabat ku dia tidak akan melukai ku."


"Terimakasih."


...


Pintu kamar terbuka mengalihkan perhatian Meira.


"Sudah dulu ya." Ucap Meira pada ponselnya lalu mematikan ponselnya.


"Siapa?" Tanya Minho.


"Oohhh tadi Weni nelpon, mau ngajak kumpul tapi aku lagi tidak enak badan jadi aku menolaknya." Jawab Meira Minho mendekatinya dan duduk disebelahnya.


"Kau kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Minho khawatir.


"Tidak...aku dari kemarin hanya merasa pusing saja." Jawab Meira tersenyum sambil mengelus pipi Minho.


"Kau yakin? Apa perlu kita ke dokter?"


"Tidak perlu sayang, aku sudah minum obat tadi. Hanya terlalu banyak pikiran saja." Tolak Meira lalu dia mendekat pada Minho dan memeluk suaminya erat.


"Aku cuman ingin kamu peluk." Ucap Meira Minho tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Peluklah sesuka hati mu." Ucap Minho.


Meira tersenyum. "Maafkan aku." Batin Meira.

__ADS_1


•°•°•°•°•°•°•°•°•


Keesokan harinya, Minho sedang bersiap untuk kekantor bersama Barham karena mereka ingin membahas tentang sesuatu.


"Kau di rumah saja hari ini ya." Ucap Minho pada Meira yang sedang memasang dasinya.


"Iya..." Balas Meira.


"Jangan kemana-mana, hanya disini yang aman. Aku dan ayah hanya sebentar jam 11 kami kan pulang." Ucap Minho.


"Cepat sekali, kau biasanya akan pulang jam 5 sore." Ucap Meira dasi itu sudah terpasang rapi.


Minho menatap wajah istrinya yang sedikit pucat. "Kau kenapa?" Tanya Minho.


"Kenapa dengan ku? Aku tidak kenapa-kenapa." Jawab Meira.


"Apa kau sakit, wajah mu pucat sayang." Ucap Minho menangkup wajah Meira bahkan wajah itu terasa sedikit hangat.


Meira terseyum. "Aku tidak papa sayang, sudah berangkat lah. Ini sudah jam 6." Ucap Meira Minho menghelakan nafasnya lalu mencium kening Meira.


"Ya sudah aku berangkat dulu." Ucap Minho.


Minho melangkah pergi, Meira hanya diam lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Ku harap semua baik-baik saja, aku tidak akan kehilangannya lagi." Gumam Meira menatap benda yang ada di genggamannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo."


"Jam 9 kita aku akan kesana."


"Baiklah aku tunggu, Minho dan ayah ku akan pulang jam 11." Ucap Meira.


"Baiklah...kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan mu terluka."


"Hhmm aku percaya pada mu."


........


"Tuan Junggo berhasil lepas." Ucap Juan yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Minho.


"Apa bagaimana bisa?"


"saya mengecek dari rekaman cctv nona Meira lah yang telah membebaskan Junggo tuan." ucap Juan.


"apa? apa niatnya dia membebaskan bajingan itu." Tangan Minho terkepal.


"apa dia berniat menghianatiku." ucap Minho.


"tuan jangan berpikir seperti itu sebelum mengetahuinya." Ucap Juan.


"cihh..."

__ADS_1


__ADS_2