Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
ku mohon bangun


__ADS_3

1 bulan berlalu.


Minho seperti mayat hidup, makan dan minum seadanya dan itu harus dengan paksaan.


Minho menatap wajah Meira. "Sayang...lihat aku, apa kau tidak mau bangun dan marahi aku. Aku tidak merawat diri ku dengan baik sayang, kau pasti akan memarahi ku jika aku seperti ini. Sayang ku mohon bangun....aku sangat merindukan mu." Ucap Minho kembali menangis Nara dan Taera menatap cowok itu lirih.


"Akhhhhh...kenapa? Kenapa kau tega membuat ku seperti ini sayang? KU MOHON BUKA MATA MU." Tangis Minho semakin pecah.


"Minho, kau sabar sayang." Taera menghampiri putranya dan ingin menyentuh bahu Minho tapi cowok itu menepisnya.


Minho beranjak dari duduknya dan membanting vas bunga di atas meja itu. "MINHO." Teriak Taera.


"AKU HANCUR MAH, AJARI AKU UNTUK SABAR..." Teriak Minho.


"Istri ku bahkan enggan untuk melihat ku, dia pasti sangat kecewa pada ku yang gagal melindunginya." Ucap Minho dia meninju tembok sampingnya membuat Nara dan Taera terkejud.


"Minho apa yang kau lakukan, lihat lah tangan mu terluka." Ucap Nara.


"Luka ini tidak sebanding dengan keadaan ku, aku gagal menjaga istri ku sendiri. Wahhh suami macam apa aku ini, bahkan untuk melawan perkataan istri ku sendiri aku tidak bisa. KENAPA AKU BODOH, SEHARUSNYA AKU MENEMANINYA SAAT ITU." Teriak Minho dia terduduk dilantai itu bersujud.


"Sayang....hati ku sakit, kau tidak mau memeluk ku." Ucap Minho menatap Meira yang diatas ranjang pasien.


"Mahh....kenapa istri ku tidak mau membuka matanya, katakan padanya buka matanya. Setidaknya aku bisa melihat terseyum walau dia marah pada ku....Maaah ku mohon buat Meira bangun." Mohon Minho Taera menangis melihat putranya, dipeluknya tubuh itu dan mengelus punggungnya.


"Minho tenangkan diri mu sayang." Ucap Taera Minho memeluknya erat menangis dalam pelukan itu.


Nara hanya bisa terdiam melihat hal itu, dia pun merasakan hal yang sama. Dia ingin melihat putrinya sadar.


<○>{■}<●>{□}<○>{■}<●>{□}


Tangan Minho sudah terbalut perban, dia melangkah dengan lesu menuju kamar inap Meira.


Minho membuka pintu itu dan pemandangan pertama adalah Meira yang masih enggan membuka matanya.


Minho melangkah mendekati ranjang pasien itu dan menggenggam tangan Meira. "Sayang...lihat aku terluka, kau tidak mau melihatnya? Tapi luka ini tidak sebanding dengan yang ku rasakan melihat mu seperti ini." Ucap Minho menatap wajah Meira dan mencium kening itu lembut.


Satu tetes air mengenai pipi Meira. "Sayang bangun....aku sangat merindukan mu." Ucap Minho dia memejamkan matanya menyatukan keningnya dengan kening Meira.


Berharap bisa membuat Meira sadar, pintu kamar inap itu terbuka memperlihatkan Juan.


"Tuan..." Panggil Juan.


"Ada apa?" Tanya Minho.

__ADS_1


"Perusahaan membutuhkan tuan." Ucap Juan.


"Apa kau tidak bisa mengurusnya sendiri." Ucap Minho masih menatap wajah Meira.


"Maaf tuan, tapi perusahaan sedang terjadi masalah dan tuan yang bisa menyelesaikannya." Ucap Juan.


Minho menghelakan nafasnya. "Siapa yang mencari masalah dengan ku itu?" Tanta Minho.


"Dia dari pengusaha LJ tuan." Jawab Juan.


"Aku tidak peduli nama perusahaannya, aku menanyakan siapa orangnya." Ucap Minho.


"Dia tuan Xelik, dia ingin meminta penanggung jawaban." Ucap Juan.


"Penangung jawaban apa?" Tanya Minho menatap Juan.


"Mereka mengalami kerugian atas ketidak aktifan tuan dalam proyek itu." Jawab Juan.


"Cihhh....apa dia tidak bisa berpikir, peroyek itu berjalan dengan baik. Dia hanya tinggal menerima hasil dan memakan uang itu apa tidak bisa diam. Seorang kaparat sepertinya membuat ku muak." Ucap Minho Juan hanya diam.


"Kita pergi." Ucap Minho lalu meraih jas di atas sofa.


"Tuan, ada apa dengan tangan tuan?" Tanya Juan.


Juan menatap Meira. "Cepatlah sadar nona, semuanya orang merasa kehilangan." Ucap Juan.


Dia meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya, tangan itu sedikit bergerak.


.....


Sesampainya di perusahaan, Minho melangkah masuk ke dalam gedung megah itu beberapa karyawannya tertegun dan menunduk hormat.


Minho hanya melewati mereka begitu saja, dia dan Juan memasuki lift yang akan mengantar mereka keruangan Minho.


"Di mana dia sekarang?" Tanya Minho.


"Siapa tuan?"


"Wanita itu, apa kalian sudah mendapatkannya?"


"Belum tuan, jejaknya sulit ditemukan. Bahkan tidak ada apa pun didalam rumahnya." Jelas Juan.


"Cihhh pengecut." Ucap Minho.

__ADS_1


Lift itu sampai dilantai yang mereka tuju, pintu lift terbuka Minho dan Juan langsung melangkah keluar.


Para karyawan menunduk hormat pada Minho, cowok itu hanya lewat begitu saja. Minho masuk kedalam rungannya.


Minho duduk dikursinya dan Juan berdiri disamping mejanya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka begitu keras dan memperlihatkan seorang pria yang lebih tua 5 tahun dari Minho.


"KAU INGIN MEMBUAT KU BANGKRUT HAH." teriak pria itu.


Minho hanya diam membaca berkas yang ada di depannyan, berkas cacatan tentang latar belakang pria itu.


"Xelik Hendra Kusuma....seorang pengusaha hebat yang sudah membangun perusahaannya selama 15 tahun. Itu perusahaan ayah mu bukan?" Tanya Minho.


"Iya itu perusahaan ayah ku yang diturunkan untuk ku." Ucap Xelik.


"Benarkah? Tapi kenapa di catatan ini, kau merebutnya dari ayah mu, bahkan kau diam-diam mengalihkan aset perusahaan itu atas nama diri mu." Ucap Minho membuat Xelik mematung.


"Apa kau lupa Kak Xelik, diperusahaan ku tidak menanamkan tipuan. Jika kau ingin mengkoropsi hasil kerja sama proyek ku, maka kau salah mencari lawan." Ucap Minho menatap Xelik datar.


"Perusahaan itu sudah di bangun sejak 25 puluh tahun lalu dan kau dulu adalah karyawan diperusahaan ayah mu sendiri, karena kelicikan dan keserakahan mu kau melakukan hal itu." Ucap Minho Xelik mengepalkan tanganya lalu mendekat pada Minho menarik kerah baju cowok itu.


"Beraninya kau mencari tau tentang suamua itu." Ucap Xelik Juan ingin mendekat tapi Minho menahannya.


"Biar aku yang mengurusnya sendiri Juan.." Ucap Minho lalu di tepisnya cengkraman dikerah bajunya dan meninju wajah Xelik.


Membuat pria itu terduduk dilantai. "Cihhh pipi mu terbuat dari apa? Lunak sekali." Ucap Minho meremehkan.


"Beraninya kau."


Xelik hampir saja meninju wajah Minho untung saja coeok itu sempat menghindar. "Sudah berapa banyak uang ku yang kau kuropsi hah?" Tanya Minho membuat Xelik tertegun.


"Kau pikir aku tidak tau tindakan mu ini, kau meminta ganti rugi setelah kau berhasil mengkuropsi uang ku. Wahhh dasar rubah." Ucap Minho.


"Juan bawa dia ke polisi." Ucap Minho lalu merapikan kemejanya.


"Baik tuan." Juan mengikat tangan Xelik.


"Sialan kau Minho....akan ku pastikan kau akan ku hancurkan." Teriak Xelik saat ditarik paksa untuk pergi oleh Juan.


Minho terseyum miring. "Tidak perlu repot, bahkan aku sudah hancur melihat istri ku seperti itu." Gumam Minho


........

__ADS_1


Likenya dongss dan komen kalau kalian suka. 😢😢😢👍👍👍


__ADS_2