
"Kenapa dia masih selamat HAH?" Teriak seorang wanita pada putrinya.
"Ibu aku sudah menghabisinya sungguh, aku tidak tau kenapa dia bisa kembali hidup." Jawab putrinya.
"Dasar tidak berguna." Plakk wanita itu menampar putrinya.
"Bahkan sekarang Junggo juga ditangkap, kalian berdua anak yang tidak berguna." Ucap Wanita itu Chika.
Billa hanya diam memegangi pipinya yang panas.
"Ibu menyesal menghidupi kalian yang tidak berguna ini." Ucap Chika lalu dia tersenyum.
"Kau ikut dengan ibu." Ucap Chika menarik rambut Billa membuat wanita itu kesakitan.
"Ibu maafkan aku." Teriak Billa berusaha melepas cekraman di rambutnya.
"Kau harus di beri hukuman atas kesalahan mu itu." Ucap Chika lalu melempar Billa kesebuah ruangan gelap Chika juga masuk kedalam ruangan itu dengan tongkat di tangannya dan menutup pintu ruangan itu.
"Ibu.."
"Aaaakkhhh.." Teriak terdengar dari ruangan itu.
*°*°*°*°*°*°*°*°*°*
Mata itu perlahan terbuka dan pemandangan pertama adalah wajah tampan pria yang masih tertidur.
"Sayang.." Meira membangunkan Minho menggoyangkan bahu pria itu.
"Sayang..."
"Uugghh.."
"Udah jam 5, lari pagi dulu yuk." Ajak Meira.
"Iya ayo." Balas Minho.
Mereka beranjak dari ranjang itu, Minho lebih dulu masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya sedangkan Meira merapikan tempat tidur mereka lalu menyiapkan baju joging untuk mereka.
Setelah Minho Meira yang masuk kedalam kamar mandi, setelah sudah siap mereka melangkah keluar kamar.
Selama lari mereka Meira terus menatap sekeliling banyak orang yang menjual jajanan kecil.
"Sayang kau niat lari atau jajan?" Tanya Minho yang menyadari istrinya tidak fokus dengan larinya.
"Habisnya jajan yang mereka jual itu jajanan waktu aku kecil, sayang lanjut saja larinya aku mau beli itu dulu." Ucap Meira berlari kearah penjual.
"Sayang...oh ya ampun dia yang mengajak ku lari tapi dia yang tidak serius. Dasar wanita." Gumam Minho melanjutkan larinya.
Setelah mendapatkan 10 putaran Minho menghentikan larinya dan berjalan santai untuk mengatur kembali nafasnya.
__ADS_1
"Sayang.."
"Oh astaga...sayang kau mengejutkan ku." Ucap Minho mengelus dadanya dia pikir Meira tidak ada didekatnya karena masih belanja.
"Hehe maaf." Ucap Meira sambil memakan jajannya.
"Apa itu?" Tanya Minho bingung melihat bungkusan yang berisikan bola-bola kecil.
"Cilok...kau mau?" Meira menyodorkan satu tusuk cilok pada Minho.
"Tidak tidak kau saja, aku tidak biasa melihatnya." Ucap Minho.
"Ciih bergaya sekali, masa kau tidak pernah melihat atau memakan ini bahkan di sekolah juga ada menjual ini." Ucap Meira.
"Benarkah kenapa aku tidak sadar." Ucap Minho.
"Kau saja yang terlalu memilih dalam memakan sesuatu, jangan terlalu pemilih karena apa yang belum pernah kau coba akan menjadi penyesalan yang tidak kau sadari." Ucap Meira.
"Cih apa hubungannya penyesalan dan makanan."
"Tentu ada, disaat orang lain pernah memakannya dan kau tidak pasti orang bertanya-tanya kenapa kau tidak pernah memakannya padahal makanan itu enak dan orang akan berpikir bahwa kau adalah orang yang tidak memiliki pendirian karena terlalu memilih." Jelas Meira.
Minho hanya diam. "Ya sayang terserah kau saja." Ucap Minho dia bukan tidak mau membalas tapi yang di katakan Meira adalah benar.
"Jadi mau tidak, satu saja kau pasti suka." Ucap Meira Minho menatapnya ragu tapi membuka mulutnya.
Meira tersenyum dan menyuapi 1 cilok pada Minho, pria itu mengunyahnya dan merasakannya.
"Enak?" Tanya Meira menatap Minho.
"Apa aku bilang, kau belum coba pasti belum tau rasanya. Jangan menilai sesuatu dari penampilan kau tidak tau rasanya sebelum mengetahui yang sebenarnya." Ucap Meira.
"Ya ya ya terserah kau saja, aku mau lagi." Ucap Minho meminta Meira menyuapinya lagi lagi.
"Tidak ini punya ku, kau beli saja sana sendiri." Ucap Meira lalu melangkah pergi.
"Sayang...aaaaa ayo lah aku minta punya mu.." Ucap Minho mengejar Meira.
Kenapa wanita itu pelit sekali padahal masih ada 2 bungkus di tangannya yang belum dia makan, Minho hanya meminta satu bungkus saja wanita itu pelit sekali.
_/\/\/\/\/\/\/\/
Sekarang mereka sudah di rumah, Minho langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk kekantor.
"Sayang pasangkan dasi ku." Pinta Minho Meira mendekat dan mengambil alih dasi Minho.
"Jam berapa pulang?" Tanya Meira Minho memeluk pinggangnya.
"Kau maunya jam berapa?" Tanya balik Minho.
__ADS_1
"Kenapa bertanya pada ku? Terserah kau saja mau pulang jam berapa tapi harus ingat ada istri mu yang menunggu di rumah." Jawab Meira.
Minho tersenyum. "Kalau gitu aku tidak kekantor saja hari ini." Ucap Minho.
"Hy kenapa seperi itu, aku tidak mau kau melupakan tanggung jawab mu pada perusahaan mu. Sudah rapi...tampannya suami ku." Ucap Meira mengecup bibir Minho.
"Dan istri ku cantik, kapan kita bisa mendapatkan anak? Aku tidak sabar menantinya." Ucap Minho membuat senyum Meira memudar.
"Sayang bukan.."
"Sudahlah tidak papa, kau berangkat lah nanti terlambat." Ucap Meira tersenyum.
"Sayang..."
"Tidak papa, sepertinya tuhan masih belum percaya pada ku untuk menjaga pemberiannya sekarang..." Ucap Meira matanya berkaca.
1 bulan ini mereka terus menanti pemberian tuhan, tapi sepertinya tuhan masih tidak mau memberikannya sekarang pada mereka.
"Sayang jangan sedih, aku yakin kita pasti bisa mendapatkannya dan dia akan kembali pada kita." Ucap Minho menangkup wajah Meira dan menghapus air mata istrinya.
"Hiks...aku ingin dia kembali, tapi tuhan sudah tidak percaya pada ku." Ucap Meira Minho memeluk istrinya.
"Tidak seperti itu sayang."
"Buktinya aku tidak bisa menjaga pemberiannya, aku tidak pantas jadi ibu aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." Ucap Meira.
"Hy ssssttt jangan bicara seperti itu sayang, kita pasti bisa mendapatkannya. Bersabarlah, tuhan adil pada umatnya sayang. Aku yakin dia akan memberikannya pada kita hhhmm..sayang sudah jangan menangis." Ucap Minho mencium pucuk kepala Meira.
"Aku tidak usah kekantor saja ya menemani mu aku tidak mau kau sedih seperti ini sayang." Ucap Minho.
Meira berusaha menenangkan dirinya lalu terseyum dan menghapus air matanya. "Tidak jangan seperti itu, kau berangkat lah, aku tidak papa." Ucap Meira melepas pelukannya dan tersenyum.
"Juan pasti sudah menunggu mu kasihan, dia sudah merindukan mu." Ucap Meira.
"Sayang kau ini ada-ada saja mana mungkin Juan merindukan ku." Ucap Minho.
Tiba-tiba ponsel Minho berdering, Meira dan Minho saling tatap dan terkekeh.
"Lihat dia menelpon mu, dia sudah sangat merindukan mu." Ucap Meira sambil terkekeh.
Minho hanya menatapnya dengan menyipitkan matanya lalu menerima telpon itu.
"Hallo Juan ada apa?" Tanya Minho sambil menatap Meira yang merapikan pakaiannya.
"Kami menamukan keberadaan mereka tuan."
"Apa? Kalian sudah menemukannya? Baiklah aku akan kekantor sekarang." Ucap Minho lalu sambungan telpon itu terputus.
"Menemukan apa sayang?" Tanya Meira.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, nanti aku jelaskan ya. Kau jaga diri di rumah aku berangkat dulu." Ucap Minho mencium kening Meira.
"Hati-hati sayang." Ucap Meira Minho terseyum dan mengangguk lalu melangkah pergi.