Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
duka


__ADS_3

Hari yang mendung mewakili suasana duka hari ini, acara pemakaman itu berjalan dengan lancar. Meira tidak ada hentinya bersedih dia terus memeluk suaminya sambil terus menangis.


Di depan mereka terlihat dua gundukan tanah dan dua nisan yang terdapat dua foto orang bersaudara.


"Sayang tenangkan diri mu." ucap Minho mengelus punggung istrinya.


"Hiks..mereka pernah berjanji pada ku akan terus bersama, tapi kenapa mereka memilih untuk pergi...hiks.." ucap Meira.


Weni, Hana, Gina Tina dan lainnya pun merasakan sedih yang sama.


"Mei.." panggil Hana Meira menatapnya.


"Ikhlaskan, Billa dan Junggo pasti tenang di sana." ucap Hana Meira beralih memeluk Hana.


Minho memejamkan matanya dan menghelakan nafasnya.


Ketiga wanita lainnya ikut memeluk Meira dan Hana. Burhan, Nara, Henry  dan Taera hanya diam menatap gundukan tanah itu.


"Anak kalian pasti senang bertemu dengan kalian." batin Nara.


Meira melepas pelukannya, dan mengambil keranjang bunga di tanah. Dia mulai menaburkan bunga di dua kuburan itu.


Lalu dia menjongkok di di tengah makam itu. "Aku akan merindukan kalian, semoga kalian tenang di sana." Meira berusaha menahan air matanya.


"Meira sayang." panggil Nara menyentuh bahunya.


"Billa sangat bahagia memiliki sahabat sebaik diri mu." ucap Nara Meira mengangguk.


"Meira pun bahagia memiliki sahabat seperti Billa, walau tidak bisa terus bersama." ucap Meira.


"Sekarang kita pulang, hari sudah mau hujan. Kau sakit nanti Meira." ucap Barham.


Minho mendekati Meira dan mengelus kedua bahu istrinya. "Ayo kita pulang sayang." ucap Minho Meira menganguk.


Mereka mulai meninggalkan pemakaman itu dan memasuki mobil masing-masing.


"Juan aku ikut dengan mu." ucap Yuho.


"Kenapa dengan ku, kemana mobil mu?" tanya Juan.


"Hehe, mobil sedang di perbaiki aku kesini tadi menggunakan taksi." jawab Yuho.


"Kau dengan ku saja, kebetulan aku membawa mobil sendiri" ucap Hana Yuho menatapnya dan tersenyum.


"Apa tidak masalah?" tanya Yuho Hana tersenyum dan menggeleng.

__ADS_1


Juan menepuk bahu Yuho. "Ini kesempatan bagi mu untuk lebih dekat, ikutlah dengannya." bisik Juan Yuho hanya tersenyum malu.


"Kau membisikan apa?" tanya Weni bingung.


"Tidak ada apa-apa sayang." jawab Juan.


Mobil Minho dan orang tua mereka sudah pergi lebih dulu, Gina dan Tina mereka naik satu mobil milik mereka hadiah dari tuan Barham.


Di mobil Hana Yuho yang menyetir karena dia merasa tidak enak pada Hana sudah dia menumpang tapi dia hanya duduk diam.


Di perjalanan hanya ada keheningan.


"Ukhumm." deheman Yuho menyadarkan Hana.


"Ada apa? Apa kau haus, ada botol minum di kursi belakang." ucap Hana.


"Ahh tidak, aku tidak haus aku hanya mencairkan suasana saja." ucap Yuho Hana tersenyum, Yuho terlalu jujur.


"Meira pasti sangat sedih." ucap Hana.


"Nona Meira pasti bisa melaluinya, dia wanita yang kuat." ucap Yuho.


Hana tersenyum. "Ya kau benar dia wanita kuat, siapa yang tidak Meira wanita keras kepala itu." ucap Hana Yuho hanya tersenyum kiku dia mana berani membenarkan ucapan Hana walau sebenarnya itu benar.


Karena dia menghormati tuannya saja.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan usia ku?" tanya Hana bingung.


"Ahh tidak papa, aku hanya bingung ingin berbincang apa dengan mu." jawab Yuho Hanya terkekeh.


"Aku suka diri mu, kau terlalu jujur Yuho." ucap Hana tanpa sadar membuat jantung Yuho berdegup kencang.


"Usia ku memasuki 19 tahun, kalau kau?" tanya Hana.


"21 tahun." jawab Yuho.


"Hah apa? jadi kau yang tertua antara mereka?" tanya Hana.


"Tidak juga, masih ada Gibran dia lebih tua 3 bulan dari ku lalu ada Suko dia 23 tahun, dia tertua antara kami." jelas Yuho.


"Wahh kenapa kalian bisa kenal padahal umur kalian begitu jauh, Juan sama seperti Weni masih baru memasuki 19 tahun. Begitu juga Minho dan Meira." ucap Hana.


"Kami bertemu secara tidak sengaja, waktu itu aku dan Gibran memang sudah dekat begitu lama dan kami bertemu dengan Juan saat di jalan, saat itu ban mobilnya pecah dan dia belum bisa mengganti ban mobil karena saat itu dia baru bisa naik mobil." ucap Yuho.


"Lalu setelah itu dia menawarkan pekerjaan ini pada kau dan Gibran?"

__ADS_1


Yuho mengangguk. "Kami saat itu juga bingung ingin bekerja apa, beruntung Juan menawarkan kami dan mengenalkan kami pada tuan Minho dan sekarang kami sudah bersama." jelas Yuho.


"Sudah berapa lama kalian bersama?" tanya Hana.


"Aku dan Gibran sudah hampir 5 tahun, sedangkan Suko dia sudah lebih lama dari kami karena sejak awal dia sudah bekerja dengan tuan Henry." jelas Yuho.


"Oohh begitu ceritanya, kalian beruntung sekali bisa bertemu seperti itu." ucap Hana.


"Kau benar, semenjak aku bersama mereka aku bisa merasakan keluarga yang seutuhnya, mereka yang selalu ada untuk ku." ucap Yuho Hana menatapnya.


"Memangnya kemana orang tua mu?" tanya Hana.


"Ibu sudah lama meninggal sedangkan ayah menikah lagi." jawab Yuho membuat Hana terkejut.


"Maafkan aku." ucap Hana Yuho tersenyum.


"Tidak papa. Wajar saja kau bertanya." ucap Yuho dia kembali fokus pada jalanan.


Sedangkan Hana hanya diam menatapnya. "Beruntung aku masih memiliki keluarga yang lengkap, kenapa kau tidak bisa bersyukur Hana." batin Hana.


"Kau dengar cerita kau dan ayah mu tidak terlalu dekat ya?" tanya Yuho.


"Kau tau dari mana?" tanya Hana.


"Juan yang menceritakan pada ku." jawab Yuho.


"Aiss pasti Weni yang menceritakannya pada Juan, dasar anak itu awas saja nanti akan ku beri hukuman." ucap Hana kesal Yuho tersenyum melihat wajah kesal Hana.


"Kau cantik Hana, aku suka melihat wajah mu." ucap Yuho membuat Hana menatapnya.


"Kenapa?"


"Kau mirip dengan ibu ku." jawab Yuho membuat Hana terdiam.


"Ibu ku meninggal di saat aku berusia 5 tahun, sejak saat itu ayah memutuskan pindah ke indonesia untuk menemui nenek ku, ayah adalah warga negara Indonesia sedangkan ibu ku dari China." ucap Yuho.


"Pantas saja wajah mu tidak terlalu terlihat Chinanya." ucap Hana Yuho terkekeh.


"Tapi aku masih ingat wajah ibu ku, sanyumnya, tawanya, suaranya begitu mirip dengan mu. Maka dari itu aku menyukai mu." ucap Yuho Hana hanya diam mendengarkan.


"Sekarang aku hanya tinggal sendiri, ayah hanya fokus pada keluarganya tapi dia tidak melupakan ku jika ada waktu luang dia pasti meminta ku untuk menemuinya karena dia merindukan ku." lanjut Yuho tersenyum.


"Aku bersyukur setidaknya ayah masih menyayangi ku dan hanya dia satu-satunya sisa kebahagiaan ku." ucap Yuho Hana tersenyum.


Dengan pelan Hana menyentuh tangan Yuho yang sedang tidak memegang stir mobil, membuat Yuho melihat kearahnya.

__ADS_1


"Tapi sekarang kau memiliki ku." ucap Hana membuat Yuho terdiam.


"Aku juga menyukai mu."


__ADS_2