Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
kehilangan


__ADS_3

"Apa mau mu....Billa?"


Orang itu terseyum. "Mau ku...adalah....membunuh mu." Meira membesarkan matanya.


Billa mencekram rambut Meira dan membanting kepala Meira ke westafel depan kaca.


"Akhhh.." Terika Meira merasakan kepalanya berdenyut sakit.


Billa menarik kembali kepala Meira dan menatap wajah Meira darah segar mengalir dikening Meira.


"Kau akan mati." Ucap Billa lalu menyeret Meira keluat kamar mandi.


"Aakhh....lepas...sakit." Teriak Meira.


Tanggan Meira berusaha menggapai suatu benda sampai tanggannya memegang vas bunga, Meira langsung memukul tangan Billa dengan vas itu.


"Akh.." Rintih Billa Meira langsung beranjak dan lari.


Billa terseyum miring. "Kau mau kabur kemana hah." Ucap Billa mengejar Meira yang larinya saja tidak bisa cepat.


Saat Meira hampir sampai di belokan Billa berhasil mendapatkannya dan menarik rambutnya.


"Akh..." Meira berusaha melawan.


"Lepas..." Teriak Meira Billa menyeretnya.


"Aku tidak akan melepaskan mu bodoh." Ucap Billa lalu melepar Meira membuat gadis itu terbentur dengan meja kaca.


"Akhhh...perutku..." Ucap Meira perutnya terasa berdenyut sakit melebihi sakit di kepalanya.


Billa mendekat dan kembali menarik kaki Meira dan meleparnya ketembok. Darah segar mengalir dikaki Meira, gadis itu sudah tidak berdaya terbaring di lantai itu sambil merintih kesakitan.


"Akhhh...Minho..." Meira terus menangis perutnya sakit sekali.


"Keluarga mu pembunuh, dan kau harus bertanggung jawab atas itu." Ucap Billa menarik Meira.


Meira menarik vas bunga yang ada dimeja dan memukulnya kekepala Billa.


"Akh...sialan."


Meira mencoba untuk berlari kelantai atas, dengan terhentih-hentih menuju kamarnya. Saat ingin menutup pintu kamar Billa lebih dulu menanhanya.


"Kau sepertinya lebih suka mati dari ketinggian ya?" Ucap Billa.


"Bill ku mohon jangan.." Ucap Meira terus melangkah mudur dia melepar apa pun yang dia bisa sampai sesuatu mengores pipi Billa Meira menghentikan pergerakannya.


"Akh..." Billa menyentuh pipi.


"Darah." Ucap Billa melihat noda merah di jarinya.


Meira cepat berlari kebalkon ingin memangil suaminya. "MIN..aakhh..." Billa sudah menarik rambutnya menyeretnya masuk kembali kedalam kamar.


Tangan Meira tadi tidak sengaja menjatuhkan pot bunga, Hana yang tidak jauh dari sana melihat ke arah pot itu dan melihat keatas dimana Meira seperti ditarik seseorang.


"Meira.." Ucap Hana.


Billa melempar Meira kelantai membuat kepalanya jembali membentur lantai keras itu.


"Kau pantas untuk mati." Ucap Billa menduduki Meira dan...


Sruuk.


Meira mmebulatkan matanya, dia berusaha menahan mendorong Billa tapi tenanganya tidak mampu lagi.

__ADS_1


Sebuah pisau menamcap diperutnya, Billa menatap Meira dan terseyum.


"Kau mati." Billa kembali menamcapkan pisau itu sampai ketiga kalinya.


Meira sudah tidak sadarkan diri, Billa terseyum dan menarik rambut Meira dan menyeretnya.


"Kematian mu tidak epik jika hanya mati karena tusukan saja." Ucap Billa lalu menarik kaki Meira menuju balkon.


"Akan lebih seru jika mereka menyaksikannya." Ucap Billa.


■■■■■


"MINHO.."  Teriak Hana berlari kearah Minho.


"Ada apa?."


"Meira...Meira dalam bahaya." Ucap Hana membuat Minho terkejud dan berdiri dari kusinya.


"Apa? Dimana dia?"


"Dia ada..."


"Aakkhh...." Teriak tamu undangan mengalihkan perhatian mereka.


Minho berlari kearah suara itu dan melihat istrinya mengapung di atas air kola.


"SAYANG.." Teriak Minho dia melepas jasnya dan melompat dalam kolam itu.


Barham, Nara, Henry dan Taera melangkah mendekati kerumunan terkejud melihat apa yang terjadi.


"Meira.." Nara sudah menangsi isteris melihat air kolam itu berubah merah.


Minho membawa istrinya kepinggir kolam dan melihat Meira dipenuhi oleh darah dan luka di mana-mana.


Juan dan yang lainnya juga berlari menghampiri tempat kejadian itu, Hana melihat keatas dan melihat Billa masih berdiri disana.


"Billa." Ucap Hana mengalihkan perhatian mereka.


Minho menatap gadis itu. "TANGKAP JALA*G ITU.." Teriak Minho.


Juan dan bodyguardnya yang lain pergi masuk kedalam rumah.


"Sayang...buka mata mu.." Ucap Minho mengelus wajah Meira, air matanya Minho mengalir.


"Meira sayang buka mata mu...mamah mohon buka mata mu." Ucap Nara sambil mengelus wajah putrinya.


"Meira...." Barham pun tidak bisa menahan air matanya melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.


Minho membaringkan Meira dan menekan dada Meira. "Minho.." Ucap Nara.


"Masih ada detak jantung mah." Ucap Minho terus berusaha.


"Minho sebaikanya langsung bawa kerumah sakit saja." Ucap Henry.


"AAAKKHHH SILAAN." teriak Minho.


Dengan cepat Minho mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi disusul dengan yang lainnya.


Tentu keempat gadis sahabat Meira ikut mereka tidak mau meninggalkan Meira. Acara ulang tahun menjadi luka bagi mereka melihat kejadian ini.


"Bertahanlah sayang...ku mohon bertahan." Batin Minho.


......

__ADS_1


Juan dan para bodyguars yang lainnya berhenti di sebuah jalan sepi, ada sebuah mobil yang menghentikan mereka.


"Junggo." Ucap Juan tangannya terkepal.


"BERANINYA KAU MEMBOHONGI KAMI." Teriak Juan.


Junggo hanya diam menatap kearahnya. "Maaf." Ucap Junggo.


"KAU PIKIR DENGAN KATA MAAF MU BISA MEMPERBAIKI KEADAAN NONA." Teriak Juan.


"Kau membohongi kami Junggo, ini kah balasan mu pada tuan Minho atas kebaikannya membiarkan mu bebas dari penjara." Ucap Yoho.


Junggu terseyum. "Ya aku tau, dan aku rasa aku salah....seharusnya aku bisa mengendalikan diri." Ucap Junggo.


Juan mendekatinya dan...


BUUUKK..


Pukulan keras itu mendarat di pipi Junggo. "KAU KURANG AJAR MANUSIA BAJINGAN." Teriak Juan melampiaskan amarahnya.


Di rumah sakit Minho tidak bisa diam, didepan pintu itu dia terus bolak-balik.


"Putri ku..." Nara terus menangis dalam pelukan Hana.


"Bibi tenanglah, Meira pasti baik-baik saja." Ucap Hana, Weni Tina dan Gina juga tidak ada hentinya menangis.


Tiba-tiba ponsel Barham berdering.


"Shina." Ucap Barham.


"Hallo..."


"Ayah apa benar terjadi kekacauan di acara ayah? Apa yanga terjadi ayah?" Tanya Shina dari sebrang sana.


Dia tidak bisa datang karena memang sekrang dia ikut bersama suminya tinggal LA.


"Shina...adik mu."


"Ada apa dengan adik ku ayah?" Tanya Shina gugup.


Barham menjelaskan semuanya dan membuat Shina terkejud. "Aku akan kesana ayah, aku ingin melihat adik ku." Ucap Shina.


"Tidak jangan, kau sedang hamil, kami akan memberikan kabar untuk mu nanti." Uca0 Barham.


Selesai dari telpon itu dokter keluar dari ruangan periksa mengalihkan perhatian mereka.


"Bagaimana keadaan istri ku dok?" Tanya Minho menatap Kila.


"Kami hapir kehilangan Meira, tapi syukurnya datak jantungnya bisa kembali. Sekarang keadaan Meira masih dalam keadaan kritis, dia kehilangan banyak darah, dan...maaf Minho. Meira keguguran." Ucap Kila membuat Minho terdiam mematung.


"Apa?" Air mata Minho mengalir.


"Kami menemukan banyak luka di tubuh Meira bahkan ada 3 luka tusuk di perutnya." Jelas Kila.


Nara dan Taera kembali menangis saling berpelukan, Minho mengepalkan tanganya.


Bukkk.


Minho meninju tembok itu keras. "WANITA SIALAN ITU...Akan ku habisi nyawanya." Ucap Minho lalu pergi begitu saja.


"Minho...." Panggil Barham dan Henry.


"Meira..." Keempat gadis itu saling berpelukan menangis.

__ADS_1


__ADS_2