
Melihat Billa yang masuk kedalam rumahnya Minho langsung berdiri di depan Meira melindungi istrinya.
Junggo dan Juan hanya menatap Billa yang mendekat.
"Yang di katakan mereka benar. " Ucap Billa.
"Billa...." Panggil Meira.
Billa menatapnya. "Mei...aku sudah mengingat semuanya." Ucap Billa menangis.
Meira ingin menghampiri Billa tapi Minho menahanya. "Kau tidak bisa percaya begitu saja." Ucap Minho.
"Cihhh kau bahkan tidak percaya pada istri mu sendiri bagaimana kau bisa percaya pada orang lain juga." Ucap Meira Minho hanya diam dia sadar atas kesalahannya.
Billa menatap Junggo. "Maaf kak...seharusnya aku percaya pada mu.." ucap Billa air matanya terus mengalir.
Billa menarik lengan bajunya membuat mereka semua terkejud. Junggo langsung mendekati Billa.
"Apa yang wanita itu lakukan pada mu?" Tanya Junggo menatap Billa tapi adiknya diam sambil terus menangis.
"KATAKAN APA YANG DI LAKUKAN WANITA ITU PADA MU"
Tangis Billa semakin pecah. "Dia menyiksa ku kak...aaaaa...aku sudah tidak tahan lagi..." Billa menangis keras Junggo langsung memeluknya.
Junggo memeluk Billa erat. "Beraninya wanita itu melukai adik ku." Ucap Junggo tangannya terkepal kuat.
Ditangan Billa dipenuhi luka lebam dan juga sayatan pisau, bahkan ada bekas pukul yang panjang di lengan Billa.
Meira menangis melihat sahabatnya. "Bill.." Ucap Meira.
"Maafkan aku....jika aku sejak awal mengingatnya aku pasti tidak akan melukai mu Mei...hiks...maafkan aku." Ucap Billa di pelukan Junggo.
Meira melangkah mendekati Billa dan Junggo. Junggo melepas pelukannya. "Meii maaf.."
Meira menangkup wajah Billa. "Aku mengerti...aku paham...maafkan aku, seharusnya aku juga bisa melindungi mu saat itu." Ucap Meira Billa memeluk Meira.
"Meii.." Meira menatap Junggo.
"Tidak cara lain, kita harus menangkapnya." Ucap Meira.
"Bagaimana caranya. Ibu sekarang sudah tidak berada gudang itu setelah menyuruh ku pergi dia sudah pergi dari tempat itu." Ucap Billa.
"Lalu kau kesini naik apa?" Tanya Junggo.
"Aku naik mobil mu yang di bawa ibu, dan ibu pergi dangan membawa mobil satunya." Jawab Billa.
Minho dan Juan mendekat.
"Lalu apa rencana kalian sekarang?" Tanya Minho.
"Kau tidak akan percaya sebaiknya tidak usah ikut campur." Ucap Meira dingin.
"Sayang.."
__ADS_1
"Jangan memanggil ku sayang, aku tidak mengenal mu." Ucap Meira Minho terdiam.
Junggo terseyum. "Aku sudah memperingati mu." Ucap Junggo.
"Cihh..apa kau lupa, jelas aku berpikir seperti itu karena kau sendiri yang mengatakan kalau istri ku menggoda bagi mu, jadi aku tidak suka jika istri ku pergi dengan mu." Ucap Minho.
"Lalu apa kau harus menunduh ku selingkuh begitu?" Tanya Meira menatap Minho marah.
"Maaf sayang." Ucap Minho menunduk.
"Kalau bicara pada seseorang tatap orang yang di ajak bicara bukan malah melihat kearah lain." Ucap Meira Minho langsung menatapnya tapi Meira mengalihkan wajahnya.
"Sudahlah sekarang bukan saatnya untuk berdebat...Bill apa ibu tau jika kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Junggo.
Billa menggeleng. "Dia belum tau, rencananya sekarang adalah aku harus mengahabisi Minho dan melukai Meira. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu pada sahabat ku sendiri." Ucap Billa Meira terseyum.
"Jadi yang waktu itu kau melukai istri ku karena kau masih belum mengingatnya?" Tanya Minho.
"Iya...dan itu semua juga atas perintahnya, tapi karena aku tidak benar-benar membunuh Meira dia menyiksa ku dan melukai ku sampai seperti ini." Jelas Billa.
"Kau tenang saja kita akan membalas perbuatan wanita itu." Ucap Junggo mengelus pucuk kepala Billa, adiknya itu mengangguk. Walau mereka kembar tapi Junggo lah yang lebih dulu lahir dari Billa. (Kalian tau kan istilah bayi kembar siapa yang lahir duluan itu lah kakaknya hanya sesuai pemahaman author ya-😁😁)
"Jadi apa rencana selanjutnya, rencana kita gagal hanya karena orang ini salah paham." Ucap Meira wajah Minho berubah sedih.
"Sayang aku minta maaf." Ucap Minho Meira hanya diam.
"Eee aku punya rencana." Ucap Juan.
"Katakan." Ucap Meira.
"Apa kau gila, kau ingin menjadikan istri ku umpan." Ucap Minho tidak terima.
Buk.
"Akhh sakit sayang.." Ucap Minho sambil mengelus kepalanya yang di pukul oleh Meira.
"Kau itu, bukan kah yang di incarnya memang aku, pastinya aku yang akan dia lukai untuk membalasnya pada ayah." Ucap Meira.
"Aku kan hanya menunjukan pendapat ku kalau aku tidak mau istri ku yang menjadi umpan, nanti kalau kau terluka lagi dan aku masuk rumah sakit bagaimana apa kau pikir aku bisa tenang saat melihat mu koma selama 1 bulan lebih apa kau pikir aku tidak gila hah. Aku hanya takut istri ku kenapa-kenapa lagi." Ucap Minho Meira sedikit terseyum mendengarnya.
"Tuan tenang saja...ada sebagian penjaga yang kan menyamar menjadi anak buah wanita itu, dan akan aku pastinya kalau nona Meira akan baik-baik saja." Ucap Juan.
"Hhmm ya ya...aku percaya pada mu. Tapi jika istri ku terluka maka nyawa mu yang akan melayang." Ancam Minho Juanmenenguk ludahnya.
"I..iya tuan." Balas Juan.
"Kau sungguh sudah berubah?" Tanya Minho pada Billa sinis.
Buk..
"Aduh sayang sakit." Ucap Minho merasakan pukulan itu lagi.
"Kau tidak melihat dia tadi menangis seperti apa dan tidak lihat luka di sekujur tangannya. Aku yakin wanita itu juga tidak hanya melukai Billa bagian tangan." Ucap Meira.
__ADS_1
Billa terseyum. "Kau tenang saja Min...aku sudah mengingat semuanya, aku sunguh-sungguh kali ini. Aku ingin membalas semua perbuatannya." Ucap Billa.
"Aku percaya pada adik ku, dia tidak mungkin berbohong." Ucap Junggo.
"Apa yang diceritakan Minho dan kakak ku benar, ibu melukai ku dan menjatuhkan ku dari lantai dua yang membuat ku lupa ingatan....dan aku tau dimana ayah menyimpan semua bukti kejahatannya." Ucap Billa
"Dimana?" Tanya Minho.
"Di lantai rumah lama kami." Jawab Billa.
"Dilantai?" Tanya Jungho bingung.
"Iya....ada tempat tersembunyi di rumah lama kita dan aku melihat ayah menyimpan semua berkasnya di sana." Jawab Billa.
"Kalau begitu kira harus cepat kesana." Ucap Meira.
"Tidak perlu." Ucap Billa.
"Kenapa?" Tanya Meira.
"Ayah mu sudah kesan Mei bersama paman Henry." Ucap Billa.
"Apa?"
"Mereka sudah tahu yang sebenarnya, tanpa sepengetahuan ibu aku datang ke perusahaan paman Barham dengan diam-diam agar orang tidak mengenali ku setelah bertemu aku menjalaskan semuanya dan syukurnya ayah mu percaya." Jelas Billa.
Barham dan Henry datang bersama istri mereka.
"Kenapa kalian diam disini?" Tanya Barham.
"Ayah sudah tau semuanya?" Tanya Meira.
"Ya kami sudah tau, Billa yang menceritakannya pada ayah kemarin siang sebelum kalian datang kerumah." Jawab Barham.
"Tapi kenapa ayah tidak mejelaskan pada ku?" Tanya Minho.
"Maaf karena ayah pikir setelah rencana itu berjalan maka selanjutnya baru hal ini bisa di bongkar tapi ternyata kalian malah berkumpul disini." Ucap Barham.
"Rencana gagal ayah." Ucap Meira.
"Gagal karena apa?" Tanya Henry.
"Tanyakan saja pada anak ayah itu." Ucap Meira lalu menatap kedua ibunya.
"Mamah....Minho tadi bersikap kasar pada ku." Ucap Meira.
"MINHO.." Panggil keempat orang itu penuh penekannan.
"Mampus.." batin Minho.
"Selamat tuan." Ucap Juan.
"Selamat untuk apa?"
__ADS_1
"Selamat atas nama tuan di coret dari daftar menantu baik." Ucap Juan.
"Sialan."