Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
maafkan aku


__ADS_3

Minho sampai diatas atap rumah sakit dan melihat Meira yang terduduk menangis.


"Sayang."ucap Minho memeluk Meira.


"Maaf..."ucap Meira menangis memeluk Minho.


"Kenapa kau melakukan itu, hah? Apa yang kau pikirkan? Kau tidak bisa bertindak gegabah seperti itu."ucap Minho.


"Hiks...maafkan aku."ucap Meira menangis Minho memeluknya erat dan mengelus kepalanya.


"Ssssttt sudahlah tidak papa, setidaknya kau selamat."ucap Minho.


"Pasti Hana yang menolong Meira."bati Minho karena dia tadi sempat berpapasan dengan hana yang turun dari tangga menuju lantai 3.


"Kita kebawah ya, mereka sudah sangat mengkhawatirkan mu."ucap Minho Meira mengangguk.


Minho merangkul Meira dan melangkah pergi.


Barham dan Nara sudah sangat prustasi, Barham terus mengusap wajahnya kasar.


"Ayah.."panggil Meira membuat pria itu menolah..


"Kau...." Barham menghempirinya dan mengangkat tanganya.


"Ayah.."tergur Nara.


Tangan Barham sudah di angin-angin, Meira memejamkan matanya siap menerima tamparan itu tapi dia tidak merasakan apa-apa. "Kau dari mana sayang, kau tau ayah sudah seperti orang gila mencari mu. Hah."ucap Barhan menarik Meira dalam pelukannya.


Meira kembali menangis. "Ayah maaf..."ucap Meira.


"Kau tau, ayah seperti kehilangan nyawa karena kau menghilang. Jangan seperti itu sayang, jika ayah salah bilang sayang. Jangan kau pedam sendiri....maafkan ayah yang selama ini tidak tau keadaan mu."ucap Barham tangis Meira semakin pecah memeluk Barham erat.


"Maafkan aku.."


"Kau tidak salah sayang, ayah yang salah selama ini menekan mu. Bahkan ayah menjauhkan Minho dari mu maafkan ayah, ayah jahat pada mu."ucap Barham Meira mengeleng.


"Ayah tidak jahat, Meira yang jahat."ucap Meira Barham mencium kening Meira.


Nara yang melihat itu pun ikut menangis, Minho mendekat padanya dan merangkulnya mengelus bahu wanita itu.


"Dokter Kila sudah menjelaskan tentang kesehatan mental Meira, Barham sangat terkejud mendengarnya. Kami selama ini merahasiakannya karena tidak ingin membuatnya khawair tapi dirinya sendiri yang membuat anaknya seperti itu."ucap Nara Minho terseyum.


"Syukurlah jika ayah sudah tau, setidaknya ayah tidak akan menekan Meira lagi. Maira butuh pengertian dari ayahnya."ucap Minho Nara terseyum dan menoleh pada Minho.


"Dan aku harus tetap bersamanya, Meira bisa tenang jika bersama mu."ucap Nara.


"Tentu mah, Minho akan terus bersamanya."ucap Minho Nara terseyum.


"Mamah."ucap Meira melepas pelukannya dan melangkah mendeakti mamahnya.


"Oohh putri mamah."ucap Nara memeluk anaknya erat.


"Jangan seperti itu lagi sayang, jangan pergi begitu saja."ucap Nara.


Barham dan Nara tidak tau jika nara berniat bunuh diri, karena mereka sibuk mencari kesetiap penjuru didalam rumah sakit dan tidak melihat keluar rumah sakit.

__ADS_1


"Maafin Meira."ucap Meira.


"Tidak papa sayang, kau putri mamah yang sangat berharga."ucap Nara mencium pipi putrinya.


"Minho."panggil Barham mendekati Minho.


"Iya ayah."


"Maafkan ayah, ayah seharusnya tidak sekasar itu pada mu."ucap Barham merasa bersalah.


"Tidak papa ayah, Minho paham ayah menghawatirkan Meira. Minho juga lalai menjaga Meira."ucap Minho.


"Tidak papa, orang sibuk seperti mu pasti bisa lalai dalam mejaga putri ku. Tapi ingat jangan kau sakiti putri ku."ucap Barham.


"Siap ayah."ucap Minho.


Meira dan Nata terkekeh melihatnya.


¤《》¤《》¤《》¤《》¤


"Aaaaa..."ucap Minho yang menyuapin Meira.


Meira menerima suapan itu dan mengunyahnya.


"Kau baru pulang dari kantor?"tanya Meira yang baru sadar Minho menggunakan baju kantor.


"Iya aku baru pulang, tapi langsung kesini saat mamah mu menelpon."ucap Minho Meira mengelus pipi Minho.


"Kau pasti sangat menghawatirkan ku."ucap Meira.


"Maaf."ucap Meira Minho menghelakan nafasnya lalu mencium kening Meira.


"Tidak papa, jangan diulangin lagi. Tentu saja aku menghawatirkan mu bahkan aku sampai tidak memikirkan nyawa ku lagi karena menghawatirkan mu. Jangan seperti itu lagi, kau gadis yang kuat Meira kau pasti bisa melewati semua ini dan aku yakin kau bisa sembuh dari rasa trauma mu."ucap Minho mengelus pipi Meira gadis itu mengangguk.


Minho terseyum dan menyuapi Meira lagi tapi gadis itu menolaknya.


"Kenapa?"tanya Minho.


"Udah kenyang."ucap Meira.


"Kenapa bisa keyang kau baru makan 3 suap sayang."ucap Minho.


"Kenyang lihat muka kamu."ucap Meira Membuat Minho salah tingkah.


"Eeeshh ahh kau ini ya membuat ku gemas saja."ucap Minho mencubir pipi Meira pelan.


Gadis itu hanya terseyum. Barham dan Nara yang saat itu juga ada dikamar inap itu merasa menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua.


"Mamah rasa kita tidak ada kepentingan di menemani mereka disini."ucap Nara.


"Kau benar sayang, kita seperti pajangan sudut ruangan saja."ucap Barham Nara terkekeh pelan.


"Ya sudah kita pamit pulang saja."ucap Nara.


"Ya itu saran yang bagus, kapan lagi kita bisa berduan saja di rumah."ucap Barham Nara memukul bahunya.

__ADS_1


"Kau ini tidak ingat umur."ucap Nara Barham hanya cengengesan.


"Apa salahnya kita buatkan adik lagi untuk Meira."ucap Barham Nara menatapnya tajam pria itu hanya terkekeh.


"Ayah dan mamah mau pulang?"tanya Meira yang mendengar pembicaraan mereka.


"Iya sayang, tidak papa kan. Lagi pula ada Minho disini menemani mu."ucap Nara sambil beranjak dan mendekati Meira begitu Juga Barham.


Meira terseyum dan mengangguk. "Tidak papa, ayah dan mamah pasti lelah sudah menjaga ku."ucap Meira.


Barham terseyum dan mengelus pucuk kepala Meira. "Itu sudah menjadi tugas kami menjaga mu sayang."ucap Barham Meira terseyum mendengarnya.


"Ya sudah kami pergi dulu, Minho jaga putri kami."ucap Nara.


"Siap ibu mertua."ucap Minho Nara hanya terkekeh.


Kedua orang itu melangkah pergi dari kamar inap itu, meninggalkan Meira dan Minho.


"Aku akan menelpon Juan untuk membawakan ku baju ganti."ucap Minho.


"Sampai kapan kau akan dirawat?"tanya Minho.


"Kata dokter dua hari lagi aku bisa pulang."jawab Meira.


"Baguslah kalau begitu, aku menelpon Juan dulu."ucap Minho lalu melangkah kearah jendela menelpon asistennya sekaligus sekretarinya di perusahaannya itu.


Meira hanya diam menatap Minho, dari kemarin dia ingin minta tolong dengan Minho untuk mencari kebenaran tentang ayahnya. Karena Meira percaya bahwa ayahnya tidak mungkin seperti itu.


"Kenapa kok melamun?"tanya Minho yang sudah selesai dari telponnya.


Meira menggeleng. "Kenapa sayang? Jangan kau tutupi."ucap Minho menggenggam tangan Meira lalu menciumnya.


"Minho.."


"Ada apa?"tanya Minho duduk ditepian ranjang rumah sakit Meira.


"Boleh aku minta tolong pada mu?"tanya Meira.


"Katakan kau ingin minta tolong apa?"tanya Minho sambil merapikan anak rambut Meira.


Wajah cowok itu begitu dekat membuat Meira gugub. "Aaaa kau hanya membuat ku gugub."ucap Meira.


"Gugup kenapa? Aku cuman benarin rambut mu sayang."ucap Minho.


"Aku jadi bingung mau ngomong apa, karena wajah mu terlalu dekat."ucap Meira.


"Dekat seperti apa? Seperti ini?"tanya Minho memajukan wajahnya pada Meira.


Gadis itu terdiam. "Aku menrindukan mu."ucap Minho.


"Aku juga."balas Meira Minho terseyum.


"Senang mendengarnya kau juga merindukan ku, jadi artinya aku tidak merasakannya sendiri."ucap Minho lalu menahan tekuk Meira.


"Aku sangat merindukan mu."ucap Minho lalu mencium bibir itu lembut Meira perlahan membalas ciuman itu dan menikmati permainan bibir itu.

__ADS_1


"Aku tau kau sebenarnya ingin bicara apa, tenang saja sayang aku sudah berusaha mencari kebenaran ini. Karena bukan hanya ayah mu yang terlibat tapi ayah ku juga."batin Minho.


__ADS_2