Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
tunangan


__ADS_3

Dihari berikutnya, semua sudah di persiapkan jauh-jauh hari sebelum jeluarga Minho datang dan tentunya Meira tidak bisa menolak lagi karena jika dia menolak maka dia akan membuat keluarganya malu.


Acara pertunangan itu berjalan dengan baik, Minho dan Meira sudah bertukar cincin yang akanmengikat mereka dalam hubungan pertunanga. Selesai dari acara tukar cincin mereka berdua duduk disalah satu meja bersama orang tua Meira.


Orang-orang terlihat senang dan bahagia untuk hari pertunangan ini, tapi hanya wajah Meira saja yang tidak baik, gadis itu sepanjang hari hanya memasang wajah cemberutnya.


"Sayang seyumlah sedikit." Ucap Nara.


"Tidak.." Balas Meira.


"Oh ya ampun, kenapa putri ku ini keras sekali." Ucap Nara.


"Mamah tenang saja, dia pasti bisa seyum nanti." Ucap Minho.


"Mamah? Kau memanggil mamah ku dengan sebutan mamah?" Tanya Meira.


"kenapa dia kan menang akan menjadi mamah ku, jadi apa salahnya jika aku memanggilnya mamah?" Tanya balik Minho.


"Cih..." Meira hanya berdecih lalu pergi dari meja itu.


Barham hanya menggeleng. "Maafkan anak ayah Minho dia memang keras." Ucap Barham.


"Tidak papa ayah, aku sudah terbiasa menghadapinya selama di sekolah." Ucap Minho.


"Syukurlah kau dan Meira satu sekolah jadi ayah tidak perlu khawatir lagi saat dia berada disekolah." Ucap Barham.


"Dulu Meira sering dibully oleh para temannya semasa SMP, maka dari itu aku mulai mendidiknya agar berani melawan siapa pun yang berani mengganggunya, tapi didikan ku berlebihan dia menjadi keras seutuhnya seperti itu." Lanjut Barham.


"Sayang tidak papa, apa yang kau lakukan adalah jalan terbaik untuk putri kita." Ucap Nara.


Minho hanya diam mendengarkan. "Jadi dia dulu pernah jadi korban buly." Batin Minho.


....


Setelah acara pertunanga itu selesai tepat jam 8 malam, Meira melangkah menyusurin taman didepan gedung tempat acara pertunangan itu digelar. Tentu saja acaranya mewah dan orang tua mereka mengundang teman bisnis mereka. Sedangkan Meira tidak mengundang siapa pun bahkan Billa pun tidak dia beritahu, bukan maksud Meira menutupinya dia hanya tidak ingin teman sekolahnya tau dia sudah dijodohkan.


"Sedang apa?" Tanya seseorang mengalihkan perhatian Meira.


"Kau tidak lihat aku sedang apa?" Balas Meira cowok itu hanya diam menatapnya dan mengikuti langkah Meira.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Meira.


"Apa aku salah mengikuti tunangan ku, aku hanya ingin menjaga mu sesuai perintah dari ayah mu." Balas Minho.


"Kau tidak perlu menjaga ku,aku bukan anak kecil." Ucap Meira mempercepat langkahnya dan meningglkan Minho.


Cowok itu hanya menatapnya. "Aku yakin ada kelembutan di hati mu." Batin Minho.

__ADS_1


{♤}{♤}{♤}{♤}


Hari sudah berganti, pagi harinya Meira sudah selesai dari mandinya dan beraiap, sekarang dia tengah bersiap untuk berangkat kesekolah. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


"Selamat pagi mamah." Sapa Meira mencium pipi Natalia saat sampai di ruang makan.


"Pagi juga sayang, lihat mamah buatkan sarapan kesukaan mu." Ucap Nara.


"Terimakasih mamah." Ucap Meira lalu duduk di kursi tempat biasanya Shina juga sudah duduk manis di meja makan.


"Hari ini ada kegiatan apa disekolah?" Tanya Barham.


"Billa bilang hari ini ada perlombaan disekolah untuk memeringati hari ulang tahun sekolah." Jawab Meira terseyum pada ayahnya.


"Benarkah? Apa saja lombanya?" Tanya Barham.


"Seperti biasa, hanya lomba sains untuk anak ipa dan berbagai lomba lainnya untuk acara hiburan saja." Jawab Meira.


"Apa kau ikut salah satu lombanya?" Tanya Barham.


"Tidak ayah." Jawab Meira.


"Kenapa tidak ikut, seharusnya kau ikut. Kau selalu menjadi reking 1 dikelas mu masa acara lomba seperti itu tidak ikut berpatisipasi." Ucap Barham.


"Ayah tidak semua hal harus ku lakukan bukan, aku memang pintar dalam belajar tapi aku tidak suka perlombaan seperti itu." Ucap Meira.


"Kau ini, malas sekali ikut lomba seperti itu. Seharusnya kau mau, agar menunjukan kepintaran mu disekolah bukan hanya terlambat datang dan mencari keributan saja di sekolah. Lihat Minho dia anak yang berbakat disetiap bidang, seharusnya kau bisa seperti itu." Ucap Barham Meira mengepalkan tanganya.


Meira meraih tas dan kunci mobilnya lalu melangkah pergi begitu saja.


"Mei..." Panggi Nara


"Ayah keterlaluan. Jika ayah marah karena kesalahan yang dia perbuat selama sekolahnya jangan ayah berkata seperti itu." Ucap Shina Barham hanya diam.


Di perjalanan Meira berusaha menenangkan hatinya, baru dua hari ayah mengenal cowok itu tapi ayahnya sudah membanggakan cowok itu dan membandingkannya dan Meira.


"Hah...tenangkan diri mu Meira." Gumam Meira.


Kepanikannya datang lagi saat hampir sampai disekolahnya. "Kau pasti bisa." Gumam Meira berusah menenangkan dirinya.


Kepanikan itu selalu saja datang setiap Meira datang kesekolah, Meira menghentikan mobilnya ditepian jalan. Beberapa meter lagi dia sampai disekolahnya.


"Aaaa tenanglah..tidak ada yang akan terjadi, tenangkan diri mu Mei." Gumam Meira sambil mengusap tanganya.


Dia berusaha menenangkan dirinya tapi tidak berhasil, Meira meraih botol minumnya dan meneguk air itu sampai habis.


"Satu....dua....tiga....empat....lima..." Meira mulai berhitung.

__ADS_1


Saat dirasa sudah tenang, Meira kembali melajukan mobilnya, di belakang sana terlihat seseorang menatap mobilnya heran.


"Kenapa dia berhenti disini." Gumam orang itu lalu melanjutkan laju motornya.


Meira melangkah memasuki gedung sekolahnya.


"Meiii..." Teriak Billa Meira berbalik dan terseyum melihat Billa.


"Aku pikir kau tidak datang hari ini." Ucap Billa.


"Aku bosan dirumah, walau kita tidak belajar setidaknya aku turun saja." Balas Meira Billa terseyum


Mereka melanjutkan langkahnya. "Apa kau ikut lomba?" Tanya Meira.


"Tidak, untuk apa? Lagi pula aku tidak berminat mengikuti lomba itu." Jawab Billa.


"Apa ibu mu tidak marah?" Tanya Meira Billa menggeleng.


"Tidak." Jawab Billa Meira hanya mengangguk mengerti.


"Eh Mei, lihat itu si mantan ketos." Ucap Billa mengalihkan perhatian Meira.


Cowok itu melangkah melewatinya begitu saja. "Cih..bergaya sekali." Batin Meira lalu matanya menatap tangan cowok itu dia tidak melihat ada cicin di jari manis cowok itu.


"Apa dia melepasnya." Gumam Meira.


"Mei, sejak kapan kau memakai cincin?" Tanya Billa mengalihkan perhatian Meira.


"Oh ini, aku menemukannya di laci kamar dan memakainya. Tidak bagus ya? Ya sudah aku lepas saja." Ucap Meira melepas cincin itu dan menyimpannya dikantong rompi sekolahnya.


"Kenapa di lepas padahal bagus." Ucap Billa.


"Sudahlah biarkan saja, lagi pula aku tidak biasa memakai cincin." Balas Meira mereka berbelok kearah tangga.


Di balik tembok itu seseorang terseyum. "Tidak biasa ya." Gumamnya lalu meraih cincin yang dijadikannya buah kalung yang biasa dia pakai.


Orang itu melanjutkan langkah menuju ruang kelasnya. Saat berbelok kearah tangga tidak sengaja bahunya berbenturan dengan seseorang.


"Wowowo...santai kawan, kalau jalan gunakan mata dengan baik."Ucap orang itu.


Minho hanya menatapnya. "Oh ternyata si cupu, ku pikir siapa. Tidak perlu minta maaf, aku tidak butuh maaf mu. Kutu buku seperti mu terlalu polos untuk ku." Ucap orang itu lalu melanjutkan langkah bersama teman-temannya.


"Junggo.." Panggil seseorang pada cowok itu.


Cowok itu berbalik, seorang mendekat padanya.


"Aku membawakan kau ini untuk." Ucap gadis itu.

__ADS_1


"Terimakasih, aku lebih suka pemberian Meira dari pada diri mu." Ucap Junggo membuat Minho tertegun.


Ditatapnya cowok itu yang melangkah pergi. "Dia kenal dengan Meira?" Gumam Minho.


__ADS_2