Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
melamar


__ADS_3

Hari ini Meira hanya malas-malasan di dalam kamarnya, ayahnya sudah mengambil ijin untuk Meira selama 3 hari kedepan karena perjodohan ini.


"Aaahhh mengeselkan sekali." Gumam Meira mengacak rambutnya.


"Hy putri mamah, kau sudah siap?" Tanya Nara masuk kedalam kamarnya dan menghampirinya.


"Mamah, batalkan saja ya. Meira tidak mau." Ucap Meira.


"Tidak bisa....kau harus menurutinya, ini permintaan ayah mu sayang. Setidaknya buatlah dia senang, selama ini ayah mu selalu memenuhi keinginan mu. Apa kau tidak ingin menuruti satu keinginan ayah mu ini?" Tanya Nara.


Meira terdiam, ayahnya selama ini selalu saja memanjakannya. "Tapi mah..."


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang bersiaplah, pakai dress yang kakak mu belikan untuk mu. Jangan kecewakan kami." Ucap Nara lalu melangkah pergi.


Meira menghelakan nafasnya, lalu melangkah pergi kekamar mandinya.


♤♤♤♤♤♤


"Tuan nyonya, tuan Henri dan nyonya Taera sudah datang." Ucap pelayan di rumah itu datang bersama Henry dan Taera.


"Selamat datang sahabat ku." Ucap Barham menyambut kedatangan sahabatnya. Tuan Henri


"Apa kabar sahabat ku?" Tanya Henry memeluk Barham.


"Sangat baik.." Jawab Barham.


"Dimana tuan muda?" Tanya Barham.


"Biasa, putra kami lebih suka berangkat sendiri mungkin sebentar lagi dia akan sampai." Jawab Henry.


"Baiklah kalau begitu silahkan duduk." Ucap Barham.


Henry dan Taera duduk disofa depan Barham dan Nara.


"Permisi maaf datang terlambat." Ucap seseorang yang melangkah mendekatinya mereka.


"Oohh ini dia tuan muda kita." Ucap Barham orang itu terseyum.


"Selamat siang paman." Ucap orang itu.


"Siang Minho. Jangan memanggil paman, panggil ayah saja." Ucap Barhma Minho terseyum.


"Iya ayah." Balas Minho.


"Sayang dimana putri kita panggil dia lihat pangerannya sudah datang." Ucap Barham.

__ADS_1


"Tadi Shina yang menemaninya, ya sudah biar aku panggilkan." Ucap Nara lalu beranjak pergi.


Didalam kamar Meira masih saja menolak, padahal Shina sudah membujuknya.


"Ayolah adik ku, terima saja tidak ada salahnya menerima dia bukan." Ucap Shina.


"Aku tidak mau kak, aku sudah menyukai cowok lain." Ucap Meira.


"Tapi apa cowok itu menyukai mu juga, sudahlah terima apa yang sudah sudah di depan mata mu. kenapa sulit sekali." Ucap Shina.


"Pokonya Meira tidak mau titik." Ucap Meira.


"Kenapa kalian masih berdebat saja di sini, itu mereka sudah datang." Ucap Nara.


"Mamah dia tidak mau ikut turun kebawah,aku sudah membujuknya tapi tetap tidak mau." Ucap Shina.


"Meira..."


"Tidak mah, aku tidak mau. Pokonya aku tidak mau dijodohkan seperti itu, aku belum mengenal dia seperti apa." Ucap Meira.


"Maka dari itu turun sekarang dan lihat siapa orangnya, jika kau belum bertemu kau pasti terus menolak." Ucap Nara.


"Aaaa kenapa kalian terus saja memaksa ku, apa kalian tidak mau mendengarkan pendapat ku. Kenapa sulit sekali membuat kalian berhenti menekan ku." Ucap Meira Nara menghelakan nafasnya.


Meira melipat tanganya di dada. "Tidak ada cara lain." Ucap Shina lalu menarik tangan adiknya.


"Kakak apa-apaan sih...sakit." Ucap Meira berusaha melawan tapi tidak bisa.


"Tidak ada cara lain, jika tidak seperti ini kau tidak akan mau ikut turun." Ucap Shina.


Sesampainya dilantai bawah mereka melangkah menuju ruang tamu. Meira menghempas tangan Shina begitu saja.


"Kakak apa-apaan sih....sakit tau." Ucap Meira mereka semua menatapnya.


Mata Meira menatap satu-persatu orang yang ada disana lalu terkejud melihat Minho.


"Kau...oh ya ampun tidak disekolah tidak dirumah, aku selalu melihat mu." Ucap Meira.


"Jadi kalian saling mengenal?" Tanya Taera.


"Iya bibi, putra mu itu suka sekali mencatat nama ku setiap kali datang terlambat, mungkin dia punya dendam pribadi pada ku." Ucap Meira lalu tersadar.


"Oohhh jadi kau sering datang terlambat?" Tanya Barham.


"Tidak ayah...."

__ADS_1


"Iya paman, Meira yang paling sering aku catat namanya, karena aku dulu adalah ketua osis jadi aku yang bagian mengurus siapa yang datang terlambat." Ucap Minho Meira menatapnya tajam.


"Meira, kita bahas itu nanti sekarang duduk." Ucap Barham.


"Duduk." Ulangnya karena Meira tidak mendengarkannya.


Meira duduk dengan wajah kesalnya. Henry menatapnya sambil terseyum. "Putri mu lucu sekali, seperti istri ku waktu dulu." Ucap Henry.


"Benarkah Henry? Putri ku itu sangat keras kepala seperti ibunya." Ucap Barham.


"Hy kenapa jadi aku, kau yang mendidiknya jadi seperti itu." Ucap Nara tidak terima.


"Hahaha tidak papa, aku pun paham pasti watak anak gadis selalu mengikuti watak orang tuanya." Ucap Henry.


"Meira...berapa umur mu nak?" Tanya Henry.


"17 paman." Jawab Meira.


"Wahhh benarkah, berarti kau sudah memasuki tahap kedewasaan. Perlahan kau akan mengerti tentang keadaan, setelah lulus sekolah kau ingin lanjut apa?" Tanya Henry.


"Aku ingin lanjut kuliah bidang bisnis paman, karena aku ingin membangun usaha ku sendiri." Jawab Meira.


"Benarkah? bagus sekali, kau memiliki cita-cita yang bagus. Ku rasa Minho bisa mengajari mu nanti, kau tau dia sudah memiliki usahanya sendiri bahkan dia sudah menjadi CEO yang hebat." Ucap Henry.


"Mungkin dia terkenal karena pengaruh yang paman miliki,pengusaha hebat seperti paman pasti sangat mudah di kenal orang luar jika anaknya memiliki keberhasilan." Ucap Meira Barham menatapnya tapi Meira tidak peduli.


Henry terkekeh mendengarnya. "Kau pintar juga ternyata, Meira sayang apa kau ingin berkerja diperusahaan ayah? Ayah akan memberimu jabatan tinggi di sana." Ucap Henry.


"Maaf paman, tapi aku ingin berkerja dengan hasil jeri payah ku sendiri. Tumbuh dikeluarga yang terkenal karena kesuksesannya tidaklah mudah, seorang anak harus bisa membuat orang tuanya bangga tanpa campur tangan dari orang tuanya." Ucap Meira Barham terseyum.


"Kau memang sangat pintar, ayah dukung diri mu." Ucap Henry.


"Terimakasih paman." Ucap Meira.


"Jangan panggil paman, panggil ayah saja. Kau akan akan menajadi menantu ku, tidak baik jika kau masih memanggil ku paman." Ucap Henry.


"Tapi maaf paman, aku masih belum bisa menerima perjodohan ini. Bukan hanya karena memang aku tidak menyukai Minho, aku memang tidak ingin menikah muda. Aku ingin meraih kesuksesan ku lebih dulu baru aku akan menikah." Ucap Meira.


Henry terseyum. "Ayah mengerti, tapi ini sudah perjanjian kami dari sewaktu kalian masih kecil dan harus terlaksana, ayah paham maksud mu. Tapi menurut ayah, tidak ada salahnya jika kalian tetap memiliki hubungan selama kau masih belum ingin menikah tapi setelah kau siap baru kalian akan menikah. Bagaimana?" Tanya Henry Meira tanpak berpikir.


"Hubungan apa maksud paman?"


"Kalian akan bertunangan lebih dulu lalu setelah kalian siap baru pernikahan itu akan dilaksanakan. Kami juga tidak mau memaksakan keadaan jika kau belum menerima ini sepenuhnya." Ucap Henry membuat Meira terdiam.


Bukan ini maksudnya, dia tidak mau memiliki hubungan dengan siapa pun karena saat ini dia menyukai cowok lain. Jika dia bertunangan dengan Minho maka Meira tidak bisa memiliki cowok itu lain.

__ADS_1


__ADS_2