
Disebuah kamar inap, Meira terus menggenggam tangan Hana. Gadis itu masih belum membuka matanya setelah 2 jam selesai diselamatkan.
"Untung saja kami dengan cepat mengeluarkan racun ditubuh nona Hana, jika terlambat itu bisa berakibat fatal." Ucap Dokter pria yang menganani Hana.
"Han.." Meira mengelus pipi Hana.
"Sayang tenanglah, dokter bilang keadaan Hana sudah lebih baik ari sebelumnya." Ucap Minho melihat Meira menangis.
"Tapi Hana seperti ini karena ku, jika saja aku tidak seceroboh itu menerima pemberian minuman gila itu mungkin Hana tidak akan seperti ini." Ucap Meira terisak.
Weni Tina dan Gina mendekat memeluk Meria sambil mengelus tangan Hana.
"Uugghh."
"Hana." Panggil keempat gadis itu melihat ada pergerakan dari Hana.
"Biar saya memeriksanya." Ucap dokter memeriksa keadaan Hana.
Keempat gadis itu menatap dengan takut, setelah fokter selesai mereka menatap dokter meminta kejelasan.
"Pasien sudah sadar pengaruh racunya sudah menghilang karena sutikan penawar racun yang kami berikan, setalah dua jam nanti kami akan melakukan pengecekan lagi." Jelas dokter.
Keempat gadis itu langsung mendekati Hana dan memeluk teman mereka.
"Hana..." Ucap mereka memeluk Hana.
Hana hanya terseyum. "Sudah kalian berat." Ucap Hana.
"Ya ampun maafkan kami." Ucap Weni lalu mereka melepas pelukannya.
"Hy pemgentin baru kenapa kau disini?" Tanya Hana.
Buk.
Mereka semua terkejud melihat Meira memekul tangan Hana.
"Aku mengkhawatirkan mu.." Ucap Hana kesal.
"Meira.." Tegur Nara.
Hana hanya terkekeh. "Baiklah maaf sudah membuat mu khawatir, tapi seharusnya kau mengkhawatirkan diri mu. Lihat lah Minho sudah tidak tahan." Goda Hana.
Mereka menatap Minho yang hanya diam. "Kenapa?" Tanya Minho bingung.
"Iashh kau ini." Ucap Meira Hana terkekeh.
"Kalian bisa pulang aku tidak papa." Ucap Hana.
"Kami akan menunggu mu sampai orang tua mu datang." Ucap Barham.
"Paman sudah menghubungi orang tua ku?" Tanya Hana.
__ADS_1
"Sudah dan sebentar lagi mereka akan datang." Jawab Barham.
"Terimakasih paman." Ucap Hana.
Barham terseyum dan mengelus pucuk kepala Hana. Tidak lama orang tua Hana datang ibunya sangat menghawatirkan putrinya begitu juga ayahnya.
Barham menjelaskan semuanya apa yang terjadi Dina menangis mendengarnya.
"Terimakasih telah menyelamatkan putri kami." Ucap Zaiko ayah Hana.
"Sama-sama." Balas Barham.
Setelah pamit pergi, mereka melangkah keluar rumah sakit.
"Kita akan sering mengunjungi Hana." Ucap Weni.
"Iya kau benar." Ucap Gina rasa bersalahanya masih ada walau dia sudah meminta maaf.
"Paman ada sesuatu untuk kalian." Ucap Barham membuat langkah mereka berhenti.
"Apa paman?" Tanya Tina.
Barham menyerahkan masing-masing satu kunci mobil kepada tiga gadis itu. "Ini sebagai tanda terimakasih paman telah mau menemani putri paman, dan yang ini untuk Hana nanti berikan padanya."ucap Barham lalu melanjutkan langkahnya.
"Iiiiiiiini...ku. ku. Kunci mobil kan?" Tanya Tina tergagab.
"Kita serius dikasih mobil?" Tanya Weni tidak percaya.
"Yahhh kenapa tidak makanan aja sih satu toko." Ucap Gina.
Meira dan Minho hanya terkekeh melihat mereka. "Sayang.."panggil Meira.
"Iya.."
"Kita kerumah ayah dulu ya, soalnya ada barang yang mau aku ambil di rumah ayah." Ucap Meira.
"Baiklah." Balas Minho.
"Kami pulang duluan ya, kalian hati-hati dijalan." Ucap Meira melambai pada teman-temannya.
"Dada hati-hati." Balas ketiga gadis itu.
Minho dan Meira sampai dirumah, Nara heran dia pikir mereka langsung pulang kerumah sendiri tapi ternyata datang kerumah itu.
"aku mau ambil barang aku mah, mau sekalian di bawa soalnyakan gak tinggal di sini lagi." Ucap Meira.
Nara yang berdiri didepan pintu melangkah masuk kedalam kamar. "Iya mamah tau, barang apa aja yang mau dibawa?" Tanya Nara sambil membantu Meira.
"Paling cuman baju yang masih tersisa, mungkin Meira ninggalin beberap stel siapa tau nginap disini dilain waktu." Jawab Meira.
"Hah...ya udah mamah buatkan mimun untuk Minho dan ayah dulu ya." Ucap Nara.
__ADS_1
"Iya mah." Balas Meira sambil mengeluarkan kotak-kotak dari lemarinya yang berisikan barang-barnag dia semasa sd dan smp nya dulu.
"Ini kotak apa ya." Gumam Meira melihat kotak berwarna merah bertuliskan cupu.
Meira membuka kotak itu dan melihat isi didalamnya.
"Hy ini kan yang aku pakai dulu saat sd." Ucap Meira.
Tiba-tiba sesuatu melilit dipinggangnya. "Sedang apa sayang?" Tanya Minho.
"Ini lihat deh, aku dulu pernah pakai ini waktu sd biar kelihatan cupu." Ucap Meira Minho melihat isi kotak itu dan melihat sesuatu.
Diambilnya ikat rambut berwarna merah. "Aku seperti pernah melihat ini." Batin Minho.
"Itu ikat rambut aku, gak tau sebelahnya hilang kemana. Oh iya dulu aku pernah menolong anak kecil dia cowok, dia dibuly sama teman-temannya karena dia gendut. Setelah aku menyelamatkannya malah aku yang dibuly dikatain cupu karena aku suka memakai kaca mata dan ikat rambut merah itu." Ucap Meira.
"Padahal kaca mata itu gak min dimata ku, aku sengaja memakainya agar mereka tidak membuly ku tapi malah tetap dibulu. Kau tau aku memangis setelah pulang dari sekolah karena kehilangan satu ikat rambut kesayangan ku itu. Aku menyukainya karena dia lucu dan berwana marah." lanjut Meira Minho hanya diam menatapnya.
Kepalanya tiba-tiba mengingat sesuatu.
Flashback on.
"Heh gendut kau itu menggalangi jalan, dasar babi gendut jelek.." Ucap seorang anak sd pada temanya.
"Heh..." Teriak anak perempuan mengalihkan perhatian mereka.
"Kalian jangan mengejeknya, kalian yang jelek bukan dia." Ucap anak kecil rambut berkepang dua berikat rambut merah dan kaca mata besar bertengger dihidungnya.
"Hahahaha lihat si cupu ini membela si babi...kalian itu cocok...dasar cupu.." ucap anak laki-laki itu melepari anak perempuan itu dengan gumpalan kertas dan menarik-narik rambut anak perempuan itu membuat ikat rambutnya lepas..
Anak perempuan itu mulai menangis, mereka langsung meninggalkan kedua anak itu karena takut.
"Aaaaa jahat....aku tidak cupu.."
"Hy jangan menangis." Ucap anak laki-laki yang di ejek tadi tadi mendekatinya.
Anak perempuan itu langsung berlari pergi meninggalkannya. "Hy..ini ketinggalan.." Teriak anak laki-laki itu mengambil kaca mata dan satu ikat rambut yang terlepas dari anak perempuan itu.
Flashback off
"Hahaha jadi lucu mengingat masa itu, ingin jadi penyelamat malah aku yang terkena bulyan mereka." Ucal Meira tertawa.
"Jadi..." Ucap Minho membuat Meira menoleh.
"Jadi apa sayang?" Tanya Meira bingung.
Minho langsung memeluknya erat, membuat Meira bingung. "Sayang ada apa?" Tanya Meira.
"Jadi selama ini yang aku cari adalah kau.." Ucap Minho.
"Mencari apa? Kenapa kau mencari ku?" Tanya Meira bingung.
__ADS_1
Minho semakin memeluk Meira erat. "Jadi si cupu itu adalah kau." Batin Minho selama ini dia mencari anak perembuan itu walau tidak mungkin menemukannya tapi lihat Minho berhaail mendapatkannya.
"Jadi aku selama ini menyukai orang yang sama." Batin Minho.