
Acara ulang tahun yang ke 44 yang digelar begitu meriah di kediaman tuan Barham Gelo Yuma, siapa lagi yang berulang tahun jika bukan ayah dari seorang putri cantik bernama Meira Nakila Yuma.
Barham dan Nara di rias begitu tampan dan cantik, begitu juga dengan Meira dan Minho.
Mereka memakai gaun dan tuxedo yang serasi dan jangan lupakan tuan Henry dan Taera, mereka pun memkai pakaian yang sama bagus dan germelapnya. Keluarga terkenal tidak mungkin berpenampilan sederhana.
"Acara mu terlihat sempurna Barham." Ucap Henry.
"Siapa lagi yang mengaturnya jika bukan putrinya, dia yang mengatur semuanya dan meminta dekorasi yang sesuai untuk ku." Ucap Barham.
"Meira memang gadis pintar." Ucap Taera.
"Maka sebab itu dia cocok dengan Minho." Ucap Nara mereka semua terseyum.
Dimeja berbeda, 7 orang duduk dengan santai dan saling mengobrol.
"Mei kau baik-baik saja kan?" Tanya Tina.
"Aku baik-baik saja." Jawab Meira sambil.melahap kue-kue yang ada didepannya.
"Kenapa kau sekarang lebih mirip dengan Gina, makan mu rakus sekali." Ucap Weni.
Puk
Gina menepuk kepala Weni, membuat gadis itu sedikit meringis Juan mengelus kepalanya.
"Itu hormonya, karena kehamilannya itu membuatnya jadi banyak makan." Ucap Minho.
"Tapi bukan kah masih terlalu muda kehamilan Meira untuk hal ngidam dan semacamnya." Ucap Gina.
"Ya aku pun tidak paham, kau bisa tanya kan pada dokter tentang hal itu aku bukan dokter." Jawab Minho Gina hanya memasang wajah masamnya.
"Kau selalu saja bersikap dingin." Ucap Gina Minho tidak menanggapinya.
Hana membantu mengambilkan minum untuk Meira. "Makan yang pelan nanti kau dan si kecil keselak." Ucap Hana Meira terseyum dan meminum air itu.
Minho mengelus perut Meira, sambil menatap wajah istrinya yang masih asik memakan kue.
"Tuan." Panggil Juan Minho menatapnya.
Juan memberikan kode dari arah lirikan matanya, Minho mengikuti arah lirikan itu dan melihat seseorang berdiri disana dengan setelan serba hitam.
"Tidak ku sangka dia berguna juga, walau pernah menyekiti istri ku." Ucap Minho.
"Siapa maksud mu?" Tanya Meira berniat melihat kearah yang Minho tatap tapi cowok itu malah menarik dagunya dan mencium bibir itu.
Meira terdiam. "Ada noda krim disudut bibir mu sayang, kalau makan yang bersih." Ucap Minho.
Kelima orang didepan mereka memutar mata mereka malas. "Menunjukan keromantisan didepan kaum jomblo." Ucap Tina.
__ADS_1
"Heh siapa bilang jomblo." Ucap Weni menunjukan genggaman tangan Juan sambil terseyum kemenangan.
"Cih...kita hanya obat nyamuk disini." Ucap Hana.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Minho. "Tuan muda." Panggil orang itu mengalihkan perhatian mereka.
"Semua sudah berjalan sesuai perintah ada, dan..."
"Tidak perlu lanjutkan aku sudah lihat. Kau awasi terus dia." Ucap Minho memotong.
"Baik tuan, saya permisi." Ucap orang itu lalu dia melirik Hana dan sedikit terseyum lalu pergi.
Hana terus menatap pungung cowok itu.
"Dia yang mengangkat mu keambulan waktu kejadian itu, dan dia bilang kalau kau cantik mungkin dia menyukai mu Hana. Aku hanya menyampaikan apa yang dia katakan." Jelas Juan pada Hana membuat gadis itu tertegun.
"Apa? Dia menyukai ku?" Tanya Hana.
"Cieeee....ajak kenalan sana, sebelum terlambat." Ucap Tina.
"Isshh kau itu, Juan siapa namanya?" Tanya Hana.
"Lihatlah dia penasaran." Ucap Gina.
"Aaiisshhh aku hanya ingin mengucapkan terimakasih itu saja." Ucap Hana.
"Namanya Yuho, dia keturunan orang China hanya saja dia lama tinggal di indonesia bersama orang tuanya." Jelas Juan Hana mengangguk mengerti.
"Cih...menyukai bodyguard ku." Ucap Minho.
"Bukannya memang Yuho yang duluan menyukai Hana tuan, dia yang bilang sendiri pada ku." Ucap Juan.
"Benarkah? Bagus kalau begitu, mungkin mereka akan cocok." Ucap Minho tangan cowok itu tidak lepas dari perut Meira.
Ting
Pesan masuk di ponsel Minho, dia menatap ponselnya seperti membaca sesuatu. Lalu dia mengerakan tanganya kebelakang kepala dan membentuk bulatan dengan jari telunjuk dan jempo yang di satukan dan membiarkan sisa jarinya berdiri.
"Kenapa kepala mu?" Tanya Meira.
"Ah tidak sayang, hanya sedikit gatal. Sepertinya aku harus ganti shampo lagi, kenapa shampo mahal itu tidak cocok dengan ku." Jawab Minho.
"Kau itu memang produk mahal Minho, tapi cocoknya dengan produk murah." Ucap Tina.
"Cihh...mungkin produk mahal minder pada ku karena aku lebih mahal dari produk-produk itu. Tidak seperti diri mu yang barang mahal dan murah kau tetap tidak cocok." Balas Minho Tina melepar gumpalan tisue.
"Sialan lu." Ucap Tina kesal.
Yang lain hanya terkekeh melihat perdebatan itu. Dilain tempat.
__ADS_1
Hana memutar halaman itu mencari keberadaan orang itu. "Dia menjaga dimana." Gumam Hana sambil menggaruk kecil kepalanya.
Saat ingin berbelok kearah deretan hidangan tidak sengaja Hana menabrak tubuh seseorang membuatnya limbung kebelakang.
Hampir saja Hana mencium tanah halaman, jika tangan itu tidak dengan cepat menangkapnya. Hana masih memejamkan matanya takut merasakan sakit, tapi aneh dia tidak merasakan apa-apa dia malah merasakan sebuah tangan pingganya.
Hana membuka matanya dan terkejud melihat wajah orang yang dia cari ada didepannya.
Orang itu terseyum. "Kau menacari ku ya?" Tanya Yuho.
Dengan cepat Hana melepaskan dirinya dan sedikit menjauh dari Yuho. "Eeee.....aku cuman mau bilang terimakasih." Ucap Hana.
"Untuk apa?"
"Kau yang mengangkat ku waktu itu kan, maaf merepotkan mu." Ucap Hana Yuho terseyum.
Sungguh seyumnya membuat jantung Hana berdegub kencang.
"Baiklah, sama-sama nona Hana." Balas Yuho Hana terseyum lalu membungkuk sedikit dan pergi.
Yuho menatap Hana yang perlahan pergi. "Manis." Gumam Yuno lalu melangkah pergi.
Kembali kemeja.
Meira merasa sangat kebelet. "Sayang aku ketoilet dulu ya, tiba-tiba kebelet." Ucap Meira.
"Aku temani ya." Ucap Minho Meira menggeleng.
"Tidak....aku sendiri saja." Ucap Meira lalu melangkah pergi.
Minho ingin menahanya tapi terlambat lalu dia melirik kebelakang. "Aku tidak bisa mempercayainya sepenuhnya." Batin Minho.
Meira sampai di kamar mandi lantai bawah rumah itu dan masuk. Didepan pintu seseorang berdiri menunggu Meira keluar.
Didalam kamar mandi Meira berusaha menghilangkan rasa sakit perutnya. "Aneh kebelet tapi tidak mau keluar." Omel Meira kesal.
(Pikirannya jangan treveling ya 😂😂)
Dirapikannya lagi gaunnya dan dia melangkah melihat kaca, dia sedikit merapikan rambut dan gaunnya. "Cantik." Ucapnya pada bayangannya sendiri.
Saat dia membuka pintu Meira terdiam mematung menatap orang didepannya.
"Hy sudah lama tidak bertemu ya." Ucap orang itu melangkah mendekati Meira.
Kepanikan Meira kambuh lagi, gadis itu terus melangkah mundur menhindari orang itu yang terus melangkah maju.
"Kenapa? Takut?" Tanya orang itu.
"Bagaimana bisa kau keluar dari penjara." Ucap Meira.
__ADS_1
"Cih...kau kira hanya keluarga mu yang memiliki uang Meira." Balas orang itu.
"Apa mau mu...Billa?"