
Weni dan Meira melangkah menuju kantin setelah bel istirahat berbunyi.
"Hy kalian."ucap seseorang menghentikan langkah Meira dan Weni.
Meira terseyum, orang itu mendekat pada mereka.
"Kalian mau kemana?"tanya Minho.
"Kekanti."jawab Meira.
"Juan mana Ho?"tanya Weni sambil melirik kebelakang.
"Uuuu aku tau sekarang kenapa kau selalu berusaha mendekati Meira dan aku, kau ingin kenalan dengan Juan ya."goda Minho pipi Weni memerah.
"Ishh kau ini ada-ada saja, tidak seperti itu."ucap Wein lalu menarik Meira pergi.
"Hy kau membawa pergi istri ku."ucap Minho Meira hanya terkekeh melihat tingkah dua orang itu.
Walau begitu Minho tetap mengikuti langkah Weni dan Meira. Sesampainya dikantin yang sudah penuh mereka terdiam.
"Yahh penuh, tumben sekali penuh biasanya sepi walau jam istirahat."ucap Weni.
"Hy sini kosong."ucap Tina memanggil mereka bertiga.
Weni kembali menarik Meira menuju meja tempat Tina. Minho hanya mengikuti dari belakang.
"Hy Mei bodyguard mu tidak disuruh duduk?"tanya Tina setelah Meira dan Weni duduk.
"Kau ingin duduk, sini.."ucap Meira menggeser sedikit tempat duduknya karena memang penuh dari biasanya.
"Tidak...aku ambil makan untuk mu saja."ucap Minho lalu pergi kemeja tempat makanan di hidangkan jadi siswahanya tinggal mengambilnya.
"Wahh perhatian sekali."ucap Gina kembaran Tina.
"Kalian itu serasi sekali,Minho yang sedingin dan kaku itu bisa luluh oleh mu."ucap Tina.
Tina teman sekelas Minho, memang beda kelas dari Meira tapi mereka sudah saling mengenal sejak kelas 2 SMA.
"Benarkah? Aku tidak merasa serasi denganya."ucap Meira "Dia lebih baik dari ku."batin Meira.
Minho kembali dengan nampan di tanganya lalu memberikannya pada Meira. "Makanlah yang banyak."ucap Minho Meira terseyum dan mengangguk.
Minho menarik karet gelang di tanganya dan mengikat rambut Meira yang teruarai.
Ketiga gadis itu menatap dua orang itu berbinar. "Wahhh romastis sekali.."ucap Gina.
"Aahhh kalian membuat ku iri."ucap Weni.
"Ah kalian membuat jiwa jomblo ku meronta, hy Minho jaga sikap mu ada kaum jomblo di sini."ucap Tina Meira hanya terkekeh.
"Makanya cari, cowok di sekolah ini banyak."ucap Minho.
__ADS_1
"Memang banyak tapi mereka lebih pantas di kandangi agar tidak berkeliaran mencari mangsa."ucap Tina karena dia banyak menemukan cowok yang hanya suka begonta-ganti pacar tidak ada yang serius.
"Benar kata Tina."ucap Weni.
"Kalian saja yang terlalu memilih."ucap Minho.
"Hy kami tidak akan memilih jika kalian para cowok bisa menjaga sikap dan prilaku."ucap Gina.
"Ya ya sudahlah, kalian bertiga aku sendiri aku akan kalah."ucap Minho ketiga gadis itu tertawa sedangkan Meira hanya terkekeh.
Di meja panjang itu sudah pergi dua orang jadi ada tempat kosong untuk Minho duduk.
Minho duduk di depan Meira, menatap gadis itu. Weni yang duduk didekat Minho sedikit menggeser takut Meira akan marah.
Meira menyuap makanannya lalu menatap Minho, di ambilnya satu sendok makan dan mengarahkannya pada Minho.
"Tidak kau saja.."ucap Minho.
"Makan.."ucap Meira menatapnya Minho mengalah dan membuka mulutnya.
"Aaaaaa kaliannn."ucap Ketiga gadis itu berbarengan.
"Kita hanya obat nyamuk disini."ucap Weni.
Seseorang datang mendekati Minho dan Meira. Weni langsung melihat kearah lain karena gugub.
"Kau habis dari mana?"tanya Minho.
"Tadi ada kerjaan sedikit."jawab Juan lalu duduk disamping Minho atau lebih tepatnya di tengah antar Minho dan weni membuat gadis itu semakin gugub.
"Iiis Juan apa-apaan sih."ucap Weni pipinya sudah memerah.
Gina dan Tania hanya tertawa melihat dua orang itu, Minho terus menatap Meira. Gadis itu seperti ada yang disembunyikannya.
"Sayang.."panggil Minho mengalihkan perhatian Meira.
"Kenapa?"
"Kau kenapa?"tanya Minho.
"Aku tidak kenapa-kenapa."jawab Meira.
"Jangan bohong, aku tau ada yang kau pikirkan."ucap Minho sambil mengambil sebutir nasi yang tertinggal disudur bibir Meira.
"Hhmm kau kenapa?"tanya Minho lembut.
Meira menggeleng. "Aku tidak papa, sungguh."jawab Meira.
"Hah...baiklah jika kau tidak mau menceritakannya sekarang mungkin nanti kita bicara dirumah saja."ucap Minho Meira hanya terseyum lalu menyuapi Minho lagi.
Keempat orang itu sudah sibuk dengan obrolan mereka jadi tidak ikut campur dengan Meira dan Minho.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang merangkul Minho. "Minho tidak menyangkat kita bertemu disini."ucap orang itu.
Weni Tina Gina dan Juan menatap kearah orang itu terkejut melihat sikap orang itu. Sedangkan Meira sudah menahan marahnya, dia kesal melihat orang itu merangkul Minho.
Minho menepis tangan itu. "Kenapa kau ada disini?"tanya Minho dingin lalu melirik Meira yang melanjutkan makanya, wajah gadis itu semakin tertekuk.
"Aku sekolah disini, oh iya aku sekelas dengan Meira."jawab Gadis Minho menatap Meira.
"Wen kembali kekelas yuk aku sudah selesai."ucap Meira bernajak.
"Eh...e iya yuk."balas Weni yang sepertinya paham perasaan Meira.
Minho menahan tangan Meira. "Aku akan mengantar mu."ucap Minho ingin beranjak tapi ditahan olah Gadis.
"Min....temanin aku keliling sekolah yuk, aku belum tau hapal sekolah ini."ucap Gadis mengelus tangan Minho.
Meira menepis tangan itu lalu pergi. "MEI.."panggil Minho.
"Minn ayok.."
"APA-APAAN SIH, pergi sendiri kan bisa."bentak Minho yang sudah marah pada Gadis.
Minho pergi begitu saja menyusul Meira, Juan menahan tangan Gadis saat dia ingin menyusul Minho.
"Maaf nona, tapi kalau anda memiliki sakit kurap tolong di obatin agar tidak kegatelan. Jangan ganggu Minho."ucap Juan lalu pergi sambil membersihkan tanganya setelah menyentuh Gadis.
"Gila ni cewek cari ribut."ucap Tina yang juga ikut pergi bersama Gina.
"Aiiishh, aku kan mau sama Minho, Lihat aja aku akan rebut Minho."gumam Gadis marah.
.....
"Mei..tunggu."ucap Minho yang mengejar Meira.
"Urus aja dia sana."ucap Meira menepis tangan Minho.
"Gak mungkin aku ngurus dia, emang dia siapa aku?"ucap Minho masih berusaha mengejar Meira.
Weni hanya diam melihat mereka, dia pun kesal melihat sikap Gadis tadi.
"Oh bukannya dia teman mu, yang dulu katanya kau traktir dia makan dan nonton bioskop bahkan pernah mengantarnya pulang. Kenapa tidak temani saja dia, kau sudah kenal denganya bukan."balas Meira kesal.
"Sayang tidak seperti itu, aku melakukannya juga karena dia memaksa ku, aku mentraktirnya karena dia lupa bawa uang saat itu, aku memberikan tumpangan karena ban mobilnya bocor waktu itu, sayang ayo lah jangan seperti ini percaya pada ku."ucap Minho Weni sedikit terseyum melihat tingkah dua orang itu.
"Ternyata Meira bisa cemburu."batin Weni
"Sudahlah Minho pergilah kekelas mu."ucap Meira menepis tangan Minho.
"Apa kau cemburu?"tanya Minho menahan tangan Meira.
"Untuk apa aku cemburu, aku saja tidak memiliki perasaan pada ku. Jadi tidak ada gunanya aku cemburu."ucap Meira marah lalu melepas tanganya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Weni terkejud dengan yang Meira katakan lalu menyusul gadis itu, Minho terdiam tanganya terkepal.
"Cih...karena marah kau sampai tega mengatakan hal itu."gumam Minho.