Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
kepergian dan kehadiran


__ADS_3

"Aaakhh." Chika merintih kesakitan saat tanganya yang memegang pistol tertembak oleh Juan.


Meira langsung mengunci kedua tangan Chika. "Yuho sekarang." ucap Meira.


Yuho menembak pengait perangkap yang mereka siapkan di atap gudang, Meira dengan cepat menyingkir dan Chika terperangkap dalam jeruji besi itu.


"Akhh....SIALAN." teriak Chika.


Minho langsung menarik Meira dalam pelukannya. "Kau tidak papa sayang?"


Meira mengangguk. "Hah...aku tidak papa." jawab Meira membalas pelukan itu.


Mereka tidak sadar jika pistol yang Chika miliki tadi terjatuh di dalam jeruji itu juga. Chika terseyum miring dan mengambil pistol itu disaat mereka lengah dan mengarahkannya pada Meira.


Billa yang melihat hal itu pun langsung berlari melindungi Meira. "Meira awas." teriak Billa dan...


Doorr....


Meira melihat kearah Billa yang berdiri terdiam di depannya. "BIL.." Meira langsung menangkap tubuh Billa yang terjatuh.


"Billa." Junggo langsung berlari kearah Meira dan Billa.


Juan sekali menembak tangan Chika dan pistol itu kembali terjatuh, Juan langsung mengambil alihnya.


"Bill..Bill buka mata mu. Bill.." ucap Meira.


"Bill bicara pada ku...Bill...JANGAN TINGGALKAN KAKAK BILL." teriak Junggo memeluk kepala adiknya.


"BILLL.." Junggo menangis.


"Ukuh...kak.."


Junggo menatap Billa yang terseyum padanya. "Maaf..uhuk...maaf.."


"Tidak...Bil. kau harus bertahan. Kakak akan membawa mu ke rumah sakit." ucap Junggo.


Billa menggeleng dan terseyum. "Ti..tidak...kak...deng...dengarkan..aku." ucap Billa menyentuh pipi Junggo.


"Hiks...jangan tinggalkan kakak Bil.." ucap Junggo menangis.


"Seper..sepertinya...ini adalah waktu ku."


"Tidak..tidak boleh.. kau tidak boleh pergi Bil, hanya kau yang kakak punya." ucap Junggo menggeleng mengusap kelapa adiknya.


"Kak...aku sayang kakak." Junggo menggeleng.


"Kau tidak pernah sayang pada ku, jadi jangan pergi dari ku. Kau harus menunjukan kalau kau benar-benar sayang pada ku Bill...kakak mohon bertahan, kakak akan membawa mu ke rumah sakit." ucap Junggo.


Billa terseyum. "Sudah lama.... aku tidak melihat...mu menangis....setelah sekian lama,...tidak membuat mu menangis."


"Ini bukan saatnya bercanda Billa.." ucap Junggo air terus mengalir menatap adiknya.


"Maaf...maaf.."


Darah segara itu terus mengalir dari belakang tubuh Billa, tembakan itu tepat mengenai tengah tubuhnya.

__ADS_1


Billa menatap Meira. "Terimakasih Mei, kau sahabat terbaik ku." ucap Billa.


Meira menggenggam tangan Billa. "Bill besok adalah tanggal hari jadi persahabatan kita. Ku mohon bertahan lah dan kita rayakan bersama." ucap Meira menangis.


"Terimakasih untuk semuanya, aku sayang kalian...kak...Meira dan Juan..aku mencintai mu..walau per...cuma..setidaknya...aku...mengungkapkan perasaan ku." ucap Billa.


Juan terdiam, jadi Billa menyukainya dia baru mengetahui hal itu.


Mata itu perlahan tertutup. "Selamat tinggal."


"BILLL.." teriak Junggo.


"Bill...aaaaaa Billl, ku mohon jangan pergi hanya kau yang kakak punya Billa." ucap Junggo memeluk Billa erat.


Tangis Meira pecah Minho langsung menarik wanita itu dalam pelukannya. "Billa...aaaaa..." Minho mengusap bahu Meira.


"Hahahaha kalian terlalu banyak drama, wanita itu pantas mati." ucap Chika tertawa.


Tangan Junggo terkepal kuat. Dia membaringkan tubuh Billa di lantai itu dan berdiri.


Mereka semua menatap Junggo. "Kau...wanita sialan....kau pun pantas mati." Junggo bergerak cepat langsung merebut pistol dari tangan Juan.


"Junggo."


Mereka terkejud melihat Junggo membabi buta menembak tubuh Chika.


"Mati kau...mati kau...matiiiiiiiii....AKU SAMPAI MATI PUN AKAN TERUS MEMBENCI MU WANITA SIALAN." teriak Junggo.


"Junggo hentikan.." ucap Meira tapi Junggo seolah tuli.


"Mati...mati....mati..mati...mati...hahaha MATIII.."


Juan langsung menarik tangan Junggo dan menampar pipi pria itu. "Junggo sadar wanita itu sudah mati." ucap Juan dia juga terkejud melihat Junggo dengan beraninya menembak wanita itu.


Junggo terseyum. "Bagus..dia pantas mati." tatapan Junggo terlihat kosong, wajah keputusasaan.


"Ini yang aku inginkan...sudah lama dia terus menyiksaku dan adik ku...sekarang dia mati...hahahaha mati...kau lihat Juan, aku membunuhnya...hahaha aku membunuhnya, kau lihat itu." ucap Junggo.


Juan menatap Junggo. "Junggo sadarkan diri mu." ucap Juan mengguncang.


"Sadar untuk apa? SADAR BAHWA AKU SENDIRIAN DI DUNIA INI? keluarga ku satu-satunya harus pergi karena wanita itu...AKU TIDAK TERIMA JUAN....lebih baik aku mati juga." ucap Junggo mengarahkan pistol itu pada kepalanya.


"Junggo jangan.." teriak Minho.


Junggo terseyum. "Lebih baik aku mati." ucap Junggo dia menekan pelatuk pistol itu tapi tidak ada peluru yang keluar.


"Apa kau bodoh, pelurunya sudah kau habiskan didalam tubuh wanita itu." ucap Juan merebut pistol itu dan membuangnya.


Junggo kembali menangis. "Kenapa? KENAPA HARUS SEPERTI INI...HAHAHAHA AKU SENDIRIAN SEKARANG...CABUT NYAWA KU TUHAN...AKU INGIN BERSAMA ADIK KU." teriak Junggo.


Mereka hanya diam menatap Junggo yang tersujud di lantai itu dan meraung menangis. Meira berdiri dan melangkah mendekati Junggo.


"Junggo.." Meira menyentuh pipi Junggo.


"Adik ku Mei...adik ku...Billa tega meninggalkan ku.."

__ADS_1


Meira menangis dia menatap Junggo. "Jung...ku mohon tenangkan diri mu." ucap Meira Junggo menatapnya.


"Katakan di mana aku harus membuat diri ku tenang, disaat satu-satunya keluarga yang aku miliki harus pergi seperti itu...BAGIAMANA AKU BISA TENANG MEI..." Meira langsung memeluk Junggo.


"Kau tidak sendiri Junggo, aku juga adik mu....kau yang selalu melindungi ku dan Billa, aku juga adik mu Jung...tenangkan diri mu." ucap Meira tangis Junggo semakin pecah.


Di peluknya Meira erat menumpahkan semua air matanya, Minho tidak bisa cemburu untuk sekarang bagaimana pun Junggo membutuhkan Meira sekarang.


"Ku mohon tenangkan diri mu...hiks..Billa tidak suka melihat mu seperti ini." ucap Meira mengusap punggung Junggo.


"AAAAAA HIKS...Billa..." teriak Junggo.


####


"Meira.." panggil Nara berlari memeluk putrinya memasuki kamar inap rumah sakit yang Meira tempati.


"Mah...Billa."


"Iya sayang...tenangkan diri mu." ucap Nara.


Mereka sekarang berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, Junggo juga melakukan pemeriksaan pada mentalnya.


"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Barham.


"Baik ayah, hanya saja..." Minho tidak melanjutkan perkataannya takut jika istrinya kembali menangis.


"Meira, Billa pasti baik-baik saja sekarang." ucap Taera mengelus bahu menantunya.


"Permisi.." mereka semua menolah kearah sumber suara.


"Ini hasil tes nona Meira, keadaannya baik-saja tapi jangan membuatnya tertekan dan saya ucapkan selamat...nona kau hamil, usia kandungannya 2 minggu." ucap Kila membuat mereka semua terkejud.


"Apa?"


Minho menatap Meira, jadi Meira hamil dan mereka merencanakan hal ini. Hampir saja mereka melukai Meira.


Wanita itu menunduk. "Terimakasih dok." ucap Minho wanita itu terseyum lalu melangkah pergi.


"Apa kau sudah tau tentang kehamilan mu ini?" tanya Minho Meira mengangguk.


"Meira beri kami penjelasan." ucap Minho.


"Minho biarkan Meira tenang dulu." ucap Henry.


"Tapi ayah, dia merahasiakan hal ini. Jika tadi dia yang terluka bagaimana, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu sayang." ucap Minho menatap Meira.


"Maaf...jika aku memberitahu kalian, rencana itu akan gagal."


"Tapi apa kau tidak memikirkan diri mu, kau lihat tadi hampir saja kau yang terluka." ucap Minho marah Meira menunduk.


"Minho tenangkan diri mu, kau tidak dengar apa kata dokter tadi." ucap Barham.


"Tapi ayah, aku marah padanya kenapa dia merahasiakan hal ini. Kejadian ini bisa saja melukainya dan anak ku di dalam kandungannya, apa dia tidak memikirkan hal itu." ucap Minho mengusap wajahnya kasar.


Minho pergi begitu saja, dia butuh menenangkan dirinya. Meira kembali menangis, ini kesalahannya tapi jika Meira memberitahu hal itu Minho tidak akan mengijinkan rencana ini berjalan.

__ADS_1


"Maaf.." gumam Meira.


__ADS_2