
Semua persiapan sudah mereka lakukan, Billa kali ini sungguh-sungguh ingin mengakhiri semuanya, jika saja dari dulu dia mengingatnya mungkin tidak akan seperti ini.
Sekarang dia berada di gudang tempat dia dan ibunya bersembunyi. Saat memasuki gudang itu Billa terkejud mendengar suara dari arah belakang
"Bagaimana?" Tanya Chika.
"Ma...maaf ibu, aku tidak berhasil masuk kedalam rumah itu." Jawab Billa memejamkan matanya.
Buk..
Billa terduduk dilantai dingin itu begitu saja saat sebuah pukulan di perutnya.
"Aakhh..." Rintihan Billa memegangi perutnya.
"Dasar tidak berguna, sudah ibu bilang JANGAN SAMPAI GAGAL." Teriak Chika Billa hanya diam sambil menahan sakit.
"Kau sungguh tidak berguna....APA KAU INGIN IBU BUNUH HAH.."
"IYA.."
"Lebih baik aku mati dari pada harus merasakan siksaan ibu." Ucap Billa penuh penekanan.
"Cih...kau mulai berani menjawab ternyata." Ucap Chika tangannya sudah terangkat ingin menampar Billa tapi seseorang menahan tangannya.
Chika menatap orang itu. "Kau tidak berhak melukai adik ku." Ucap Junggo dengan tatapan tajamnya.
Cekraman itu semakin kuat membuat Chika kesakitan. "Akhh....dasar anak sialan....kau berani pada ibu mu sendiri." Ucap Chika.
"Kau..." Junggo hampir mengeluarkan kalimatnya tapi dia urungkan.
Junggo menghempas tangan itu. "Aku hanya tidak terima jika ibu melukai Billa...lagi pula Billa tidak sepenuhnya gagal, dia berhasil membebaskan ku." Ucap Junggo membantu Billa berdiri.
"Oh jadi kau bebas karena Billa...sayang maafkan ibu sudah melukai mu." Ucap Chika memeluk Billa, Junggo dan Billa saling tatap.
Junggo menyakinkan Billa dari tatapannya. "Iya ibu tidak papa." Ucap Billa membalas pelukan itu.
"Ibu pergi kemana tadi? Kenapa meninggalkan Billa sendirian?" Tanya Billa.
Chika melepas pelukannya. "Maaf sayang...ibu pergi ke suatu tempat, di sana adalah tempat baru kita." Jawab Chika.
"Dimana?" Tanya Junggo.
"Kau tau rumah tua di perbukitan, ingat besok kalian harus menculik Meira dan membawanya kesana. Bagaimana pun kita harus berhasil kali ini dan kau awas jika kau berpihak pada mereka." Ucap Chika lalu melangkah pergi.
"Baik ibu." Balas Junggo.
Billa dan Junggo saling tatap. "Kita harus memberitahu mereka." Bisik Billa Junggo mengangguk.
*+*+*+*+*+*+
__ADS_1
Di rumah Barham, makan malam kali ini sangat sunyi walau ada kehadiran Meira dan Minho di sana.
Barham dan Nara saling tatap, anak dan menantu mereka sedang bertengkar.
"Sayang.."
"Jangan bicara pada ku." Ucap Meira Minho menghelakan nafasnya.
"Ayah mamah Meira sudah selesai, terimakasih untuk makanannya." Ucap Meira setelah meneguk air minumnya dan beranjak pergi.
Minho cepat-cepat meminum airnya. "Minho juga sudah selesai yah mah." Ucap Minho lalu menyusul istrinya.
Barham dan Nara terdiam. "Mereka yang bertengkar kenapa kita yang seperti canggung." Ucap Nara.
"Entahlah, hawa mereka membawa suasana canggung seperti ini." Balas Barham.
Didalam kamar Meira baru keluar dari kamar mandi, Minho terus menatapnya dan mengikutinya.
"Sayang ku mohon maafkan aku." Ucap Minho.
Meira hanya diam. "Sayang aku mohon....maafkan suami mu ini." Ucap Minho berjongkok di hadapan Meira yang duduk ditepian ranjang dengan ponsel ditangannya.
"Sayang..." Panggil Minho lagi Meira masih hanya diam dengan wajah datarnya.
"Sayang...ku mohon maafkan aku, aku salah telah melukai hati mu aku mohon maaf. Jiak aku ingin menampar ku maka lakukan saja tapi ku mohon jangan diamkan aku seperti ini." Ucap Minho menatap Meira lirih tapi istrinya tidak peduli.
"Sayang..."
Meira hanya diam dia sudah memejamkan matanya, Minho menghelakan nafas. Dia sadar atas semua prilakunya yang sudah kasar pada istrinya bahkan Minho mengatakan kata-kata yang menyakiti hati istrinya.
"Aku minta maaf, aku sangat bersalah mengatakan hal itu dan berprilaku kasar pada mu. Jika kata maaf tidak bisa membuat mu memaafkan mu, biar aku menghukum diri ku sendiri." Ucap Minho.
Minho mengambil gunting dari laci dan berniat melukai tangannya yang telah menyakiti istrinya.
Meira dengan cepat menahannya. "Apa kau gila." Marah Meira dia mengambil gunting itu dan membuangnya.
Meira berdiri dihadapan Minho.
"Tidak seperti itu caranya." Ucap Meira Minho menatapnya lirih.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa? Tangan ini sudah menyakiti mu, mulut ini sudah melukai mu. Kata maaf ku tidak akan bisa membayar rasa sakit yang aku berikan maka biarkan aku melukai diri ku sendiri." Ucap Minho matanya berkaca menatap Meira.
"Tidak seperti itu caranya, kau seperti orang bodoh. Aku juga tidak ingin melihat suami ku melukai dirinya sendiri demi mendapatkan maaf dari ku, kau akan semakin membuat ku terluka jika seperti itu." Ucap Meira air matanya mengalir.
Minho menangkup wajah Meira menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Maafkan aku." Ucap Minho.
"Kau bodoh...apa kau selama ini tidak mempercayai ku sehingga kata selingkuh itu begitu mudah keluar dari mulut mu. Apa rasa cinta ku selama ini kurang untuk mu sampai kau seperti itu pada ku, kau seperti bukan suami ku yang selalu bersikap lembut pada ku." Ucap Meira sambil memukul dada Minho.
__ADS_1
"Kau jahat...hiks.." Minho menarik Meira dalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang....sungguh maafkan aku." Acap Minho.
"Kau seperti tidak mencintai ku lagi memperlakukan ku kasar seperti itu, bukan hanya tangan ku yang sakit tapi hati ku juga. Apa suami pantas memperlakukan istrinya seperti itu hanya karena sebuah kesalahpahaman, semuanya pasti ada penjelasan tapi kenapa kau sudah menuduhku selingkuh...kau jahat pada ku." Ucap Meira Minho.
"Ya aku sudah jahat pada mu sayang, kau boleh menghukum ku dengan apa pun memukul atau pun memaki ku tapi ku mohon jangan diamkan aku. Melihat mu mendiamkan ku lebih menyakitkan dari pada kata-kata kasar mu." Ucap Minho memeluk Meira erat.
Meira perlahan membalas pelukan itu, dia juga tidak mungkin akan menyakiti suaminya sendiri.
Minho mencium kepala Meira. "Maafkan aku...sungguh aku minta maaf." Ucap Minho Meira mengangguk.
Minho melepas pelukan itu dan menangkup wajah Meira. "Kau boleh menamparku jika kau mau." Ucap Minho Meira menggeleng.
"Aku juga tidak ingin menyakiti suami ku. Luka tidak harus di balas luka sayang." Ucap Meira tanganya bergerak menghapus air mata Minho yang sempat mengalir.
"Ternyata kau juga bisa menangis." Ucap Meira.
"Apa kau pikir ini kali pertama ku menangis karena mu? Bahkan saat kejadian itu aku bukan lagi Minho yang kuat, setiap hari ku habiskan hanya menangis karena takut kau tidak akan sadar dari koma mu, itu yang aku tidak suka dari diam mu karena itu lebih menyakitkan." Ucap Minho menatap mata Meira lekat.
"Tapi kau sendiri yang membuat kesalahan, aku hanya berusaha menghukum mu dengan mendiamkan mu tapi kau malah berniat melukai diri mu sendiri. Apa kau pikir aku juga akan terima hal itu, aku tidak mau kau seperti itu." Ucap Meira memeluk Minho.
Minho terseyum dan membalas pelukan itu. "Maafkan aku."
"Berhentilah mengatakan kata maaf, aku bosan mendengarnya." Ucap Meira Minho terkekeh.
"Baiklah, aku mencintai mu." Ucap Minho.
"Itu sudah sering kau ucapkan." Ucap Meira melepas pelukannya.
"Lalu apa yang jarang dan belum pernah aku katakan?" Tanya Minho.
"Uumm..." Meira tersenyum lalu menumpukan tanganya di bahu Minho dan mencium bibir suaminya.
"Aku menrindukan mu, sesekali aku yang mengucapkannya." Ucap Meira Minho tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Meira dan membawanya keatas ranjang.
"Baiklah...kalau kau menginginkannya." Ucap Minho lalu mencium bibir Meira, bermain dengan bibir ranum itu lembut.
Dan terjadilah malam yang indah bagi mereka dan semoga setelah ini mereka akan mendapatkan kebahagiaan.
......
Pelepasan terakhir menjadi akhir dari kegiatan mereka malam ini. Meira sudah kelelahan dan dia sudah memejamkan matanya.
Minho terseyum lalu memindah posisinya tidur di samping istrinya, menarik Meira kedalam pelukannya.
"Selamat malam bidadari ku dan semoga kau cepat hadir sayang." Ucap Minho mencium kening Meira dan tanganya mengelus perut Meira.
Meira terseyum dan semakin mendekat pada Minnho.
__ADS_1