Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
tidak bisa jauh


__ADS_3

"Sekarang ibu mau melakukan apa? Selama 2 bulan ibu biarkan mereka tetap tenang." Ucap seorang gadis dari balik kaca transparan.


"Kau pikir ibu hanya diam saja, tentu ibu sedang menyiapkan sesuatu yang mengejudkan untuk mereka. Kematian putri Barham akan menjadi kehancuran baginya." balas seorang wanita yang duduk disebrang gadis itu.


"Aku tidak terima atas kematian ayah ku, ibu harus membalasnya. Maaf tidak membantu, didalam sel tahan ini membuat ku muak." Ucap gadis itu berteriak di akhir kalimatnya.


"Ibu paham sayang, kau tenang saja mereka akan mendapatkan balasannya dan ibu akan membebaskan kalian." Ucap wanita itu terseyum licik.


*******


"Sayang..." Panggil Meira memasuki ruang kerja Minho.


"Iya sayang ada apa?" Tanya Minho.


"Aku ngantuk temanin tidur." Ucap Meira melangkah mendekati Minho dan menarik tangan cowok itu.


"Sebentar lagi sayang, perkerjaan ku belum selesai. Minta Kukie menemani mu." Ucap Minho masih fokus dengan komputernya.


"Aku maunya kamu sayang, kukie sudah tidur.Ayo sayang aku ngantuk, sepulang dari kafe kau langsung sibuk dengan perkerjaan mu. Kenapa tidak meminta Juan saja yang mengerjakannya." Ucap Meira kesal sambil mengoyangkan tangan Minho.


"Aku tidak bisa membebani Juan terus sayang, ini perkerjaan ku jelas harus aku yang mengerjakannya." Ucap Minho Meira menghepas tanganya.


"Ya sudah terserah." Ucap Meira lalu pergi sambil menghentakan kakinya.


"Oh ya ampun." Gumam Minho pasti istrinya marah lagi, Minho mematikan komputernya dan menyusul Meira.


Sesampainya di kamar Minho melihat istrinya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. "Pasti nangis." Gumam Minho masuk kedalam lalu menutup pintu kamar dan melangkah mendekati Meira.


"Sayang..." Panggil Minho menyentuh bahu istrinya.


"Hy kau marah pada ku?"


"Pergi.." Ucap Meira dari balik selimut.


"Apa? aku tidak dengar, buka dulu selimutnya sayang baru ngomong." Ucap Minho padahal dia mendengar jelas dia hanya sengaja agar Meira membukanya.


"Aku bilang pergi urus saja perkerjaan mu." Ucap Meira membuka selimutnya, belum sempat tertutup lagi Minho sudah menahannya.


"Lepasss..." Ucap Meira kesal menarik-narik selimutnya dari Minho.


"Hy dengarkan aku dulu, itu perkerjaan penting sayang itu proyek baru ku jelas aku harus mengurusnya sendiri." Ucap Minho menahan tangan Meira.


"Ya sudah pergi sana, aku tidak peduli. Perkerjaan mu lebih penting dari pada istri mu." Ucap Meira melepis tangan Minho. Kembali menyelimuti dirinya.

__ADS_1


"Sayang kau bisa sesak nafas." Ucap Minho lalu mengusap perut Meira dan menciumnya.


"Sudah, ayolah jangan marah sayang." Minho terus membujuknya.


Tangan Minho masih terus mengelus perut Meira. "Anak ayah, udah dong maaf ayah gak bisa ngelus kamu. Ini udah ayah elus." Ucap Minho bicara pada perut Meira.


Sedangkan Meira hanya bisa terseyum. "Kau ingin apa hhmm? Nanti ayah belikan, bilang sama mamah mu kau ingin apa." Ucap Minho lagi.


Meira membuka selimutnya, Minho menatapnya. "Peluk, aku ngantuk." Ucap Meira Minho terseyum lalu naik keatas ranjang, Meira mendekat pada Minho dan memeluk suaminya erat.


Tentu Minho juga memeluk Meira erat mencium kening istrinya lembut. "Sekarang tidurlah." Ucap Minho.


"Apa nanti setelah tidur kau kembali ke ruangan mu?" Tanya Meira menatap Minho.


"Eehh...tidak aku akan menemani mu." Jawab Minho.


"Bohong." Ucap Meira berniat melepas pelukannya tapi Minho menahannya.


"Iya iya aku akan tidur juga, sekarang kita tidur ya." Ucap Minho Meira membenamkan wajahnya di dada bidang Minho mencium wangi Minho.


Setelah hamil Meira selalu seperti ini, bisa tidur jika Minho memeluknya. Minho mengelus kepala Meira mencium kening istrinya.


"Kau ini manja sekali, sejak hamil kau tidak ingin lepas dari ku. Tidak papa aku menyukainya, istri ku terlihat cantik saat marah." Gumam Minho sambil mengelus pipi Meira dan merapikan anak rambut istrinya.


"Sebentar ya sayang, perkerjaan ku harus diselesaikan. Aku akan cepat kembali." Ucap Minho mencium kening Meira lalu pergi dari kamar.


.....


Setelah perkerjaannya selesai Minho melangkah keluar runganbya dan pergi menuju tangga, terlihat Ina baru turun dari lantai atas.


"Loh Ina kau habis dari atas ngapain?" Tanya Minho dia kira Ina sudah pergi istirahat.


"Nona memanggil saya tuan, nona muntah-muntah tadi." Jawab Ina membuat Minho terkejud.


"Apa?" Dengan cepat Minho berlari kelantai atas membuka pintu kamar dengan terburu.


"Sayang..." Minho melihat Meira yang hanya diam sambil menutup mulutnya.


"Sayang ada apa? Kenapa bisa muntah-muntah bukan kah kamu tadi tidur." Ucap Minho menangkup wajah Meira.


Meira hanya diam lalu menepis tangan Minho dan merebahkan dirinya, kembali menyelimuti tubuhnya.


Minho terdiam. "Bodoh kenapa kau tidak menunggu istri mu Minho." Maki Minho dalam hati.

__ADS_1


"Sayang..."


"Pergi lah aku ingin tidur sendiri, mengharapkan suami yang menemani ku tidak akan mau. Lebih baik aku tidur sendiri." Ucap Meira membuat Minho terdiam.


"Sayang jangan seperti ini." Ucap Minho merasa bersalah dirinya memang salah.


Meira hanya diam, seharusnya Minho paham kalau Meira tidak bisa jauh darinya ingin mencium bau tubuh Minho. Terkadang Meira bisa mual jika tidak mencium bau Minho.


"Sayang..."


"Pergilah Minho." Okey Meira sudah memanggil namanya istrinya sudah sangat marah padanya.


Meira mengelus perutnya dan berusaha untuk tidur. "Sayang biar aku elus ya, sambil aku peluk." Ucap Minho sambil mengelus perut Meira tapi istrinya membuang tangannya begitu saja.


"Tidak perlu. Mengelus anak mu saja kau tidak mau, menemani istri mu saja kau lalu pergi. Bagaimana nanti kalau aku melahirkan bisa kau tinggal pergi." Ucap Meira air matanya mengalir.


"Sayang kenapa bicara seperti itu, aku tidak mungkin meninggalkan mu." Ucap Minho.


"Bukatinya tadi, aku udah tidur bentar aja udah kamu tinggal. Padahal aku lagi mual makanya aku minta kamu peluk aku tapi malah kamu tinggal, ngerti gak sih kamu aku sedang ngandung anak kamu jelas aku maunya mencium bau bandan kamu biar mualnya hilang tapi malah kamu tinggal." Ucap Meira menatap Minho dengan berlinang air mata.


"Sayang maafkan aku, aku salah. Aku tidak bisa ngertiin kamu, aku minta maaf ya." Ucap Minho Meira hanya diam sambil terus menangis.


"Sayang udah nangisnya, aku minta maaf." Ucap Minho menangkup wajah Meira. Tangis Meira perlahan berhenti.


"Masih mual?" Tanya Minho Meira mengangguk.


"Ya udah peluk ya biar mualnya hilang." Ucap Minho Meira hanya mengaguk.


Minho naik keatas ranjang dan menarik Meira dalam pelukannya. "Maaf....sudah jangan nangis aku sakit lihatnya." Ucap Minho mencium kedua mata Meira.


"Gara-gara kamu."


" iya aku tau, aku yang salah. Sudah ya jangan nangis lagi, ayo kita tidur." Ucap Minho.


"Kau tidak pergikan?" Tanya Meira.


"Tidak sayang, sekarang aku tidak akan pergi, ayo kita tidur." Ucap Minho membenakan wajah Meira didadanya.


Meira memeluk Minho erat, menghirup wangi Minho membuat mualnya hilang. Tangan cowok itu terus mengelus kepalanya, mencium pucuk kepala Meira.


"Aku salah, mulai sekarang aku akan mengerjakan perkerjaan ku dengan cepat." Batin Minho.


Perlahan mereka mulai tertidur, bertemu dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2