Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
recana dan ulang tahun


__ADS_3

"AAAAKKHHH....SIALAN." Teriak seorang wanita menghancurkan isi kamarnya.


"Ibu ada apa? Oh astaga." Ucap seorang gadis masuk kedalam kamar ibunya.


"Mereka mengetahuinya Billa, mereka sudah mengetahui semuanya dan mereka sudah melaporkan kasus ayah mu lagi kepengadilan." Ucap Chika membuat Billa terdiam.


"Apa? Bagaimana bisa." Ucap Billa.


"Mereka berniat menghancurkan bisnis ayah mu Billa. Kau harus menyelamatkannya, hancurkan putri Barham. BALASKAN DENDAM AYAH MU PADANYA." Teriak Chika Billa memeluk ibunya yang menangis.


"Ibu tenang saja aku akan menghancurkannya, besok adalah ulang tahun tuan Barham. Itu kesempatan kita." Ucap Billa Chika terseyum lebar.


Tanpa mereka sadari Junggo dari tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Jika kau tau cerita sesungguhnya Billa, kau tidak akan memihak pada ibu." Gumam Junggo.


Billa melangkah keluar dan melihat Junggo yang hanya berdiri diam. "Kau harus membantu ku besok bagaimana pun caranya kita habisi Meira, dan aku tidak peduli mau kau menyukai gadis itu atau tidak kau tetap harus membantu ku." Ucap Billa melotot melihat Junggo lalu pergi begitu saja.


"Aku bukan menyukainya, aku hanya kasihan dia yang menjadi korban atas kesalahan yang ayah lakukan." Gumam Junggo.


♧♧♧♧♧


"Tidur sayang." Ucap Minho yang sedang berkutak dengan leptopnya di atas ranjang samping Meira.


"Kau tidak tidur? Aku pengen peluk." Ucap Meira menatap Minho.


"Tapi perkerjaan ku masih banyak sayang, setidaknya aku ada didekat mu jadi kau bisa mencium bau ku." Ucap Minho sambil mengelus pucuk kepala Meira.


"Tapi aku pengennya peluk." Ucap Meira manja.


"Ya sudah kalau begitu tidur disini saja." Ucap Minho menepuk dadanya Meira terseyum dan beranjak.


Dia duduk dipangkuan Minho dengan mengahadap suaminya, di ciumnya bibir Minho. "Kau tampan." Ucap Meira Minho terseyum.


"Aku tau, aku juga punya istri yang sangat cantik." Balas Minho Meira terseyum dan memeluk leher Minho membenamkan wajahnya dileher suaminya.


Walau sedikit kesulitan tapi Minho tidak mau membuat Meira sedih, kebahagiaan istrinya adalah hal utama baginya.


Tidak lama Minho mendengar dengkuran kecil dari Meira, Minho terseyum dan mencium bahu istrinya. "Selamat malam istri ku, kau kebahagiaan ku." Bisik Minho.


Setelah selesai Minho matikan leptop miliknya dan meletakan di atas meja kecil samping ranjang, lalu perlahan menidurkan Meira diranjang.


"Aaoouuhh pinggang ku." Gumam Minho sambil meluruskan pinggangnya, selama memangku Meira Minho sama sekali tidak bisa bergerak.


Minho rebebahkan tubuhnya setelah merapikan berkas-berkasnya.


"Sayang.."


"Uh Iya? Kok bangun?" Tanya Minho terkejud Meira memanggilnya.

__ADS_1


"Kau sudah selesai?" Tanya Meira.


"Iya sudah sayang, kenapa? Kau ingin sesuatu?" Tanya Minho mengelus kepala Meira.


"Tiba-tiba aku lapar, pengen nasi goreng." Ucap Meira menatap Minho berbinar.


"Eeee....besok aja ya ini udah malam, tuh udah jam 12 sayang. Kita kan harus kerumah ayah besok bantu menyiapkan ulang tahunya jadi kamu harus banyak tidur." Ucap Minho.


"Tapi aku lapar pengen nasi gorong buatan mu." Ucap Meira sambil memainkan selimuatnya.


"Aduhhh....baru juga mau istirahat." Gumam Minho.


"Tidak mau ya, ya sudah." Ucap Meira membelakangi Minho.


"A...eee sayang.." Minho menarik bahu Meira tapi istrinya menepsinya.


Minho mendengar sedikit suara tangis Meira. "Sayang jangan nangis..aduhh, iya-iya aku buatkan jangan nangis sayang." Ucap Minho melihat menoleh padanya.


"Benerkan dibuatin?" Tamya Meira.


"Iya sayang, aku buatin tapi berhenti menangis dulu ya." Ucap Minho menangkup wajah Meira menghapus jejak air mata Meira.


"Ya udah ayo." Ucap Meira beranjak dari ranjang.


Minho menghelakan nafasnya. "Sabar Minho istri mu sedang hamil anak mu." Batin Minho mengelus dadanya.


"Sayang.."


Saat mereka melangkah menuruni tangga Minho melihat seseorang keluar dari ruang kerjanya.


"Ina sedang apa dia?" Batin Minho.


Orang itu lalu pergi ke kamar belakang, Minho menatapnya heran untuk apa wanita itu tidak tidur jam segini dan dia masuk kedalam ruangan ruang kerjanya.


"Sayang kenapa diam?" Tanya Meira.


"Oohh tidak papa sayang." Jawab Minho lalu mereka melangkah menuju dapur.


Sudahlah positif saja, mungkin Ina meminjam sesuatu dari ruanganya. Lagi pula di ruangan itu hanya ada berkas perusahaan dan komputernya, kalau berkas penting jelas dia simpan di tempat berbeda.


Sekarang dia hanya perlu memikirkan keinginan istrinya saja. "Lebih baik aku cepat bikin dan setelah itu bisa mengistirahatkan tubuh ku." Batin Minho saat asik berkutak dengan alat dapur sedangkan Meira hanya seyum-seyum menatapnya.


》《》《》《》《


Keesokan harinya Minho sungguh dia buat lelah oleh Meira sudah tadi malam tidurnya kurang puas karena setelahnya harus bangun pagi demi menemani istrinya jalan pagi dan sekarang dirumaha ayah mertuanya Meira tidak ingin jauh darinya. Kemana pun dia melangkah Minho harus ada disampingnya.


Wajah Minho terlihat lusuh padahal dia sudah mandi.


"Minho ada apa dengan mu? Kau mendengarkan ku tidak." Ucap Meira kesal.

__ADS_1


"Iya sayang dengar, sayang aku kekamar dulu ya aku ingin istirahat kau tidak lihat mata ku ngantuk sekali." Mohon Minho.


"Oohh jadi kau ingin tidur dari pada menemani istri mu mendekor rumah ini." Ucap Meira berkacak pingang.


Ya itu lah balasan setiap Minho ingin pergi istirahat, sedangkan Barham dan Nara hanya terkekeh melihat kelakuan putrinya.


"Kasian sekali menantu ku harus memenuhi keinginan istrinya." Ucap Nara.


"Ya begitu lah, sifat keras putri mu kan turun dari mu." Balas Barham.


"Kau ingin aku simbur? Kau selalu saja menyangkut pautkan keras kepala ku dengan putri ku." Ucap Nara.


"Bukan kah memang seperti itu kenyataannya." Ucap Barham.


"Sudahlah terserah kau saja." Ucap Nara.


Kembali ke Minho lihat lah dia sudah sangat capek melihat Meira yang mengatur semua dekorasi untuk acara nanti malam.


"Itu di situ...bukan geser dikit." Ucap Meira pada pendekor.


Sedangkan Minho duduk dikusi dan menikmatinya. "Aaaa enak sekali." Gumam Minho memejamkan matanya sisofa teras belakang.


Meira sudah selesai mengatur semuanya dan dia baru sadar Minho tidak ada disampingnya. Meira melihat Minho yang tertidur dikursi teras.


"Kasian juga, aku tega sekali pada suami ku." Gumam Meira lalu dia melangkah mendekati Minho.


"Sayang." Panggil Meira lembut.


"Uuhh." Minho terbangun.


"Pindah kekamar, tidur mu tidak nyenyak jika kepala mu seperti itu nanti bisa sakit." Ucap Meira.


"Aku boleh tidur?" Tanya Minho Meira terseyum dan mengangguk.


Minho terseyum lalu beranjak, diganggamnya tangan Meira membawanya masuk kedalam rumah.


Mereka pergi kekamar yang dulu Meira tempati dan merebahkan tubuh mereka.


"Kenapa aku dibawa?" Tanya Meira.


"Aku tidak mau jauh dari mu." Jawab Minho menarik Meira dalam kekungannya.


"Sayang...kau bilang ingin tidur." Ucap Meira.


"Iya ingin, tapi aku ingin yang lain juga." Ucap Minho mengecup bibir Meira.


"Aku merindukan mu." Ucap Minho lalu mencium bibir Meira.


Meira mendorong Minho pelan melepas ciuman itu. "Pelan-pelan saja ya, ada anak kita didalam." Ucap Meira Minho terseyum.

__ADS_1


"Tentu sayang, kau tenang saja." Balas Minho dan memulai aksinya.


Didalam kamar itu lenguhan dan desahan sudah terdengar, ya apa lagi yang mereka lakukan jika bukan hubungan yang sudah diperbolehkan.


__ADS_2