
1 minggu kemudian
Di kamar inap, Minho terus menggenggam tangan Meira mengelus pipi istrinya.
"Sayang, buka mata mu. Kau tidak merindukan ku?" Tanya Minho mencium pungung tangan Meira.
"Maafkan aku sayang, aku gagal menjaga kalian. Ku mohon bangun marahi aku, aku rindu suara mu." Ucap Minho menunduk, bahunya bergetar untuk kesekian kalinya menangis.
Juan yang melihat itu hanya bisa diam, sungguh ingin rasanya dia membunuh Billa tapi gadis itu masih belum ditemukan. Bahkan saudara kembar gadis itu enggan membuka suaranya.
"Hy....kau tau, proyek baru ku berkembang pesat. Kau waktu itu bilang pada ku jika proyek itu berhasil kau ingin rumah baru, sayang buka mata mu ayo pergi beli rumah baru. Kau tidak ingin menemani ku untuk membelinya." Ucap Minho tangis pecah.
"Aaaaaa..." Cowok itu berteriak.
Juan memejamkan matanya, melihat Minho seperti itu membuatnya tidak tega. Pintu kamar inap terbika memperlihatkan 4 gadis berjalan masuk.
Mereka terdiam melihat Minho yang menangis sambil menggengam tangan Meira yang masih enggan membuka matanya.
Weni memeluk lengan Juan, cowok itu merangkulnya dan mencium pucuk kepala Weni.
"Bagaimana perkembangan Meira sekarang?" Tanya Tina sedihnya.
"Dokter bilang kondisi nona Meira masih belum stabil, nona Meira masih dalam masa kritis." Jawab Juan.
"Dimana paman dan bibi?" Tanya Hana.
"Mereka baru saja pulang, tuan Barham sepertinya tidak akan tinggal diam." Jawab Juan.
Barham dan Henry sedang mencari keberadaan Chika dan Billa yang kabur bersama.
Weni menangis memeluk pingang Juan. "Apa belum ada tanda-tanda untuk Meira sadar?" Tanya Weni Juan menggeleng.
"Belum, kita harus terus berdoa agar nona cepat sadar." Ucap Juan mengelus bahu Weni yang menangis.
Hana mendekati Minho. "Min...kami bawakan buah dan makanan, Juan bilang kau belum makan sama sekali." Ucap Hana.
"Aku tidak napsu makan Han, bahkan istri ku juga belum makan. Aku akan menemaninya." Ucap Minho masih menatap Meira.
Hana menghelakan nafasnya lalu mundur mendekati Gina dan Tina, pintu kamar inap itu kembali terbuka memperlihatkan Yuho datang dengan tergesa.
"Tuan muda, dia masih belum mau bicara." Lapor Yuho lalu melihat kearah Hana dan terseryum kecil.
Minho menatap wajah Meira. "Sayang, katakan....harus ku apa kan bajingan itu, katakan sayang, dia membohongi ku...bahkan sekarang jala*g itu kabur bersama ibunya....katakan pada ku harus ku apa kan dia agar mau bicara sayang.. BICARA PADA KU." Teriak Minho prutstasi.
__ADS_1
Bahkan mereka semua terkejud. "Katakan sayang, apa perlu aku mencabut tangan-tangan kotornya itu? Apa perlu aku menjual organ tubuhnya? Katakan apa yang harus aku lakukan, suami mu ini membutuh kan mu." Ucap Minho.
Keempat gadis itu menangis, Juan dan Yoha hanya bisa diam. Mereka harus bisa menahan rasa haru itu.
Minho beranjak dari duduknya. "Aku akan membalas perbuatannya, kau tenang saja. Dia harus membayar semuanya." Ucap Minho lalu mencium kening Meira dan melangkah pergi.
"Kalian berdua ikut dengna ku, dan kalian jaga istri ku." Ucap Minho pada mereka.
Keempat gadis itu mengangguk, Juan melepas pelukannya mengelus dan mencium kepala Weni lalu pergi.
"Aku tidak menyangka gadis gila itu bisa berbuat sekejam itu." Ucap Gina.
"Dia lebih gila dari pada Gadis." Ucap Weni.
"Aku sungguh muak mengingatnya dulu pernah menjadi teman ku juga." Ucap Tina.
"Itu lah kenapa kita tidak bisa percaya pada siapa pun, semua orang bisa menipu dengan menggunakan topeng yang mereka miliki. Lebih baik kau bertemu dengan wujud asli setan dari pada kalian menemui malaikat berhati setan." Ucap Hana.
......¤●¤●¤●¤●¤●......
Di sebuah gudang tua, seseorang terikat dikursi. Minho melangkah mendekati Junggo yang menunduk.
"Kau....seperti monter." Ucap Minho menatap Junggo tajam.
"Aku tidak akan membuka suara." Ucap Junggo.
Bukk
Pukulan itu mengenai wajahnya.
"Sampah menjijikan." Ucap Minho.
"Cihh....kau pun sampah."
Satu pukulan lagi mengenaik wajah Junggo.
"Katakan dimana mereka, atau aku akan memotong lidah mu itu." Ucap Minho.
"Kau memotong lidah ku tidak akan bisa menemukan apa pun." Ucap Junggo.
"Ciihh...kau pikir aku tidak bisa menemukan mereka, Junggo kau lupa lawan mu siapa? Perusahaan itu dalam ambang kehancuran apa kau terima?"
"Aku tidak peduli." Ucap Junggo.
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali membuat mu bicara. Apa kau sudah tidak peduli dengan keluarga mu?" Tanya Minho.
"Billa adalah keluarga ku, ibu dan ayah bukan lah keluarga ku. Kau tau siapa saksi kedua atas kasus bunuh diri ayah ku?"
"Aku..." Lanjut Jungho membuat Minho terdiam.
"Kau pikir aku tidak tau yang terjadi sebenarnya, aku tau semuanya Minho aku sendiri yang menyaksikan pria itu menjatuhkan dirinya dari gedung itu. Kau tidak percayakan?" Ucap Jungho lalu tertawa.
"Kau tidak sehebat yang orang pikirkan ternyata, bahkan kalian tidak mengetahui bahwa aku pun ada dalam kejadian itu." Lanjut Jungho.
"Apa?"
"Dan aku mengetahui semua yang ayah ku lakukan, penggelapan uang bahkan kuropsi yang dia lakukan adalah atas perintah dari ibu ku. Aku menyaksikan semuanya Minho, dan aku senang kau mengantar kasus itu pada pengadilan lagi. Aku akan membantu mu tapi lepaskan aku." Ucap Junggo Minho terdiam lalu terseyum miring.
"Kau pikir aku bodoh? Kau pembohong yang hebat Junggo." Ucap Minho Junggo tertawa.
"Kau yang bodoh Minho bisa-bisanya percaya dengan yang aku katakan akan berpihak pada mu. Kau bilang kau adalah orang hebat di dunia ini tapi kenapa dengan mudahnya kau terbohongi.." Ucap Junggo.
Pukulan bertubi-tubi mendarat di tubuh dan wajah Junggo. "KAU BAJINGAN SIALAN, KAU DAN KELUARGA MU ADALAH BAJINGAN." Teriak Minho terus memukul Junggo.
"Tuan..." Juan berusaha menahan Minho.
Pukulan itu terhenti Junggo kembali tertawa. "Aku mau bicara jika Meira yang datang menemui ku. Kau tau istri mu begitu menggoda." Ucap Junggo.
Sekali tendangan diperutnya membuat Junggo terjungkal kebelakang karena Minho.
"Silan kau. JAGA UCAPAN MU BAJINGAN." Teriak Minho.
Junggo terseyum miring. " kenapa kau tidak membunuh ku hah? Kenapa kau takut?" Tantang Junggo menatap Minho.
Minho mengeluarkan pistol dari balik badannya membuat Junggo tertegun. "Kau pikir aku takut. Aku tidak takut, tapi aku bukan orang gila yang melakukan segala cara agar mendapatkan kemenangan." Ucap Minho menyerahkan pistolnya pada Juan.
"Kau nikmati saja kurungan ini, anggap saja rumah sendiri." Ucap Minho lalu berbalik.
"Kau bodoh Minho, ku rasa Meira lah yang tau dimana Billa sekarang." Ucap Junggo membuat Minho terdiam.
"Sebelum Meira jatuh, Billa mengatakan ini pada nya. Bunga yang terlihat indah belum tentu berbau wangi, tapi bunga yang berduri begitu memiliki bau yang wangi. Kuharap kau paham." Ucap Junggo.
Minho melangkah pergi begitu saja. "Bunga." Gumam Minho.
.........
Likenya dong, teman-teman. Tangan thor pegak ngetiknya masa gak di kasih like sih.
__ADS_1
Kriting tau jari ku mengetik sepanjang ini. 😢😢