Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
satu kemungkinan


__ADS_3

Karena terlalu lama menunggu kelima orang itu sibuk mengobrol.


"Bagaimana hubungan mu dengan Hana Yuho?" Tanya Meira pada Yuho yang ebrdiri diam di samping pintu.


"Baik nona, tapi kami baru hanya sebatas teman. Saya masih belum berani mengungkapkan perasaan saya." Jawab Yuho.


"Cepat ungkapkan sebelum terlambat." Ucap Juan.


"Itu pasti." Balas Yuho.


"Lalu hubungan mu bagaimana dengan Weni?" Tanya Meira pada Juan.


Billa menatap Juan, jadi pria itu sudah memiliki kekasih.


"Baik nona, di semakin manja dengan ku. Bahkan ibunya sudah memberi kami restu." Jawab Juan.


"Wah benarkah? Syukurlah kalau begitu, agar kalian cepat menyusul ku." Ucap Meira terseyum senang.


Juan pun menahanya seyumnya, ibu Weni begitu mendesaknya untuk cepat melamar putrinya padahal hubungan mereka baru berjalan 4 bulan. Ternyata ibu Weni begitu menyukai Juan sampai-sampai tidak sabar untuk meminta Juan menikahi putrinya.


"Juan wanita itu datang." Ucap anak buahnya yang menjaga di depan gudang.


"Baik lah."


"Nona dia datang." Ucap Juan Billa dan Junggo dengan cepat berdiri di posisi mereka.


Juan Yuho saling tatap. "Kita harus tetap menjaga nona." Ucap Juan Yuho mengangguk.


Mereka merapatkan topi hitam yang mereka pakai sampai menutupi mata mereka.


"Enaknya dia kita apakan?" Tanya Billa.


"Entahlah, aku juga bingung. Tunggu sampai ibu datang saja."


"Ibu sudah di sini." Ucap Chika membuka pintu itu dan mendengar ucapan Billa dan Junggo.


"Kerja kalian bagus sekali." Ucap Chika sambil mengelus pipi kedua anaknya.


Chika menatap Meira yang masih pingsan. "Heh bangun." Ucap Chika menendang kaki Meira yang terikat.


Perlahan mata itu terbuka. "Dimana aku." Ucap Meira lalu matanya menatap Chika yang berdiri di depannya dengan tatapan menyeramkan.


"Apa yang kalian inginkan.?" Teriak Meira.


Chika mencekram pipi Meira keras membuat Meira meringis. Juan sudah ingin bergerak tapi Junggo mengarahkan tanganya pada Juan agar dia bisa menahan diri.


"Akhh.." Rintih Meira pipinya terasa perih. Juang semakin mengepalkan tanganya, dia tidak terima nonanya di perlakukan seperti itu.


"Kau anak dari pembunuh, kau tau ayah mu itu sudah menghancurkan bisnis suami ku." Ucap Chika.


"Perusahaan itu memang pantas untuk hancur." Ucap Meira melawan tatapan Chika.

__ADS_1


Wanita itu menghempas wajah Meira begitu saja, pipi Meira terlihat merah. "Kau sama bajingannya seperti ayah mu." Ucap Chika.


"Kau lebih bajingan."


Plak..


Yuho menahan Juna yang sudah siap ingin mengeluarkan pistol dari balik tubuhnya.


"Tahan." Bisik Yuho lalu kembali keposisi sebelumnya.


"Apa yang dia lakukan?" Tanya Minho dari balik aerphone yang digunakan Juan


"Nona di tampar tuan." Bisik Juan menjawab pertanyaan Minho.


"Sialan beraninya dia, tunggulah sebentar lagi jika dia melakukan lebih dari itu maka lakukan rencana kita." Ucap Minho.


"Baik tuan."


Chika menatap ke arah Juan curiga. "Kau bicara dengan siapa?" Tanya Chika.


"Tidak ada nyonya." Jawab Juan memelsukan suaranya.


Chika kembali menatap Meira. Wanita itu menatapnya dengan tajam.


Chika terseyum. "Pintar sekali." Ucap Chika membuat mereka bingung.


Chika mengeluarkan belati dari dan mengarahkannya di leher Meira, membuat wanita itu mematung.


"Ibu.." Billa menarik tangan Chika tapi ibunya menepisnya dan mendorong Billa.


Chika berdiri dibelakang Meira. "Buka masker kalian." Ucap Chika menatap dua pria yang menjaga di pintu.


Juan dan Yuho terseyum miring. "Tidak mudah di tipu juga ternyata." Ucap Juan membuka maskernya.


"Ciihh kalian menipu ku." Teriak Chika semakin mendekatkan belati itu pada leher Meira.


Meira hanya diam. "Kau itu masih anak-anak ya?" Tanya Meira.


"Apa maksud mu?" Tanya Chika.


Junggo membantu Billa berdiri, mereka terseyum. "Dia masih suka bermain Meira." Ucap Billa.


Meira tertawa. "Oohh pantas saja.." ucap Meira lalu melepas tanganya.


Chika bingung melihat hal itu. Dia melakah mundur. Pintu kembali terbuka memperlihatkan Minho masuk kedalam ruangan itu dan merangkul Meira.


"Apa pipi mu panas sayang?" Tanya Minho mengelus pipi istrinya.


Meira menunjukan wajah sedihnya dan mengangguk. "Pipi ku panas." Ucap Meira.


Minho menatap wanita itu. "Beraninya kau menyakiti istri ku." Ucap Minho mendekati wanita itu.

__ADS_1


Chika terus berusaha mundur tapi Minho tiba-tiba menghentikan langkahnya mendekati Chika. "Bukan aku yang membalas dendam, aku bukan orang yang menyakiti wanita." Ucap Minho mengalihkan tubuhnya.


Di depan sana Chika bisa melihat Billa memegang sebuah belati. "Bill..kau ingin melukai ibu mu? Jangan Bill ingat apa yang pernah ibu lakukan untuk kalian, ibu yang merawat kalian selama ini." ucap Chika takut.


Billa terseyum miring. "Merawat? Kau menyiksa kami nyonya, kau menjadikan kamu seperti orang suruhan bagi mu bukan seperti anak mu. Kau jadikan kami mainan untuk membalaskan dendam mu pada tuan Barham. Aku sudah ingat semuanya, kau sengaja melukai ku dan membuat ku lupa ingatan agar aksi kejahatan mu tidak di ketahui oleh orang lain bukan, aku dan Meira yang mengetahui semua itu dan kau hanya berhasil melukai ku." ucap Billa menatap Chika tajam.


"Tidak seperti itu sayang, ibu sayang pada kalian mana mungkin ibu menjadikan kalian seperti suruhan ibu." elak Chika.


Billa semakin dekat dengan ibunya, mengarahkan belati itu pada ibunya. "Semua bohong, itu semua bohong. Kau wanita yang gila harta, kami menyesal harus mau di asuh oleh manusia seperti mu." ucap Billa.


Chika semakin terpojok, dia bingung harus melakukan apa sampai matanya melihat kearah Meira. Dengan cepat Chika berlari kearah Meira dan mencekik leher Meira dengan satu tanganya.


"Meira.." teriak mereka bersama.


"Kalian lepas aku atau dia mati." ancam Chika mengarahkan pistol ke kepala Meira.


"Dari mana dia mendapatkan pistol itu?" tanya Junggo.


"Kalian pikir aku bodoh hah, aku bisa menebak ada kerja sama antara kalian. Billa yang lemah itu tidak mungkin dengan muda membebaskan Junggo dari tahan Minho. Melakukan pekerjaannya saja tidak becus apa lagi harus menyelamatkan Junggo, aku rasa tidak mungkin." ucap Chika.


"Kau terlalu cepat meremehkan seseorang." ucap Meira.


"Cih nyawa mu sedang ada ditangan ku, jangan berani kau melawan ku."


"Kalau begitu lakukan saja. Tembak aku." ucap Meira Minho melebarkan matanya mendengar hal itu.


"Jangan...sayang apa yang kau katakan. Pistol itu sungguhan." ucap Minho Meira terseyum.


"Kau tenang saja sayang, dia tidak akan berani melakukannya." ucap Meira.


"Apa maksud mu tentu saja aku berani melakukannya." ucap Chika.


"Kalau begitu lakukan, maka kita akan mati berdua." ucap Meira.


Chika terdiam merasakan ada sesuatu di pinggangnya, diliriknya kebelakang ternyata tangan Meira juga sedang memegang pistol.


"Jika aku mati, kau pun mati." ucap Meira.


"Turunkan pistol mu." ucap Chika.


Mereka yang lainnya kebingungan dengan keadaan ini, ternyata Meira membawa pistolnya sendiri.


"Bill..maaf jika ibu mu harus mati di tangan ku dan maaf jika aku pun akan mati di tangannya." ucap Meira terseyum pada Billa.


"Apa maksud mu sayang?" tanya Minho.


"Kami sama-sama terkunci, dia yang mengunci leher ku dan pistol itu mengarah pada ku. Sedangkan aku terkunci karenanya dan aku mengarahkan pistol ku ke pinggangnya. Hanya 1 kemungkinan yang akan mati di sini,...." ucap Meira mereka semua menatap wanita itu.


Tidak sadar jika perlahan Juan mendekati Meira.


"Ya itu..."

__ADS_1


Dorr


"Aaakhh."


__ADS_2