Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
teman dekat


__ADS_3

Meira sudah sadar dan sekarang sudah berada dikamar inap, Minho terus menggenggam tangan Meira.


"Maafkan aku sayang. Seharusnya aku tidak meninggalkan mu."ucap Minho.


"Kau tidak salah, aku yang salah karena menyakiti perasaan mu."ucap Meira mengelus pipi Minho.


"Tetap saja aku, lihat lah kau sampai terluka seperti ini."ucap Minho menggenggam tangan Meira yang ada di pipinya.


Meira terseyum. "Kalau begitu jangan di ulangain, aku juga minta maaf karena mengatakan hal itu aku menyakiti perasaan ku."ucap Meira Minho terseyum lalu mencium tangan itu.


"Tidak papa, itu artinya tanda agar aku harus lebih berjuang lagi membuat mu jatuh cinta."ucap Minho Meira terkekeh.


"Dan mengenai kau bilang aku cemburu, ya aku cemburu. Aku tidak suka ada gadis lain menyentuh mu."ucap Meira cemberut Minho terkekeh.


"Terimakasih kejujurannya, aku janji akan menghindar darinya agar gadis cantik ku ini tidak cemburu."ucap Minho Meira terkekeh.


Pintu kamar inap itu terbuka mengalihkan perhatian Minho dan Meira, Barham datang dangan wajah marahnya mendekat pada mereka dan....


Plakk.


"Ayah.."tegur Meira melihat Barham menapar Minho.


"Ayah kenapa kau menampar Minho."ucap Meira.


Henry membantu putranya berdiri. "Tahan emosi mu barham."ucap Henry dia tidak terima jika putranya di perlakukan seperti itu.


"Kau membelanya,dia sudah berbuat seperti ini pada mu kau masih membelanya?"bentak Barham pada Meira.


"Ayah jangan bentak Meira."ucap Nara memeluk putrinya yang terdiam.


"Ayah jangan marah pada Meira aku yang salah."ucap Minho menatap Meira yang sudah menangis.


"Kau memang salah, kami percayakan putri kami pada mu tapi kau malah membuatnya terluka."ucap Barham.


"Ham kita bisa bicarakan ini, tidak perlu semarah itu."ucap Henry.


"Ayah...jangan marahi Minho."ucap Meira menangsi.


"Mei jangan menangis."ucap Minho ingin mendekati pada Meira tapi ditaham oleh Barham.


"Kau tidak boleh mendekatinya, kau sudah membuat kesalahan jadi untuk sementara waktu kalian tidak boleh bertemu mau diluar atau pun dirumah. Meira kau kembali kerumah setelah keluar dari rumah sakit, ayah akan menyewakan guru les terbaik untuk mu."ucap Barham.


"Ayah tidak bisa seperti itu, aku ingin bersama Minho."ucap Meira.


"Ayah ku mohon, biarkan aku tetap bersama Meira."mohon Minho.


"Tidak...sekali tidak tetap tidak."


"Barham, kita bisa bicarakan ini baik-baik, kau tidak bisa seperti ini."ucap Hanry.


"Barham."


"Kau diam."bentak Barham pada Nara.


"Kenapa, aku ibu Meira aku berhak bicara, ini rumah sakit seharusnya kau bisa menjaga ketenagan di tempat ini."ucap Nara.

__ADS_1


"Putri ku masih sakit, kau tidak bisa seperti itu. Meira butuh Minho di sampingnya."ucap Nara.


"Keputusan ku sudah bulat, sebaiknya kalian pergi dan kau Minho jangan kau temui putri ku sampai aku yang mengijinkan kalian."ucap Barham.


"Ayah tidak...jangan seperti itu..hiks.." Meira sudah menangis tidak mau Minho pergi.


"Ayah ku mohon."


"Tidak....pergi."ucap Barham.


"Minho sudahlah, kau jangan memaksa ini kesalahan mu."ucap Henry.


"Ayah tidak...Minho jangan pergi.."ucap Meira ingin turun dari ranjangnya tapi Barham manahanya.


Henry dan Taera membawa Minho keluar, sedangkan Meira terus menangis.


"AYAH JAHAT..."teriak Meira.


"Ini demi keselamatan mu, lihat apa yang dia lakukan. Sudah dua kali kau terluka olehnya ayah tidak mau itu terjadi lagi."ucap Barham.


"Tapi bukan Minho yang melukai ku."ucap Meira Nara memeluk putrinya erat.


"Ayah tidak peduli, kau harus menuruti ayah, atau ayah tidak akan mengijinkan kalian tetap bersama."uncam Barham.


"Ayah tega...ayah jahat.."


Plak..


"BARHAM." Nara mendorong Barham menjauh lalu mengelus pipi Meira.


"Barham sudah...kenapa kau tega memukul anak mu sendiri."ucap Nara.


"Kau menampar Nara sama saja kau menyakiti ku Barham. Dia purtri mu jangan sekasar itu."ucap Nara lalu memeluk Meira erat.


"Kalian berdua itu sama saja. Kepala batu."ucap Barham lalu pergi dari kamar inap itu.


"Hiks...mamah.."Meira kembali menangis.


"Sssstttt ada mamah disini, tenangkan diri mu."ucap Nara.


"Minho...Meira mau Minho ada disini."ucap Meira.


"Iya...sayang...iya nanti mamah akan berusah membujuk ayah mu ya. Tenangkan diri mu."ucap Nara mengehapus air mata Meira.


"Kenapa ayah tega seperti itu pada Meira."ucap Meira menangis.


"Ayah sedang banyak pikiran jadi dia seperti itu."ucap Nara mengelus kepala Meira, gadis itu hanya diam.


"Sekarang kamu istirahat ya."ucap Nara membantu Meira menidurkan tubuhnya.


"Pipi mu jadi merah, mamah akan minta obat pada dokter mu nanti. Sekarang kau tidur dan istirahat lah."ucap Nara Meira mengangguk.


Nara keluar dari kamar inap itu untuk menemui dokter Kila.


¤¤¤¤¤

__ADS_1


"Kenapa kau bisa seperti itu Minho?"marah Hanry.


"Maaf ayah, Minho memang salah karena Minho meninggalkan Meira membuat dia marah dan sampai terluka."ucap Minho.


Mereka sekarang berada dirumah orang tua Minho.


"Kenapa kau meninggalkannya begitu saja hah, kau tau Meira belum pulih total."ucap Henry.


"Aku tau ayah, maafkan Minho."ucap Minho menunduk.


"Ayah sudahlah, setidaknya Minho sudah menyadari kesalahannya."ucap Taera.


"Ayah pun tidak menyalahkannya mah, ayah hanya heran kenapa semua itu bisa terjadi. Lihatkan bagaimana amarah Barham tadi."ucap Henry.


"Sifatnya masih saja sama seperti dulu."ucap Hanry.


Minho tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Ayah.."panggil Minho.


"Apa?"


"Apa ayah...mengenal Riko ayah Billa?"tanya Minho membuat Henry terdiam.


"Kenapa kau menanyakan tentangnya, ayah kenal dia teman baik ayah sama seperti Barham. Kami bertiga berteman cukup lama."jawab Henry.


"Oohh begitu."ucap Minho.


"Kenapa kau menanyakan hal itu Minho?"tanya Henry.


"Tidak papa ayah, Minho pulang dulu."ucap Minho lalu pergi begitu saja.


"Ini juga rumah mu Minho, tinggal lah di sini."ucap Taet.


"Lain kali mah."balas Minho lalu pergi.


"Selalu seperti itu, lain kali...lain kali..lain kali...bosan dengarnya."omel Taera.


"Sudahlah mah, putra mu itu lebih suka hidup mandiri."ucap Henry.


"Tapikan kita orang tuanya, seharusnya dia bisa membagi waktunya untuk tinggal disini jangan sendirian terus."ucap Taera.


"Aaahhh kau itu mengomel terus tentang sikap putra mu, bukan kah dia sudah seperti itu sejak dia memiliki perusahaannya sendiri biarkan saja."ucap Henri.


"Kenapa kau jadi marah pada ku, aku kan hanya menyampaikan isi hati ku. Aku rindu pada putra ku."ucap Taera kesal.


"Ya ya maaf...pijit kepala ku rasanya pusing sekali."pinta Henry.


"Iiiisss ada maunya aja lembut."ucap Taera lalu memijit kepala suaminya Henry hanya terkekeh melihat kekesalan istrinya.


....


Minho masuk kedalam mobilnya. "Jadi mereka adalah teman baik, lalu kenapa mereka menghancurkan bisnis paman Riko. Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum terjadi perkelahian."guman Minho.


Lalu dia meraih ponselnya dan menelpon Juan. "Hallo Juan, datang kerumah ku dan bawa berkas yang kau temukan itu dan ya jangan lupa kau juga harus tetap mengawasi Meira setelah ini."ucap Minho menyalakan mobilnya.


"Baik tuan."balas Juan.

__ADS_1


Lalu mobil itu pergi dari perkarang rumah itu.


__ADS_2