
Waktunya pulang sekolah, Meira hanya duduk diam dibangkunya Weni menoleh padanya.
"Meii.."
"Aku sudah keterlaluan bicara seperti itu pada Minho."ucap Meira yang menyadari kesalahannya bahkan selama pelajaran di mulai dia tidak fokus karena memikirkan Minho.
"Ya...memang sih kau terlalu jujur, tapi kau tidak sengaja karena kau sedang marah."ucap Weni dia berusah menyakinkan Meira tapi juga membenarkan perkataan Meria.
"Aku harus gimana? Minho pasti sangat marah pada ku."ucap Meira bahkan dia sudah hampir menangis.
"No...Meira.."panggil Juan dia pikir Meira sendirian di kelas dia berniat memanggil Nona ternyata ada Weni.
Meira menolah, Juan yang mendatanginya kekelas bukan Minho pasti cowok itu menghindarinya.
"Aku di minta untuk mengantar mu pulang."ucap Juan.
"Kenapa jadi kau, dimana Minho?"tanya Weni dia hanya bingung bukan cemburu mana mungkin dia cemburu pada Meira yang sudah memiliki calon suami.
"Minho...dia sudah pulang duluan."jawab Juan lalu melihat Meira yang menatapnya terkejud.
"Dia menghindari ku."gumam Meira air matanya mengalir.
"Hyyy...Mei jangan menangis."ucap Weni menghampiri Meira dan memeluknya.
"Kau itu bicara jujur sekali, bilang Minho nunggu di bawah kek atau di mobil kek."omel Weni sambil mengelus bahu Meira.
Juan hanya diam, dia tau Minho dan Meira sedang bertengkar.
"Hah...sudahlah tidak papa Wen...aku pulang duluan ya, atau kau mau nebeng? Juan akan mengantar mu nanti."ucap Meira berusaha menenangkan dirinya.
"Tidak....kau pulang saja, aku harus kekafe ibu ku, aku harus membantunya hari ini."ucap Weni.
"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu."ucap Meira Weni terseyum dan mengangguk.
"Awas kau membuatnya menangis."ancam Weni pada Juan cowok itu tidak peduli lalu melangkah bersama Meira.
Sesampainya di mobil Juan membukakan pintu untuk Meira, gadis itu masuk kedalam mobil.
Perlahan mobil itu pergi, seseorang yang sedari tadi memperhatikan terseyum miring. "Katanya calon istri Minho tapi lihat dia malah pulang dengan cowok lain, cih dasar murahan."ucap Gadis yang sudah mefoto Meira dan Juan tadi.
Sepanjang jalan Meira hanya diam,dia terus memikirkan Minho bagaimana caranya dia nanti menghadapi Minho.
"Nona.."panggil Juan.
"Hhmm.."
"Tuan sedang dikantor, dia menitipkan pesan setelah nona sampai rumah nona harus makan dan istirahat."ucap Juan.
"Hhmm."balas Meira.
__ADS_1
"Kenapa tidak memberitahu ku saja, dari pada menyampaikannya pada Juan."batin Meira.
Sesampainya di rumah, Meira langsung keluar begitu saja sebelum Juan membukakannya.
"Nona mengatakan yang tidak enak membuat tuan marah."gumam Juan.
Meira masuk kedalam kamar dan membanting pintu begitu saja, dia terduduk disudut ranjang.
"Hiks....bodoh...aku monster..."ucap Meira memeluk lututnya.
■■■■
Di kantor pikiran Minho terus memikirkan Meira.
"Kenapa aku menghindar seperti ini, aaakkhh bodoh...kau hanya membuatnya kepikiran Minho..."ucap Minho kesal lalu meraih kunci mobilnya.
Dia keluar dari dari ruangannya dan berpapasan dengan Juan.
"Tuan mau kemana?"tanya Juan.
"Lanjutkan perkerjaan ku."ucap Minho melangkah pergi.
Juan mantap Minho. "Pasti kepikiran."gumam Juan.
Minho mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya tidak enak tentang meira.
"Aaakh bodoh kenapa macet."teriak Minho melihat kemacetan yang cukup panjang didepannya.
Di rumah Meira terus menangis, dia merasa bersalah sekaligus takut. "Minho maafkan aku."gumam Meira.
"Aaakkkhhh aku monster..."teriak Meira mendorong meja membuat tanganya terluka.
"Akhhh..." tapi dia tidak peduli.
Perasaannya sudah sangat kacau sekarang, ditambah lagi beban pikirannya membuatnya tidak bisa tenang.
"AAAAKKKHHH." Meirah menghancurkan barang apa pun yang ada disana.
Dokter sudah bilang, bahwa keadaan Meira belum sepenuhnya pulih. Kesehatan mental itu terbilang cukup lama untuk membaik walau kau melihatnya baik-baik saja tapi tidak dengan perasaannya.
"AAAKKKHHHH....AKH.."tangan Meira kembali terluka tapi dia tidak mempedulikannya yang terpenting rasa panik itu hilang.
Minho yang baru saja sampai setelah 20 menit perjalanan langsung berlari kekamar Meira, dia mendengar barang-barang yang berjatuhan dari dalam kamar itu.
"Meira.."panggil Minho saat masuk kedalam kamar.
"Pergi...hiks...PERGI AKU TIDAK MAU MELIHAT..AAKAKKHHH..."tangis Meira semakin keras.
Minho berusaha mendekati Meira. "Hy maafkan aku, aku yang salah meninggilkan mu...sayang tenangkan diri mu."ucap Minho.
__ADS_1
"TIDAKKK....AKU TIDAK MAU....PERGI..." Meira melempar apa pun pada Minho cowok itu berusaha menghindari lemparan itu.
"Sayang ku mohon tenangkan dirimu."ucap Minho sungguh dia salah telah membuat Meira seperti ini.
"Pargi...kau pergi saja dengan Gadis aku tidak peduli. Kau meninggalkan ku...AAAAKKKKH KENAPA RASANYA SAKIT..."teriak Meira memukul dadanya.
Minho langsung mendekatinya dan memeluk Meira. "Sayang tenangkan diri mu, aku mohon tenangkan diri mu. Aku tidak pergi meninggalkan mu."ucap Minho Meira terus memekul dadanya.
"Sakit.."
"Iya..iya iya, maafkan aku. Aku yang salah maafkan aku."ucap minho menarik tangan Meira agar berhenti memukul dirinya sendiri.
"Tenangkan diri mu...sssssttt tenang.."ucap Minho.
Meira perlahan tenang dalam pelukan Minho, tapi tangisnya masih terdengar. Minho melihat lantai yang terdapat banyak bercak darah.
"Sayang kau terluka?"tanya Minho melihat darah masih mengalir dari tangan Meira.
Wajah Meira telihat pucat. "Ya ampu Meira." Minho menahan tubuh Meira yang hampir terjatuh.
Dengan cepat Minho mengangkat tubuh Meira dan membawanya pergi, dia harus cepat membawa gadis itu kerumas sakit karena luka cukup besar.
"Bertahanlah sayang aku mohon."gumam Minho dia membawa mobil itu melaju cepat.
Untung saja tidak ada kemacetan yang terjadi lagi,itu menguntungkan bagi Minho. Mobil itu melaju menuju rumah sakit.
Setelah sampai dengan cepat Minho membawa Meira masuk kedalam rumah sakit.
"DOKTER.."teriak Minho.
Dokter Kila yang saat itu lewat langsung menghampiri Minho.
"Oh ya ampun apa yang terjadi dengan Meira?"tanya Kila dokter pribadi Meira.
"Kepanikannya kembalai dan Meira melukai tanganya, dokter tolong selamat Meira."ucap Minho matanya sudah memerah takut.
Meira sudah di bawa masuk kedalam ruang periksan, untung saja dokter Kila yang mengananinya karena hanya dia yang suda tau dengan keadaan Meira.
"Bodohhhh....kau hanya membuatnya terluka.."ucap Minho meremas tambutnya dan menghempaskannya begitu saja.
Minho belum mengabari orang tua mereka, cowok itu yakin ayah Meira akan sangat merah jika melihat kondisi anaknya yang seperti itu, tapi Minho sudah mengabari Juan tadi untuk datang kerumah sakit.
Juan yang sudah datang berlari menghampirinya. "Tuan ada apa?"tanya Juan.
"Aku membuatnya terluka Juan seharusnya aku bisa menahan diri ku agar tidak menghindarinya, aku sudah tau keadaan Meira yang belum pulih tapi aku membuatnya terluka lagi."ucap Minho mengusap wajahnya kasar.
"Tuan...tadi disekolah nona juga menangis tapi untuk ada Weni yang menenangkannya, saya pikir nona sudah tenang karena saya melihat nona hanya duduk diam dibelakang."ucap Juan.
"Kau seharusnya mengajaknya bicara Juan jangan membiarkannya diam sendirian."ucap Minho marah.
__ADS_1
"Maaf tuan saya tidak tau."ucap Juan.
"Aaakhhh bodoh."ucap Minho.