
Saat sampai di ruangan Meira terkejud melihat pelayan itu terduduk dilantai.
"Sayang apa yang terjadi." Ucap Meira.
"Kenapa kau pergi lama sekali? Kau tidak tau wanita gila ini sudah berani menyentuh ku." Ucap Minho marah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Meira pelayan itu hanya diam menunduk.
"Pergi, sebelum aku semakin mempermalukan mu." Ucap Minho.
Pelayan itu menyesal telah bertindak jauh, dia begitu tertarik melihat ketampanan wajah Minho.
"Dasar wanita murahan." Ucap Minho sambil membersihkan huddynya.
"Ya ampun kenapa dengan huddy mu sayang?" Tanya Meira.
"Dia menumpahkan saos itu kehuddy ku, dan dengan beraninya dia menyentuh ku untuk membersihkannya. Aku tidak suka wanita lain menyentuh ku, hanya istri ku yang boleh menyentuhku." Jawab Minho Meira sedikit terseyum.
"Ya sudah tidak papa, itu hanya sedikit nanti sampai rumah minta Ina menyucinya agar tidak menempel lama di huddy mu." Ucap Meira Minho mengangguk.
Mereka melanjutkan acara makan itu, Minho terus menatap Meira ynag menikmati makannya.
"Jangan menatap ku terus Min.." Ucap Meira.
"Kau masih marah pada ku?" Tanya Minho.
"Tidak..." Jawak Meira menyuap daging gurita dalam mulutnya lalu tidak lama dia kembali memuntahkannya membuat Minho terkejud.
"Sayang kenapa?" Tanya Minho.
"Ada sesuatu dalam gurita itu." Ucap Meira melihat daging gurita itu.
Minho mengambil daging itu dan mencencarinya. "Sayang itu kotor." Ucap Meira.
"Hanya bekas mu tidak kotor." Ucap Minho dan dia menemuka sesuatu.
"Sialan..." Ucap Minho setelah melihat ada patahan silet di dalam daging itu.
Meira terkejud melihatnya, pantas saja seperti ada yang menggores lidahnya tadi, Meira meludah dan melihat ada darah di ludahannya.
Minho terlihat marah, dia melangkah keluar dari ruangan itu. "Sayangg..." Panggil Meria mengejar Minho.
"DIMANA PEMILIK RESTORAN INI?" Teriak Minho di tengah-tengan restoran itu di hadapan para pelayan.
"Maaf tuan memangnya ada apa?" Tanya seorang pelayan pria.
"Kau lihat ini, inikah namanya makan yang terjamin kebersihannya dan pelayan yang baik. JIKA DALAM MAKANAN ISTRI KU DI MASUKAN BENDA SEPERTI INI." Teriak Minho membuat para pelayan dan penghuni restoran itu terkejud.
__ADS_1
"Ma...maaf tuan, sepertinya itu ada kelalayan dari para koki." Ucap pelayan pria itu ketakutan.
"Sayang mulut ku perih." Ucap Meira mulai meraskaan perih dimulutnya.
"Apa? KALIAN LIHAT ISTRI KU TERLUKA, AKU AKAN MENUNTUT RESTORAN INI." Teriak Minho.
Dengan cepat pelayan pria itu pergi memanggil para Koki dan menejer restoran itu.
"Apa yang terjadi tuan?" Tanya Menejer restoran itu.
"Kau pemilik restoran ini? Kau lihat apa yang di lakukan oleh para perkerja mu." Ucap Minho menunjukan benda tajam itu.
Menejer itu terkejud. "Siapa yang melakukan ini?" Tanya menejer itu pada para perkerjannya.
"Kenapa para koki mu tidak bisa berkerja dengan baik." Ucap Minho.
"Maaf tuan, saya bisa menjamin bahwa masakan yang saya buat itu bersih tanpa ada benda seperti itu. Bahkan saya mencucinya dengan tangaan saya sendiri baru memasaknya, jika ada benda itu disana sudah pasti saya akan terluka juga." Ucap koki yang memasak masakan itu.
"Lalu kau mau menjelaskan ini apa? Kenapa bisa ada di makanan istri ku." Ucap Minho marah.
"Saya sungguh tidak tau tuan, jika saya melakukan hal itu koki lain juga pasti menegur sayang dan mengadu pada menejer karena kekurang ajarnya saya meletakan benda itu dimasakan saya." Ucap koki itu.
"Lalu siapa yang meletekannya?" Tanya Menejer.
"Saya juga tidak tau tuan, tapi yang mengantar pesanan ini adalah pelayan Desi tuan." Jawab koki itu membuat pelayan wanita itu terdiam.
"Kemari kau." Ucap Menejar wanita itu mendekat dan menunduk takut melihat tatapan tajam Minho.
"I...iya t..tuan." Ucap Desi.
"Apa benar kau yang melayani tuan dan nona muda?" Tanya menejer.
"Iya tuan." Jawab Desi.
"Lalu apa kau yang meletakan benda itu didalam makanan nona muda?" Tanya menejer.
"Ti..tidak.."
"BOHONG...KAU WANITA SIALAN JAWAB YANG JUJUR. Pasti kau yang meletakan benda itu." Teriak Minho membuat Desi ketakutan.
"Maaf tuan." Minho melotot dan siap menampar Desi tapi Meira menahannya.
"Jangan sayang dia seorang wanita." Ucap Meira.
"Dia telah melukai mu sayang, kenapa kau masih bersikap baik padanya?" Tanya Minho.
"Tanyakan dulu dia sengaja melakukannya atau itu tanpa disengaja." Ucap Meira Minho diam.
__ADS_1
"Sekarang katakan kau sengaja atau tidak?" Tanya Meira.
"Maaf nona."
"Jawab sengaja atau tidak, jangan hanya berkata maaf." Ucap Meira keras bahkan wanita itu tidak kalah menakukannya dari suaminya.
"Sa...saya...sengaja.." Ucap Desi.
"Silan beraninya kau." Minho langsung menedang Desi begitu saja.
"MINHO." tegur Meira.
Semua orang terlihat takut bahkan pelayan itu merinding melihatnya, Desi tersungkur di lantai perutnya terasa sakit.
"APA MAKSUD MU HAH?BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU PADA ISTRI KU." Teriak Minho menarik rambut wanita itu.
"Maafkan saya tuan...akhh....saya kira pesanan itu untuk tuan dan saya ingin membalas perkataan tuan karena saya sakit hati mendengarnya." Ucap Desi takut.
"Dasar wanita murahan." Ucap Minho menghempas kepala itu begitu saja.
"Aku tidak mau tau, keluarkan dia dari restoran ini dan buat hidupnya sengsara atau restoran ini akan saya tutup dan menghancurkannya rata dengan tanah." Ucap Minho.
"Tidak tuan jangan, saya akan menuruti keinginan tuan. Saya akan memecatnya dan memastikan tidak ada tempat dimana pun yang mau memperkerjakannya agar hidupnya sesngsara." Ucap Menejer itu memohon.
"Bagus..jika aku masih melihatnya berkerja disini, maka aku pastikan restoran ini rata dengan tanah." Ucap Minho lallu merangkul Meira yang hanya diam menatap Desi yang tidak mampu lagi membendung tangisnya.
"Sayang kau terlalu kasar, kasihan Desi." Ucap Meira.
"Kau masih mengasihani orang yang sudah melukai mu, pantas saja kau terus memikirkan Billa yang yang sudah jelas menyakiti mu. Aku heran pada mu, kapan kau sekali saja menurut pada ku." Ucap Minho melepas rangkulannya lalu pergi begitu saja.
Meira terdiam, Minho masih dalam keadaan marah. Meira menyusul kepergian Minho.
Saat memasuki mobil dia melihat Minho menatap poselnya lalu setelah itu dimatikannya.
"Siapa?" Tanya Meira.
"Tidak penting." Jawab Minho dingin.
Meira hanya diam melihat sikap Minho.
"Kita kerumah sakit untuk mengecek mulut mu." Ucap Minho.
"Iya." Balas Meira, Minho sama sekali tidak melihatnya bahkan melirik pun tidak.
Pasti Minho sangat marah sampai dia bersikap seperti itu juga padanya. "Seharunya aku tidak terlalu mengaturnya." Batin Meira lalu menatap keluar kaca.
Minho melirik Meira. "Maaf sayang, aku tidak bisa mengendalikan amarah ku. Aku benci jika ada seseorang yang melukai mu." Batin Minho lalu kembali fokus dengan jalanan.
__ADS_1