Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
kita akan bersama lagi


__ADS_3

3 hari kemudian


"Mungkin akan lebih baik seperti ini, kakak merindukan mu adik ku kita akan segera bertemu." ucap seseorang sambil menatap keluar jendela kamar inap.


Dia melepas selang infus yang tertancap di punggung tangannya, lalu turun dari ranjang pasiennya.


"Maafkan aku Meira."


......


Di kantor Minho sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Permisi tuan ini berkas yang anda minta." ucap Juan.


"Letakan saja di meja. Oh iya apa kau sudah mengirim pengawal untuk menjaga Junggo?" Tanya Minho.


"Sudah tuan, saya sudah mengirim Yuho dan anak buahnya untuk menjaga." jawab Juan.


"Baguslah kalau begitu." ucap Minho.


"Tapi tuan, memangnya ada apa, kenapa Junggo harus di jaga seperti itu?" tanya Juan bingung.


"Tidak papa, hanya agar istri ku tidak khawatir saja. Kau harus terus awas saja pekerjaan mereka." jawab Minho dia tidak mungkin mejelaskan apa masalahnya.


"Baiklah tuan, tuan apa kau sudah membaca surat yang saya berikan kemarin?" tanya Juan.


"Belum, aku lupa menaruhnya dimana, ah sepertinya tertinggal di meja kamar." jawab Minho kembali fokus pada pekerjaannya.


"Begitu ya." ucap Juan lalu matanya melihat ada amplop coklat di atas meja Minho.


"Tuan amplopnya ada di sini." ucap Juan memberikannya pada Minho.


"Terimakasih Juan, aku melupakannya, aku terlalu banyak pikiran." ucap Minho menerima amplop membuka dan mulai membacanya.


"Tuan pasti memikirkan tentang Junggo?" tanya Juan.


"Iya Juan aku khawatir Junggo.." Minho tiba-tiba teringat akan sesuatu, jika surat ini di sini, lalu yang di atas meja yang malam tadi dia letakan itu surat apa.


"Apa tuan?"


"Surat itu.." ucap Minho beranjak dari duduknya mengambil jas kantornya.


"Juan ikut dengan ku." ucap Minho melangkah pergi.


"Baik tuan." walau bingung tapi Juan hanya mengikutinya.


"Jangan sampai Meira membacanya." batin Minho


_-_-_-_-_-_-_-_-_


Meira terlihat sibuk menatap layar ponselnya , dia bingung ingin membelikan hadiah apa untuk Junggo karena besok adalah ulang tahun Junggo.


"Aku belikan dia apa ya, aku harus bisa membuat Junggo bahagia kembali." gumam Meira yang sedang duduk diam di pinggir ranjang.

__ADS_1


Lalu matanya tidak sengaja melihat sebuah amplop di atas meja samping laptop kerja.


"Ini amplop apa?, Minho tidak memberitahu ku jika mendapatkan uang." gumam Meira mengira bahwa itu berisikan sebuah uang.


Meira membuka amplop itu. "Surat. Aaahh apa ini surat cinta dari penggemarnya di kantor? Awas saja dia nanti." gumam Meira mulai membaca isi surat itu.


Matanya mengikuti setiap kata yang ada di surat itu. Meira terdiam setelah membawa isi surat itu. Air matanya perlahan mengalir.


"Junggo." ucap Meira dia langsung beranjak pergi dari kamarnya.


"Aku harus menghentikannya." ucap Neira meremas surat itu lalu pergi begitu saja tidak menghiraukan panggilan Ivi.


"Nona, nona mau kemana?" tanya Ivi tapi Meira tidak mendengarkannya.


"Kenapa nona terburu sekali, apa terjadi sesuatu." gumam Ivi.


Tidak beberapa lama, Minho datang dengan terburu.


"Tuan." Ivi menunduk memberi hormat.


Minho melewatinya begitu saja melangkah menuju kamar. Ivi yang kebingungan hanya diam.


"Ivi di mana istri ku?" tanya Minho tidak sabaran.


"Tadi saya melihat nona pergi begitu saja, saya tidak tau tujuan nona kemana tapi saja melihat nona membawa sebuah kertas di tangannya." jawab Ivi.


"Sial, Juan kita ke rumah sakit sekarang." ucap Minho melangkah pergi begitu saja dan Juan hanya mengikutinya.


"Semoga tidak terjadi sesuatu." gumam Ivi.


"Tuan sebenarnya ada apa?" tanya Juan.


"Aakhhh....Junggo berniat bunuh diri."


(+)(+)


Meira sampai di rumah sakit, dia berlari memasuki rumah sakit itu dan melangkah menuju kamar inap Junggo.


Yuho yang saat itu masih menjaga kebingungan melihat Meira yang datang dengan tergesa.


"Nona ada apa?" tanya Yuho.


"Aku ingin melihat Junggo." ucap Meira memaksa masuk dan melihat kamar itu kosong.


Yuho pun keheranan, kemana perginya Junggo tidak mungkin dia bisa keluar begitu saja saat mereka menjaga.


"Gibran.." panggil Yuho Gibran masuk kedalam kamar.


"Ada apa?"


"Kemana kau saat giliran menjaga tadi?" tanya Yuho dia tau tadi sebelum dia Gibran yang menjaga.


"Aku pergi ke toilet, memangnya ada apa?" tanya Gibran bingung.

__ADS_1


"Kau tidak lihat bodoh Junggo kabur." ucap Yuho marah.


Meira sudah panik dia tidak bisa tenang, Junggo pergi entah kemana di dalam surat itu jelas tertulis bahwa Junggo pamit untuk pergi menyusul Billa, sudah jelas bahwa pria itu berniat bunuh diri.


"Hiks...Junggo." Meira sudah menangis terduduk di lantai Yuho langsung menahan tubuh Meira.


"Cepat panggil tuan muda." ucap Yuho Gibran mengangguk dan meraih ponselnya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. "Jangan lompat nak."


Itu suara ibu-ibu, Gibran mendekati jendela dan melihat kebawah melihat ibu-ibu itu melihat keatas, Gibran juga ikut melihat keatas dan apa yang ada di sana Junggo berdiri di pinggir pembatas.


"Junggo ada di lantai atas." ucap Gibran.


Meira terdiam, lalu dia berdiri begitu saja dan berlari keluar.


"Nona.." panggil Yuho mengejar Meira begitu juga Gibran.


Bertepatan dengan itu Minho juga baru sampai di rumah sakit dan melihat keributan itu. Dia dan Juan melihat Junggo ada di pinggir pembatas gedung.


"Junggo apa yang kau lakukan!!." teriak Minho lalu lari kedalam rumah sakit di ikuti oleh Juan.


Junggo menghelakan nafasnya. "Adik ku, kita akan bersama lagi. Tunggu kakak." ucap Junggo siap untuk menjatuhkan badannya tapi suara seseorang menghentikannya.


"Ku mohon berhenti!!" teriak Meira yang baru sampai di lantai atas.


"Ku mohon Junggo berhenti...hiks.." ucap Neira menangis.


Junggo membalikan tubuhnya menghadap Meira dan tersenyum. "Seharusnya kau membaca surat itu saat hari ulang tahun ku." ucap Junggo Meira hanya diam.


Sampai pintu roftop kembali terbuka memperlihatkan Yuho Gibran dan di susul oleh Minho dan Juan.


"Junggo hentikan." ucap Minho.


"Kau harusnya memberikan surat itu besok Minho." ucap Junggo Meira menatap Minho.


"Kau mengetahui hal ini?" tanya Meira.


"Sayang maafkan aku, aku pun terkejut membaca isi pesan di surat itu. Maka dari itu aku meminta pengawal menjaga Junggo tapi tetap saja dia bisa kabur." ucap Minho Meira menatap Junggo.


"Ku mohon Junggo, jangan seperti ini...aku adik mu, kau menyayangi ku bukan, kau ingin meninggalkan adik mu ini hah?" tanya Meira air matanya masih terus mengalir.


"Kau adik ku dan aku juga menyayangi mu, tapi aku membutuhkan Billa di samping ku dan aku rasa ini cara ku agar bisa bertemu dengannya." ucap Junggo tersenyum.


Meira menggeleng. "Tidak..hiks..ku mohon jangan Junggo....KU MOHON HENTIKAN INI ATAU AKU AKAN MEMBENCI MU." teriak Meira Junggo hanya tersenyum.


"Kau cantik saat marah seperti itu, kau sudah membaca semua isi pesan itu kan jadi tidak ada yang perlu aku sampai kan lagi." ucap Junggo.


"JUNGGO JANGAN GILA." marah Minho.


Junggo hanya tersenyum. "Jaga Meira Minho." Junggo menjatuhkan diri.


"TIDAKKKK..."

__ADS_1


"JUNGGO."


__ADS_2