
Hari ini adalah hari yang di tunggu, tentu saja siapa yang tidak senang dengan hari libur karena itu waktunya bagi seseorang menghabiskan harinya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Seperti Meira dia masih tertidur pulas diatas ranjangnya. Sampai...
Buk..
"Bangun."ucap Minho yang melemparnya bantal.
"Aaaaa nanti saja."ucap Meira melempar balik bantal itu.
"Bangun Mei....aku lapar cepat buatkan aku makan."ucap Minho.
"Apa peduli ku, lagi pula di rumah ini ada pelayan minta saja pada mereka."ucap Meira Minho menarik tanganya.
"Ayo cepat bangun, apa saat menikah nanti kau akan tetap seperti ini?"ucap Minho.
"Memangnya ku mau menikah dengan mu."balas Meira menatap cowok itu kesal.
"Kau lupa dengan cinci di hari manis mu itu?"tanya Minho.
"Walau kita terikat dengan hubungan pertunangan bukan berati kita akan menikah nanti."ucap Meira melihat jari manisnya tapi tidak ada cincin disana.
"Lihat aku menghilangkannya, itu artinya pertunangan kita akan batal."ucap Meira Minho menunjukan sesuatu ditanganya.
"Aku menemukannya di saku seragam mu sebelum pelayan mencucinya."ucap Minho memasang kembali cincin itu kejari Meira.
"Ayo cepat bangun Mei."ucap Minho.
"Aaaaish kau berisik sekali, lebih dari pada mamah."ucap Meira menepis tangan Minho.
"Bangun sekarang juga atau..." Minho mengantung ucapannya.
"Atau apa?"tanya Meira Minho terseyum lalu ikut naik keatas ranjang itu.
"Minho apa yang kau lakukan?"tanya Meira menghindari dari cowok itu tapi Minho sudah mengepungnya dengan menahan kedua tangan Meira di sisi kiri dan kanan kenapalanya.
"Kau taukan, kau dititipkan pada ku jelas kau tanggung jawab ku. Jadi aku berhak melakukan apa pun pada mu, lagi pula aku calon suami mu sayang apa yang kau takutkan."ucap Minhon menatap Meira lekat gadis itu hanya terdiam.
Wajah Minho perlahan mendekat, Meira memejamkan matanya sambil berusaha menghindar. Hampir saja bibir mereka bertemu tapi Minho mengalihkan bibirnya kearah leher Meira dan menciumnya membuat gadis itu memebeku.
"Atau aku akan melakukannya sekarang, mamah sudah meminta cucu pada kita."ucap Minho sekali lagi mencium leher itu lalu beranjak.
"Sekarang bangun atau aku akan melakukan lebih dari itu."ucap Minho lalu melangkah pergi keluar dari kamar.
__ADS_1
Meira masih terdiam, dia meneguk air ludahnya dan melirik kearah pintu. Pipinya terasa panas.
"Aaaaakkkhh sialan...dasar cowok mesum."teriak Meira melempar semua yang ada diranjangnya kearah pintu.
Sedangkan Minho hanya terseyum mendengar teriakan itu dan melanjutkan langkahnya.
~○~○~○~○~○~
Meira selesai dari ritual mandinya dan bersiap. Selesai memakai bajunya Meira melangkah menuju meja riasnya, saat melihat bayangan dirinya ingatan tadi pagi tebayang dikepalanya.
"Uuuu...kenapa rasanya geli sekali."gumam Meira masih teringat ciuman di lehernya itu.
Miera melangkah kelauar dari kamar dan pergi menuju tangga melangkah menuruninya. Sesampainya di ruang makan Meira memanghil Ina selaku pelayan di rumah itu.
"Ina seiapakan sarapan ku."ucap Meira lalu duduk dimeja makan.
Tiba-tiba seseorang menariknya untuk berdiri. "Iii apa-apaan sih."ucap Meira melepas tangannya dari orang itu.
"Ina tidak ada dirumah, aku menyuruhnya keluar membelikan ku sesuatu. Sekarang kau yang harus memasak sarapannkita."ucap Minho.
"Apa? Jangan gila. Aku tidak mau."tolak Meira melipat tanganya didada.
"Oh kau menolak, ini pesan dari ayah mu bahwa aku harus mengajari mu bagaimana caranya menajadi calon istri yang baik dan salah aatu contoh dengan memasak makanan untuk ku."ucap Minho.
"Hy tuan, kapan ayah ku mengatakan hal itu."ucap Meira.
"Telpon saja aku tidak takut."ucap Meira Minho terseyum.
"Okey baiklah."ucap Minho meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Minho ada apa, apa Meira melakukan sesuatu?"tanya seseorang disebrang sana Meira membulatkan matanya itu suara ayahnya.
"Ayah..." belum sempat Minho berucap Meira lebih dulu merebut ponsel itu.
"Tidak ada apa-apa ayah, maaf mengangguk waktu ayah. Da ayah aku matikan cepatlah pulang, aku sayang ayah."ucap Meira lalu mematikan sambungan telpon itu.
"Dasar pengadu."ucap Meira lalu melangkah menuju dapur.
"Hy nona ponsel ku."ucap Minho Meira melepar ponsel itu padanya.
Untung saja Minho bisa menangkapanya, Minho terseyum menang. Setidaknya selama 2 hari libur ini dia akan menghabiskan waktunya bersama Meira, dan mengajari gadis itu menjadi istri yang baik.
Tidak terlalu lama Minho menunggu Meira masak. Gadis itu telah selesai dan melangkah mendekatinya.
__ADS_1
"Ini..."ucap Meira menyerahkan sepiring nasi goreng pada Minho.
"Kasar sekali."ucap Minho lalu melihat wujud nasi goreng itu.
Dari warna dan wanginya nasi goreng itu terlihat baik-baik saja. Minho mulai menyuap satu sendok kedalam mulutnya dan mulai menguyah merasakan masakan itu.
Meira menatap cowok itu yang hanya diam. "Kenapa? Tidak enak ya?"tanya Meira karena penasaran Meira ingin menyuap miliknya juga.
Satu sendok masuk kedalam mulutnya dan dia rasa itu enak. "Ini enak, tapi kau terdiam?"tanya Meira.
Minho berlari kewestapel dapur dan memuntahkan nasi goreng itu.
"Miho.."panggil Meira yang menyusul cowok itu.
"Kau kenapa?"tanya Miera.
"Apa kau memakai bawang bombai?"tanya Minho.
"Iya karena aku suka bawang bumbang dari pada bawah putih dan merah."jawab Meira.
"Aku elergi bawang bombai."ucap Minho yang mulai terbatuk.
"Apa? Minho maafkan aku, aku tidak tau tentang hal itu."ucap Meira merasa bersalah smabil berusaha menglus punggung Minho.
Tapi cowok itu menepisnya. "Panggilkan aku dokter cepat."ucap Minho Meira cepat-cepat pergi dan memanggilkan dokter untuk Minho.
....
"Dokter bagaimana keadaannya?"tanya Meira saat dokter itu selesai menyimpan alat-alatnya.
"Tuan muda perdangan pada mulutnya, sekitar tenggorokannya berubah merah."jawab Dokter.
Meira terlihat khawair. "Apa itu sangat parah?"tanya Meira.
"Untungnya tidak terlalu, tapi tetap saja itu menyakiti tuan muda. Ini resep obatnya, kau harus rutin memberikannya obat ini agar cepat sembuh."ucap dokter itu memberikan resep obat pada Meira.
"Terimakasih dok, mari saya antar sampai depan."ucap Meira mengantar dokter itu.
Didalam kamar Minho hanya diam menidurkan dirinya, tonggorokannya terasa panas.
Meira kembali memasuki kamar itu dan menghampirinya. "Minho maafkan aku, jika aku tau tidak mungkin aku memasukan bawah bombai itu kedalam nasi goreng buatan ku."ucap Meira merasa bersalah bahwan gadis itu seperti ingin menangis.
"Sudahlah...ukhm...aku tidak papa."ucap Minho mengekus pipi Meira.
__ADS_1
"Tidak...aku akan merawat mu sampai sembuh, ini kesalahan ku. Kau tunggu di sini, aku akan membelikan obat ini untuk mu."ucap Meira lalu melangkah pergi.
Minho terseyum ternayata ada sisi baik dari gadis itu. "Aku pikir dia tidak bisa selembut itu."gumam Minho.