Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
tempat mengadu


__ADS_3

Meira menatap nampan yang berisikan semangkok bubur di depannya, kata-kata Billa terus terngiang di kelapanya. Minho memasuki kamar inap Meira dan menatap gadis itu duduk termenung di atas ranjang rumah sakitnya.


Minho mendekat dan menyentuh tangan Meira membuat gadis itu tersadar. "Kau kenapa sayang?"tanya Minho menatap Meira khawatir lalu duduk ditepian ranjang rumah sakit itu.


Meira terseyum. "Tidak papa."jawab Meira lalu menyuap bubur itu dalam mulutnya.


Minho menatapnya sambil merapikan anak rambut Meira. "Sayang.."panggil Minho Meira mengalihkan pandanganya.


"Kenapa?"


"Apa....apa benar kau memiliki riwayat depresi?"tanya Minho membuat Meira tertegun.


"Dari mana.."


"Dokter menjelaskan pada ku kemarin saat meminta ku keruangannya, dia dokter pribadi mu yang sesalalu memeriksa keadaan mu bukan?"tanya Minho Meira menghelakan nafasnya.


"Iya....dokter Kila yang mengobati ku kemarin adalah dokter pribadi ku."jawab Meira.


"Apa ayah dan mamah tau soal keadaan mu?"tanya Minho menatap Meira lekat.


"Hanya mamah yang tau."jawab Meira menunduk.


"Sajak kapan?"tanya Minho.


"Sejak kejadian waktu smp."jawab Meira.


"Kenapa? Kau tidak mau dengan ku, karena takut aku akan menjadi gila?"tanya Meira matanya sudah berkaca menatap Minho.


"Hyy...tidak seperti itu, aku menghawatirkan mu sayang, jika ada yang kau pikirkan cerita pada ku berbagi dengan ku, aku tidak mau kau sakit."ucap Minho air mata Meira mengalir.


"Aku takut Min...hiks...aku takut..."ucap Meira Minho menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Hiks...dia mengatakan akan menghancurkan semuanya....ayah ku tidak mungkin seperti itu..hiks..." Minho semakin erat memeluknya.


"Ssssttttt....tenangkan diri mu, keadaan mu belum pulih total."ucap Minho.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang jika kata-kata itu terus terngiang di kepala ku."ucap Meira Minho mencium keningnya.


"Iya sayang aku paham aku mendengar semuanya yang kalian bicarakan waktu itu...sssssttttt ku mohon berhenti menangis.."ucap Minho dadanya terasa sesak melihat Meira menangis.


"Jangan tinggakan aku.....hanya kau tempat ku mengadu."ucap Meira Minho mengangguk semakin memeluk Meira erat.


"Tidak sayang aku tidak akan meninggalkan mu....ssssttt tenang lah, ku mohon tenangkan diri mu."ucap Minho isak tangis Meira masih terdangat tapi tidak sekeras yang tadi.


Minho terus mengelus punggung itu lembut dan sesekali mencium pucuk kepala Meira. "Aku akan membantu mu sayang, akut tidak akan membiarkan diri mu memikirkan hal itu terus."batin Minho.


Meira melepas pelukannya dan memberikan Minho nampan berisikan semangkok bubur itu, membuat Minho bingung.


"Kenapa? Tidak ingin memakannya lagi?" Meira menggeleng.


"Lalu kau ingin apa sayang? Kau ingin makan yang lain? Biar aku belikan, katakan kau ingin makan apa? Bakso, mie ayam, atau kau ingin aku masakan nasi goreng?"tanya Minho membuat Meira terkekeh sambil menggeleng.


"Aku tidak mau itu, aku minta kau suapin aku"ucap Meira manja melihat Meira yang seperti itu membuat Minho gemas.


"Kenapa tidak bilang, kau membuat ku bingung sekaligus gemas dengan sikap manja mu itu."ucap Minho mencubit pipi Meira membuat gadis itu terseyum.


"Iya iya sabar."ucap Minho mengambil mengkok bubur itu dan meletakan nampannya di atas meja.


"Cahh buka mulut mu...aaa" Meira membuka mulutnya dan menerima suapan dari Minho.


Cowok itu terseyum melihat Meira yang mau makan. "Jangan sedih lagi ya, aku ada untuk mu dan jangan pernah menutupi apa pun. Ceritakan pada ku dan aku akan sangat siap mendengar cerita apa pun dari mu, aku terus melindungi mu sayang tidak akan ku biarkan siapa pun mengganggu mu."ucap Minho Meira terseyum dan mengangguk.


"Terimakasih."ucap Meira Minho mencubit pipinya pelan.


"Tidak perlu berterimakasih, kau tanggung jawab ku. Orang tua mu sudah menyarahkan mu pada ku jadi aku yang akan selalu menjaga mu."ucap Minho Meira terseyum dan mengangguk.


Minho pun terseyum lalu melanjutkan suapannya. Minho begitu perhatian dan sangat lembut memperlakukan Meira, membuat gadis itu perlahan luluh.


♡♡♡♡♡


Sudah seminggu lebih Meira di rawat dan sekarang dia sudah diijinkan pulang, dokter sudah mengatakan bahwa Meira masih harus banyak istirahat karena tekanannya bisa saja kembuh bila dia terlalu lelah dan banyak pikiran, tentu saja Minho tidak akan membiarkan hal itu karena dia akan terus membuat Meira terseyum bagaimana pun caranya.

__ADS_1


Orang tua Meira sedang sibuk karena ada urusan lain, jadi Minho lah yang menemani Meira berkemas. Tapi bukannya berkemas Minho sibuk membuat Meira tertawa.


"Sudahlah berhenti bercanda."ucap Meira kesal tapi dia tidak ada hentinya tertawa perutnya sudah sangat sakit karena tertawa.


"Hy aku mengatakan fakta...setelah itu kau tau dia masuk kedalam selokan bersama sepedanya dan tubuhnya di penuhi lumpur di selokan itu."ucap Minho membuat Meira tertawa keras.


"Hahahahahahah....kasian sekali kenapa kau jahat padanya Min seharusnya kau menolongnya, kau tau dia baru bisa naik sepeda kenapa kau lepas begitu saja."ucap Meira sambil tertawa Minho terseyum melihatnya


"Bagaimana mau menolongnya dia yang terlalu percaya diri minta dilepas ya aku lepas."ucap Minho Meira terkekeh.


"Jadi kau dan juan dari kecil sudah berteman?"tanya Meira karena mereka sedang menceritakan masa kecil Minho dan Juan.


"Iya sekitar umur 9 tahun mungkin kami sudah saling mengenal, tapi sayangnya dia sempat pindah sekolah setelah lulus dari sekolah dasar dan kembali kesini lagi."jawab Minho.


"Dan kau langsung jadikan dia sekretaris mu?"tanya Meira.


"Hhmm sekaligus asisten ku....kau tidak tau, Juan itu pintar dalam segala hal diluar saja dia terlihat bodoh dan seperti anak kecil tapi sebenarnya tidak, dia akan bersikap tegas di saat tertentu."jawab Minho Meira mengangguk mengerti.


Tiba-tiba pintu kamar inap terbuka memperlihatkan Juan, Meira yang mengingat cerita Minho tidak bisa menahan tawanya.


Membuat cowok itu bingung. "Tuan ada apa dengan nona?"tanya Juan.


Minho hanya menahan tawa. "Sudah tidak papa, kau bawa ini kemobil."ucap Minho memberikan tas baju Meira.


"Baik tuan."ucap Juan lalu kembali melangkah keluar.


Minho mendekati Meira. "Ayo pulang sayang."ucap Minho menyulurkan tanganya, Meira berusaha menahan tawanya dan menyambut uluran tangan Minho .


Mereka melangkah bersama keluar dari rumah sakit itu. Meira terus melihat kearah Minho yang menatap lurus kedepan.


"Aku tau kau sedang berusaha menghibur ku agar aku melupakan masalah ayah ku, terimakasih sayang. Aku mencintai mu."batin Meira menyandarkan kepalanya pada bahu Minho.


"Kenapa?"tanya Minho Meira hanya menggeleng.


Minho merangkul Meira dan melanjutkan langkahnya menuju mobil. Sesampainya di mobil Minho membukakan pintu untuk Meira dan gadis itu pun masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Mobil itu perlahan melaju meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2