
Minho sudah menceritakan semuanya membuat Meira terdiam.
"Jadi kau anak kecil gendut itu?" Tanya Meira tidak percaya.
"Iya sayang itu aku, bahkan kaca mata yang aku pakai ini bukan milik ku." Ucap Minho melepas kaca mata itu dan memberikannya pada Meira.
Meira melihat kaca mata itu dan memperhatikannya, ada goresan kecil yang bertuliskan namanya tapi sudah sedikit memudar.
Meira terdiam. "Aku selalu menunggu mu pulang sekolah berharap bisa bertemu dan mengembalikan kaca mata mu, tapi aku tidak menemukan mu. Jadi aku memutuskan untuk memakainya sampai sekarang agar tidak hilang, sayang...aku tidak menyaka anak perempuan yang aku kagumi waktu dulu adalah kau yang sekarang menjadi istri ku, pantas saja aku selalu suka melihat mu melawan orang-orang yang berani mengganggu mu." Ucap Minho.
Meira menatapnya, menatap mata Minho lekat lalu mengelus pipi Minho lembut. "Aku baru sadar bahkan warna mata mu sama dengan anak laki-laki itu, kenapa kau tidak menceritakannya pada ku." Ucap Meira.
"Bagaimana aku bisa menceritakannya jika aku saja tidak sadar jika dia adalah kau, bahkan nama dikaca mata itu sedikit memudar membuat ku tidak bisa membacanya dengan baik" Ucap Minho.
Meira menangkup wajah Minho. "Ini kah yang dinamakan jodoh." Ucap Meira Minho terkekeh.
"Aku pikir aku tidak akan bisa menemukan mu, ternyata tanpa aku sadari tuhan mempertemukan kita lagi." Ucap Minho Meira terseyum.
"Kenapa bisa?" Tanya Meira.
"Kenapa bisa apanya?" Tanya Minho.
"Kenapa bisa babi gendut dulu, berubah jadi setampan ini." Ucap Meira.
"Sayang..." Ucap Minho Meira terkekeh lalu memeluk cowok itu erat.
Minho memebalas pelukan itu. "Ini yang namanya hati tidak pernah salah memilih." Ucap Minho Meira mengangguk.
"Maaf jika aku awalnya sempat bersikap buruk pada mu." Ucap Meira.
"Tidak papa sayang, setidaknya sekarang aku tau kau adalah orang yang sama selama ini aku cari." Ucap Minho.
Meira menatap Minho. "Lalu dimana ikat rambut ku?" Tanya Meira.
"Aku menyimpannya di kotak berwarna emas." Jawan Minho.
"Baiklah aku akan mencarinya nanti setelah kita pulang." Ucap Meira kembali memeluk Minho erat.
Minho terseyum dan mencium pucuk kepala itu lembut. "Ternyata cinta pertama ku adalah jodoh ku sendiri, Si cupu ini mejadi jodoh ku." Ucap Minho.
"Issshh kau jahat sekali bilang aku cupu, sudah aku bilang akau memakainya hanya tidak ingin di dibuly teman lain, tapi tetap jadi bahan bulyan." Ucap Meira.
__ADS_1
"Dan sok jagoan menolong ku padahal kau sendiri cengeng." Ucap Minho.
"Aaaa sayang...jangan mengingat yang itu kau jahat sekali." Ucap Meira memukul pungung minho.
"Hahahaha maaf..maaf.. sekarang biarkan saja mereka mau berkata apa, yang terpenting kau milik ku sekarang. Tidak akan ku biarkan mereka mengganggu istri ku lagi." Ucap Minho Meira terseyum dan mengangguk.
》》》》
"Kalian langsung pulang? Tidak mau menginap dulu?" Tanya Nara.
"Tidak mah, lain kali saja. Minho banyak kerjaan di rumah." Ucap Meira.
"Oohh iya kau benar, kerjaan membuatkan cucu untuk kami." Ucap Barham.
"Ayah bukan itu..." Ucap Meira kesal ketiga orang itu hanya terkekeh.
"Iya iya ayah paham, ya sudah hati-hati dijalan." Ucao Barham.
"Iya ayah." Balas Minho dan Meira.
"Minho setelah menadapatkan bukti lagi kabari ayah." Ucap Barham.
"Siap ayah." Balas Minho.
"Aku jadi sedih karena menjodoh kan Meira terlalu cepat, sekarang rumah kita sepi." Ucap Barham.
"Sayang...jangan seperti itu, Meira sudah bahagia dengan pernikahannya kita hanya perlu mengawasi dan menjaga mereka dari jauh." Ucap Nara.
"Yahh..kau benar, ayo kita buat anak lagi."
"Sayang ingat umur." Ucap Nara tapi Barham tidak peduli diangkatnya tubuh istrinya dan membawa kekamar mereka.
Ah sudahlah hanya mereka yang tau.
Sesampainya dirumah, Meira langsung membuaka pintunya sendiri melangakh masuk kedalam rumah.
"Dasar tidak sabaran." Gumam Minho mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil dan membawanya masuk.
Meira sudah mencari kota berwarna emas, tapi belum ketemu. "Dimana sih dia meletakanya." Guman Meria.
"Mencari apa sayang?" Tanya Minho bingung.
__ADS_1
"Kota emas yang kau bilang." Jawab Meira.
"Ya ampun, aku menyimpannya dilaci meja pojok itu." Ucap Minho Meira menatap meja pojok dan belari kearah meja itu.
Minho hanya mengeleng heran. "Ketemu." Ucap Meira lalu membawa kotak itu dan duduk ditepian ranjang.
Membuka kotak itu, dilihatnya didalam kotak itu berisikan foto Meira masih kecil.
"Kau mefoto ku?" Tanya Meira Minho menolah.
Minho terseyum. "Sudah aku bilang aku mengangumi mu sejak dulu, saat tidak tau ternyata disma aku bertemu dengan orang yang sama dan aku kembali menyukai mu." Jelas Minho sambil melangakh merapikan barang Meira.
Gadis itu terus menatap satu persatu foto-foto itu dan melihat kotak kecil lagi dalamnya diambilnya kotak itu dan membukanya, disana tersimpan ikat rambut merah miliknya terlihat masih bersih.
"Aku selalu menjaga kerberaihkanya, kalau kotor pasti aku cuci aku tidak mau barang milik mu kotor sedikit pun." Ucap Minho lalu duduk disamping Meira setelah selesai merapikan barang istrinya.
Mata Meira berkaca menatap semua itu, jadi Minho selama ini menjadi pengangum rahasianya.
"Kau imut sekali saat bermain pasir bersama teman mu, dulu ayah sudah membelikan aku kamera film agar aku bisa menfoto apa pun yang aku suka, karena aku suka melihat mu jadi aku menfoto diri mu." Lanjut Minho iar mata Meira mengalir.
"Hy kau menangsi." Ucap Minho terkejud.
Meira menatapnya. "Hy sayang kenapa?" Tanya Minho menangkup wajahnya.
Meira memindahkan kotak itu kemeja lalu memeluk Minho erat memebuat mereka tertidur diatas ranjang itu.
"Hiks...jadi selama ini kau sudah menyukai ku, dan betapa jahat nya aku melukai perasaan mu." Ucap Meira Minho terseyum lalu memutar posisi mereka.
"Aku tidak masalah tentang itu, yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara ku membahagiakan mu." Ucap Minho tangis Meira semakin mengalir.
"Tetap cintai aku." Ucap Meira Minho terseyum.
"Tentu saja itu akan selalu aku lakukan tanpa kau minta, sekarang adalah giliran ku untuk menjaga mu agar tidak terlepas lagi seperti waktu sd. Tuhan sudah memberikan mu pada ku maka aku harus menjaga mu, tidak akan ku hiarkan orang lain melukai mu walau sehelai rambut pun." Ucap Minho Meira terseyum.
Minho mencium kening Meira lembut membuat mata Meira terpejam. "Aku sangat mencintai mu." Ucap Minho.
"Aku juga mencintai mu." Balas Meira.
"Belum sangat ya?" Tanya Minho membuat Meira tertawa.
"Baiklah...aku sangat mencintai mu." Ulang Meira Minho terkekeh.
__ADS_1
Wajahnya mulai mendekat dan mencium bibir Meira lembut. "Ayo kita buat Minho kecil." Ucap Minho saat melepas ciuman itu sebentar dan kembali mecium Meira.